Minggu, 04 April 2010

ANEMIA PADA NEONATUS


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
ANEMIA didefinisikan sebagai penurunan volume/jumlah sel darah merah (eritrosit) dalam darah atau penurunan kadar Hemoglobin sampai dibawah rentang nilai yang berlaku untuk orang sehat (Hb<10 g/dL), sehingga terjadi penurunan kemampuan darah untuk menyalurkan oksigen ke jaringan. Dengan demikian anemia bukanlah suatu diagnosis melainkan pencerminan dari dasar perubahan patofisiologis yang diuraikan dalam anamnesa, pemeriksaan fisik yang teliti serta pemeriksaan laboratorium yang menunjang. Manifestasi klinik yang timbul tergantung pada :
1. Kecepatan timbulnya anemia
2. Umur individu
3. Mekanisme kompensasi tubuh
seperti : peningkatan curah jantung dan pernapasan, meningkatkan pelepasan oksigen oleh hemoglobin, mengembangkan volume plasma, redistribusi aliran darah ke organ-organ vital.
1. Tingkat aktivitasnya
2. Keadaan penyakit yang mendasari
3. Parahnya anemia tersebut













BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Anemia
Anemia adalah salah satu gangguan darah yang sering terjadi yang muncul saat jumlah sel darah merah dalam tubuh terlalu sedikit. Hal ini dapat menjadi masalah karena sel darah merah mengandung hemoglobin yang berfungsi membawa oksigen ke jaringan tubuh. Anemia dapat menyebabkan beragam komplikasi termasuk gangguan organ tubuh.
Tiga kemungkinan dasar penyebab anemia :
1. Penghancuran sel darah merah yang berlebihan
2. Kehilangan darah
3. Produksi sel darah merah yang tidak optimal
Anemia dapat disebabkan hal-hal lainnya seperti gangguan genetik, gangguan nutrisi (defisiensi besi atau vitamin), infeksi, kanker atau paparan terhadap obat atau racun.

2.2 Macam – Macam Anemia
2.2.1 Anemia Hemolitik
Muncul saat sel darah merah dihancurkan lebih cepat dari normal (umur sel darah merah normalnya 120 hari, pada anemia hemolitik umur sel darah merah lebih pendek). Sumsum tulang penghasil sel darah merah tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh akan sel darah merah. Hal ini bisa disebabkan berbagai penyebab, kadangkala infeksi dan obat-obatan (antibiotik dan antikejang) dapat sebagai penyebab. Padan anemia hemolitik autoimun, sistem kekebalan tubuh dapat salah mengira bahwa sel darah merah adalah benda asing sehingga dihancurkan. Kelainan bawaan yang mengakibatkan gangguan sel darah merah juga dapat menyebabkan anemia, seperti anemia sel sabit, talasemia, defisiensi glukosa-6-fosfat dehidroginase (G6PD), sferositosis herediter.





2.2.2 Anemia karena kehilangan darah
Kehilangan darah dapat menyebabkan anemia, karena perdarahan berlebihan, pembedahan atau permasalahan dengan pembekuan darah. Kehilangan darah sedikit dalam jangka lama seperti perdarahan dari inflammatory bowel disease (IBD) dapat juga menyebabkan anemia. Kehilangan darah yang banyak dari menstruasi pada remaja atau perempuan juga dapat menyebabkan anemia. Semua faktor ini akan meningkatkan kebutuhan tubuh akan besi, karena besi dibutuhkan untuk mebuat sel darah merah baru.

2.2.3 Anemia karena produksi sel darah merah yang tidak optimal
Anemia aplastik muncul saat sumsum tulang tidak dapat membentuk sel darah merah dalam jumlah cukup. Ini dapat akibat infeksi virus, paparan terhadap kimia beracun, radiasi atau obat-obatan (antibiotik, antikejang atau obat kanker). Pada bayi baru lahir dapat terjadi anemia fisiologis, hal ini normal saat hemoglobin bayi turun pada usia 2 bulan. Hal ini dianggap normal dan tidak diperlukan pengobatan karena bayi akan mulai memproduksi sel darah merahnya sendiri. Anemia dapat terjadi saat tubuh tidak dapat membentuk sel darah merah yang sehat karena defisiensi besi. Besi sangat penting dalam pembentukan hemoglobin dan kekurangan besi dapat berakibat anemia defisiensi besi, bentuk anemia yang paling sering terjadi pada anak terutama usia <2 tahun. Anak yang minum terlalu banyak susu sapi berisiko terkena anemia defisiensi besi.

2.3 PENYEBAB
Anemia pada bayi baru lahir bisa terjadi akibat:
• Kehilangan darah
• Penghancuran sel darah merah yang berlebihan
• Gangguan pembentukan sel darah merah.




2.4 Patofisiologi
Anemia

viskositas darah menurun

resistensi aliran darah perifer

penurunan transport O2 ke jaringan

hipoksia, pucat, lemah

beban jantung meningkat

kerja jantung meningkat

payah jantung

2.5 Tanda dan Gejala
Jika anak anda mengalami anemia gejala awal dapat berupa kulit yang pucat atau berkurangnya warna merah muda pada bibir dan bawah kuku. Perubahan ini dapt terjadi perlahan-lahan sehingga sulit disadari. Tanda lainnya :
• Rewel
• Lelah,lesu
• Pusing, kepala terasa ringan dan denyut jantung cepat
Jika anemia disebabkan penghancuran berlebihan dari sel darah merah maka gejala lain seperti jaundice, warna kuning pada bagian putih mata; pembesaran limpa dan warna urin seperti teh. Pada bayi dan batita, anemia defisiensi besi dapat mengakibatkan gangguan perkembangan dan perilaku seperti penurunan aktivitas motorik, interaksi sosial dan konsentrasi.





2.6 Pengobatan
Pengobatan anemia disesuaikan dengan penyebabnya. Sangat penting untuk tidak menganggap semua gejala pada anak karena kekurangan besi. Pastikan anak anda diperiksa dahulu oleh dokter. Jika anak mengalami kekurangan besi maka dokter akan memberikan tambahan besi yang biasanya harus dikonsumsi selama 3 bulan untuk membangun cadangan besi dalam tubuh. Dokter juga akan menambahkan makanan kaya zat besi dalam makanan anak dan mengurangi konsumsi susu sapi.
Jika remaja perempuan mengalami anemia dan siklus menstruasi yang tidak teratur, dokter mungkin memberikan pengobatan hormonal untuk membantu siklus menstruasi teratur.
Jika anemia disebabkan defisiensi asam folat dan B12 maka pemberian tambahan zat tersebut harus dilakukan, meskipun hal ini jarang terjadi pada anak-anak. Jika anemia disebabkan oleh infeksi, maka saat infeksi sudah terlewati atau diobati umumnya keadaan akan membaik. Jika karena obat-obatan maka dokter anda akan menghentikan atau mengganti obat tersebut kecuali manfaat dari obat tersebut melebihi efek sampingnya.
Tatalaksana pada anemia berat dapat berupa (tergantung penyebabnya) :
• Transfusi sel darah merah
• Obat untuk melawan infeksi atau menstimulasi sumsum tulang untuk menghasilkan sel darah merah
Pada beberapa kasus anemia sel sabit, talasemia dan anemia aplastik tatalaksana berupa transplantasi sumsum tulang dapat menjadi pilihan.

2.7 Mencegah anemia
Anemia dapat dicegah tergantung kepada penyebabnya. Anemia karena gangguan genetik tidak dapat dicegah. Namun anda dapat mencegah defisiensi besi sebagai bentuk anemia yang paling sering terjadi. Sebelum mengikuti saran ini pastikan anda berdiskusi dengan dokter anda:
• Konsumsi susu sapi : konsumsi susu sapi dapat menyebabkan bayi kehilangan besi dari pencernaannya dan konsumsi susu sapi dalam jumlah banyak dapat menyebabkan bayi tidak selera dalam makan sumber makanan lain. Sebaiknya tidak mengkonsumsi susu sapi lebih dari 700 ml/hari.
• Sereal yang diperkaya zat besi : produk ini dapat membantu bayi anda mendapat cukup besi terutama pada masa transisi ke makanan padat
• Diit seimbang : dorong anak anda mengkonsumsi makanan kaya zat besi : sereal dengan fortifikasi besi, daging merah, kuning telur, sayuran hijau, sayuran dan buah berwarna kuning, kentang, tomat,kismis. Jika anak anda vegetarian, anak perlu perhatian tambahan untuk memastikan besi tercukupi karena besi dari sumber hewani terserap tubuh lebih baik dari besi dari sayuran. Beberapa kombinasi makanan juga dapat mengurangi penyerapan besi, misal minum kopi atau teh dengan makanan dapat mengurangi jumlah besi yang diserap. Makanan kaya vitamin C membantu penyerapan zat besi.


























BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
• ANEMIA didefinisikan sebagai penurunan volume/jumlah sel darah merah (eritrosit) dalam darah atau penurunan kadar Hemoglobin sampai dibawah rent Untuk penangan anemia diadasarkan dari penyakit yang menyebabkannya ang nilai yang berlaku untuk orang sehat (Hb<10 g/dL).
• Dengan demikian anemia bukanlah suatu diagnosis melainkan pencerminan dari dasar perubahan patofisiologis yang diuraikan dalam anamnesa, pemeriksaan fisik yang teliti serta pemeriksaan laboratorium yang menunjang.
• Tanda dan gejala yang sering timbul adalah sakit kepala, pusing, lemah, gelisah, diaforesis (keringat dingin), takikardi, sesak napas, kolaps sirkulasi yang progresif cepat atau syok, dan pucat (dilihat dari warna kuku, telapak tangan, membran mukosa mulut dan konjungtiva).
• Anemia dapat diklasifikasikan menjadi empat bagian :
• Anemia defisiensi dibedakan menjadi :
1. Anemia defisiensi
2. Anemia aplastik
3. Anemia hemoragik
4. Anemia hemolitik













DAFTAR PUSTAKA


1. http://www.uofmchildrenshospital.org/kidshealth/article.aspx?artid=21827
2. http://hidayat2.wordpress.com/2009/05/04/askep-anemia-pada-anak/
3. http://id.wikipedia.org/wiki/Anemia





























KATA PENGANTAR


Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “ANEMIA PADA NEONATUS”
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas kuliah “Ilmu Kesehatan Anak” dan dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada dosen pembimbing dan semua pihak yang telah membantu demi kelancaran dalam penyusunan makalah ini.
Dan berbagai kekurangan yang pasti ditemukan dalam penulisan makalah ini, sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Untuk itu kepada pembaca yang budiman, penulis mohon kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak. Dan mudah – mudahan makalah ini ada manfaatnya amin.



Banyuwangi, 01 April 2010
Penulis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar