Selasa, 04 Mei 2010

KECEMASAN MENGHADAPI PERSALINAN

Latar Belakang Masalah

Kehamilan pertama bagi seorang wanita merupakan salah satu periode krisis dalam kehidupannya. Pengalaman baru ini memberikan perasaan yang bercampur baur, antara bahagia dan penuh harapan dengan kekhawatiran tentang apa yang akan dialaminya semasa kehamilan. Kecemasan tersebut dapat muncul karena masa panjang saat menanti kelahiran penuh ketidakpastian, selain itu bayangan tentang hal-hal yang menakutkan saat proses persalinan walaupun apa yang dibayangkannya belum tentu terjadi. Situasi ini menimbulkan perubahan drastis, bukan hanya fisik tetapi juga psikologis (Kartono, 1992).

Bulan September - November 2003, Seksi Pelayanan Khusus Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan RS Jiwa Bandung, RS Jiwa Cimahi, dan Bagian Psikiatri FKUP/ RSHS melakukan survei kesehatan jiwa pada ibu hamil dan menyusui di 112 puskesmas 24 kabupaten Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian ini menunjukkan, 798 orang atau (27%) dari 2.928 responden ibu hamil dan menyusui, menunjukkan tanda gangguan psikiatri berupa kecemasan atau ansietas, (www.pikiranrakyatbandung.com).

Taylor (1995) mengatakan bahwa kecemasan ialah suatu pengalaman subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dan ketidakmampuan menghadapi masalah atau adanya rasa aman. Perasaan yang tidak menyenangkan ini umumnya menimbulkan gejala-gejala fisiologis (seperti gemetar, berkeringat, detak jantung meningkat, dan lain-lain) dan gejala-gejala psikologis (seperti panik, tegang, bingung, tak dapat berkonsentrasi, dan sebagainya).

Dengan makin tuanya kehamilan, maka perhatian dan pikiran ibu hamil mulai tertuju pada sesuatu yang dianggap klimaks, sehingga kegelisahan dan ketakutan yang dialami ibu hamil akan semakin intensif saat menjelang persalinan (Kartono, 1992). Rasa takut menjelang persalinan menduduki peringkat teratas yang paling sering dialami ibu selama hamil (Lestaringsih, 2006).

Merujuk pada teori Buffering Hipothesis yang berpandangan bahwa dukungan sosial mempengaruhi kesehatan dengan cara melindungi individu dari efek negatif stress. Perlindungan ini akan efektif hanya ketika individu menghadapi stressor yang berat. Dukungan keluarga terutama dukungan yang didapatkan dari suami akan meimbulkan ketenangan batin dan perasaan senang dalam diri isteri (Dagun, 1991).

Berdasarkan paparan diatas, dukungan keluarga yang diberikan kepada wanita hamil dapat menumbuhkan perasaan tenang, aman, dan nyaman sehingga dapat mempengaruhi kecemasan ibu hamil.

Tinjauan Pustaka

Kecemasan Ibu Hamil Menghadapi Kelahiran Anak Pertama
Pada Masa Triwulan Ketiga

Menurut Lazarus (1976) kecemasan ialah suatu kondisi psikologis yang mengancam keberadaan diri individu, dimana hal yang menyebabkan ancaman itu bersifat tidak jelas sehingga individu merasa tidak tidak tahu, bingung, dan takut untuk dapat menghadapi masa yang akan datang. Maramis (1980) mengatakan bahwa kecemasan adalah suatu ketegangan, rasa tidak aman, kekhawatiran, yang timbul karena dirasakan akan mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Menghadapi kelahiran bayi merupakan suatu situasi atau kondisi konkrit yang mengancam diri yang menyebabkan perasaan tegang, kuatir, takut, pada wanita hamil pertama (Zanden, 1985).

Menurut Heerdjan dan Hudono (Hermawati dkk, 1994) bahwa pada kehamilan triwulan ketiga, kehidupan psikologi dan emosional wanita hamil dikuasai oleh perasaan dan pikiran mengenai persalinan yang akan datang dan tanggung jawab sebagai ibu yang akan mengurus anaknya. Wanita yang baru pertama kali mengandung, akan merasa gelisah, was-was, dan takut menghadapi rasa sakit manjelang saat melahirkan.

Dari uraian di atas, disimpulkan bahwa kecemasan yang dialami wanita selama kehamilan itu akan semakin intensif pada saat minggu-minggu terakhir menjelang persalinan. Dari berbagai macam definisi kecemasan ini, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa kecemasan ibu hamil menghadapi kelahiran anak pertama masa triwulan ketiga adalah suatu kondisi psikologis atau perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan yang mengancam individu pada masa kandungan tujuh – sembilan bulan dimana objek kecemasan itu tidak jelas atau samar-samar yang dikarenakan adanya perubahan-perubahan fisiologis seperti perubahan bentuk tubuh ataupun rahim yang semakin membesar dan perut menurun serta tekanan-tekanan yang dirasakan dalam perut yang menyebabkan ketidakstabilan kondisi psikologis, seperti merasa takut, kuatir, was-was dan tidak tahu apa yang akan terjadi dan yang harus dia lakukan setelah anak pertamanya lahir.

Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga didefinisi dari dukungan sosial. Definisi dukungan sosial sampai saat ini masih diperdebatkan bahkan menimbulkan kontradiksi (Yanuasti, 2001). Dukungan sosial sering dikenal dengan istilah lain yaitu dukungan emosi yang berupa simpati, yang merupakan bukti kasih sayang, perhatian, dan keinginan untuk mendengarkan keluh kesah orang lain. Sejumlah orang lain yang potensial memberikan dukungan tersebut disebut sebagai significant other, misalnya sebagai seorang istri significant other nya adalah suami, anak, orang tua, mertua, dan saudara-saudara.

Sarafino (1990) mengatakan bahwa kebutuhan, kemampuan, dan sumber dukungan mengalami perubahan sepanjang kehidupan seseorang. Keluarga merupakan lingkungan pertama yang dikenal oleh individu dalam proses sosialisasinya. Dukungan keluarga merupakan bantuan yang dapat diberikan kepada keluarga lain berupa barang, jasa, informasi dan nasehat, yang mana membuat penerima dukungan akan merasa disayang, dihargai, dan tentram (Taylor, 1995). Rodi dan Salovey (Smet, 1994) mengungkapkan bahwa keluarga dan perkawinan adalah sumber dukungan sosial yang paling penting.

Dari definisi yang disebutkan, penulis mengambil kesimpulan bahwa dukungan keluarga sangat bermanfaat dalam pengendalian seseorang terhadap tingkat kecemasan dan dapat pula mengurangi tekanan-tekanan yang ada pada konflik yang terjadi pada dirinya. Dukungan tersebut berupa dorongan, motivasi, empati, ataupun bantuan yang dapat membuat individu yang lainnya merasa lebih tenang dan aman. Dukungan didapatkan dari keluarga yang terdiri dari suami, orang tua, ataupun keluarga dekat lainnya. Dukungan keluarga dapat mendatangkan rasa senang, rasa aman, rasa puas, rasa nyaman dan membuat orang yang bersangkutan merasa mendapat dukungan emosional yang akan mempengaruhi kesejahteraan jiwa manusia. Dukungan keluarga berkaitan dengan pembentukan keseimbangan mental dan kepuasan psikologis.

Hipotesis

Dalam penelitian ini diajukan hipotesis yang berbunyi sebagai berikut: ada hubungan negatif antara dukungan keluarga dengan kecemasan ibu hamil menghadapi kelahiran anak pertama pada masa triwulan ketiga. Semakin tinggi dukungan keluarga maka akan semakin rendah tingkat kecemasan ibu hamil menghadapi kelahiran anak pertama pada masa triwulan ketiga.

D. PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa koefisien korelasi r = -0,392 dengan p = 0,006 (p<0,01).>

Diterimanya hipotesis menunjukan bahwa dukungan keluarga berpengaruh terhadap kecemasan menghadapi kelahiran anak pertama yang dialami oleh ibu hamil. Dukungan keluarga terhadap ibu hamil dapat menyebabkan adanya ketenangan batin dan perasaan senang dalam diri ibu hamil. Keluarga mempunyai peran utama dalam memberi dorongan kepada istri sebelum pihak lain turut memberi dorongan (Dagun, 1990).

Zanden (2007) mengatakan bahwa menghadapi masa persalinan merupakan suatu kondisi konkrit yang mengancam diri ibu hamil yang menyebabkan perasaan tegang, kuatir, dan takut. Untuk itu, ibu hamil berusaha untuk dapat berhasil dalam menghadapi situasi tersebut sebaik-baiknya sampai masa persalinan tiba. Adanya perubahan fisiologis yang menimbulkan ketidakstabilan kondisi psikologis selama hamil menumbuhkan kekhawatiran yang terus menerus dalam menghadapi kelahiran bayi pada wanita hamil pertama. Perasaan demikian akan terwujud dalam bentuk suatu kecemasan. Kecemasan yang diikuti adanya perasaan bimbang, ada kalanya kurang disadari oleh yang bersangkutan sehingga bertahan lama dalam dirinya yang semakin lama akan memiliki frekuensi dan intensitas yang lebih tinggi. Perubahan emosi tersebut tidak sama pada setiap wanita hamil. Perbedaan tersebut tergantung pada kepribadian individu, tipe stres yang pernah dialami, dan dukungan emosi yang didapat dari wanita tersebut (Effendi & Tjahjono, 1999).

Beberapa peneliti mengisyaratkan adanya peningkatan ketergantungan baik fisik dan psikologis pada perempuan hamil. Penelitian Werner (2000) menyimpulkan bahwa perubahan fisik dan psikologis yang terjadi pada wanita hamil meningkatkan dependency need. Penelitian tersebut juga menunjukan kebutuhan akan perhatian yang lebih besar, keinginan memastikan bahwa bantuan yang dibutuhkan telah tersedia, dan keinginan akan keterlibatan teman dan keluarga. Hal ini diperkuat dengan penelitian Marks & Kumar (Oktavia, 2001) yang menunjukan bahwa kecemasan yang dialami oleh wanita hamil lebih banyak terdapat pada mereka yang kurang mendapat dukungan sosial. Faktor yang dapat mengurangi kecemasan yang terjadi pada wanita yang akan melahirkan adalah adanya dukungan keluarga yang dapat berupa dari suami, keluarga atau saudara lainnya, orang tua, dan mertua.

Dukungan keluarga yang didapatkan calon ibu akan menimbulkan perasaan tenang, sikap positif terhadap diri sendiri dan kehamilannya, maka diharapkan ibu dapat menjaga kehamilannya dengan baik sampai saat persalinan. Dengan memiliki dukungan keluarga diharapkan wanita hamil dapat mempertahankan kondisi kesehatan psikologisnya dan lebih mudah menerima perubahan fisik serta mengontrol gejolak emosi yang timbul. Dukungan keluarga terutama dukungan yang didapatkan dari suami akan menimbulkan ketenangan batin dan perasaan senang dalam diri isteri (Dagun, 1991).

Hasil penelitian menunjukan bahwa 52,5 % subjek ibu hamil menghadapi kelahiran anak pertama berada pada kategori kecemasan rendah, 60% subjek menilai bahwa dukungan yang diperoleh dari keluarganya sangat tinggi. Dukungan keluarga yang tinggi disebabkan adanya dukungan emosional, dukungan insrumental, dukungan informasional, dan penilaian yang baik yang diberikan dari keluarga kepada ibu hamil, yang mampu menumbuhkan terjalinnya hubungan yang baik antara keluarga dan ibu hamil dan mencegah kecemasan yang timbul akibat perubahan fisik yang mempengaruhi kondisi psikologisnya. Wanita hamil dengan dukungan keluarga yang tinggi tidak akan mudah menilai situasi dengan kecemasan, karena wanita hamil dengan kondisi demikian tahu bahwa akan ada keluarganya yang membantu. Wanita hamil dengan dukungan keluarga yang tinggi akan mengubah respon terhadap sumber kecemasan dan pergi kepada keluarganya untuk mencurahkan isi hatinya. Sejalan dengan penelitian ini, Sagrestano, dkk (1999) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa dukungan sosial yang ditunjukan memberikan efek yang bermanfaat pada kesehtan fisik dan mental pada wanita hamil.

Pada penelitian juga didapatkan sumbangan afektif dukungan keluarga terhadap kecemasan ibu hamil menghadapi kelahiran anak pertama pada masa triwulan ketiga yaitu sebesar15,4%. Hal ini menunjukan terdapat 84,6% variabel lain yang mempengaruhi timbulnya kecemasan menghadapi kelahiran bayi pada wanita hamil pertama. Kemungkinan variabel-variabel lain tersebut antara lain adalah status sosial ekonomi dan dan tingkat pengetahuan tentang kehamilan. Seorang wanita hamil pertama yang belum mapan sosial ekonominya akan merasa kuatir, dan takut dalam memenuhi kebutuhan bayi yang akan dilahirkan, dan sebaliknya. Kecemasan menghadapi kelahiran bayi juga dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan tentang kehamilan. Seorang wanita hamil pertama yang mempunyai pengetahuan tentang kehamilan dengan baik memungkinkan dirinya mampu mengantisipasi dan mempersiapkan diri untuk dapat mengatasi kecemasan dalam menghadapi kelahiran bayinya begitupun juga sebaliknya.

Dalam melakukan penelitian terdapat kelemahan metodologi yaitu proporsi dukungan keluarga tidak eksplisit. Sumber dukungan keluarga yang terdiri dari suami, orang tua, ataupun keluarga yang lainnya tidak memiliki pembagian presentase yang jelas. Pada skala kecemasan ibu hamil yang dibuat sendiri oleh peneliti, terdapat aitem yang mengandung social desirability sehingga menyebabkan rendahnya validitas dan reabilitas pada alat ukur.

E. KESIMPULAN

Hasil analisis data dan pembahasan pada penelitian ini menunjukan bahwa ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara dukungan keluarga dengan kecemasan ibu hamil menghadapi kelahiran anak pertama pada masa triwulan ketiga. Hasil tersebut membuktikan bahwa semakin tinggi dukungan keluarga yang diterima ibu hamil menghadapi kelahiran anak pertama pada masa triwulan ketiga maka akan semakin rendah kecemasan yang dialami oleh ibu hamil tersebut, begitupun sebaliknya semakin rendah dukungan keluarga yang diterima ibu hamil menghadapi kelahiran anak pertamanya pada masa triwulan ketiga maka akan semakin tinggi kecemasan yang dialami ibu hamil tersebut. Sumbangan afektif dukungan keluarga terhadap kecemasan ibu hamil menghadapi kelahiran sebesar 15,4% dan 84,6% lainnya merupakan sumbangan faktor-faktor lain diluar dukungan keluarga.

F. SARAN

1. Bagi peneliti selanjutnya

Kecemasan wanita pada masa kehamilan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor lain antara lain keadaan pribadi ibu hamil, tingkat pengetahuan wanita hamil tentang kelahiran dan persalinan, status pernikahan, status sosial ekonomi, kecemasan terhadap bayi yang dikandung, dan sebagainya yang perlu diperhatikan pada penelitian selanjutnya.

Selain itu disarankan untuk lebih memperhatikan konten pada variabel-variabelnya. Pada penelitian yang menggunakan sumber dukungan dari keluarga disarankan untuk membagi dukungan secara proporsional dengan jelas sesuai dengan sumber-sumber yang dituju. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan alat ukur yang sudah teruji validitas dan reabilitas yang tinggi dan tidak mengandung social desirability.

2. Bagi Ibu Yang Menghadapi Kelahiran

Pada kehamilan pertama, sangat perlu kiranya bagi ibu hamil untuk mempersiapkan diri baik secara fisik maupun secara psikis. Secara fisik dapat dilakukan dengan cara menjaga kesehatan dengan makanan yang bergizi, berolahraga yang diperuntukan ibu hamil, memeriksakan kandungan secara berkesinambungan, dan sebagainya. Secara psikis adalah usia yang cukup, bersikap positif dalam menghadapi kehamilan, mampu mengendalikan emosi dalam rangka kesanggupan untuk menyesuaikan diri dalam situasi tertentu dan menambah pengetahuan tentang kehamilan dan persalinan. Semua hal itu ditunjukan untuk menjaga kesehatan ibu dan anak dan menghindari munculnya kecemasan pada ibu hamil.

3. Bagi Keluarga

Keluarga diharapkan tetap terus memberikan dukungannya. Dengan adanya dukungan dari keluarga maka akan membantu ibu hamil dalam mengatasi masalah yang dialaminya selama masa kehamilan dan menjelang proses kelahiran yang akan menghindarkan ibu hamil dari kecemasan. Keluarga dari wanita yang sedang hamil seyogyanya mempunyai pengertian dan pengetahuan yang cukup tentang proses atau perubahan yang dialami oleh para wanita hamil yang dapat menghindari atau mengatasi kemungkinan terjadinya konflik dan akan mempermudah wanita hamil tersebut menyesuaikan diri dalam menghadapi kehamilannya serta mengurangi kecemasan selama menanti persalinan.

4. Bagi Lembaga

Kecemasan menghadapi persalinan dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yang bersifat nyata ataupun yang bersifat tidak jelas pada kejadian yang akan datang. Untuk mengantisipasi kecemasan pada ibu hamil, pihak rumah sakit yang berkompeten menangani ibu hamil disarankan agar menyediakan jasa konsultasi yang berguna bagi ibu hamil untuk dapat terhindar dari kecemasan yang timbul.

DAFTAR PUSTAKA

Alif Mu’arifah. 2005. Hubungan Kecemasan dan Agresivitas. Humanitas: Indonesian Psychological Journal, Vol 2, 102-111

Alisjahbana, A; Sidharta, M & Brouwer, M. A. W. 1984. Menuju Kesehatan Jiwa. Jakarta: PT. Gramedia.

Arthur & Coleman, L. 1980. Psikologi Untuk Wanita Hamil. (Terjemahan : Mirianty. S). Jakarta: Indah Jaya

Atkitson, R. L. 1983. Alih Bahasa Nurjdjanah Taufiq. Pengantar Psikologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Azwar, S. 2001. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

_______. 2004. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Mempersiapkan Persalinan

Agar persalinan berjalan lancar, sebaiknya sejak jauh-jauh hari mempersiapkan kebutuhan persalinan tersebut. Oleh karena, kapan waktu persalinan akan tiba tidak dapat dipastikan.

Berikut beberapa tips mempersiapkan persalinan :
1. Merencananak persalinan, meliputi :

  • Tempat persalinan.
  • Memilih tenaga kesehatan terlatih.
  • Bagaimana cara menghubungi tenaga kesehatan terlatih tersebut.
  • Transportasi yang bisa digunakan untuk ke tempat persalinan tersebut.
  • Siapa yang akan menemani persalinan.
  • Biaya yang dibutuhkan, dan bagaimana cara megumpulkannya.

2. Membuat rencana pembuatan keputusan jika kegawat daruratan pada saat pembuat keputusan utama tidak ada.
3. Mempersiapkan transportasi jika terjadi kegawat daruratan.
4. Persiapan barang-barang yang diperlukan untuk persalinan berupa pakaian untuk bayi dan perlengkapan melahirkan seperti : pembalut wanita, handuk, kain, waslap, alat mandi, pakaian terbuka depan, gurita ibu, gurita bayi, pakaian bayi, gendongan bayi, dot, dan sebagainya.

MENUNGGU hari persalinan bisa menjadi pengalaman yang menegangkan sekaligus melelahkan. Dengan usia kandungan yang semakin tua, apa pun bisa terjadi pada ibu hamil. Cemas, gelish, takut, stres, marah-marah, mulas, keluhan sakit perut, sampai kontraksi yang frekuensinya makin sering, jamak dialami oleh ibu menjelang persalinannya. Nah, suami bisa berperan untuk meringankan beban istrinya.

“Yang terpenting, keberadaan suami di sisi istri yang tengah berjuang hendak melahirkan si buah hati ke dunia sangatlah penting dalam menciptakan rasa aman dan nyaman. Selalu ada setiap kali istri membutuhkan!” tegas Anna Surti Ariani Psi dari Medicare Clinic, Menara Kadin, Kuningan, Jakarta.

Temani ke Dokter

Dr Andon Hestiantoro SpOG(K) yang berpraktek di RSCM, menjelaskan dukungan dan peran suami yang baik dan benar sangat membantu istri yang sedang hamil untuk mengenali risiko-risiko yang mungkin mengganggu kehamilan serta persalinan sejak dini. “Tak peduli kehamilan pertama atau kesekian, dampingan suami tetap diperlukan saat istri memeriksakan kehamilannya. Dampingan ini akan sangat membantu suami untuk mengetahui sekaligus mengikuti tahap demi tahap perkembangan bayi mereka, apakah ada masalah atau tidak. Selain itu suami pun jadi terbantu memahami gejolak emosi sang istri,” jelasnya.

Saat mendampingi pasangan memeriksakan kandungannya, posisikan diri sebagai mitra yang membantu mencari jalan keluar bersama-sama demi perkembangan optimal janin. Kalaupun ada keluhan, besarkan hatinya agar mau berkonsultasi ke dokter dan mendapat jawaban pasti dari ahlinya. Kalaupun hasilnya dianggap kurang memuaskan, ajukan alternatif untuk kepastian jalan terbaiknya ke dokter yang lebih ahli ataupun rumah sakit yang lebih besar.

Jika peran suami dijalankan, diharapkan keterlambatan yang kerap menjadi penyebab kematian ibu melahirkan tidak akan terjadi. “Keterlambatan yang dimaksud mencakup terlambat mengetahui kelainan kehamilan dan persalinan, terlambat memutuskan untuk segera ke fasilitas pelayanan kesehatan, dan terlambat menerima perawatan yang tepat,” terang dokter yang juga menjabat sebagai Kepala Klinik Yasmin, klinik terpadu untuk kesehatan reproduksi pria dan wanita.

Dampingi Sampai Masa Bersalin Tiba

Saat persalinan berlangsung, perasaan gelisah, cemas dan takut juga menghinggapi sang istri. Ini antara lain karena adaptasi dengan suasana kamar bersalin yang tentu baru bagi ibu. Di samping itu, rasa sakit selama proses persalinan juga sangat mengganggu suasana hati ibu. Pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan bidan atau dokter untuk menilai kemajuan persalinan juga dapat meningkatkan kegelisahan.

Apalagi, proses persalilnan yang membutuhkan waktu 8-12 jam, membutuhkan kesabaran, kekuatan fisik dan mental ibu. Dukungan suami tentu akan membuatnya kooperatif dan sangat tenang. Sebaliknya, kalau ibu stres, keseimbangan hormon, enzim dan energi yang sangat diperlukan untuk kelancaran proses persalinan bisa terganggu,” alas dr Andon.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar