Minggu, 02 Mei 2010

KTI PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYI

KARYA TULIS ILMIAH

PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYI DI PUSKESMAS GRAJAGAN

KECAMATAN PURWOHARJO




BAB 1

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Agar imunisasi dapat menjangkau semua lapisan masyarakat maka sasaran yang ditujukan ialah orang tua. Khususnya pada ibu atau calon ibu untuk diberikan penyuluhan tentang pentingnya imunisasi bagi anak, menganjurkan agar ibu membawa anaknya ke Posyandu.

Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi yaitu faktor pendidikan (pengetahuan), usia, penyuluhan oleh bidan.

Semua orang tua, tentu berkeinginan supaya anak-anaknya tetap sehat. Jangankan sakit berat, sakit ringanpun kalau mungkin jangan sampai diderita anaknya. Salah satu upaya agar anak-anak jangan sampai menderita suatu penyakit adalah dengan jalan memberi imunisasi.

Pada saat ini imunisasi sendiri sudah berkembang cukup pesat ini terbukti dengan menurunya angka kesakitan dan angka kematian bayi. Angka kesakitan bayi menurun 10% dari angka sebelumnya, sedangkan angka kematian bayi menurun 5% dari angka sebelumnya menjadi 1,7 juta kematian setiap tahunnya di Indonesia. ( Depkes RI/2009 )

1

Untuk kabupaten Banyuwangi sendiri pada tahun 2008 kasus kematian bayi yang disebabkan karena tidak imunsasi adalah 0% dan jumlah cakupan BCG adalah 90%, DPT I dan DPT II adalah 90%, DPT III adalah 80%, Hepatitis B adalah 90%, Polio adalah 95%, dan Campak adalah 90%.

Keberhasilan imunisasi ini dikarenakan sudah tersebarnya posyandu dan tenaga kesehatan. Selain itu peran dari orang tua khususmya ibu-ibu sangat mendukung pelaksanaan imunisasi.

Pada hakekatnya masalah imunisasi tidak luput dari perhitungan untung rugi. Dengan imunisasi anak pasti dapat mencapai keuntungan bukan kerugian. Keuntungan pada imunisasi tidak terlihat dalam bentuk materi.Mungkin pula secara langsung dirasakan. Anak yang tidak mendapat imunisasi mempunyai resiko tinggi terjangkit penyakit infeksidan menular. Penyakit ini mungkin menyebabkan ia cacat seumur hidup, gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak bahkan dapat berakhir dengan kematian.

Di Puskesmas Grajagan Kecamatan Purwoharjo balita yang mendapatkan imunisasil lengkap sesuai dengan status Universal Child Immunitation (UCI) yang ditetapkan oleh WHO, Yaitu sesuai dengan cakupan BCG minimal 90%, DPT I dan DPT II minimal 90%, DPT III minimal 80%, Hepatitis B minimal 90%, Polio minimal 95%, dan Campak minimal 90%. Padahal, umumnya sebagian besar ibu-ibu masih merasa takut dan enggan membawa anaknya untuk imunisasi ke Posyandu karena alassan bayinya menjadi sakit setelah pemberian imunisasi.

Dari beberapa keterangan diatas maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul “Pengetahuan Ibu Balita Tentang Imunisasi Dasar Lengkap Pada Bayi Di Puskesmas Grajagan Kecamatan Purwoharjo “.

B.Pembatasan dan Perumusan Masalah

Dari beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan maka peneliti membatasi pada tingkat tahu tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan permasalah sebagai berikut: Bagaimana Pengetahuan Ibu Balita Tentang Imunisasi Dasar Lengkap Pada Bayi Di Puskesmas Grajagan Kecamatan Purwoharjo?

C.Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui bagaimana Pengetahuan Ibu Balita Tentang Imunisasi Dasar Lengkap Pada Bayi Di Peskesmas Grajagan Kecamatan Purwoharjo.

D.Manfaat Penelitian

a. Manfaat teoritis

Dapat memperkaya konsep/ teori yang menyokong perkembangan ilmu pengetahuan kebidanan khususnya yang terkait dengan tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi.

b. Manfaat praktis

Dapat memberikan masukkan yang berarti bagi ibu dalam meningkatkan pengetahuan tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi khususnya melalui perspektif motivasi.

c. Manfaat bagi peneliti

Untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dalam membuat karya tulis ilmiah (KTI)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. ( Notoatmodjo,2003)

Pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang hadir dan terwujud dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan adanya reaksi, persentuhan, dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitar. (referensi assyari abdullah, 2008)

Pengetahuan adalah dua buah kelebihan manusia disbanding dengan mahluk lain ciptaan Allah, dengan pengetahuan (knowledge) maka manusia dapat mengetahui apa air, api, alam dan sebagainya. (Suyanto dan Umi Salamah,2009)

  1. Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo,2003Tingkat pengetahuan adalah

a. Tahu

5

Mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap apa yang telah diterima juga bias dikatakan suatu kata kerja untuk mengukur tingkat pengetahuan seseorang atau ibu tentang apa yang telah dipelajari antara lain ibu bias menyebutkan , menguraikan, mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya.

b. Memahami

Suatu kemampuan menyelesaikan dengan cara yang benar tentang obyek yang diketahui dan diiterprestasikan suatu materi dengan benar.Seseorang atau ibu yamg telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menjelaskan, menyimpulkan, tentang materi yang dipelajari.

c. Aplikasi

kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang nyata.

d. Analisa

Suatu kemampuan menjabarkan obyek kedalam komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut.

e. Sintesis

Menunjukan suatu kemampuan intuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan.

f. Evaluasi

Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian criteria yang telah ditentukan.

3. Faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan terhadap imunisasi.

a. Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah suatu cita-cita tertentu. Jadi dapat berbuat dan mengisi kehidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan mengandung informasi misalnya mengenai hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Menurut Y.B Mantra yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003) pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup pembangunan kesehatan.

b. Penyuluhan Imunisasi oleh Bidan

Pelayanan kebidanan merupakan bagian integral dari suatu pelayanan kesehatan yang diarahkan untuk mewujudkan kesehatan keluarga dalam mencapai KKBS. Pelayanan yang diberikan dengan maksud meningkatkan kesehatan ibu dan anak.

c. Usia

Usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari pada orang yang belum cukup tinggi kedewasaanya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwa nya.

B. Definisi Imunisasi

1. Definisi konsep dasar imunisasi yang dikemukakan oleh beberapa ahli sebagai berikut:

a. Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu kedalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. (blog-indonesia,2008)

b. Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Anak diimunisasi berarti diberikan kekebalan terhadap penyakit tertentu. Anak kebal atau resisten terhadap suatu penyakit, tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain. ( Notoatmodjo,2003)

c. Menurut pendapat dr.Karel,SpA, ”Imunisasi adalah cara untuk menimbulkan/ meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga kelak bila ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya sakit ringan.

Dengan banyaknya analisa dari para ahli, peneliti mengambil kesimpulan bahwa imunisasi adalah suatu usaha untuk memberikan kekebalan pada anak atau seseorang terhadap penyakit tersebut.

2. Dalam tubuh bayi atau anak ada dua jenis kekebalan yang bekerja yaitu:

a. Kekebalan aktif

Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat sendiri oleh tubuh untuk menolak terhadap suatu penyakit tertentu dimana prosesnya lambat tetapi dapat bertahan lama.

1) Kekebalan aktif alamiah

Dimana tubuh anak membuat kekebalan sendiri setelah mengalami atau sembuh dari suatu penyakit misalnya anak telah menderita campak. Setelah sembuh anak tidak akan terserang campak lagi, karena tubuhnya telah membuat zat penolakan terhadap penyakit tersebut.

2) Kekebalan aktif buatan

Kekebalan yang dibuat tubuh setelah mendapat vaksin (imunisasi), misalnya anak diberikan vaksinasi BCG, DPT, HB, Polio dan lainnya.

b. Kekebalan pasif

Kekebalan pasif yaitu tubuh anak tidak membuat zat anti body sendiri tetapi kekebalan tersebut diperoleh dari luar setelah memperoleh zat penolakan, sehingga proses cepat tetapi tidak tahan lama.

Kekebalan pasif ini terjadi dengan 2 cara:

1) Kekebalan pasif alamiah/ kekebalan pasif bawaan kekebalan yang diperoleh bayi sejak lahir dari ibunya. Kekebalan ini tidak berlangsung lama ( kira-kira hanya sekitar 5 bulan setelah bayi lahir )misalnya difteri, morbili dan tetanus.

2) Kekebalan pasif buatan dimana kekebalan ini diperoleh setelah mendapat suntikan zat penolakan.

3. Tujuan Pemberian Imunisasi

a. Untuk mencegah terjadinya infeksi tertentu

b. Apabila terjadi penyakit tidak akan terlalu parah dan dapt mencegah gejala yang dapat menimbulkan cacat atau kematian.

4. Syarat Pemberian Imunisasi

a. Bayi dalam keadaan sehat

b. Bayi umur 0-11 bulan

5. Tujuh macam penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi:

a. TBC

b. Polio myelitis (kelumpuhan)

c. Difteri

d. Pertusis

e. Titanus

f. Hepatitis

g. Campak

6. Macam-macam Imunisasi

a. BCG

1) Gunanya :memberikan kekebalan terhadap penyakit tuberkolosis (TBC). Kekebalan yang diperoleh anak tidak mutlak 100%, jadi kemungkinan anak akan menderita penyakit TBC ringan, akan tetapi terhindar dari TBC berat-ringan.

2) Tempat penyuntikan : pada lengan kanan atas.

3) Kontra indikasi :

a) Anak yang sakit kulit atau infeksi kulit ditempat penyuntikan .

b) Anak yang telah menderita penyakit TBC.

4) Efek samping

a) Reaksi normal

(1) Setelah 2-3 minggu pada tempat penyuntikan akan terjadi pembengkakan kecil berwarna merah kemudian akan menjadi luka dengan diameter 10 mm.

(2) Hal ini perlu diberitahukan kepada ibu agar tidak memberikan apapun pada luka tersebut dan diberikan atau bila ditutup dengan menggunakan kain kasa kering dan bersih.

(3) Luka tersebut akan sembuh sendiri dan meninggalkan jaringan parut (scar) dengan diametr 5-7 mm.

b) Reaksi berat

(1) kadang-kadang terjadi peradangan setempat yang agak berat/abces yang lebih luas.

(2) Pembengkakan pada kelenjar limfe pada leher atau ketiak.

b. DPT ( Diphteri, Pertusis, Tetanus )

1) Gunanya : Memberikan kekebalan terhadap penyakit dipteri, pertusi, tetanus.

2) Tempat penyuntikan : Dipaha bagian luar

3) Kontra indikasi :

a) Panas diatas 38º C

b) Reaksi berlebihan setelah pemberian imunisasi DPT sebelumnya seperti panas tinggi dengan kejang, penurunan kesadaran dan syok.

4) Efek samping :

a) Reaksi lokal

(1) Terjadi pembengkakan dan rasa nyeri pada tempat penyuntikan disertai demam ringan selama 1-2 hari.

(2) Pada keadaan pertama (reaksi lokal) ibu tidak perlu panic sebab panas akan sembuh dan itu berarti kekebalan sudah dimiliki oleh bayi.

b) Reaksi Umum

(1) Demam tinggi, kejang dan syok berat.

(2) Pada keadaan kedua ( reaksi umum atau reaksi yang lebih berat ) sebaiknya ibu konsultasi pada bidan atau dokter.

c. Hepatitis B

1) Gunanya : memberi kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis

2) Tempat penyuntikan : Dipaha bagian luar

3) Kontra indikasi : tidak ada

4) Efek samping : Pada umumnya tidak ada

d. Polio

1) Gunanya : memberikan kekebalan terhadap penyakit polio nyelitis

2) Cara pemberian : Diteteskan langsung kedalam mulut 2 tetes

3) Kontra indikasi:

a) Anak menderita diare berat

b) Anak sakit panas

4) Efek samping :

a) Reaksi yang timbul biasanya hampir tidak ada, kalaupun ada hanya berak-berak ringan

b) Efek samping hampir tidak ada,bila ada hanya berupa kelumpuhan pada anggota gerak dan tertular kasus polio orang dewasa.

c) Kekebalan yang diperoleh dari vaksinasi polio adalah 45-100%.

e) Campak

1) Gunakan : memberi kekebalan terhadap penyakit campak.

2) Tempat penyuntikan : Pada lengan kiri atas

3) Kontra indikasi :

a) Panas lebih dari 38ºC

b) Anak yang sakit parah

c) Anak yang menderita TBC tanpa pengobatan

d) Anak yang defisiensi gizi dalam derjat berat

e) Riwayat kejang demam

4) Efek samping :

a) Panas lebih dari 38ºC

b) Kejang yang ringan dan tidak berbahaya pada hari ke

10-12

c) Dapat terjadi radang otak dalam 30 hari setelah penyuntikan tetapi kejadian ini jarang terjadi.

7. Tabel Jadwal Pemberian Imunisasi

Vaksinasi

Pemberian Imunisasi

Selang Waktu Pemberian

Umur

BCG

DPT

HB

HB Uniject

Polio

Campak

1x

3x

DPT I,II III

3x

HB I,II,III

1x

4x

Polio I,II,III,IV

1x

-

4 Minggu

4 Minggu

-

4 Minggu

-

0 – 12 Bulan

2 – 12 Bulan

0 – 12 Bulan

0 – 2 hari

0 – 12 Bulan

9 – 12 Bulan

Sumber : Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia,2009

C. KERANGKA KONSEPTUAL

Pengetahuan Ibu Balita Tentang Imunisasi Dasar Lengkap Pada Bayi di Puskesmas Grajagan Kecamatan Purwoharjo


Sumber : Notoatmodjo 2003 dan Arikunto 2006

Keterangan :

: Di teliti

: Tidak di teliti

Adapun variabel yang diteliti adalah pengetahuan ibu balita tentang imunisasi dasar lengkap meliputi: pengertian, tujuan dan manfaat, efek samping, penatalaksanaan. Sedangkan faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah pendidikan, usia, dan penyuluhan oleh bidan.

Pengetahuan adalah suatu yang diketahui, yang ditangkap dengan panca indera manusia baik secara formal maupun informal. Semakin tinggi tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi diharapkan semakin mudah dalam menerima informasi tentang imunisasi dasar lengkap.

BAB 3

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancang Bangun Penelitian

Desain penelitian yang di gunakan dalam penlitian ini adalah penelitian yang berbentuk penelitian deskriptif. Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan secara obyektif. (Notoatmodjo 2005)

B. Variabel

Variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan peneliti, sering kali di katakan variabel penelitian itu sebagai faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang akan di teliti (Arikunto, 2006).

Dalam penelitian ini variabelnya adalah pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi.

18


1. Definisi Opersional

Variabel

Definisi operasional

Kriteria

Alat ukur

Skala

Pengetahuan, pemahaman imunisasi dan penerapan.

Segala sesuatu yang dipahami, dimengerti oleh ibu tentang imunisasi.

Pengertian, tujuan manfaat, efek samping dan penatalaksanaan.

Baik: 76-100%

Cukup : 56-75%

Kurang :

40-55%

Tidak baik : ≤40%

(Arikunto,2006)

Quesioner

Ordinal

C. Populasi

Adalah keseluruhan subjek penelitian yang akan di teliti (Arikunto, 2006)

Berdasarkan pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa populasi adalah semua objek yang di amati dalam penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu-ibu yang mempunyai bayi umur 0-12 bulan. Dalam penelitian ini populasinya adalah 30 orang.

D. Sampel

Adalah sebagian dari keseluruhan objek yang di teliti dan di anggap mewakili seluruh populasi (Arikunto,2006). Besarnya sampel dalam penelitian ini adalah 30 orang / total sampling.(Arikunto,2006)

E. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Tempat penelitian di lakukan di Puskesmas Grajagan Kecamatan Purwoharjo .

2. Waktu penelitian di lakukan pada tanggal 4-14 agustus 2009.

F. Tehnik dan Instrumen Pengumpulan Data

Dari hasil data dengan menggunakan rekam medik secara deskripif melalui tabel distribusi yang dikonfirmasikan dalam bentuk prosentase dan narasi.

Langkah – langkah pengolahan data sebagai berikut :

1. Editing

Proses editing dengan memeriksa kembali data yang telah dikumpulkan rekam medik ini berarti semua data harus diteliti kelengkapan data yang diberikan.

2. Coding

Untuk memudahkan dalam pengolahan data maka untuk setiap jawaban dari kuesioner yang telah disebarkan diberi kode sesuai dengan arakter.

3. Skoring

Tahap ini dilakukan setelah ditetapkan kode jawaban atau hasil observasi sehingga setiap responden atau hasil observasi dapat diberikan skor. Tidak ada pedoman yang baku untuk scoring namun scoring harus diberikan.

4. Tabulating

Mentabulasi dengan memuat tabel-tabel sesuai dengan analisis yang dibutuhkan.

G. Tehnik Analisa Data

Menurut Arikunto (2006) setelah data terkumpul melalui kuesioner ditabulasi dan dikelompokkan sesuai dengan variable yang diteliti, jawban seluruh responden dari masing-masing dikalikan 100% dan hasilnya berupa prosentase.

Selain itu juga dilakukan cara pemberian skore dalam penelitian dimana tiap jawaban benar skornya 1 (satu) bila salah nilainya 0 (nol)

Cara pemberian skore dalam penelitian ini digunakan rumus:

P =

Keterangan

P = Prosentase

∑f = Skor yang didapat

h = Jumlah pertanyaan

Dengan kriteria nilai sebagai berikut:

Baik : 76-100% (13-16 jawaban yang benar)

Cukup : 56-75% (09-12 jawaban yang benar)

Kurang : 40-55% ( 05-08 jawaban yang banar)

Tidak baik : ≤40% ( 01-04 jawaban yang benar)

( Arikunto, 2006)

H. Etika Penelitian

Dalam melaksanakan penelitian ini terleih dahulu harus mengajukan izin kepada Kepala Puskesmas Grajagan Kecamatan Purwoharjo yang digunakan sebagai tempat penelitian. Setelah mendapat persetujuan kemudian di lakukan penelitian dengan menekankan kepada masalah etika yang meliputi:

1. Informed Concent (Lembar persetujuan menjadi subjek)

Lembar persetujuan menjadi subjek akan diedarkan sebelum penelitian di lakukan pada seluruh subjek yang akan di teliti. Hal ini akan dilakukan dengan tujuan untuk menghindari kesalahpahaman dalam dan sesudah dilakukan penelitian. Jika subjek bersedia di teliti maka subjek harus menandatangani lembar persetujuan. Jika subjek menolak dijadikan responden maka peneliti tetap menghormati hak-hak subjek.

2. Anomity

Demi menjaga kerahasiaan dan identitas subjek, maka peneliti tidak mencantumkan nama subjek pada lembar kuisioner hanya saja lembar tersebut di beri kode nomor tertentu.

3. Confidentiality (Kerahasiaan)

Informasi yang telah di kumpulkan subjek di jamin kerahasiaannya oleh peneliti.

I. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian dalam hal ini mencakup kelemahan atau hambatan yang dirasakan dalam penelitian yaitu:

1. Sampel

Sampel yang digunakan terbatas sehingga untuk memperoleh hasil penelitian yang akurat belum dapat di capai.

2. Waktu Penelitian Terbatas

Waktu penelitian sangat terbatas sehingga hasilnya kurang dari sempurna dan kurang memuaskan.

3. Instrument Pengumpula Data

Instrument pengumpulan data memiliki jawaban yang banyak di pengaruhi oleh sikap dan jawaban-jawaban pribadi sehingga hasilnya kurang memuaskan secara kualitatif.

4. Peneliti

Peneliti belum memiliki pengalaman dan belum pernah meneliti sehingga hasil penelitian yang di lakukan kurang sempurna.

BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan menguraikan tentang hasil penelitian yang dilaksanankan di Puskesmas Grajagan Purwoharjo pada bulan Agustus.

A. HASIL PENELITIAN

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Puskesmas Grajagan terletak di Curahjati. Batasan wilayah Puskesmas Grajagan yaitu :

a. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Glagahagung Kecamatan Purwoharjo

b. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Bangorejo Kecamatan Bangorejo

c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Pantai Grajagan Kecamatan Purwoharjo

d. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sumberasri Kecamatan Purwoharjo

Tenaga kesehatan di puskesmas grajagan antara lain :

a. Dokter umum : 1 orang

b. Dokter gigi : 1 orang

c. Bidan : 11 orang

d. Perawat : 9 orang

e. Staf TU : 3 orangText Box: 24

2. Data Umum

a. Responden menurut umur

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi umur ibu yang mempunyai bayi usia 0-12 bulan di Puskesmas GrajaganTanggal 4-14 Agustus Tahun 2009.

No

Usia

Frekuensi (f)

Prosentase (%)

1.

2.

3.

<20

21 – 35

>35

6

23

1

20

76.67

3.33

Jumlah

30

100

Berdasarkan tabel 4.1 diatas dapat diketahui sebagian besar responden berumur 21-35 tahun yaitu 23 responden (76.67%).

b. Karakteristik responden menurut pendidikan

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi pendidikan ibu yang mempunyai anak usia 0-12 bulan di Puskesmas Grajagan Tanggal 4-14 Agustus Tahun 2009.

No

Pendidikan

Frekuensi (f)

Prosentase (%)

1.

2.

3.

4.

SD

SMP

SMA

Perguruan tinggi

12

11

6

1

40

36.67

20

3.33

Jumlah

30

100

Berdasarkan tabel 4.2 diatas dapat diketahui sebagian berpendidikan SD yaitu 12 responden (40%).

3. Data khusus

a. Data pengetahuan ibu balita tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi

Tabel 4.3 Distribusi pengetahuan ibu yang mempunyai anak usia 0-12 bulan tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi di Puskesmas Grajagan 4-14 Agustus Tahun 2009

No

Pengetahuan

Frekuensi (f)

Prosentase (%)

1.

2.

3.

4

Baik

Cukup

Kurang

Tidak baik

5

16

5

4

16.67

53.33

16.67

13.33

Jumlah

30

100

Berdasarkan tabel 4.3 diatas dapat diketahui lebih dari 50 % berpengetahuan cukup yaitu 16 responden (53,33%).

b. Data pengetahun ibu balita tentang pengertian stimulasi anak usia 0-3 tahun.

Tabel 4.4 Distribusi pengetahuan ibu mempunyai anak usia

0-12 bulan tentang pengertian imunisasi dasar lengkap pada bayi di puskesmas Grajagan

4-14 Agustus Tahun 2009.

No

Pengetahuan

Frekuensi (f)

Prosentase (%)

1.

2.

3.

4.

Baik

Cukup

Kurang

Tidak baik

8

9

8

5

26.67

30

26.67

16.66

Jumlah

30

100

Berdasarkan tabel 4.4 diatas dapat diketahui kurang dari 50 % yaitu 9 responden (30%) memiliki pengetahuan tentang pengertian imunisasi dalam batasan yang cukup.

c. Data pengetahuan ibu balita tentang tujuan dan manfaat imunisasi dasar lengkap pada bayi.

Tabel 4.5 Distribusi pengetahuan ibu yan mempunyai bayi usia 0-12 bulan tentang tujuan dan manfaat imunisasi dasar lengkap di Puskesmas Grajagan Tanal 4-14 Agustus Tahun 2009.

No

Pengetahuan

Frekuensi (f)

Prosentase (%)

1.

2.

3.

4.

Baik

Cukup

Kurang

Tidak baik

7

8

12

3

23.33

26.67

40

10

Jumlah

30

100

Berdasarkan tabel 4.5 diatas dapat diketahui sebagian besar memiliki pengetahuan kurang tentang tujuan dan manfaat dasar lengkap yaitu 12 responden (40%).

d. Data pengetahuan ibu balita tentang efek samping imunisasi dasar lengkap pada bayi.

Tabel 4.6 Distribusi pengetahuan ibu tentang efek samping imunisasi dasar lengkap di Puskesmas Grajagan

No

Pengetahuan

Frekuensi (f)

Prosentase (%)

1.

2.

3.

4.

Baik

Cukup

Kurang

Tidak baik

5

5

11

9

16.67

16.67

36.66

30

Jumlah

30

100

Berdasarkan tabel 4.6 diatas dapat diketahui sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang tentang efek samping imunisasi dasar lengkap yaitu 11responden (36.66%).

e. Data pengetahuan ibu balita tentang penatalaksanaan imunisasi dasar lengkap pada bayi.

Tabel 4.7 Distribusi pengetahuan ibu yang mempunyai bayi usia 0-12 bulan tentang penatalaksanaan iminisasi pada bayi di Puskesmas Grajagan tanggal 4-14 Agustus 2009

No

Pengetahuan

Frekuensi (f)

Prosentase (%)

1.

2.

3.

4.

Baik

Cukup

Kurang

Tidak Baik

5

13

8

4

16.67

43.33

26.67

13.33

Jumlah

30

100



Berdasarkan tabel 4.7diatas dapat diketahui sebagian besar memiliki pengetahuan cukup tentang penaalaksanaan imunisasi pada bayi yaitu 13responden (43.33%).

B. Pembahasan

1. Pengetahuan ibu balita tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi di Puskesmas Grajagan.

Berdasarkan analisa dan interpretasi data yang didapat bahwa lebih dari 50% berpengetahuan cukup yaitu 16 responden (53,33%).

Hasil analisis ini didukung oleh umur responden.Dari data dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berumur 21-35 tahun yaitu 23 responden (76.67%).dan kurang dari 50% responden berumur <> 35 ahun yaitu1 responden (3.33%)

Usia 21-35 tahun merupakan usia yang reproduktif bagi seseorang untuk dapat memotivasi diri memperoleh pengetahuan yang sebanyak banyaknya. Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Jadi semakin matang usia seseorang, maka dalam memahami suatu masalah akan lebih mudah dan dapat menambah pengetahuan (Nursalam dan Pariani, 2001).

Semakin banyak umur atau semakin tua seseorang maka akan mempunyai kesempatan dan waktu yang lebih lama dalam mendapatkan informasi dan pengetahuan. Dengan demikian semakin tua umur responden maka tingkat pengetahuan ibu balita tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi semakin baik.

Hasil analisis juga dipengaruhi oleh pendidikan responden. Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berpendidikan SD yaitu 12 responden (40%), responden berpendidikan SMP yaitu 11 responden (36.67%),responden berpendidikan SMA yaitu 6 responden (20%) dan responden berpendidikan perguruan tinggi yaitu 1 responden (3.33%)

Menurut Nursalam (2001) bahwa makin tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Responden yang berpendidikan tinggi akan mudah menyerap informasi, sehingga ilmu pengetahuan yang dimiliki lebih tinggi namun sebaliknya orang tua yang berpendidikan rendah akan mengalami hambatan dalam penyerapan informasi sehingga ilmu yang dimiliki juga lebih rendah yang berdampak pada kehidupannya.

Penelitian ini didapatkan bahwa pengetahuan responden tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi lebih dari 50% (53,33%) cukup. Hal ini dikarenakan informasi mengenai imunisasi dasar lengkap pada bayi adalah informasi khusus yang tidak didapat di bangku sekolah atau Perguruan tinggi umum kecuali sekolah kesehatan. Adapun informasi mengenai imunisasi dasar lengkap biasanya diperoleh melalui penyuluhan kesehatan atau melalui tenaga kesehatan baik dipuskesmas atau posyandu.

Dengan demikian pemberian informasi mengenai imunisasi dasar lengkap pada bayi yang diberikan akan mudah diterima oleh responden sehingga akan semakin termotivasi untuk membawa bayinya untuk mendapatkan imunisasi dasar lengkap.

2 Pengetahuan ibu balita tentang pengertian imunisasi dasar lengkap pada bayi secara khusus.

Berdasarkan analisa dan interpretasi data yang didapat bahwa kurang dari 50% berpengetahuan cukup yaitu 9 responden (30%) kurang dari 50% berpengetahuan baik yaitu 8 responden (26.67%), dan kurang dari 50% berpengetahuan kurang yaitu 8 responden (26.67%) dan kurang dari 50% berpengetahuan tidak baik yaitu 5 responden (16.66%). Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang benar pada kuisioner tentang pengertian imunisasi dasar lengkap pada bayi dikutip dari Oktaria (2007). Hal ini dapat dilihat dari latar belakang pendidikan mereka rata-rata rendah (SD) dan cukup yaitu SMP dan SMA disamping itu juga di tunjang sebelumnya mereka ada yang pernah mendapatkan informasi tentang imunisasi dasar lengkap dari media atau penyuluhan, pencapaian pengetahuan cukup diatas mungkin disebabkan adanya pengalaman dalam penerapan imunisasi dasar lengkap dan pernah mendapat informasi.

Meskipun ada responden berlatar belakang pendidikan hanya SMP namun pernah mendapat informasi dari media atau penyuluhan dan mempunyai pengalaman tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi. Hal ini disebabkan oleh informasi yang didapat menurut Notoatmodjo (2005) mengatakan pengalaman merupakan guru yang baik, yang bermakna bahwa pengalamn itu merupakan sumber pengetahuan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, dan pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan.

Kurang dari 50% responden memiliki pengetahuan kurang 5 responden (16.67%). Hal ini dapat dilatar belakangi pendidikan SD dan SMP disamping itu juga tidak pernah mendapatkan informasi dan tidak memiliki pengalaman sama sekali dalam pemberian imunisasi dasar lengkap pada bayi. Hal ini dapat diperkuat oleh Notoatmodjo (2005) bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan.

Pendidikan berhubungan dengan transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, ketrampilan dan aspek kelakuan yang lain, dan merupakan proses belajar dan mengajar. Pola kelakuan manusia menurut apa yang diharapakan (Notoatmodjo 2003).

3 Pengetahuan ibu balita tentang tujuan dan manfaat imunisasi dasar lengkap pada bayi.

Berdasarkan analisa dan interpretasi data yang didapat diketahui bahwa dari 30 responden kurang dari 50% berpengetahuan kurang yaitu 12 responden (40%) dan berpengetahuan baik yaitu 7 responden (23.33%).

Sebagian besar responden menjawab pada item soal yang benar tentang tujuan imunisasi pada bayi yaitu untuk memberi kekebalan pada anak dikutip oleh (Notoatnodjo, 2003) hal ini dapat dilihat dari latar belakang pendidikan yang cukup dan kurang yaitu SMP dan SD disamping itu juga tidak pernah mendapat informasi.

Kurang dari 50% berpengetahuan tidak baik yaitu 3 responden (10%). Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang salah tentang tujuan manfaat imunisasi pada item. Hal ini dapat dilatarbelakangi pendidikan yang kurang tidak pernah mendapatkan informasi tentang imunisasi pada anak dan sama sekali tidak memiliki pengalaman tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi. Hal ini diperkuat oleh Notoatmodjo (2005) bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan.

4. Pengetahuan ibu balita tentang efek samping imunisasi dasar lengkap pada bayi.

Berdasarkan analisa dan interpretasi data dapat diketahui bahwa sebagian besar berpengetahuan kurang yaitu 11 responden (36.66%), kurang dari 50% berpengetahuan tidak baik yaitu 9 responden (30%), dan berpengetahuan cukup yaitu 5 responden (16,67%) dan berpengetahuan baik yaitu 5 responden (16.67%).

Sebagian besar responden berpengetahuan kurang yaitu 11 responden (36.66%). Hal ini dilihat dari jawaban yang benar pada item soal efek samping imunisasi dasar lengkap pada bayi dengan memberikan penyuluhan tentang imunisasi dasar lengkap. Hal ini dapat dilihat dari latar belakang pendidikan yang rendah, di samping itu juga di tunjang sebelumnya mereka ada yang pernah mendapatkan informasi tentang efek samping imunisasi dasar lengkap pada bayi.

Kurang dari 50% responden memiliki pengetahuan baik yaitu 5 responden (16.67%). Hal ini dapat dilihat dari semua jawaban item soal yang benar. Hal ini dapat diperkuat dengan jawaban responden tentang penatalaksanaan imunisasi dasar lengkap. Responden pernah mendapatkan informasi dari media dan penyuluhan, dan sebagian besar resonden berpendidikan rendah dan kurang yaitu SD dan SMP.

Hal ini dimungkinkan karena memahami informasi tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi yang diperoleh, menurut Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa memahami yaitu suatu kemampuan untuk menjelaskan atau menginterprestasikan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dan dapat di interprestasikan dengan benar. Hal ini di sesuaikan dengan pendapat kuliah bidan (2009) yang menyatakan bahwa dengan pendidikan yang baik orang tua dapat menerima informasi dari luar.

Kurang dari 50% berpengetahuan kurang yaitu 5 responden (16,67%). Hal ini di lihat dari item soal tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi. Pencapaian pengetahuan kurang hal ini di sebabkan pendidikan yang rendah sama sekali tidak mempunyai pengalaman dan tidak pernah mendapatkan informasi. Hal ini di perkuat oleh Notoatmodjo (2003) bahwa pengalaman merupakan guru yang baik untuk memperoleh pengetahuan.

5. Pengetahuan ibu balita tentang penatalaksanaan imunisasi dasar lengkap pada bayi

Berdasarkan anlisa dan interpretasi data dapat diketahui bahwa sebagian besar berpengetahuan cukup yaitu 13 responden (43.33%), kurang dari 50% berpengetahuan kurang 8 responden (26.67%), 5 responden (16.67%) berpengetahuan baik dan 4 responden (13.33) berpengetahuan tidak baik.

Sebagian besar responden berpengetahuan cukup yaitu 13 responden (43.33%). Hal ini dapat dilihat dari latar belakang pendidikan rendah dan cukup yaitu SD dan SMP, meskipun berpendidikan rendah mereka juga pernah mendapat informasi tentang imunisasi dasar lengkap. Hal ini dapat diperkuat Notoatmodjo (2005) menyatakan bahwa pengalaman merupakan guru yang baik yang bermakna bahwa pengalaman itu sumber pengetahuan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan.

Sebagian besar responden berpengetahuan cukup yaitu 13 responden (43.33%). Hal ini dapat dilihat dari latar pendidikan dan mempunyai pengalaman dalam mengimunisasi bayi, pada umumnya semakin tinggi pendidikan maka akan semakin baik pula pengetahuannya. Pengetahuan itu sendiri merupakan domain yang sangat penting utnuk terbentuknya perilaku seseorang (Notoatmodjo,2003)

Berdasarkan uraian diatas, semakin tinggi pendidikan maka semakin baik pula dalam mengaplikasikan materi dalam perkembangan anak yang diperoleh. Responden yang berpendidikan tinggi akan lebih baik dalam keaktifan membawa anak untuk mendapat imunisasi dibandingkan dengan responden yang berpendidikan rendah dan tidak pernah mendapatkan informasi.

Meskipun ada responden yang tidak mempunyai pengalaman dalam pemberian imunisasi pada bayi namun berpendidikan tinggi dan pernah mendapat informasi akan membentuk pengetahuan yang baik. Hal ini di mungkinkan karena memahami informasi tentang perkembangan anak yang diperoleh, menurut Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa memahami yaitu suatu kemampuan utnuk menjelaskan atau menginterprestasikan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat diinterprestasikan dengan benar.

Kurang dari 50% berpengetahuan tidak baik yaitu responden 4 (13.33%), pencapaian pengetahuan tidak baik mungkin disebabkan pendidikan yang rendah. Sama sekali tidak mempunyai pengalaman dan tidak pernah mendapat informasi. Hal ini diperkuat oleh Notoatmodjo (2005) bahwa pengalaman merupakan guru yang baik dan merupakan sumber pengetahuan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan.


BAB 5

SIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan disajikan hasil kesimpulan dan saran dari penelitian tentang pengetahuan ibu balita tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi di Puskesmas Grajagan.

A. Simpulan

Dari hasil penelitian diketahui bahwa pengetahuan ibu balita tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi di Puskesmas Grajagan Purwoharjo sebagian besar berpengetahuan cukup yaitu 16 responden (53.33%).

B. Saran

1. Bagi peneliti selanjutnya

Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk penelitian selanjutnya kaitannya dengan pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi.

2. Bagi tempat penelitian

a. Meningkatkan pelayanan terhadap imunisasi dasar pada bayi.

b. Melaksanakan swipping pada bayi yang belum mendapatkan imunisasi.

3. Bagi Instansi Kesehatan/ Perpustakaan

a. Dapat meningkatkan pelayanan kesehatan pada bayi usia 0-12 bulan.

b.

37

lebih memperbanyak referensi bahan mata kuliah tentang ilmukesehatan anak terutama imunisasi.

4. Bagi masyarakat

Masyarakat mendukung kegiatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan terutama tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar