Minggu, 02 Mei 2010

PENYAKIT KARDIOVASKULER

PENYAKIT KARDIOVASKULER

Penyakit Kardiovaskuler adalah proses rusaknya jaringan jantung akibat suplai darah

I. Penyakit Kardiovaskuler (Paramitha Harsary)

Kehamilan akan menimbulkan perubahan pada sistem kardiovaskuler. Wanita dengan penyakit kardiovaskuler dan menjadi hamil, akan terjadi pengaruh timbal balik yang dapat merugikan kesempatan hidup manusia tersebut.

PENYAKIT JANTUNG

Pada kehamilan dengan jantung normal, wanita dapat menyesuaikan kerjanya terhadap perubahan secara fisiologi. Perubahan tersebut disebabkan oleh :

1. Hipervolemia : dimulai sejak kehamilan 8 minggu dan mencapai puncaknya pada 28 – 32 minggu lalu menetap

2. Jantung dan diafragma terdorong ke atas oleh karena pembesaran rahim.

Dalam kehamilan :

· Denyut jantung dan nadi : meningkat

· Pukulan jantung : meningkat

· Tekanan darah : menurun sedikit.

Maka dapat dipahami bahwa kehamilan dapat memperbesar penyakit jantung bahkan dapat menyebabkan payah jantung (dekompensasi kordis).

Frekuensi penyakit jantung dalam kehamilan berkisar antara 1-4%. Penyakit yang paling banyak dijumpai adalah penyakit hipertensi, tirotoksikosis, dan anemia.

§ Pengaruh kehamilan terhadap penyakit jantung

Saat – saat yang berbahaya bagi penderita adalah :

- Pada kehamilan 32-36 minggu, dimana volume darah mencapai puncaknya (hipervolumia).

- Pada kala II, dimana wanita mengerahkan tenaga untuk mengedan dan memerlukan kerja jantung yang berat.

- Pada pasca persalinan, dimana darah dari ruang intervilus plasenta yang sudah lahir, sekarang masuk ke dalam sirkulasi darah ibu.

- Pada masa nifas, karena ada kemungkinan infeksi.

§ Pengaruh penyakit jantung terhadap kehamilan :

- Dapat terjadi abortus.

- Prematuritas : lahir tidak cukup bulan.

- Dismaturitas, lahir cukup bulan namun dengan berat badan lahir rendah.

- Lahir dengan apgar rendah atau lahir mati.

- Kematian janin dalam rahim (KJDR).

Klasifikasi penyakit jantung dalam kehamilan :

Kelas I

§ Tanpa pembatasan kegiatan fisik

§ Tanpa gejala pada kegiatan biasa

Kelas II

§ Sedikit dibatasi kegiatan fisiknya

§ Waktu istirahat tidak ada keluhan

§ Kegiatan fisik biasa menimbulkan gejala insufisiensi jantung

§ Gejalanya adalah lelah, palpitasi, sesak nafas, dan nyeri dada (angina pektoris).

Kelas III

§ Kegiatan fisik sangat dibatasi

§ Waktu istirahat tidak ada keluhan

§ Sedikit kegiatan fisik menimbulkan keluhan insufisiensi jantung

Kelas IV

§ Waktu istirahat dapat timbul keluhan insufisiensi jantung, apalagi kerja fisik yang tidak berat.

Kira- kira 80% penderita adalah kelas I dan II serta kehamilan dapat meningkatkan kelas tersebut menjadi II, III atau IV. Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi adalah umur, anemia, adanya aritmia jantung dan hipertrofi ventrikuler dan pernah sakit jantung.

Diognosis

1. Anamnesis :

- Pernah sakit jantung dan berobat pada dokter untuk penyakitnya

- Pernah demam rematik.

2. Pemeriksaan : auskultasi/palpasi

Empat kretiria (Burwell dan Metcalfe) :

- Adanya bising diastolik, presistolik, atau bising terus-menerus.

- Pembesaran jantung yang jelas.

- Adanya bising jantung yang nyaring disertai thrill.

- Aritmia yang berat.

3. Pemeriksaan elektrokandiogram (EKG)

Keluhan dan gejala : mudah lelah, dispnesa, palipitasi kordis, nadi tidak teratur.

II. PENANGAN PENYAKIT KORDIOVASKULER

1) Dalam Kehamilan

- Memberikan pengertian kepada ibu hamil untuk melaksanakan pengawasan antenatal yang teratur.

- Kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau kardiologi.

- Pencegahan terhadap kenaikan berat badan dan retensi air yang berlebihan terdapat anemia, harus diobati.

- Timbulnya heprtensi atau hipotensi akan memberatkan kerja jantung, hal ini harus diobati.

- Bila terjadi keluhan yang agak berat, seperti sesak napas, infeksi saluran pernapasan, dan sianosis, penderita harus dirawat dirumah sakit.

- Skema kunjungan antenetal : setiap 2 minggu menjelang kehamilan 28 minggu dan 1 kali seminggu setelahnya.

2) Dalam Persalinan

Penderita kelas 1 dsan kelas 2 biasanya dapat meneruskan kehamilan dan bersalin pervaginam, namun dengan pengawasan yang baik serta kerjasama dangan ahli penyakit dalam..

- Bila ada tanda – tanda payah jantung (dekompensasi kordis) diobati dengan digitalis. Memberikan sedinalid dosis awal 0,8 mg dan di tambah sampai dosis 1,2-1,6 mg intravena secara perlahan – lahan. Jika perlu, dapat di ulang 1-2 kali dalam dua jam. Di kamar bersalin harus tersedia tabung berisi oksigen, morfin, dan suntuikan diuretikum.

- Kelas II yaitu kala yang kritis bagi penderita. Bila tidak timbul tanda – tanda payah jantung, persalinan dapat di tunggu, diawasi dan ditolong secara spontan. Dalam 20-30 menit, bila janin belum lahir, kala II segera diperpendek dengan ekstraksi vakum atau forseps. Kalau sosio sesarea dengan lokalanestesi/lumba/kaudal dibawah pengawasan beberapa ahli multidisiplin.

- Untuk menghilangkan rasa sakti boleh diberikan obat analgesik seperti petadin dan lain – lain. Jangan diberikan barbiturat (luminal) atau morfin bila dtaksir bayi akan lahir dalam beberapa jam.

- Kala II biasanya berjalan seperti biasa. Pemberian ergometrin dengan hati – hati, biasanya sintometrin intramuskuler adalah aman.

3) Dalam Pasca Persalinan Dan Nifas

- Setelah bayi lahir, penderita dapat tiba – tiba jatuh kolaps, yang disebabkab darah tiba – tiba membanjiri tubuh ibu sehingga kerja jantung menjadi sangat bertambah. Perdarahan merupakan komplikasi yang cukup berbahaya.

- Karena itu penderita harus tetap diawasi dan dirawat sekurang – kurangnya 2 minggu setelah bersalin.

4) Penangan Secara Umum

- Penderita kala III dan IV tidak boleh hamil karena kehamilan sangat membahayakan jiwanya.

- Bila hamil, sedini mungkin abortus buatan medikalis.

- Pada kasus tertentu tubektomi.

- Bila tidak mau sterilisasi, dianjurkan memakai kontrasepsi yang b aik adalaj IUD (AKDR).

5) Masa Laktasi

- Laktasi diperbolehkan pada wanita dengan penyakit jantung kelas I dan II yang sanggup melakukan kerja fisik.

- Laktasi dilarang pada wanita dengan penyakit jantun kelas III dan IV.

PROGNOSIS

  1. Bagi Ibu

- Bergantung pada beratnya penyakit, umur dan penyulit – penyulit lain. Pengawasan, pimpinan persalinan, dan kerja sama dengan penderita serta kepatuhan dalam mentaati larangan, ikut menentukan prognosis.

- Angka kematian maternal secara keseluruhan : 1-5%

- Angka kematian maternal b agi penderita berat :15%

  1. Bagi Bayi

a. Bila penyakit jantung tidak terlalu berat, tidak begitu mempengaruhi kematian perinatal.

b. Namun pada penyakit yang berat, prognosis akan buruk karena akan terjadi gawat janin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar