Selasa, 11 Mei 2010

KTI GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMENUHAN GIZI PADA ANAK RETARDASI MENTAL DI SLB PGRI CLURING

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Retardasi mental bukan merupakan suatu penyakit, melainkan suatu kondisi yang mempunyai penyebab berbeda-beda. Penyebab retardasi mental dapat dikatagorikan dalam 3 katagori, yaitu yang bersifat organobiologik, psikoedukatif dan sosio kultural. Penyebab organobiologik, misalnya : berat badan, usia kelahiran, posisi bayi dalam kandungan, penyakit campak waktu bayi, kekurangan fenilalanin, dan lain-lain. Penyebab psiko edukatif berkaitan dengan kurangnya stimulasi dini, lingkungan yang tidak memacu perkembangan otak, terutama pada tiga tahun pertama. Penyebab sosiobudaya berfokus pada perbedaan variabel sosioekonomibudaya; prevalensi penderita retardasi mental lebih besar pada keluarga dengan tingkat sosioekonomi rendah. (Siti Isfandari dan Ekowati Rahajeng, 2007).

1

Orang-orang yang secara mental mengalami keterbelakangan, memiliki perkembangan kecerdasan (intelektual) yang lebih rendah dan mengalami kesulitan dalam proses belajar serta adaptasi sosial.
Tingkat kecerdasan ditentukan oleh faktor keturunan dan lingkungan.
Pada sebagian besar kasus retardasi mental, penyebabnya tidak diketahui; hanya 25% kasus yang memiliki penyebab yang spesifik. (Medicastore, 2008)


`Banyak anak-anak dengan retardasi mental lahir dengan abnormalitas fisik, seperti daya pendengaran yang lemah, atau masalah jantung. Mereka ini beresiko tiga sampai empat kali lebih tinggi untuk mengidap gangguan mental lainnya seperti ketidakmampuan belajar dan mengompol dari pada populasi umum. (Yulius dan Iva, 2008)

Prevalensi retardasi mental sekitar 1 % dalam satu populasi. Di indonesia 1-3 persen penduduknya menderita kelainan ini. Insidennya sulit di ketahui karena retardasi metal kadang-kadang tidak dikenali sampai anak-anak usia pertengahan dimana retardasinya masih dalam taraf ringan. Insiden tertinggi pada masa anak sekolah dengan puncak umur 10 sampai 14 tahun. Retardasi mental mengenai 1,5 kali lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. (Idmgarut, 2009)

Menurut data dari SLB PGRI Cluring sampai bulan Juni 2009 jumlah siswanya 52 anak, dan di dapat 96 % (50 anak) yang menderita retardasi mental.

Ternyata gangguan gizi yang berat dan yang berlangsung lama sebelum umur 4 tahun sangat memepngaruhi perkembangan otak dan dapat mengakibatkan retardasi mental. Keadaan dapat diperbaiki dengan memperbaiki gizi sebelum umur 6 tahun, sesudah ini biarpun anak itu dibanjiri dengan makanan bergizi, intelegensi yang rendah itu sudah sukar ditingkatkan. (Idmgarut, 2009)

Wainer (1978) menggolongkan penyebab retardasi mental dalam 2 golongan, yaitu : familial retardation dan penyebab organobiologis. Dalam familial retardation tidak ditemukan ketidak normalan biologis, namun ada sejarah keluarga bahwa satu atau kedua orang tuanya mengalami retardasi mental. Belum diketahui apakah familial retardation disebabkan karena faktor genetik atau pengalaman diasuh orarg tua yang mengalami retardasi mental. Seperti yang telah dikatakan familial retardation tidak mempunyai sebab biologis yang jelas. IQ mereka berkisar antara 50 sampai 69 serta mempunyai sejarah keluarga yang mengalami retardasi mental, tapi penyebab khususnya tidak diketahui.

Berdasarkan pada data informasi diatas, maka bidan sebagai edukator perlu memberikan pendidikan dan penyuluhan tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental. Berdasarkan fenomena diatas peneliti tertarik mengadakan penelitian tentang “Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Pemenuhan Gizi Pada Anak Retardasi Mental di SLB PGRI Cluring”.

B. Pembatasan dan Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti membatasi hanya sebatas tahu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana gambaran pengetahuan ibu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental di SLB PGRI Cluring ?”

C. Tujuan Penelitian

Mengetahui pengetahuan ibu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental di SLB PGRI Cluring.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Penelitian ini dipakai sebagai dasar bagi penulis untuk mengetahui seberapa besar tingkat pengetahuan ibu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental.

2. Bagi Institusi Penelitian

Memberikan masukan institusi kesehatan tentang tingkat pengetahuan ibu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental.

3. Bagi Responden

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai masukan dalam menyelesaikan masalah gizi yang ada saat ini, khususnya menambah pengetahuan ibu yang mempunyai anak retardasi mental di SLB PGRI Cluring.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1) Konsep Pengetahuan

Pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan inderawi. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan indera atau akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya.

Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what”, sedang ilmu (science) bukan sekedar menjawab “what”, melainkan akan menjawab pertanyaan “why” dan “how”. (Notoatmodjo, 2002 : 3)

Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah faktor dan teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Pengetahuan tersebut diperoleh baik dari pengalaman langsung maupun melalui pengalaman orang lain. (Notoatmodjo, 2002 : 10).

2) Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan yang mencakup di dalam Domain Kognitif dibagi menjadi 6 tingkatan, yaitu :

1)

5

Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Pada tingkat ini recall (mengingat kembali) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bagian yang dipelajari / rangsang yang diterima, oleh sebab itu tingkat ini adalah yang paling rendah.

2) Memahami (Comprehension)

Memahami dilakukan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar yang dilakukan dengan menjelaskan, menyebutkan contoh, dan lain-lain.

3) Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi / penggunaan hukum – hukum, rumus, metode, prinsip dan konteks / situasi lain.

4) Analisis (Analysis)

Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi / suatu objek ke dalam komponen – komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lainnya.

5) Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan / menghubungkan bagian – bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, dengan sintesis adalah kemampuan untuk informasi – informasi yang ada.

6) Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini kaitannya dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi / penelitian terhadap suatu materi yang ingi diukur dari subjek penelitian / responden.

3) Cara Memperoleh Pengetahuan

a. Cara Tradisional

1) Cara Coba – Salah (Trial And Error)

Dipakai sebelum adanya peradaban kebudayaan yang dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan bila kemungkinan tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain sampai dapat terpecahkan.

2) Cara Kekuasaan (Otoritas)

Sumber pengetahuan diperoleh dari pemimpin – pemimpin masyarakat baik formal maupun informal, ahli agama, pemegang pemerintahan dan sebagainya.

Prinsip orang lain menerima pendapat dari orang yang mempunyai otoritas, tanpa terlebih dahulu menguji atau membuktikan kebenarannya baik fakta empiris ataupun penalaran sendiri.

3) Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Pengalaman merupakan sumber pengetahuan dengan cara mengulangi kembali pengalaman yang telah diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu.

4) Melalui Jalan Pikiran

Dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun dedukasi yang merupakan cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui pernyataan – pernyataan yang dikemukakan, kemudian dicari hubungannya sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan. (Notoatmodjo, 2002 : 11 – 14)

b. Cara Modern (Ilmiah)

Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada saat ini lebih sistematik, logis dan ilmiah. Untuk memperoleh kesimpulan dilakukan dengan mengadakan observasi langsung, dan membuat pencatatan – pencatatan terhadap semua fakta sehubungan dengan objek yang diteliti. (Notoatmodjo, 2002 : 18)

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah sebagai berikut :

a. Faktor Internal

1) Umur

Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun, semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang maka akan lebih matang dalam berfikir logis. (Nursalam dan Siti Pariani, 2001). Sedangkan makin tua umur seseorang maka makin konstuktif dalam menggunakan koping terhadap masalah yang dihadapi, dimana pengalaman dan kematangan jiwa seseorang disebabkan semakin cukupnya umur dan kedawasaan dalam berfikir dan bekerja. Hurlock (1998) dalam buku Nursalam dan Siti Pariani (2001).

2) Pendidikan

Bahwa pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga meningkatkan kualitas hidup. Oleh sebab itu makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makan makin tinggi menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan. (Nursalam dan Siti Pariani, 2001)

3) Pengalaman

Pengalaman merupakan guru yang terbaik, pepatah tersebut dapat diartikan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. (Soekidjo, 2002:13)

4) Pekerjaan

Menurut Markum (1991) bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu, bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarganya. (Nursalam dan Siti Pariani, 2001)

b. Faktor Eksternal

1) Informasi

Informasi adalah penerangan, pemberitahuan, kabar atau berita tentang suatu keseluruhan makna yang menunjang amanat. Informasi memberikan pengaruh kepada seseorang meskipun orang tersebut mempunyai tingkat pendidikan rendah tetapi jika ia mendapatkan informasi yang baik dari berbagai media, maka hal ini akan dapat menigkatkan pengtahuan orang tersebut.

2) Lingkungan

Lingkungan adalah seluruh kondisi yang ada di sekitar manusia dan pengaruhnya dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok.

3) Sosial Budaya

Sosial budaya mempunyai pengaruh pada pengetahuan seseorang. Seseorang memperoleh suatu kebudayaan dalam hubungannya dalam hubungannya dengan orang lain, karena hubungan ini seseoang mengalami proses belajar memperoleh sesuatu pengetahuan.

3. Pengukuran Tingkat Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau dengan kuesioner yang menanyakan tentang isi materi yang ingin di ukur dari subyek penelitian atau responden.

Skala pengetahuan ini menggunakan data kuantitatif yang berbentuk orang-orang yang menggunakan alternatif jawaban yang menggunakan peringkat yaitu setiap kolom menunjukkan nilai tertentu. Dengan demikian analisa dilakukan dengan mencermati banyaknya centangan dalam setiap kolom yang berbeda nilainya lalu mengalihkan frekuensi pada masing-masing kolom yang bersangkutan. Disini peneliti hanya menggunakan 2 pilihan, yaitu :

a. “B” (Betul)

b. “S” (Salah)

Prosedur perskala (scalling) yaitu penentuan pemberian angka atau nilai 1 bila jawaban Betul, dan 0 bila jawaban Salah.

B. Konsep Gizi

1. Definisi Gizi

Gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan.(Sunita Almatsir, 2004)

Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunan zat-zat gizi.

Makanan adalah bahan selain obat yang mengandung zat-zat gizi dan atau unsure-unsur kimia / ikatan kimia yang dapat diubah menjadi zat gizi oleh tubuh, yang berguna bila dimasukkan ke dalam tubuh.( Sunita almatsir, 2004 ).

Makanan adalah bahan, yang biasanya berasal dari hewan atau tumbuhan, dimakan oleh makhluk hidup untuk memberikan tenaga dan nutrisi. (Shinta Ferlina, 2005)

2. Pemenuhan Gizi

Gangguan gizi yang berat dan yang berlangsung lama sebelum umur 4 tahun sangat mempengaruhi perkembangan otak dan dapat mengakibatkan retardasi mental. Keadaan dapat diperbaiki dengan memperbaiki gizi sebelum umur 6 tahun, sesudah ini biarpun anak itu dibanjiri dengan makanan bergizi, intelegensi yang rendah itu sudah sukar ditingkatkan.(Idmgarut, 2009)

3. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Status Gizi

a. Faktor Internal

1) Genetik

Beberapa penyakit yang di sebabkan oleh faktor ini seperti Diabetes mellitus ( kencing manis ), buta warna, Hemofilia, albino, dan kelainan kepala besar yang terdapat pada orang mongoloid.

2) Penyakit Kongenital

Penyakit konginetal adalah penyakit yang didapat sejak lahir seperti Atresia ani.

b. Faktor Eksternal

1) Pengetahuan

Pendidikan berpengaruh pada pengetahuan yang dimiliki seseorang di samping itu pengetahuan juga dipengaruhi oleh lingkungan dan juga sarana informasi yang tersedia.

2) Penyakit

Kebersihan makanan, kontak perseorangan, pekerjaan. Secara tidak langsung akan mempengaruhi status gizi mereka.

3) Lingkungan

Faktor lingkungan fisik seperti cuaca atau iklim, tanah dan air. Lingkungan biologis seperti kepadatan penduduk, sumber makanan juga akan mempengaruhi status gizi seseorang.

4) Status Sosial Ekonomi

Golongan ekonomi rendah lebih banyak menderita gizi kurang dibandingkan dengan golongan ekonomi menengah ke atas dimana mereka lebih banyak memanfaatkan tempat pelayanan kesehatan yang tersedia.

4. Kebutuhan Gizi Berkaitan dengan Proses Tubuh

Bila dikelompokkan, ada 3 fungsi zat gizi dalam tubuh, yaitu :

1) Memberi Energi

Zat-zat ini yang memberikan energi adalah karbohidrat, lemak, dan protein. Okidasi zat-zat ini menghasilkan energi yang diperlukan tubuh untuk melakukan kegiatan/ aktivitas.

2) Pertumbuhan dan Pemeliharaan Jaringan Tubuh

Protein, mineral, dan air adalah bagian penting dari jaringan tubuh. Oleh karena itu, diperlukan untuk memebentuk sel-sel baru, memelihara dan mengganti yang rusak. Ketiga zat tersebut dinamakan zat pembangun.

3) Mengatur Proses Tubuh

Protein, mineral, air dan vitamin diperlukan untuk mengatur proses tubuh. Protein mengatur keseimbangan iar di dalam sel, bertindak sebagai buffer dalam upaya memelihara netralitas tubuh dan membentuk antibodi sebagai penangkal organisme yang bersifat destruktif dan bahan-bahan asing yang dapat masuk ke dalam tubuh. Dalam fungsi mengatur proses tubuh ini, protein, mineral, air dan vitamin dinamakan zat pengatur. (Almatsier, 2004: 8-9)

5. Akibat Gangguan Gizi Terhadap Fungsi Tubuh

Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Gangguan gizi disebabkan oleh faktor primer atau sekunder.

1) Faktor Primer

a. Bila susunan makanan seseorang salah dalam kuantitas dan atau kualitas yang disebabkan oleh kurangnya penyediaan pangan.

b. Kurang baiknya distribusi pangan.

c. Kemiskinan.

d. Ketidaktahuan.

e. Kebiasaan makan yang salah dan sebagainya.

2) Faktor Sekunder

Meliputi semua faktor yang menyebabkan zat-zat gizi tidak sampai di sel-sel tubuh setelah makan dikonsumsi. (Sunita Almatsier, 2004: 9-10)

6. Gizi Tidak Seimbang

1) Gizi Lebih

Masalah ini disebabkan karena konsumsi makanan yang melebihi dari yang dibutuhkan terutama konsumsi lemak yang tinggi dan makanan dari gula murni. Pada umumnya masalah ini banyak terdapat di daerah perkotaan dengan dijumpainya balita yang kegemukan.

2) Gizi Kurang

Gizi kurang disebabkan karena konsumsi gizi yang tidak mencukupi kebutuhannya dalam waktu tertentu.

3) Gizi Buruk

Bila kondisi gizi kurang berlangsung lama, maka akan berakibat semakin berat tingkat kekurangannya. Pada keadaan ini dapat menjadi kwashiorkor dan marasmus yang biasanya disertai penyakit lain seperti diare, infeksi, penyakit pencernaan, infeksi saluran pernapasan bagian atas, anemia, dan lain-lain.(Paath, 2005: 46).

7. Akibat Kekurangan protein

Kekurangan protein banyak terdapat pada masyarakat sosial ekonomi rendah. Kekurangan protein murni pada stadium berat menyebabkan kwashiorkor pada anak-anak di bawah lima tahun (balita). Kekurangan protein sering ditemukan secara bersamaan dengan kekurangan energi yang menyebabkan kondisi yang dinamakan marasmus. Sindroma gabungan antara dua jenis kekurangan ini dinamakan Energy-Protein Malnutrition/ EPM atau Kurang Energi-Protein/ KEP atau Kurang Kalori-Protein/ KKP.

Tanda-tanda Klinis :

Marasmus

§ Anak tampak sangat kurus tinggal tulang terbungkus kulit.

§ Wajah seperti oang tua.

§ Cengeng rewel.

§ Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit bahkan sampai tidak ada.

§ Sering disertai diare kronok atau konstipasi.

§ Tekanan darah, detak jantung dan pernapasan mulai berkurang.

Kwashiorkor

§ Odem umumnya diseluruh tubuh dan terutama pada kaki.

§ Anak apatis, tidak nafsu makan, tidak gembira dan suka merengek.

§ Kulit mengalami depigmentasi, kering, bersisik, pecah-pecah, dan dermatosis.

§ Luka sukar sembuh.

§ Rambut mengalami depigmentasi, menjadi lurus, kusam, halus, dan mudah rontok. (Sunita Almatsier, 2004: 101-103)

C. Konsep Retardasi Mental

Keterbelakangan Mental (Retardasi Mental, RM) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan fungsi kecerdasan umum yang berada dibawah rata-rata disertai dengan berkurangnya kemampuan untuk menyesuaikan diri (berperilaku adaptif), yang mulai timbul sebelum usia 18 tahun.

Retardasi mental ialah keadaan dengan intelegensia yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama ialah intelegensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit dan fren = jiwa) atau tuna mental. ( Idmgarut, 2009)

Menurut situs Kompas.com, retardasi mental adalah “suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama terlihat selama masa perkembangan sehingga berpengaruh pada semua tingkat inteligensia, yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial. Retardasi mental kadang disertai gangguan jiwa atau gangguan fisik lain”. (Imron Rosyadi, 2009)

1. Penyebab Retardasi Mental

a. Akibat Infeksi dan atau Intoksikasi.

Dalam kelompok ini termasuk keadaan retardasi mental karena kerusakan jaringan otak akibat infeksi intrakranial, karena serum, obat atau zat toksik lainnya.

b. Akibat Rudapaksa dan atau Sebab Fisik Lain.
Rudapaksa sebelum lahir serta juga trauma lain, seperti sinar x, bahan kontrasepsi dan usaha melakukan abortus dapat mengakibatkan kelainan dengan retardasi mental.
Rudapaksa sesudah lahir tidak begitu sering mengakibatkan retardasi mental.

c. Akibat Gangguan Metabolisme, Pertumbuhan atau Gizi.
Semua retardasi mental yang langsung disebabkan oleh gangguan metabolisme (misalnya gangguan metabolisme lemak, karbohidrat dan protein), pertumbuhan atau gizi termasuk dalam kelompok ini.

d. Akibat Penyakit Otak Yang Nyata (postnatal).
Dalam kelompok ini termasuk retardasi mental akibat neoplasma (tidak termasuk pertumbuhan sekunder karena rudapaksa atau peradangan) dan beberapa reaksi sel-sel optak yang nyata, tetapi yang belum diketahui betul etiologinya (diduga herediter). Reaksi sel-sel otak ini dapat bersifat degeneratif, infiltratif, radang, proliferatif, sklerotik atau reparatif.

e. Akibat Penyakit / Pengaruh Pranatal Yang Tidak Jelas.
Keadaan ini diketahui sudah ada sejak sebelum lahir, tetapi tidak diketahui etiologinya, termasuk anomali kranial primer dan defek kogenital yang tidak diketahui sebabnya.

f. Akibat Kelainan Kromosom.

Kelainan kromosom mungkin terdapat dalam jumlah atau dalam bentuknya.

g. Akibat Prematuritas.

Kelompok ini termasuk retardasi mental yang berhubungan dengan keadaan bayi pada waktu lahir berat badannya kurang dari 2500 gram dan/atau dengan masa hamil kurang dari 38 minggu serta tidak terdapat sebab-sebab lain seperti dalam sub kategori sebelum ini.

h. Akibat Gangguan Jiwa Yang Berat.

Untuk membuat diagnosa ini harus jelas telah terjadi gangguan jiwa yang berat itu dan tidak terdapat tanda-tanda patologi otak.

i. Akibat Deprivasi Psikososial.

Retardasi mental dapat disebabkan oleh fakor-faktor biomedik maupun sosiobudaya.

Secara kasar, penyebab RM dibagi menjadi beberapa kelompok:

1) Trauma (sebelum dan sesudah lahir)

§ Perdarahan intrakranial sebelum atau sesudah lahir.

§ Cedera hipoksia (kekurangan oksigen), sebelum, selama atau sesudah lahir.

§ Cedera kepala yang berat.

2) Infeksi (bawaan dan sesudah lahir)

§ Rubella kongenitalis

§ Meningitis

§ Infeksi sitomegalovirus bawaan

§ Ensefalitis

§ Toksoplasmosis kongenitalis

§ Listeriosis

§ Infeksi HIV

3) Kelainan kromosom

§ Kesalahan pada jumlah kromosom (Sindroma Down)

§ Defek pada kromosom (sindroma X yang rapuh, sindroma Angelman, sindroma Prader-Willi)

§ Translokasi kromosom dan sindroma cri du chat .

4) Kelainan genetik dan kelainan metabolik yang diturunkan

§ Galaktosemia

§ Penyakit Tay-Sachs

§ Fenilketonuria

§ Sindroma Hunter

§ Sindroma Hurler

§ Sindroma Sanfilippo

§ Leukodistrofi metakromatik

§ Adrenoleukodistrofi

§ Sindroma Lesch-Nyhan

§ Sindroma Rett

§ Sklerosis tuberosa

5) Metabolik

§ Sindroma Reye

§ Dehidrasi hipernatremik

§ Hipotiroid congenital

§ Hipoglikemia (diabetes melitus yang tidak terkontrol dengan baik)

6) Keracunan

§ Pemakaian alkohol, kokain, amfetamin dan obat lainnya pada ibu hamil

§ Keracunan metilmerkuri

§ Keracunan timah hitam

7) Gizi

§ Kwashiorkor

§ Marasmus

§ Malnutrisi

8) Lingkungan

§ Kemiskinan

§ Status ekonomi rendah

§ Sindroma deprivasi. (Medicastore, 2008)

2. Diagnosa

Pemeriksaan psikologis bisa dilakukan sebelum si anak berusia cukup untuk masuk sekolah untuk menentukan apakah ia mengalami retardasi mental. Karena banyak variasi dalam perkembangan anak, anak berusia sangat muda mungkin berkembang lebih lambat daripada teman sebayanya tetapi belum tentu ia mengalami retardasi mental.

Asosiasi psikiaterik Amerika mengemukakan kriteria berikut untuk diagnosa retardasi mental :

a. IQ yang jauh dibawah rata-rata (70 kebawah).

b. Daya fungsi adaptasi yang lemah dalam hal ketrampilan.

sosial, tanggung jawab, komunikasi, kesaling-bebasan, ketrampilan hidup sehari-hari, kesanggupan untuk mencukupi diri sendiri yang lambat jika dibandingkan dengan usianya.

c. Serangan sebelum usia 18 tahun.

3. Tingkatan Retardasi Mental

Tabel 2.1 Tingkatan Retardasi Mental

Tingkat

Kisaran IQ

Kemampuan Usia Prasekolah
(sejak lahir-5 tahun)

Kemampuan Usia Sekolah
(6-20 tahun)

Kemampuan Masa Dewasa
(21 tahun keatas)

Ringan

52-68

§ Bisa membangun kemampuan sosial & komunikasi

§ Koordinasi otot sedikit terganggu

§ Seringkali tidak terdiagnosis

§ Bisa mempelajari pelajaran kelas 6 pada akhir usia belasan tahun.

§ Bisa dibimbing ke arah pergaulan sosial

§ Bisa dididik

Biasanya bisa mencapai kemampuan kerja & bersosialisasi yg cukup, tetapi ketika mengalami stres sosial ataupun ekonomi, memerlukan bantuan

Moderat

36-51

§ Bisa berbicara & belajar berkomunikasi.

§ Kesadaran sosial kurang

§ Koordinasi otot cukup.

§ Bisa mempelajari beberapa kemampuan sosial & pekerjaan

§ Bisa belajar bepergian sendiri di tempat-tempat yg dikenalnya dengan baik

§ Bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dengan melakukan pekerjaan yg tidak terlatih atau semi terlatih dibawah pengawasan

§ Memerlukan pengawasan & bimbingan ketika mengalami stres sosial maupun ekonomi yg ringan

Berat

20-35

§ Bisa mengucapkan beberapa kata

§ Mampu mempelajari kemampuan untuk menolong diri sendiri

§ Tidak memiliki kemampuan ekspresif atau hanya sedikit

§ Koordinasi otot jelek

§ Bisa berbicara atau belajar berkomunikasi

§ Bisa mempelajari kebiasaan hidup sehat yg sederhana

§ Bisa memelihara diri sendiri dibawah pengawasan

§ Dapat melakukan beberapa kemampuan perlindungan diri dalam lingkungan yg terkendali.

Sangat berat

19 atau kurang

§ Sangat terbelakang

§ Koordinasi ototnya sedikit sekali

§ Mungkin memerlukan perawatan khusus.

§ Memiliki beberapa koordinasi otot

§ Kemungkinan tidak dapat berjalan atau berbicara

§ Memiliki beberapa koordinasi otot & berbicara.

§ Bisa merawat diri tetapi sangat terbatas

§ Memerlukan perawatan khusus.

Sumber : Medicastore, 2008

4. Terapi Retardasi Mental

Pencegahan retardasi mental melalui perawatan pra kelahiran dan pengendalian infeksi secara lebih baik adalah pengobatan yang terbaik. Setelah retardasi mental berhasil didiagnosa, fungsi sosial dan intelektual anak bisa ditingkatkan melalui program yang dirancang untuk merangsang perkembangan. Kini sekolah mulai mengadakan pelatihan bicara dan bahasa, terapi bermain, dan ketrampilan sosial. (Yulius dan Iva, 2008).

Pencegahan primer dapat dilakukan dengan pendidikan kesehatan pada masyarakat, perbaikan keadaan-sosio ekonomi, konseling genetik dan tindakan kedokteran (umpamanya perawatan prenatal yang baik, pertolongan persalinan yang baik, kehamilan pada wanita adolesen dan diatas 40 tahun dikurangi dan pencegahan peradangan otak pada anak-anak). (Idmgarut, 2009)

Terapi mengandung arti proses penyembuhan dan pemulihan jiwa yang benar-benar sehat. Di antaranya terapi-terapi yang digunakan meliputi beberapa bentuk:

a. Terapi holistic, yaitu terapi yang tidak hanya menggunakan obat dan ditujukan kepada gangguan jiwanya saja, dalam arti lain terapi ini mengobati pasien secara menyeluruh.

b. Psikoterapi keagamaan, yaitu terapi yang diberikan dengan kembali

mempelajari dan mengamalkan ajaran agama.

c. Farmakoterapi, yaitu terapi dengan menggunakan obat. Terapi ini biasanya diberikan oleh dokter dengan memberikan resep obat pada pasien.

d. Terapi perilaku, yaitu terapi yang dimaksudkan agar pasien berubah baik sikap maupun perilakunya terhadap obyek atau situasi yang menakutkan. Secara bertahap pasien dibimbing dan dilatih untuk menghadapi berbagai objek atau situasi yang menimbulkan rasa panik dan takut. Sebelum melakukan terapi ini diberikan psikoterapi untuk memperkuat kepercayaan diri. (Plenduz, 2009)

5. Klasifikasi Retardasi Mental

1) Retardasi Mental Ringan

IQ sekitar 50-55 sampai 70. Sekitar 85 % dari orang yang terkena Retardasi Mental. Pada umumnya anak-anak dengan Retardasi Mental Ringan ini tidak dapat dikenali sampai anak tersebut menginjak tingkat pertama atau kedua disekolah.

2) Retardasi Mental Sedang

IQ sekitar 35-40 sampai 50-55.

3) Retardasi Mental Berat

IQ sekitar 20-25 sampai 35-40.

4) Retardasi Mental Sangat Berat

IQ dibawah 20 atau 25.

(Unordinary, 2009)

D. Kerangka Konseptual

Adapun kerangka konseptual dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut :

Keterangan :


: Diteliti


: Tidak diteliti

Gambar 2.1 Kerangka konseptual gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental di SLB PGRI Cluring.

Berdasarkan pengetahuan dari kerangka konseptual diatas dapat dijelaskan bahwa pengetahuan ibu di pengaruhi oleh faktor yang terdiri dari umur, pendidikan, pekerjaan, pengalaman, informasi, lingkungan dan sosial budaya. Faktor-faktor tersebut semuanya tidak diteliti. Sedangkan pada tingkatan pengetahuan yang diteliti pada sebatas tahu saja pengetahuan ibu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental.

BAB 3

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancang-bangun Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah “Metode Penelitian Deskriptif”. Suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif. (Soekidjo, 2002:138)

Dengan menggunakan pendekatan cross sectional yaitu pengukuran simultan pada satu saat dimana pengetahuan ibu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental dinilai hanya satu kali saja.

B. Variabel

1. Jenis Variabel

Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep pengertian tertentu. (Arikunto, 2006)

Jenis variabel dalam penelitian ini adalah variabel independent, yaitu pengetahuan ibu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental.

29


2. Definisi Operasional Variabel

Tabel 3.1 Definisi operasional gambaran pengetahuan ibu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental.

Variabel

Definisi Operasional

Kriteria

Skala

Variabel Independen :

Pengetahuan ibu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental

Hasil tahu, atau pemahaman ibu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental.

Jawaban :

Benar : 1

Salah : 0

Pernyataan :

Baik (76-100%)

Cukup (56-75%)

Kurang Baik

(40-55%)

Tidak Baik (<40%)

(Arikunto, 2006)

Ordinal

C. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. (Arikunto, 2006)

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai anak yang menderita retardasi mental di SLB PGRI Cluring yang berjumlah 50 responden.

D. Sampel

Sampel adalah sebagai atau wakil populasi yang diteliti. (Arikunto, 2006)

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai anak yang menderita retardasi mental di SLB PGRI Cluring, yaitu 50 reponden. Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Total Sampling.

E. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SLB PGRI Cluring Kecamatan Cluring.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian direncanakan akan dilakukan pada tanggal 6-10 Agustus 2009.

F. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

1. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dengan menggunakan data primer yaitu setelah lembar kuesioner dibagikan kepada responden, lembar tersebut akan diambil pada hari itu juga untuk kemudian diolah.

2. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar kuesioner.

G. Teknik Analisa Data

1. Editing

Peneliti mengumpulkan dan memeriksa kembali kebenaran data yang telah diperoleh dari responden. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini ialah menjumlah dan melakukan korelasi.

2. Coding

Merupakan tahap kedua setelah editing dimana peneliti memberikan kode pada setiap kuesioner yang disebar untuk memudahkan dalam pengolahan data.

3. Scoring

Peneliti memberikan score untuk tiap-tiap pernyataan, nilai 1 untuk jawaban “Benar”, nilao 0 untuk jawaban “Salah”.

4. Tabulating

Tabulasi adalah pengorganisasian data sedemikian rupa agar dengan mudah dapat di jumlahkan, disusun, dan didata untuk disajikan dan dianalisis. Dimana peneliti memasukkan data yang telah terkumpul ke dalam table distribusi frekuensi.

H. Analisa Data

Setelah data terkumpul, untuk menilai pengetahuan ibu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental adalah sebagai berikut :

Keterangan :

p : Prosentase

f : Nilai yang diperoleh

n : Jumlah skor maksimal jika pertanyaan dijawab baik.

Dengan kriteria sebagai berikut :

Baik : 76-100% (kode 4)

Cukup : 56-75% (kode 3)

Kurang Baik : 40-55% (kode 2)

Tidak Baik : <>

(Arikunto, 2006)

I. Etika Penelitian

Dalam melakukan suatu penelitian, peneliti haru tetap berpegang pada kode etik, antara lain : melindungi dan menghormati sepenuhnya mengenai hak-hak klien.

Dalam melakukan penelitian, peneliti mengajukan permohonan ijin kepada Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Cluring, untuk mendapatkan persetujuan. Setelah mendapatkan pesetujuan, kuesoiner diberikan pada subjek penelitian dengan menekankan pada masalah etika yang meliputi :

1. Informed consent ( lembar persetujuan )

Lembar persetujuan peneliti kepada responden yang bertujuan agar responden mengetahui maksud dan tujuan penelitian serta dampak yang diteliti selama pengumpulan data. Jika responden bersedia diteliti maka peneliti tidak akan memakssa dan tetap menghormati haknya.

2. Anonimity ( tanpa nama )

Subyek tidak perlu mencantumkan nama dalam kuesioner untuk menjaga privasi, untuk mengetahui keikutsertaan subyek peneliti menulis nomor kode pada masing-masing lembar pengumpulan data.

3. Confidentially ( kerahasiaan )

Kerahasiaan informasi yang telah diberikan oleh subyek dijamin oleh peneliti.

J. Keterbatasan Penelitian

1. Keterbatasan responden yang diteliti.

2. Keterbatasan referensi atau literatur.

3. Keterbatasan waktu penelitian yang relatif singkat.

BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

SLB PGRI Cluring terletak di jalan raya Cluring. Dibangun diatas tanah seluas 270 m². Batasan SLB PGRI Cluring yaitu :

a. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Tamanagung Kecamatan Cluring.

b. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Jajag Kecamatan Cluring.

c. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sembulung Kecamatan Cluring.

d. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Benculuk Kecamatan Cluring.

Tenaga pengajar di SLB PGRI Cluring antara lain :

a. PNS : 2 orang

b. Guru Bantu : 1 orang

c. GTT : 5 orang

35


2. Data Umum

a. Karakteristik responden menurut umur

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi umur ibu yang mempunyai anak retardasi mental di SLB PGRI Cluring tanggal 6-10 Agustus Tahun 2009.

No

Umur

Frekuensi (f)

Prosentase (%)

1.

2.

3.

<20

20-35

>35

0

33

17

0

66

34

Jumlah

50

100

Berdasarkan tabel 4.1 diatas dapat diketahui sebagian besar responden berumur 20-35 tahun yaitu 33 responden (66%).

b. Karakteristik responden menurut pendidikan

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi pendidikan ibu yang mempunyai anak retardasi mental di SLB PGRI Cluring tanggal 6-10 Agustus Tahun 2009.

No

Pendidikan

Frekuensi (f)

Prosentase (%)

1.

2.

3.

4.

SD

SMP

SMA/SMK

Perguruan Tinggi

5

9

26

10

10

18

52

20

Jumlah

50

100

Berdasarkan tabel 4.2 diatas dapat diketahui lebih dari 50% berpendidikan SMA/SMK yaitu 26 responden (52%).


c. Karakteristik responden menurut pekerjaan

Tabel 4.3 Distribusi frekuensi pekerjaan ibu yang mempunyai anak retardasi mental di SLB PGRI Cluring tanggal 6-10 Agustus Tahun 2009.

No

Pekerjaan

Frekuensi (f)

Prosentase (%)

1.

2.

Tidak Bekerja/IRT

Bekerja

19

31

38

62

Jumlah

50

100

Berdasarkan tabel 4.3 diatas dapat diketahui lebih dari 50% responden bekerja yaitu 31 responden (62%).

3. Data Khusus

a. Data Pengetahuan Ibu Tentang Retardasi Mental.

Tabel 4.4 Distribusi pengetahuan ibu tentang retardasi mental di SLB PGRI Cluring tanggal 6-10 Agustus 2009.

No

Pengetahuan

Frekuensi (f)

Persentase (%)

1.

2.

3.

4.

Baik

Cukup

Kurang Baik

Tidak Baik

26

12

10

2

52

24

20

4

Jumlah

50

100

Berdasarkan tabel 4.5 diatas dapat diketahui sebagian besar dari responden berpengetahuan baik yaitu 26 responden (52%) dan sebagian kecil responden mempunyai pengetahuan tidak baik yaitu 2 responden (4%).


b. Data Pengetahuan Ibu Tentang Pemenuhan Gizi Pada Anak Retardasi Mental.

Tabel 4.5 Distribusi pengetahuan ibu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental di SLB PGRI Cluring tanggal 6-10 Agustus 2009.

No

Pengetahuan

Frekuensi (f)

Persentase (%)

1.

2.

3.

4.

Baik

Cukup

Kurang Baik

Tidak Baik

22

24

2

2

44

48

4

4

Jumlah

50

100

Berdasarkan tabel 4.6 diatas dapat diketahui sebagian besar dari responden berpengetahuan cukup yaitu 24 responden (48%) dan sebagian kecil berpengetahuan kurang baik dan tidak baik yaitu masing-masing 2 responden (4%).

c. Data Pengetahuan Ibu Tentang Penyebab dan Akibat Retardasi Mental

Tabel 4.6 Distribusi pengetahuan ibu tentang penyebab dan akibat retardasi mental di SLB PGRI Cluring tanggal 6-10 Agustus 2009.

No

Pengetahuan

Frekuensi (f)

Persentase (%)

1.

2.

3.

4.

Baik

Cukup

Kurang Baik

Tidak Baik

19

16

5

10

38

32

10

20

Jumlah

50

100

Berdasarkan tabel 4.7 diatas dapat diketahui sebagian besar dari responden berpengetahuan baik yaitu 19 responden (38%) dan sebagian kecil berpengetahuan kurang baik yaitu 5 responden (10%).

B. Pembahasan

1. Pengetahuan Ibu Tentang Ratardasi Mental di SLB PGRI Cluring.

Berdasarkan analisa dan interpretasi data yang didapat bahwa lebih dari 50% berpengetahuan baik yaitu 26 responden (52%).

Hasil analisis ini didukung oleh umur responden. Dari data dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berumur 20-35 tahun yaitu 33 responden (66%). Dan sebagian kecil dari responden yang berumur >35 tahun yaitu 17 responden (34%).

Usia 20-35 tahun merupakan usia yang reproduktif bagi seseorang untuk dapat memotivasi diri memperoleh pengetahuan yang sebanyak banyaknya. Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun, semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang maka akan lebih matang dalam berfikir logis. (Nursalam dan Siti Pariani, 2001).

Semakin banyak umur atau semakin tua seseorang maka akan mempunyai kesempatan dan waktu yang lebih lama dalam mendapatkan informasi dan pengetahuan. Dengan demikian semakin tua umur responden maka tingkat pengetahuan ibu tentang retardasi mental semakin baik.

Hasil analisis juga dipengaruhi oleh pendidikan responden. Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa lebih dari 50% responden berpendidikan SMA yaitu 26 responden (52%), kurang dari 50% Akademi/Perguruan Tinggi yaitu 10 responden (20%), kurang dari 50% responden berpendidikan SMP yaitu sebanyak 9 responden (18%) dan kurang dari 50% berpendidikan SD yaitu sebanyak 5 responden (10%).

Menurut Nursalam (2001) bahwa makin tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Responden yang berpendidikan tinggi akan mudah menyerap informasi, sehingga ilmu pengetahuan yang dimiliki lebih tinggi namun sebaliknya orang tua yang berpendidikan rendah akan mengalami hambatan dalam penyerapan informasi sehingga ilmu yang dimiliki juga lebih rendah yang berdampak pada kehidupannya.

Penelitian ini didapatkan bahwa pengetahuan responden tentang retardasi mental lebih dari 50% (52%) baik. Hal ini dikarenakan tingkat keingintahuan ibu tentang retardasi mental sangat baik. Adapun informasi mengenai retardasi mental biasanya diperoleh melalui guru dimana anak disekolahkan dan tenaga kesehatan dimana ibu memeriksakan anaknya.

Pekerjaan responden sebagian besar bekerja yaitu sebanyak 31 responden (62%). Menurut Markum (1991) bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu, bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarganya. Oleh karena tingkat keingintahuan ibu baik maka ibu mendapatkan informasi yang baik pula dari pendidik dan tenaga kesehatan dimana anak itu mandapatkan pengobatan atau terapi.

Dengan demikian pemberian informasi mengenai retardasi mental yang diberikan akan mudah diterima oleh responden sehingga akan semakin termotivasi untuk lebih dalam mengetahui pengertian tentang retardasi mental.

2. Pengetahuan Ibu Tentang Pemenuhan Gizi Pada Anak Retardasi Mental.

Berdasarkan analisa dan interpretasi data yang didapat bahwa berpengetahuan cukup yaitu 24 responden (48%), berpengetahuan baik yaitu 22 responden (44%), berpengetahuan kurang baik yaitu 2 responden (4%) dan berpengetahuan tidak baik yaitu 2 responden (4%). Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang benar pada kuesioner tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental dan dapat dilihat dari latar belakang pendidikan responden rata-rata tinggi dan cukup yaitu perguruan tinggi dan SMA.

Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Pengetahuan tersebut diperoleh baik dari pengalaman langsung maupun tidak langsung maupun melalui pengalaman orang lain. Menurut Notoatmodjo (2002), pengetahuan adalah guru yang baik, yang bermakna bahwa pengalamn itu merupakan sumber pengetahuan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, dan pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan.

Kurang dari 50% responden memiliki pengetahuan kurang baik dan tidak baik masing-masing 2 responden (4%). Hal ini dapat dilatar belakangi pendidikan SD dan SMP disamping itu juga tidak pernah mendapatkan informasi dan tidak memiliki pengalaman sama sekali dalam memenuhi gizi untuk anak retardasi mental. Hal ini dapat diperkuat oleh Notoatmodjo (2003) bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan.

Pendidikan berhubungan dengan transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, ketrampilan dan aspek kelakuan yang lain, dan merupakan proses belajar dan mengajar. Pola kelakuan manusia menurut apa yang diharapakan (Notoatmodjo 2003).

3. Pengetahuan Ibu Tentang Penyebab dan Akibat Retardasi Mental.

Berdasarkan analisa dan interpretasi data yang didapat diketahui bahwa dari 55 responden kurang dari 50% berpengetahuan baik yaitu 19 responden (38%), berpengetahuan cukup yaitu 16 responden (32%),, berpengetahuan kurang baik yaitu 5 responden (10%) dan berpengetahuan tidak baik yaitu 10 responden (20%).

Sebagian besar responden menjawab pada item soal yang benar tentang penyebab dan akibat retardasi mental yaitu salah satu penyebab retardasi mental adalah faktor keturunan adalah salah. Hal ini dapat dilihat dari latar belakang pendidikan yang tinggi dan cukup yaitu perguruan tinggi dan SMA. Pendapat Notoatmodjo (2003) bahwa pengetahuan dapat dipengaruhi oleh pengalaman, fasilitas, dan sosial budaya. Disamping itu juga responden yang tidak bekerja yaitu 19 responden (38%) sehingga ibu lebih banyak waktu luang untuk memperoleh informasi tentang retardasi mental. Hal ini dimungkinkan karena menganggapnya bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu.

Kurang dari 50% berpengetahuan tidak baik yaitu 10 responden (20%). Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang salah tentang penyebab dan akibat retardasi mental. Hal ini dapat dilatar belakangi pendidikan yang cukup tidak pernah mendapatkan informasi tentang retardasi mental. Hal ini diperkuat oleh Notoatmodjo (2003) bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan.



BAB 5

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Dari hasil penelitian diketahui bahwa pengetahuan ibu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental di SLB PGRI Cluring lebih dari 50 % berpengetahuan baik yaitu 26 responden (52%).

B. Saran

1. Bagi peneliti

a. Hendaknya menambah pengetahuan tentang retardasi mental.

b. Menerapkan ilmu yang sudah didapat selama dibangku kuliah dan menambah pengalaman dalam penerapan riset, terutama tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental.

2. Bagi tempat penelitian

Dapat mengetahui tentang pengetahuan retardasi mental dan pemenuhan gizi pada anak retardasi mental dan diharapkan dapat menyediakan alat permainan dan alat bantu yang edukatif guna membantu anak supaya membantu perkembangannya.

3. Bagi Instansi Kesehatan/ Perpustakaan

a. Dapat meningkatkan pelayanan khususnya untuk anak dengan retardasi mental.

b. Lebih memperbanyak referensi bahan mata kuliah tumbuh kembang anak khususnya untuk retardasi mental.

44


4. Bagi masyarakat

Masyarakat memberikan alat permainan dan alat bantu seperti alat musik yang sederhana untuk membantu menstimulasi perkembangan otaknya.

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. (2004). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Asdi Mahasatya

Ferlina, Shinta. (2005). Definisi Makanan. (Online). (http://www.khasiatku.com/definisi-makanan. diakses tanggal 19 Juni 2009).

Idmgarut. (2009). Retardasi Mental. (Online). (http://idmgarut.wordpress.com/2009/02/04/retardasi-mental-rm/ diakses tanggal 16 Juli 2009).

Isfandari, Siti & Rahajeng, Ekowati. (2007). Pengaruh Faktor Berat Badan, Usia Kandungan, Posisi Anak Terhadap Taraf Retardasi Mental. (Online). (http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/15 pengaruhFaktorBeratBadan.pdf/15 PengaruhFaktorBeratBadan.html diakses tanggal 16 Juli 2009)

Medicastore. (2008). Definisi Keterbelakangan Mental. (Online). (http://medicastore.com/penyakit/927/Keterbelakangan Mental.html diakses tanggal 16 Juli 2009)

Moedjiarto, Sarmini. (2009). Buku Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah. Mojokerto

Nursalam. (2003). Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

Paath. (2005). Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. Jakarta: EGC

Plenduz. (2009). Kesehatan Mental. (Online). (http://www.kikil.org/forum/printthread.php?tid=19610 diakses tanggal 2 Agustus 2009)

Rosyadi, Imron. (2009). Ingin Anak Anda Cerdas. (Online). (http://imronrosyadi.blogspot.com/2009/06/ingin-anak-anda-cerdas.html diakses tanggal 18 Juli 2009)

Unordinary. (2009). Penyebab Keterbelakangan Mental (Retardasi Mental). (Online). (http://unordinary-wordl.blogspot.com/2009/03/penyebab-keterbelakangan-mental.html diakses tanggal 16 Juli 2009)

Yulius & Iva. (2008). “Gangguan Mental Pada Anak”. (Online). (http://c3i.sabda.org/artikel/isi/?id=14&mulai=195 diakses tanggal 16 Juli 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar