Senin, 19 April 2010

KTI GAMBARAN PENGETAHUAN IBU INPARTU TENTANG INISIASI MENYUSUI DINI

KARYA TULIS ILMIAH

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU INPARTU TENTANG INISIASI MENYUSUI DINI DI WILAYAH PUSKESMAS SILO I

DESA SEMPOLAN KECAMATAN SILO

KABUPATEN JEMBER

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap Bayi Baru Lahir berhak mendapatkan Air Susu Ibunya, karena dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI) dalam satu jam pertama kehidupannya, maka bayi akan mendapat sumber gizi terbaik dan dapat menyelamatkan jiwa bayi pada bulan-bulan pertama yang rawan. Hal ini mengingat masih tingginya angka kematian Bayi Baru Lahir.

Berdasarkan presurvey yang dilakukan di Desa Silo Wilayah kerja Puskesmas Silo I 40% ibu bersalin tidak dapat melaksanakan Inisiasi Menyusui Dini dikarenakan beberapa faktor yaitu Kurangnya mendapatkan informasi tentang Inisiasi Menyusui Dini.

1

1

Angka kematian bayi di seluruh dunia saat ini setiap tahunnya mencapai 4 juta jiwa. Di Indonesia saat ini tercatat angka kematian bayi masih sangat tinggi yaitu 35 tiap 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2008, yang artinya dalam satu tahun sekitar 175.000 bayi meninggal sebelum mencapai usia satu tahun (http://www.indonesia.com/humaniora/kesehatan/19kesehatan/4100-angaka kematian bayi/2009). Sedangkan di Jawa Timur, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Angka Kematian Bayi (AKB) menurun dari 44,64 tiap 1.000 kelahiran hidup tahun 2002-2003, menjadi 35,32 tiap 1.000 pada tahun 2005-2006.


(http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v03/index.php?mod=berita&id=386). Untuk Kabupaten Jember, angka kematian bayi dari data yang dihimpun Dinas Kesehatan Kabupaten Jember mengalami peningkatan yaitu sebesar 134 jiwa pada tahun 2005 dan sebesar 188 jiwa pada tahun 2006 (http://magnetcendana.blogspot.com/2009/06/akib-jember-tertinggi.di.jatim.html).

Penyebab kematian bayi dikarenakan beberapa faktor yaitu salah satunya berat badan rendah, asfiksia, tetanus, infeksi dan masalah pemberian minuman. Masih banyak ibu yang belum mengerti tentang pemberian ASI Ekslusif dan pengetahuan tentang inisiasi menyusui dini.

Kematian Bayi Baru Lahir yaitu kematian bayi yang terjadi dalam satu bulan pertama, dapat dicegah jika bayi disusui oleh ibunya dalam satu jam pertama setelah kelahirannya. Dengan pemberian ASI dalam satu jam pertama, bayi akan mendapat zat-zat gizi yang penting dan bayi akan terlindung dari berbagai penyakit berbahaya pada masa paling rentan dalam hidupnya. Tapi, berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2002-2003 hanya ada 4% bayi yang mendapat ASI dalam satu jam kelahirannya.Dan memberi penyuluhan erhadap ibu-ibu tentang IMD.

Maka berdasarkan hal ini penelii ingin melakukan penelitian dengan judul ”Gambaranan Pengetahuan Ibu Inpartu Tentang Inisiasi Menyusui Dini Di Wilayah Puskesmas Silo I Desa Sempolan Kabupaten Jember”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas dirumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimana gambaran pengetahuan ibu inpartu tentang Inisaisi Menyusui Dini diwilayah Puskesmas Silo I Desa Sempolan Kecamatan Silo Kabupaten Jember.

C. Tujuan Penelitian

Mengetahui pengetahuan ibu inpartu tentang inisiasi menyusui dini diwilayah Puskesmas SiloI Desa Sempolan Kecamatan Silo Kabupaten Jember.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat praktisi

Dapat memberikan masukan yang berarti bagi ibu bersalin dalam meningkatkan pengetahuan tentang IMD khususnya melalui presektifmotifasi

2. Manfaat teoritis

Dapat memperkaya konsep atau teori yang menyongkong perkembangan ilmu pwngeahuan kebidanan khususnya yang terkait dengan pengetahuan ibu bersalin tantang IMD

3. Manfaat Diri Sendiri

Dapat meningkatkan pengetahuan khususnya tentang inisiasi menyusui dini


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan teori

1 Konsep Dasar Pengetahuan.

a. Pengertian.

Pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia yang sekadar menjawab pertanyaan (Notoatmodjo, 2005).

Pengetahuan adalah dua buah kelebihan manusia di bandingan denganmakhluk lain ciptaan allah, dengan pengetahuan maka manusia dapat mengetahui apa air,api,alam,dan sebagainya.(Suyano dan Umisalmah,2009)

1). Tingkat pengetahuan.

a) Tahu (know).

Diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah di pelajari sebelumnya atau pengetahuan mengingat kembali terhadap apa yang telah diterima juga bisa dikatakan suatu kata kerja untuk mengukur tingkat pengetahuan seseorang atau si ibu tentang apa yang telah di pelajari.Antara lain ibu bisa menyebutkan, menguraikan, menyatakan bahwa persiapan persalinan sangat penting.

4



b) Memahami (Komprehesion).

Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang di ketahuinya seorang atau ibu yang telah paham dengan materi yang di berikan dia harus menyebutkan contoh, menjelaskan, mengumpulkan tentang materi yang di pelajari misalnya: menjelaskan, meramalkan, dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari.

c) Aplikasi (Aplication).

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus-rumus dan metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

d) Analisa (Analisis)

Arti dari analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

e) Sintesis (Syintesis)

Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian kepada suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu adalah kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada, misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

f) Evaluasi

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu criteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada misalnya dapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi.

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan.

a) Usia.

Semakin cukup usia si ibu tingkat kemampuan atau kematangan akan lebih mudah untuk berpikir dan mudah menerima informasi tentang kehamilannya.

b) Tingkat pendidikan.

Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah menerima informasi, sehingga semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikanyang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai” yang di perkenalkan.

c. Pengalaman

Merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan pengalaman dapat menuntun seseorang untuk menarik kesimpulan dengan benar. Sehingga dari pengalaman yang benar diperlukan berfikir yang logis dan kritis.

d. Intelegensi.

Pada prinsipnya mempengaruhi kemampuan seorang untuk menyesuaikan diri dan cara pengambilan keputusan ibu-ibu atau masyarakat yang intelegensinya tinggi akan banyak berpartisipasi lebih cepat dan tepat dalam mengambil keputusan di banding dengan masyarakat yang intelegensinya rendah.

e. Sosial-Ekonomi.

Mempengaruhi tingkah laku seseorang ibu atau masyarakat yang berasal dari sosial ekonomi tinggi di mungkinkan lebih memiliki sikap positif memandang diri dan masa depannya, tetapi bagi ibu-ibu atau masyarakat yang sosial ekonominya rendah akan tidak merasa takut untuk mengambil sikap atau tindakan.

f. Sosial Budaya.

Dapat mempengaruhi proses pengetahuan khususnya dalam penyerapan nilai-nilai sosial, keagamaan untuk memperkuat super egonya.

g. Pekerjaan

Seseorang yang bekerja pengetahuannya akan lebih luas dari pada seseorang yang tidak bekerja, karena dengan bekerja akan mempunyai banyak informasi dan pengalaman.

(Notoadmodjo, 2005)

h. Jenis kelamin

Jenis kelamin berkaitan dengan perilaku, modal bahwa indifidu melauan modal sesuai jenis elaminnya (Notoadmodjo 2003)

c. Kriteria pengetahuan

Baik : 76 – 100 %

Cukup : 56 – 75 %

Kurang : 40 – 55 %

Rendah : ≤ 40 %

(Ari kunto 2006)

2. Pengertian Persalinan

Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina (Sarwono Prawiroharjo 2005). Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya servik dan janin turun kedalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan tubuh didorong keluar melalui jalan lahir. Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau jalan lain dengan bantuan atau tanpa bantuan atau kekuatan seindiri.

Pesalinan Fisiologis adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu.

3. Tahap-tahap Menjelang Persalinan

Adapun tahap-tahap menjelang persalinan yaitu mulai kala I sampai dengan kala IV.

1) Kala I

Temukan yang menunjukkan kemajuan yang cukup baik pada kala I yaitu:

- Kontraksi teratur yang progesif dengan peningkatan frekuensi dan durasi.

- Kecepatan pembukaan servik paling sedikit 1 cm (fase aktif).

- Servik tampak dipenuhi oleh bagian bawah janin.

Pada kala I ini ibu merasa cemas dan takut karena sakit yang dihapainya.

2) Kala II

Penangan pada kala II yaitu :

- Memberi dukungan yang terus-menerus kepada ibu.

- Menjaga kebersihan diri pada ibu.

- Mengipasi dan massage untuk kenyamanan ibu.

- Memberi dukungan mental kepada ibu.

- Mengatur posisi ibu.

- Memberi cukup minum pada ibu.

3) Kala III

Manajemen aktif pada saat kala III meliputi ;

- Pemberian oksitosin dengan segera.

- Pengendalian tarikan pada tali pusat.

- Pemijatan uterus dengan segera setelah plasenta lahir.

Pada saat itu ibu merasa cemas dan bahagia karena telah dapat melahirkan anaknya, namun perur masih terasa mulas dan rasa nyeri pada vagina.

4) Kala IV

Dua jam pertama setelah persalinan adalah waktu yang kritis bagi ibu dan bayi, karean keduanya baru saja mengalami perubahan fisik

yang luar biasa. Pada saat ini ibu merasa cemas apakah ia sanggup untuk menyusui bayinya dengan baik.

3. Konsep Inisiasi Menyusu Dini

a) Pengertian

Inisasi Menyusu Dini (Early Initition) atau permulaan menyusu dini adalah bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir. Cara bayi melakukan Inisiasi Menyusu Dini dinamakan The Breast Crawl atau merangkak mencari payudara (Roesli, 2008: 3).

Waktu keberhasilan Inisiasi Menyusu Dini adalah waktu yang dibutuhkan mulai dari meletakkan bayi yang baru lahir di dekat payudara ibunya, tanpa melalui proses mandi terlebih dahulu (hanya sedikit dilap dan dipotong tali pusatnya) sampai bayi tersebut akan memilih payudara mana yang akan “dikenyot” lebih dulu, proses ini memakan waktu 15–45 menit (individual). Proses pencarian puting susu sendiri oleh bayi memakan waktu bervariasi, yaitu sekitar 30–40 menit

b) Tata laksana Inisiasi Menyusu Dini

1) Dianjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu saat persalinan

2) Disarankan untuk tidak atau mengurangi pengunaan obat kimiawi, misalnya pijat, aromaterapi, gerakan, atau hypnobirthing.

3) Biarkan ibu menentukan cara melahirkan yang diinginkan, misalnya melahirkan normal, didalam air, atau dengan jongkok.

4) Seluruh badan dan kepala bayi dikeringkan secepatnya, kecuali kedua tangannya. Lemak putih (vernix) yang menyamankan (Roesly, 2008 : 20)

5) Tali pusat dipotong, lalu diikat (Roesli, 2008 : 9)

6) Bayi ditengkurapkan di dada atau perut ibu. Biarkan kulit bayi melekat dengan kulit ibu. Posisi kontak kulit dengan kulit ini dipertahankan minimum satu jam atau setelah menyusu awal selesai. Keduanya diselimuti. Jika perlu, gunakan topi bayi.

7) Bayi dibiarkan mencari puting susu ibu. Ibu dapat merangsang bayi dengan sentuhan lembut, tetapi tidak memaksakan bayi ke puting susu.

8) Ayah didukung agar membantu ibu untuk mengenali tanda-tanda atau perilaku bayi sebelum menyusu. Hal ini dapat berlangsung beberapa menit atau satu jam, bahkan lebih. Dukungan ayah akan meningkatkan rasa percaya diri ibu. Biarkan bayi dalam posisi kulit bersentuhan dengan kulit ibunya setidaknya selama satu jam, walaupun ia telah berhasil menyusu pertama sebelum satu jam. Jika belum menemukan puting payudara ibunya dalam waktu satu jam, biarkan kulit bayi tetap bersentuhan dengan kulit ibunya sampai berhasil menyusu pertama.

9) Dianjurkan untuk memberikan kesempatan kontak kulit dengan kulit pada ibu yang melahirkan dengan tindakan, misalnya operasi Caesar.

10) Bayi dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, diukur, dan dicap setelah satu jam atau menyusu awal selesai. Prosedur yang invasif, misalnya suntikan vitamin K dan tetesan mata bayi dapat ditunda.

11) Rawat gabung-ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar. Selama 24 jam ibu-bayi tetap tidak dipisahkan dan bayi selalu dalam jangkauan ibu. Pemberian minuman pre-laktal (cairan yang diberikan sebelum ASI ”keluar”).

(Roesli,2008 : 20)

c) Manfaat Inisiasi Menyusu Dini

Bagi bayi :

1) Mencegah hilangnya refleks menyusu

2) Menstabilkan suhu, pernapasan dan tingkat gula darah bayi.

3) Memberikan nutrisi lengkap

4) Membantu reflek berfikir bayi

5) Menunjang proses lancarnya ASI dikemudian hari

6) Memperlancar pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan

7) Stimulasi dini tumbuh kembang bayi

8) Terhindar dari kesulitan dalam menyusui atau meneteki

9) Sebagai laksative (obat pencuci perut) yang efektif, membuang mekonium di usus dan memecahkan biliribin.

10) Menstimulasi hormon prolaktin dalam memproduksi ASI

11) Meningkatkan intelektual dan motorik.

Saat merangkak mencari payudara, bayi memindahkan bakteri dari kulit ibunya dan ia akan menjilat-jilati kulit ibu, menelan bakteri ”baik” di kulit ibu. Bakteri ”baik” ini akan berkembang biak membentuk koloni di kulit dan usus bayi, menyaingi bakteri ”jahat” dari lingkungan.

12) ”Bonding” (ikatan kasih sayang) antara ibu-bayi akan lebih baik pada 1-2 jam pertama, bayi dalam keadaan siaga. Setelah itu, biasanya bayi tidur dalam waktu yang lama.

13) Makanan awal non-ASI mengandung zat putih telur yang bukan berasal dari susu manusia, misalnya dari susu hewan. Hal ini dapat mengganggu pertumbuhan fungi usus dan mencetuskan alergi lebih awal.

14) Bayi mendapatkan ASI kolostrum – ASI yang pertama kali keluar. Cairan emas ini kadang juga dinamakan the gift of life. Bayi yang diberi kesempatan Inisiasi Menyusu Dini lebih dulu mendapatkan kolostrum daripada yang tidak diberi kesempatan. Kolostrum, ASI istimewa yang kaya akan daya tahan tubuh, penting untuk pertumbuhan usus, bahkan kelangsungan hidup bayi. Kolostrum akan membuat lapisan yang melindungi dinding usus bayi yang masih belum matang sekaligus mematangkan dinding usus ini.

Bagi Ibu :

1) Mengurangi Perdarahan

Hentakan kepala bayi ke dada ibu, sentuhan tangan bayi di puting susu dan sekitarnya, emutan, dan jilatan bayi pada puting ibu merangsang pengeluaran hormon oksitoksin yang berguna juga untuk kontraksi dan penutupan pembuluh darah sehingga pendarahan lebih cepat berhenti.

2) “Bonding” (ikatan kasih sayang) antara ibu-bayi akan lebih baik pada 1-2 jam pertama, bayi dalam keadaan siaga. Setelah itu, biasanya bayi tidur dalam waktu yang lama.

3) Ibu dan ayah akan merasa sangat bahagia bertemu dengan bayinya untuk pertama kali dalam kondisi seperti ini. Bahkan, ayah mendapat kesempatan mengazankan anaknya di dada ibunya. Suatu pengalaman batin bagi ketiganya yang amat indah.

(Roesli, 2008 : 13)

d). Tujuan Inisiasi Menyusui Dini

1) Untuk membantu mengurangi kemiskinan

2) Untuk membanu mengurangi kelaparan

3) Untuk membantu mengurangi angka kematian anak balita

4) Agar tidak terjadi adanya kegagalan dalam pemberian asi pada bayi

5) Mengurangi angka kematian ibu dan bayi

6) Agar bayi bisa mendapatskan asi eksklusif dari ibunya selama 6 bulan


B. Kerangka Konseptual


Ket :

: variable yang di teliti

: variable yang tidak teliti (Notoatmodjo 2005:122)

Gambar 2.1 Kerangka KonseptualText Box: 22 Penelitian Gambaran Pengetahuan Ibu Inpartu Tentang Inisaisi Menyusu Dini Di Wilayah Puskesmas Silo1 Desa Sempolan Kecamatan Silo Kabupaten Jember


BAB 3

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Bangunan Peneliti

Penelitian adalah suatu cara untuk memahami sesuatu melalui penyelidik atau mencari bukti-bukti yang muncul sehubungan masalah tersebut yang dilakukan secara hati-hati sehingga diperoleh pemecahannya.(Notoatmodjo 2005)

Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau suatu keadaan secara objektif (Notoadmodjo,2005)

B. Variable

Variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lain. ( Notoatmodjo,2005).

Dalam penelitian ini variabelnya adalah pengeahuan ibu inpartu tentang IMD.

17


Tabel 3.2 Definisi Oprasional Gambaran Pengetahuan Ibu Inpartu Tentang IMD

VARIABLE

DEVINISI OPERASIONAL

KRITERIA

SKALA

Pengetahuan Ibu Inpartu tentang IMD.

Merupakan hasil tau dari ibu inpartu tentang IMD yang meliputi pengertian, tujuan dan manfaat bagi ibu dan bayi.

a.

Baik : 76 – 100 %

Cukup : 56 – 75 %

Kurang : 40 – 55 %

Rendah : ≤ 40 %

(Ari kunto 2006)

Ordinal

C. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2005). Dalam penelitian ini yang dijadikan populasi adalah Ibu inpartu dan jumlah populasi adalah 125 responden.

D. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Arikunto, 2006 : 131). Sampel dalam penelitian ini adalah ibu-ibu Inpartu di BPS wilayah puskesmas silo1 sebanyak 30 responden sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.

Dengan Rumus :

N

n =

1 + N (d2)

125

n =

1 + 125 (0,052)

n = 30 Responden

2. Teknik Sampling

Adalah merupakan teknik pengambilan sampel ( Prof. DR. Sugiyono, 2005 : 91 ). Pada pelitian ini menggunakan Nonprobability Sampling, dengan tehnik Sampling Asidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu yang secara kebetulan/Acidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Nonprobability Sampling adalah pengambilan anggota sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. ( Prof. DR. Sugiyono, 2005 : 91 ).

3. Kriteria Sampel

a. Kriteria inklusi

Adalah karakteristik umum subyek peneliti dari populasi target dan terjangkau yang akan diteliti. Karakteristik sampel yang dapat dimasukkan atau layak untuk diteliti yaitu :

(1). Ibu inpartu kala 1 fase laten

(2). Ibu inpartu yang bersedia menjadi responden

(3). Ibu inpartu yang bisa baca dan tulis

b. Kriteria eksklusi

Adalah sebagian subjek yang memenuhi kriteria inklusi harus dikeluarkan dari studi karena berbagai sebab, antara lain :

(1). Ibu inpartu kala I fase aktif

(2). Ibu inpartu yang tidak bersedia menjadi responden

(3). Ibu yang tidak bisa baca dan tulis

E. Lokasi dan waktu penelitian

1. Lokasi

Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Puskesmas Silo I Kabupaten Jember

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian dimulai 28 Juli sampai 8 Agustus

F. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data.

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner yang sudah di sediakan pilihan jawabannya dengan cara melakukan kunjungan ke BPS.

G. Teknik Analisa data

1. Teknik Pengolahan Data

Dari hasil data dengan menggunakan reka medik secara deskriptif melalui tabel distribusi yang dikonfirmasikan dalam bentuk prosentase dan narasi. Kemudian dilakukan pengolahan data dengan distribusi penggunaan persentasi dengan rumus :

Keterangan :

P = Persentasi dari faktor

f = Frekuensi

N = jumlah soal

(Arikunto, 2006)

Dengan Kriteria nilai:

Baik : 76 – 100 %

Cukup : 56 – 75 %

Kurang : 40 – 55 %

Rendah : ≤ 40 % (Ari kunto 2006)

2. Analisis data.

Analisis Data dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian .

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran / Diskriptif cukup menyajikan tabel distribusi dengan jalan dari prosentase untuk setiap kategori dengan cara tabulasi.

H. Etika Penelitian

Penelitian ini dimulai dengan melakukan berbagai prosedur yang berhubungan dengan etika penelitian yang meliputi.

1. Informed Consent (Lembar Persetujuan Menjadi Responden) adalah lembar persetujuan yang akan di berikan pada subyek yang akan di teliti.

2. Anonimity (Tanpa Nama) adalah kerahasiaan identitas responden harus di jaga, oleh karena itu peneliti tidak boleh mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data.

3. Confidentiality (Karakteristik) adalah kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti karena hanya kelompok data tertentu saja yang akan di sajikan atau di laporkan sebagai hasil penelitian.

I. Keterbatasan Penelitian

Beberapa keterbatasan peneliti dalam melakukan penelitian ini antara lain sebagai berikut:

1. Kemampuan peneliti masih kurang karena peneliti masih pemula.

2. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner yang saya buat sendiri dan belum pernah diuji cobakan sehingga reabilitas dan validitasnya perlu di sempurnakan.

3. Waktu pelaksanaan terlalu singkat sehingga mempengaruhi penyusunan hasil penelitian.


BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dibahas tentang hasil dan pembahasan penelitian. Hasil Penelitian akan dibagi menjadi dua bagian yaitu data umum dan data khusus. Data umum meliputi pendidikan, pekerjaan, usia, dan paritas. Sedangkan data khusus meliputi Gambaran Pengetahuan Ibu Inpartu Tentang Inisiasi Menyusu Dini DiWilayah Puskesmas Silo 1 Desa Sempolan Kecamatan Silo Kabupaten Jember .

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Puskesmas Silo1 terletak di Jalan Jember No.10, dibangun diatas tanah seluas ± 5.250 m². Luas puskesmas silo1 31.20 km².

Batasan-Batasan Wilayah Puskesmas Silo1 :

a. Sebelah Utara berbatasan dengan desa Ledok ombo

b. Sebelah Barat berbatasan dengan desa mayang

c. Sebelah Selatan berbatasan dengan sido mulyo

d. Sebelah Timur berbatasan dengan banyuwangi

Tenaga kesehatan di puskesmas Silo1 antara lain :

a. Dokter Umum : 1

b. Perawat Gigi : 1

c. Bidan : 10

d. Perawat : 15

24


2. Data Umum

4.1. Pendidikan

Tabel 4.1. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Wilayah Puskesmas Silo1 Tanggal 28 Juli-8 Agustus

No

Tingkat Pendidikan

Frekwensi(f)

Prosentase(%)

1

2

3

4

5

SD

SLTP

SMA

PT

Tdk Sekolah

5

8

13

4

0

16.6

26.6

43.3

13.3

0

Jumlah

30

100

Tabel 4.1. menunjukkan distribusi responden berdasarkan pendidikan, yang terbanyak responden berpendidikan SMA sebanyak 13 (43.3%).

4.2. Pekerjaan

Tabel 4.2. Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan diWilayah Puskesmas Silo1 Tanggal 28-8 Agustus

No

Pekerjaan

Frekwensi

Prosentase (%)

1

2

3

4

5

PNS

TNI / POLRI

Wirasawasta

Tani

Tidak Bekerja

2

0

5

10

13

6.6

0

16.6

33.3

43.3

Jumlah

30

100

Tabel 4.2 menunjukkan distribusi responden berdasarkan pekerjaan, yang terbanyak responden tidak berkerja sebanyak 13 (43.3%)

4.3. Usia

Tabel 4.3. Distribusi Responden Berdasarkan Usia di Wilayah Puskesmas Silo1 Tanggal 28 Juli-8Agustus

No

Umur

Frekwensi

Prosentase (%)

1

2

3

<20

20-35

>35

0

25

5

0

83.3

16.6

Jumlah

30

100

Tabel 4.3. menunjukkan distribusi responden berdasarkan usia, responden yang terbanyak berusia 20-35 thn sebanyak 25 (83.3%)

4.4. Paritas

Tabel 4.4. Distribusi Responden Berdasarkan Usia di Wilayah Puskesmas Silo1 Tanggal 28 Juli- 8 Agustus

No

Paritas

Frekwensi

Prosentase(%)

1

2

3

Nulipara

multipara

grandemultipara

14

16

0

46.6

53.3

0

Jumlah

30

100

Tabel 4.4. menunjukkan distribusi responden berdasarkan paritas ibu multipara sebanyak 16 (53.3%)

3. Data Khusus

4.5.Gambaran Pengetahuan Ibu Inpartu tentang Inisiasi Menyusu Dini di Wilayah Puskesmas Silo1

Tabel 4.5.1. Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan Ibu Inpartu tentang Inisiasi Menyusu Dini di Wilayah Puskesmas Silo1 Tanggal 28 Juli-8 Agustus

No

Tingkat Pengetahuan

Frekwensi

Prosentase (%)

1

2

3

4

Baik

Cukup

Kurang

Kurang Sekali

1

22

7

0

3.3

73.3

23.3

0

Jumlah

30

100

Dari Tabel 4.5.1 di atas didapatkan bahwa sebagian besar responden mempunyai pengetahuan cukup yaitu 22 (73.3%).

Tabel 4.5.2 Distribusi frekuensi berdasarkan komponen pengetahuan Ibu Inpartu tentang Inisiasi Menyusu Dinidi Wilayah Puskesmas Silo1 Tanggal 28 Juli-8 Agustus

No

Komponen Pengetahua

Pengetahuan

Total

Baik

Cukup

Kurang

Tidak

Responden

%

Responden

%

Responden

%

Responden

%

1.

2.

3

Pengertian IMD

Manfaat IMD

Tujuan IMD

2

1

4

6.6

3.3

13.3

14

10

14

46.6

33.3

46.6

12

11

9

40

36.6

30

2

8

3

6.6

26.6

10

30

30

30

100%

100%

100%

Dari tabel 4.5.2. di atas didapatkan bahwa 14 (46.6%) responden cukup memahami tentang pengertian IMD, 11 (36.6%) responden kurang memahami tentang manfaat IMD,14 (46.6%) responden cukup memahami tentang tujuan IMD.

B. Pembahasan

Pada bagian ini peneliti akan membahas mengenai pengetahuan Ibu Inpartu Tentang Inisiasi Menyusu Dini.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisa data pada tabel 4.5.1 mengenai pengetahuan Ibu Inpartu Tentang Inisiasi Menyusu Dini didapatkan 22 responden (73.3%) yang memiliki pengetahuan yang cukup , 1 responden (3.3 %) yang memiliki pengetahuan yang baik, 7 responden (23.3%) yang memiliki pengetahuan kurang, dan pengetahuan kurang sekali tidak ada.Dan berdasarkan tabel 4.5.2 berdasarkan komponen pengeahuan ibu inpartu tentang inisiasi menyusu dini di dapatkan 14 (46.6%) responden cukup memahami tentang pengertian IMD,11 (36.6%) responden kurang memahami tentang manfaat IMD,14 (46,6%) responden cukup memahami tentang tujuan IMD.

Tingkat pengetahuan ibu inpartu tentang Inisiasi Menyusu Dini kemungkinan dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain yang salah satunya adalah pendidikan. Hal ini ditunjang dengan hasil penelitian karakteristik responden didapatkan pendidikan terbanyak SMA yaitu 13 responden (43.3 %). Tingkat pengetahuan di lihat dari pendidikan responden yaitu SMA didapatkan responden yang berpengetahuan cukup baik adalah 22 responden (73.3 %), berpengetahuan kurang adalah 7 responden (23.3 %), responden yang berpengetahuan baik adalah 1 responden (3.3%) dan berpengetahuan kurang sekali tidak ada .Semakin tingginya pendidikan seseorang maka diharapkan pola fikir dan pengetahuan individu tersebut semakin bertambah.

Hal tersebut di atas sesuai dengan pernyataan dari teori Notoadmodjo (2003 : 128 ), bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni : indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Salah satu faktor pengaruh pengetahuan adalah pendidikan suatu proses belajar yang berarti dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan ke arah yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih matang pada diri individu, kelompok, masyarakat. Kegiatan atau proses belajar ini terjadi dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja. Di dalam kegiatan belajar mengajar terdapat 3 (tiga) persoalan pokok yaitu persoalan masukan (input), persoalan proses, persoalan keluaran (output). Persoalan masukan yaitu menyangkut sasaran belajar, persoalan proses adalah mekanisme dan interaksi terjadinya perubahan kemampuan (perilaku) pada diri subyek belajar sedangkan persoalan keluaran adalah merupakan hasil belajar itu sendiri yaitu perubahan kemampuan atau perilaku subyek belajar.

Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahun atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.

Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa responden telah mempunyai pengetahuan yang cukup baik tentang inisiasi menyusu dini.

Namun demikian masih terdapat 23.3 % responden yang berpengetahuan kurang. Hal ini sangat didukung dengan tingkat pengetahuan seseorang yang baik pula. Tingginya tingkat pengetahuan seseorang tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang meliputi : usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, lingkungan, cara bergaul, pengalaman individu, kebutuhan individu akan informasi dari berbagai sumber serta dari orang-orang terdekat (keluarga).

BAB 5

SIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan disajikan kesimpulan dan saran dari hasil pembahasan untuk menjawab pertanyaan penelitian serta saran –saran yang sesuai dengan kesimpulan.Gambaran pengetahuan Ibu Inpartu tentang Inisiasi Menyusu Dini di Wilayah PuskesmasSilo1, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember

A. Simpulan

Dari hasil penelitian di atas diketahui bahwa pengetahuan ibu inpartu tentang inisiasi menyusu dini di wilayah puskesmas silo1 kecamatan silo kabupaten jember berpengetahuan cukup yaitu 22 (73.3%).

B. Saran

Saran disini dapat dijadikan sebagai suatu masukan yang membangun yaitu :

.1. Bagi peneliti

a. Hendaknya menambah pengetahuan khususnya tentang inisaisi menyusu dini.

b. Menerapkan ilmu yang didapat dan menambah pengalaman dalam penerapan riset,terutama tentang inisiasi menyusu dini.

2. Bagi tempat penelitian

Dapat meningkatkan pengetahuan khususnya tentang inisiasi menyusui dini.

31


3. Bagi Instansi Kesehatan

Dapat memperkaya konsep atau teori perkembangan ilmu pengetahuan kebidanan khususnya tentang inisiasi menyusu dini dengan cara membagikan kaset CD, limflet pada masyarakat.

4. Bagi Masyarakat

Masyarakat di harapkan mempunyai pengetahuan lebih tentang inisiasi menyusu dini dengan dari media cetak, elektronik, kaset vcd aau limflet.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar