Selasa, 11 Mei 2010

KTI HUBUNGAN PARITAS DENGAN KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUD GENTENG - BANYUWANGI TAHUN 2008 - 2009

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perdarahan sebagai penyebab kematian

ibu terdiri atas perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum, perdarahan antepartum merupakan kasus gawat darurat yang kejadiannya berkisar 3% dari semua persalinan, penyebabnya antara lain plasenta previa, solusio plasenta, dan perdarahan yang belum jelas sumbernya (Sarwono, 2002 : 363).

Frekuensi plasenta previa pada primigravida yang berumur lebih dari 35 tahun kira – kira 2 kali lebih sering dibandingkan dengan primigravida yang berumur kurang dari 25 tahun, pada para 3 atau lebih yang berumur lebih dari 35 tahun kira – kira 3 kali lebih sering dibandingkan para 3 atau lebih yang berumur kurang dari 25 tahun (Sarwono, 2002 : 368)

Plasenta previa adalah plasenta yang implantasinya tidak normal, sehingga menutupi seluruh atau sebagian ostium internum karena faktor predisposisi yang masih sulit dihindari, prevalensinya masih tinggi serta punya andil besar dalam angka kematian maternal dan perinatal yang merupakan parameter pelayanan kesehatan Prevalensi plasenta previa di negara maju berkisar antara 0,26 - 2,00 % dari seluruh jumlah kehamilan. Sedangkan di Indonesia dilaporkan oleh beberapa peneliti berkisar antara 2,4 - 3,56 % dari seluruh kehamilan, di kabupaten banyuwangi pada tahun 2002 jumlah kelahiran hidup 32 per 100.000 dengan komplikasi 50 % eklampsi, 37,5 % karena perdarahan dan 12,5 % karena penyebab lain.

Plasenta previa pada kehamilan prematur lebih bermasalah karena persalinan terpaksa; sebagian kasus disebabkan oleh perdarahan hebat, sebagian lainnya oleh proses persalinan. Prematuritas merupakan penyebab utama kematian perinatal sekalipun penatalaksanaan plasenta previa sudah dilakukan dengan benar. Di samping masalah prematuritas, perdarahan akibat plasenta previa akan fatal bagi ibu jika tidak ada persiapan darah atau komponen darah dengan segera, upaya yang dilakukan oleh tenaga medis melakukan konsultasi medik saat terjadi perdarahan pertama kali dan merujuk pasien saat terdeteksi plasenta previa terhadap Kehamilan lanjut (Wheeler L, 2002, 123)

B. Pembatasan Dan Rumusan Masalah

1. Pembatasan masalah

Pembatasan masalah dalam penelitian ini dibatasi hanya sebatas tentang plasenta previa

2. Rumusan masalah

Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

” Bagaimanakah hubungan paritas dengan kejadian plasenta previa di RSUD Genteng – Banyuwangi “

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan paritas dengan kejadian plasenta previa di RSUD Genteng – Banyuwangi

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi tentang paritas ibu bersalin di RSUD Genteng – Banyuwangi

b. Mengidentifikasi tentang kejadian plasenta previa di RSUD Genteng – Banyuwangi

c. Menganalisa hubungan paritas dengan kejadian plasenta previa di RSUD Genteng – Banyuwangi

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Bagi Peneliti

Memberikan tambahan ilmu pengetahuan bagi peneliti tentang hubungan paritas dengan kejadian plasenta previa

2. Manfaat Praktis

Memberikan kontribuasi bagi ilmu pengetahuan tentang hubungan paritas dengan kejadian plasenta previa

3. Manfaat Teoritis

Sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya dan sumbangan pengembangan dan penyempurnaan ilmu pengetahuan yang telah ada


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Konsep Dasar Paritas

a. Definisi Paritas

Menurut Chapman (1999) paritas adalah jumlah kelahiran yang pernah dialami ibu dengan mencapai viabilitas.

Sedangkan menurut Manuaba (1999) paritas atau para adalah wanita yang pernah melahirkan dan di bagi menjadi beberapa istilah :

1) Primipara yaitu wanita yang telah melahirkan sebanyak satu kali

2) Multipara yaitu wanita yang telah pernah melahirkan anak hidup beberapa kali, di mana persalinan tersebut tidak lebih dari lima kali

3) Grandemultipara yaitu wanita yang telah melahirkan janin aterm lebih dari lima kali

Ada pula sumber yang didapat dari wikipedia terdapat beberapa istilah tentang paritas yaitu :

1) Primipara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan satu kali atau melahirkan untuk pertama kali

2) Multipara adalah seorang wanita yang telah melahirkan lebih dari satu kali

Paritas 2 – 3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematian maternal (Winkjosastro, 2002).

b. Pengelompokan Paritas

Ditinjau dari tingkatannya paritas dikelompokkan menjadi tiga antara lain :

1) Paritas rendah atau primipara

Paritas rendah meliputi nullipara dan primipara

2) Paritas sedang atau multipara

Paritas sedang atau multipara digolongkan pada hamil dan bersalin dua sampai empat kali. Pada paritas sedang ini, sudah masuk kategori rawan terutama pada kasus-kasus obstetrik yang jelek, serta interval kehamilan yang terlalu dekat kurang dari 2 tahun

3) Paritas tinggi

Kehamilan dan persalinan pada paritas tinggi atau grandemulti, adalah ibu hamil dan melahirkan 5 kali atau lebih. Paritas tinggi merupakan paritas rawan oleh karena paritas tinggi banyak kejadian-kejadian obstetri patologi yang bersumber pada paritas tinggi, antara lain : plasenta previa, perdarahan postpartum, dan lebih memungkinkan lagi terjadinya atonia uteri.

c. Komplikasi Paritas Tinggi

Menurut Manuaba (1999) Seorang wanita yang telah mengalami kehamilan sebanyak 6 kali atau lebih, lebih mungkin mengalami:

1). Kontraksi yang lemah pada saat persalinan (karena otot rahimnya lemah)

2). Perdarahan setelah persalinan (karena otot rahimnya lemah)

3). Plasenta previa (plasenta letak rendah).

4). Pre eklampsi

2. Konsep Dasar Plasenta Previa

a. Definisi Plasenta Previa

Menurut Wiknjosostro ( 2005 ) plesenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (www.http//yuwielueninet.wordpress.com/diakses 010609/plsenta previa). Plasenta previa didefinisikan sebagai suatu keadaan seluruh atau sebagian plasenta ber-insersi di ostium uteri internum, sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari jalan lahir (www.http//PLASENTA PREVIA « Yuwielueninet’s Weblog.htm,diakses 010609)

b. Etiologi

Belum diketahui pasti, namun diyakini plasenta previa meningkat pada grandemultipara, primigravida tua, bekas seksio secarea, bekas aborsi, kelainan janin, dan leiomioma uteri (Mansjoer, 2001 : 276 )

c. Klasifikasi

Plasenta previa melibatkan implantasi plasenta di atas mulut serviks bagian dalam (internal cervical os). Berbagai varian termasuk :

1). Plasenta Previa totalis, apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan Plasenta

2). Plasenta Previa Parsialis, apabila sebagian pembukaan tertutup oleh jaringan Plasenta

3). Plasenta Previa Marginalis, apabila pinggir Plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan

4). Plasenta Letak Rendah, Plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah uterus tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir

Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20 cm dan tebal 2,5 cm, berat rata-rata 500 gram. Tali pusat berhubungan dengan Plasenta biasanya di tengah (insersio sentralis), Bila hubungan agak pinggir (insersio lateralis), dan bila di pinggir Plasenta (insersio marginalis), kadang-kadang tali pusat berada di luar Plasenta dan hubungan dengan Plasenta melalui janin, jika demikian disebut (insersio velmentosa)

d. Penyebab Plasenta Previa

1). Perdarahan (hemorrhaging), jika berhubungan dengan kehamilan (labor), dapat sekunder ke dilatasi serviks dan gangguan (disruption) implantasi plasenta dari servikas dan segmen bawah rahim (lower uterine segment). Segmen bawah rahim tidak mampu berkontraksi dan oleh karenanya tidak dapat menekan/ mempersempit (constrict) pembuluh darah di korpus uterus, menyebabkan perdarahan yang terus-menerus

2). Usia lebih dari 35 tahun

3). Multiparitas

4). Pengobatan infertilitas

5). Multiple gestation (larger surface area of the placenta)

6). Erythroblastosis

7). Riwayat operasi/ pembedahan uterus sebelumnya (prior uterine surgery)

8). Keguguran berulang (recurrent abortions)

9). Status sosioekonomi yang rendah

10). Jarak antar kehamilan yang pendek (short interpregnancy interval)

11). Merokok

12). Penggunaan kokain

13). Penyebab lainnya termasuk pemeriksaan dengan jari (digital exam), abruption (pre-eklampsia, hipertensi kronis, penggunaan kokain, dll) dan penyebab trauma

e. Faktor Predisposisi

1). Melebarkan pertumbuhan plasenta
a) Kehamilan kembar (gemelli)
b) Tumbuh kembang plasenta tipis

2). Kurang suburnya endometrium
a) Malnutrisi ibu hamil
b) Melebarnya plasenta karena gemelli
c) Sering dijumpai pada grandemultipara

3). Terlambat implantasi
a) Endometrium fundus kurang subur
b) Terlambatnya tumbuh kembang hasil konsepsi dalam bentuk

blastula yang siap untuk nidasi

f. Patofisiologi

Perdarahan antepartum akibat Plasenta Previa terjadi sejak kehamilan 10 minggu saat segmen bawah uterus membentuk dari mulai melebar serta menipis, umumnya terjadi pada trismester ketiga karena segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan servik menyebabkan sinus uterus robek karena lepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Pendarahan tidak dapat dihindarkan karena ketidak mampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi seperti pada plasenta letak normal (Mansjoer, 2001 : 276 )

g. Komplikasi

1). Pada ibu dapat terjadi perdarahan hingga syok akibat perdarahan, anemia karena perdarahan plasentitis, dan endometritis pasca persalinan.

2). Pada janin biasanya terjadi persalinan premature dan komplikasi seperti Asfiksi berat.

( Mansjoer, 2001 : 277 )

h. Gambaran Klinik

Perdarahan tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama dan pertama dari Plasenta Previa. Perdarahan dapat terjadi selagi penderita tidur atau bekerja biasa, perdarahan pertama biasanya tidak banyak, sehingga tidak akan berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu banyak dari pada sebelumnya, apalagi kalau sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan dalam. Sejak kehamilan 20 minggu segmen bawah uterus, pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan serviks tidak dapat diikuti oleh plasenta yang melekat dari dinding uterus. Pada saat ini dimulai terjadi perdarahan darah berwarna segar

Sumber perdarahan ialah sinus uterus yang terobek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus perdarahan tidak dapat dihindari karena ketidak mampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan, tidak sebagai serabut otot uterus untuk menghentikan perdarahan kala III dengan plasenta yang letaknya normal makin rendah letak plasenta makin dini perdarahan terjadi, oleh karena itu perdarahan pada Plasenta Previa Totalis akan terjadi lebih dini dari pada plasenta letak rendah, yang mungkin baru berdarah setelah persalinan mulai. (Winkonjosostro, 1999 : 368 )

i. Diagnosis

Pada setiap perdarahan antepartum, perlu dilakukan suatu pemeriksaan yang akan menentukan suatu diagnosis. Dalam menentukkan suatu keadaan plasenta previa perlu dilakukan suatu pemeriksaan sebagai berikut :

1). Anamnesis : perdarahan jalan lahir pada Kehamilan setelah 22 minggu berlangsung tanpa nyeri, tanpa alasan, terutama pada multigravida

2). Pemeriksaan luar : bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul, apabila presentasi kepala, biasanya kepalanya masih terapung diatas pintu atas panggul atau menolak ke samping, dan sukar dodorong ke dalam pintu atas pangul tidak jarang terdapat kelainan letak janin, seperti letak lintang atau letak sungsang

3). Pemeriksaan in spekulo : pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum atau dari kelainan serviks dan vagina, apabila perdarahan dari berasal dari ostium uteri eksternum, adanya plasenta previa harus dicurigai

4). Penentuan letak plasenta tidak langsung : penentuan letak plasenta secara tidak langsung dapat dilakukan dengan radiografi, radioisotope dan ultrasonografi, nilai diagnostiknya cukup tinggi di tangan yang ahli, tapi bahaya radiasi cukup tinggi pada ibu dan bayi, menyebabkan cara ini mulai ditinggalkan

5). Ultarsonografi : penentuan letak plasenta ini dianggap tidak membahayakan bagi ibu dan janin dan tidak menimbulkan rasa nyeri

6). Penentuan letak plasenta secara langsung : pemeriksaan dilakukan secara langsung dengan meraba plasenta melalui kanalis servikalis, tapi hal ini dapat menimbulkan perdarahan yang banyak, pemeriksaan ini hanya dilakukan apabila penanganan pasif ditinggalkan dan ditempuh penanganan aktif

7). Perabaan fornises : pemeriksaan ini hanya bermakna jika janin dalam presentasi kepala, sambil mendorng sedikit kepala janin kearah pintu atas panggul, perlahan – lahan seluruh fornises diraba dengan jari

8). Pemeriksaan melalui kanalis servikalis : apabila kanalis servikalis terbuka, perlahan – lahan jari telunjuk dimasukkan ke dalam kanalis servikalis dengan Tujuan kalau – kalau meraba kotiledon plasenta dan akan terasa padat (keras)apabila antara jari dan kepala janin tidak terdapat plasenta

j. Penatalaksanaan

1). Terapi Ekspektif

a). Tujuan supaya janin tidak terlahir premature, penderita dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melalui kanalis servisis Syarat-syarat terapi ekspektif :

(1). Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti.

(2). Belum ada tanda-tanda in partu.

(3). Keadaan umum ibu cukup baik.

(4). Janin masih hidup.

b). Rawat inap, tirah baring dan berikan antibiotik profilaksis.

c). Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui implantasi plasenta.

d). Berikan tokolitik bila ada kontraksi :

(1). MgS04 IV dosis awal tunggal dilanjutkan 4 gram setiap 6 jam.

(2). Nifedipin 3 x 20 mg perhari.

(3). Betamethason 24 mg IV dosis tunggal untuk pematangan paru janin.

e). Uji pematangan paru janin dengan tes kocok dari hasil amniosentesis.

f). Bila setelah usia kehamilan diatas 34 minggu, plasenta masih berada disekitar Ostium Uteri Interim.

Bila perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 minggu masih lama, pasien dapat dipulang untuk rawat jalan.

2). Terapi Aktif ( tindakan segera )

Wanita hamil diatas 22 minggu dengan perdarahan pervagina yang aktif dan banyak, harus segera ditatalaksanakan secara aktif tanpa memandang moturitus janin. Lakukan PDMO yaitu melakukan perabaan secara langsung melalui pembukaan serviks pada perdarahan yang sangat banyak dan pada ibu dengan anemia berat, jika :

a). Infus 1 transfusi telah terpasang.

b). Kehamilan > 37 minggu ( Berat Badan > 2500 gram ) dan inpartu.

c). Janin telah meninggal atau terdapat anomali kongenital mayor, seperti anesefali.

d). Perdarahan dengan bagian terbawah janin telah jauh melewati pintu atas panggul ( 2/5 atau 3/5 pada palpasi luar ).

B. Kerangka Konseptual Penelitian

Kerangka konseptual adalah konsep yang dipakai sebagai landasan berfikir dalam kegiatan ilmu ( Nursalam, 2003 : 59)

1). Multiparitas

Text Box: 2).	Perdarahan (hemorrhaging),  3).	Usia lebih dari 35 tahun  4).	Pengobatan infertilitas 5).	Multiple gestation (larger surface area of the placenta)  6).	Erythroblastosis  7).	Riwayat operasi/ pembedahan uterus sebelumnya (prior uterine surgery)  8).	Keguguran berulang (recurrent abortions)  9).	Status sosioekonomi yang rendah 10).	Jarak antar kehamilan yang pendek (short interpregnancy interval)  11).	Merokok 12).	Penggunaan kokain

PLASENTA PREVIA


Sumber : Sarwono, 2002 : 367

Keterangan

: Garis berhubungan yang dilakukan penelitian

: Garis berhubungan yang tidak dilakukan penelitian

Gambar 2.1 : Kerangka Konseptual hubungan paritas dengan kejadian plasenta previa

: Variabel/ sub veriabel yang dilakukan penelitian

BAB 3

METODE PENELITIAN

A. Jenis Dan Rancang Bangun Penelitian

Desain penelitian merupakan suatu strategi untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan dan berperan sebagai pedoman atau penuntun peneliti pada seluruh proses penelitian ( Nursalam, 2003 : 81 ). Berdasarkan tujuan penelitian yaitu mengetahui hubungan paritas dengan kejadian plasenta previa di RSUD Genteng – Banyuwangi, maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Cross Sectional adalah suatu penelitian dimana variabel – variabel yang termasuk resiko dan variabel – variabel yang termasuk afek observasi sekaligus pada waktu yang sama ( Notoadmodjo, 2002 : 145)

B. Variable

1. Jenis Variabel

Variabel adalah suatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang suatu konsep pengertian tersebut misalnya : umur, jenis kelamin, status perkawinan, dll (Notoatmodjo, 2002 : 70). Variabel dalam penelitian ini adalah paritas dengan kejadian plasenta previa

2. Definisi Operasional variabel

Definisi operasional dari variabel yang diteliti dapat dilihat dari tabel berikut ini :

No

VARIABEL

DEFINISI OPERASINAL

KRITERIA

SKALA

1.

2.

Paritas

Plasenta previa

Jumlah kelahiran yang pernah dialami ibu dengan mencapai viabilitas

Suatu keadaan seluruh atau sebagian plasenta ber-insersi di ostium uteri internum, sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari jalan lahir

Primipara

Multipara

Grandemulti

- Ya (+)

- Tidak (-)

Ordinal

Nominal

Tabel 3.1 : Definisi operasional hubungan paritas dengan kejadian plasenta previa

C. Populasi

Populasi merupakan seluruh subyek / obyek dengan karakteristik tertentu yang akan diteliti, bukan hanya subyek / obyek yang di pelajari saja tetapi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki subyek atau obyek tertentu ( Aziz Alimul, 2003 : 35 ). Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah semua ibu bersalin yang tercatat dalam rekam medik tahun 2008 – 2009

D. Sampel

Sample adalah sebagian dari seluruh individu yang menjadi obyek penelitian (Arikunto, 2002 : 109). Sampel yang digunakan adalah semua ibu bersalin yang mengalami plaseta previa dan telah tercatat dalam rekam medik RSUD Genteng – Banyuwangi mulai Tahun 2008 – 2009.

Teknik sampling, yang digunakan dalam penelitian ini adalah Simple Non Random Sampling yaitu pengambilan sample secara acak sederhana, dimana setiap anggota unit dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai sample

E. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rekam Medik RSUD Genteng – Banyuwangi per bulan 1 januari 2008 s/d 30 juni 2009, waktu penelitian dilakukan pada Bulan Agustus 2009

H. Teknik Dan Instrumen Pengumpulan Data

1. Tehnik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini Peneliti melakukan pengumpulan data dengan pengamatan dan pencatatan dari register pasien dengan plasenta previa di rekam medik RSUD Genteng – Banyuwangi.

2. Instrument Pengumpulan Data

Alat ukur yang digunakan berupa lembar chek list yaitu suatu daftar pengecek, berisi nama subyek dan beberapa gejala/ identitas lainnya dari sasaran pengamatan ( Notoatmodjo, 2002 : 99)

I. Teknik Analisis Data

1. Tehnik Pengolahan Data

Data yang terkumpul dari hasil pengumpulan data kemudian dianalisa. Sebelum data diolah, data tersebut perlu diedit terlebih dahulu untuk memudahkan analisa, setelah itu dibuat tabulasi dan dianalisa (Moh. Nasir, 1999 : 407), dengan langkah – langkah analisa sebagai berikut :

a. Editing

Editing adalah pekerjaan validitas dan realibilitas data masuk. Kegiatan editing ini meliputi : pemeriksaan akan kelengkapan pengisian lembar chek list,

b. Coding

Coding adalah kegiatan untuk mengklasifikasikan data atau jawaban menurut kategorinya masing-masing. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa kode pada bagian-bagian tertentu untuk mempermudah waktu pentabulasian dan analisa data

c. Scoring

Skoring adalah melakukan penilaian untuk jawaban dari responden. Adalah penentuan jumlah skor, dalam penelitian ini menggunakan skala nominal dan ordinal

d. Transfering

Transfering adalah kegiatan memindahkan jawaban atau kode jawaban ke dalam master sheet (terlampir).

e. Tabulating

Melakukan tabulasi hasil data yang diperoleh sesuai dengan lembar cheklist untuk mengetahui perbandingan jumlah persalinan dengan plasenta previa

2. Analisis Data

Hasil analisis sementara penelitian ini adalah membandingkan hasil prosentase secara kuantitatif, untuk menghitung besarnya korelasi digunakan tehnik statistik analisa korelasi kontingensi tabel 3 X 2, koefisien korelasi adalah indeks atau bilangan yang digunakan untuk mengukur derajat hubungan dan bentuk dan arah hubungan (Hasan, 2004 : 44). Dengan Uji Z score dari Frank wilcoxon menggunakan SPSS 10.0

J. Etika Penelitian

Sebelum kita melakukan penelitian, terlebih dahulu kita melakukan pendekatan administratif dengan pihak pendidikan yaitu dengan berbekal surat izin mengadakan penelitian dari Akademi Kebidanan Poltekkes Majapahit Mojokerto disampaikan kepada direktur RSUD Genteng - Banyuwangi, setelah mendapat persetujuan dari pihak terkait, penelitian dilakukan dengan menekankan masalah etika yang meliputi :

1. Informed Concent

merupakan lembar persetujuan yang akan diedarkan sebelum penelitian dilakukan pada seluruh klien yang memenuhi kriteria inklusi untuk diteliti. Tujuannya supaya mengerti maksud dan tujuan penelitian serta dampak yang diteliti selama pengumpulan data. Jika responden bersedia diteliti maka harus menandatangani lembar persetujuan, jika responeden menolak untuk diteliti maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya

2. Anonimity ( Tanpa Nama )

Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden, peneliti tidak akan mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data (observasi) yang diisi oleh peneliti. Lembar tersebut hanya diberi nomor kode tertentu

3. Confidentiallity ( Kerahasiaan )

Informasi yang berhasil dikumpulkan dari sampel peneliti dijaga dan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti dan hanya kelompok tertentu saja yang mengetahui hasil penelitian atau riset

K. Keterbatasan Penelitian

Menurut Burn dan Grove (dalam Nursalam dan Pariani, 2001 : 16) Keterbatasan adalah kelemahan atau hambatan dalam penelitian. Dalam penelitian terdapat beberapa keterbatasan yang dimiliki, diantaranya :

1. Jumlah sampel yang diambil terbatas dan mengingat keterbatasan waktu sehingga kurang representatif

2. Instrumen pengumpulan data berdasarkan kuesioner pada klien dirancang sendiri oleh peneliti sehingga validasi data dan reliablitasnya masih perlu diuji

3. Waktu yang tersedia untuk melaksanakan dan menyelesaikan penelitian ini cukup pendek sehingga hasilnya kurang memuaskan


BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan menguraikan tentang hasil penelitian yang telah dilaksanakan di RSUD Genteng - Banyuwangi pada bulan Agustus 2009.

A. HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

T

B

U



1. UGD

2. Apotik

3. Wartel

4. Koperasi

5. Kantor kep

6. Loket pendaftaran

7. Rekam medik

8. Poli fisioterapi

9. Poli mata

10. Poli kulit

11. Poli gigi

12. Poli tht

13. Poli interna

14. Poli paru

15. Poli bedah

16. Poli paru

17. Poli anak

18. Loket pembayaran

19. Poli syaraf

20. Poli andrologi

21. Kantor TU

22. Mushola

23. Kamar operasi

24. Ruang interna 1

25. Ruang interna 2

26. Ruang bedah

27. Ruang dokter

28. Radiology

29. Ruang anak

30. Kantor diklat

31. Perinatologi

32. Ruang bersalin

33. Poli kandungan

34. Gudang

35. Tempat cucian

36. Kamar mayat

37. Kantin

38. Mini market

39. Paviliun rengganis

BAPELKESMAS RSUD Genteng merupakan salah satu Rumah sakit tipe C yang berada di kabupaten Banyuwangi dan berlokasi di kecamatan Genteng yang sangat strategis dan mudah dijangkau oleh masyarakat. BAPELKESMAS Genteng sebagai rumah sakit pendidikan untuk lahan praktik oleh beberapa institusi kesehatan seperti akademi keperawatan, akademi kebidanan, fakultas kedokteran umum dan fakultas kedokteran gigi, dengan batas – batas ruang medical record sebagai berikut :

a. Sebelah utara : Jalan Raya

b. Sebelah Barat : Poli mata dan umum

c. Sebelah Selatan : Ruang bersalin dan ruang kanak – kanak

d. Sebelah Timur : Ruang UGD dan tempat parkir

2. Data Umum

a. Data responden berdasarkan umur

Tabel 4.1 Distribusi Data Responden Ibu Bersalin Berdasarkan Umur Di RSUD Genteng – Banyuwangi Tahun 2008 - 2009

No

Usia

Jumlah persalinan januari 2008 – juni 2009

(f)

(%)

1.

2.

3.

<>

20 – 35 tahun

> 35 tahun

20

14

11

36,3

56

40

Jumlah

55

100

Sumber : data rekam medik RSUD Genteng

Berdasarkan tabel 4.1 diatas dapat diketahui sebagian besar responden di RSUD Genteng – Banyuwangi berumur 20 – 35 tahun yaitu 56 % (14 orang)

b. Data responden berdasarkan tingkat pendidikan

Tabel 4.2 Distribusi Data Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ibu Bersalin Di RSUD Genteng – Banyuwangi Tahun 2008 - 2009

No

Usia

Jumlah persalinan januari 2008 – juni 2009

(f)

(%)

1.

2.

3.

4.

SD

SMP

SMU / SMK

Perguruan Tinggi

23

21

10

1

41,8

38,1

18.1

1,81

Jumlah

55

100

Sumber : data rekam medik RSUD Genteng

Berdasarkan tabel 4.2 diatas dapat diketahui bahwa rata – rata pendidikan ibu bersalin di RSUD Genteng Banyuwangi berpendidikan SD yaitu 41,8 % ( 23 orang )

3. Data Khusus

a. Data jumlah paritas

Tabel 4.3 Distribusi Data Jumlah Paritas Ibu Bersalin Di RSUD Genteng Banyuwangi Tahun 2008 - 2009

No

Usia

Jumlah Paritas januari 2008 – juni 2009

(f)

(%)

1.

2.

3.

Para 0 – 1

Para 2 – 4

Para > 5

23

32

-

41,8

58,2

-

Jumlah

55

100

Sumber : data rekam medik RSUD Genteng

Berdasarkan tabel 4.5 diatas dapat diketahui bahwa jumlah ibu bersalin di RSUD Genteng – banyuwangi dengan jumlah para 2 – 4 anak sebanyak 58,2 % ( 21 orang ), para 0 – 1 anak 41,8 % ( 23 orang )

b. Data Jumlah persalinan plasenta previa

Tabel 4.4 Distribusi Jumlah Persalinan Dengan Plasenta Previa Di RSUD Genteng – Banyuwangi Tahun 2008 - 2009

No

Plasenta previa

Jumlah Persalinan per januari 2008 – juni 2009

(f)

(%)

1.

2.

Ya

Tidak

30

25

54,6

45,4

Jumlah

55

100

Sumber : data rekam medik RSUD Genteng

Berdasarkan tabel 4.4 diatas dapat diketahui kejadian plasenta previa yaitu 54,6 % dan yang bukan kejadian plasenta previa sebesar 45,4 %

c. Data Hubungan paritas dengan kejadian plasenta previa

Tabel 4.5 Distribusi Hubungan Paritas Dengan Plasenta Previa di RSUD Genteng – Banyuwangi Th 2008 – 2009

Paritas

Kejadian plasenta previa

Jumlah responden

Ya

Tidak

(f)

(%)

(f)

(%)

Primipara

5

16,7

17

68

23

Multipara

25

83,3

8

32

32

Grandemultipara

-

-

-

-

-

Jumlah

30

100

25

100

55

Berdasarkan tabel 4.6 diatas dapat diketahui primipara yang mengalami persalinan dengan plasenta previa sebesar 16,7 % (5 orang), multipara sebesar 83,3% (25 orang), sedangkan yang tidak mengalami persalinan dengan plasenta previa pada primipara sebesar 68 % ( 17 orang ), multipara 32 % ( 8 orang)

d. Prosedur pengujian data

1. Formulasi hipotesa statistic

Ho : µ1 ≠ µ2 : tidak ada hubungan paritas dengan kejadian plasenta previa di RSUD Genteng Banyuwangi

Hi : µ1 = µ2 : ada hubungan paritas dengan kejadian plasenta previa di RSUD Genteng Banyuwangi

2. Uji statistic yang sesuai adalah uji Z dari frank wilcoxon

3. Taraf signifikansi dan besarnya sample digunakan a : 0,05, nilai Z Untuk jenjang bertanda frank wilcoxon adalah n = 55

4. Perhitungan harga statistik Z

Tabel 4.6 penghitungan harga statistik

Test Statistics

Kejadian

PP – Para

Z

Asymp. Sig. (2-tailed)

- 3,3634ª

- .000

a. Based On Positive Ranks

b. Wilcoxon Signed Ranks Test

5. Kesimpulan / keputusan pengujian

Oleh karena uji statistic Z = - 3,3634 maka diputuskan bahwa ada hubungan paritas dengan kejadian plasenta previa

B. Pembahasan

1. Distribusi Data Jumlah Paritas Ibu Bersalin Di RSUD Genteng Banyuwangi

Berdasarkan tabel 4.5 diatas dapat diketahui bahwa jumlah ibu bersalin di RSUD Genteng – banyuwangi dengan jumlah para 2 – 4 anak sebanyak 58,2 % ( 21 orang ), para 0 – 1 anak 41,8 % ( 23 orang )

Menurut manuaba (1999) Paritas sedang atau multipara digolongkan pada hamil dan bersalin dua sampai empat kali. Pada paritas sedang ini, sudah masuk kategori rawan terutama pada kasus-kasus obstetrik yang jelek, serta interval kehamilan yang terlalu dekat kurang dari 2 tahun. Seorang wanita yang telah mengalami kehamilan sebanyak 6 kali atau lebih, lebih mungkin mengalami: Kontraksi yang lemah pada saat persalinan (karena otot rahimnya lemah), perdarahan setelah persalinan (karena otot rahimnya lemah), Plasenta previa (plasenta letak rendah) dan Pre eklampsi, plasenta previa meningkat pada grande multipara, primi gravida tua, bekas seksio secarea, bekas aborsi, kelainan janin, dan leiomioma uteri (Mansjoer, 2001 : 276 ), paritas 2 – 4 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 4) mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematian maternal (Winkjosastro, 2002).

Jumlah paritas pada suatu kehamilan mempunyai kecenderungan berpengaruh pada kehamilan berikutnya, hal ini bahwa semakin banyak anak yang telah dilahirkan maka akan semakin tinggi kecenderungan ibu untuk mengalami plasenta previa pada kehamilan selanjutnya

2. Distribusi Jumlah Persalinan Dengan Plasenta Previa Di RSUD Genteng – Banyuwangi Tahun 2008 – 2009

Menurut tabel 4.4 jumlah persalinan plasenta previa sebanyak 54,6 % dan yang tidak mengalami plasenta previa atau perdarahan lainnya sebanyak 45,4 %

Perdarahan pervaginam dapat terjadi setiap saat pada masa hamil, dapat disebabkan oleh kondisi yang ringan seperti implasntasi, sevisitis, atau polip serviks atau koitus, atau oleh kondisi – kondisi serius yang bahkan mengancam kehidupan seperti plasenta previa dan solution plasenta (wheller, 2003, 123). Perdarahan antepartum merupakan kasus gawat darurat yang kejadiannya berkisar 3% dari semua persalinan, penyebabnya antara lain plasenta previa, solusio plasenta, dan perdarahan yang belum jelas sumbernya (Sarwono, 2002 : 363).

Beberapa kepustakaan mengatakan plasenta previa lebih sering pada wanita multipara, mungkin karena jaringan parut uterus akibat kehamilan berulang. Jaringan parut ini menyebabkan tidak adekuatnnya persediaan darah ke plasenta sehingga plasenta menjadi lebih tipis dan mencakup daerah uterus yang lebih luas. Konsekuensi perlekatan plasenta yang luas ini adalah meningkatnya risiko penutupan ostium uteri internum. Strassman menyatakan bahwa plasenta letak rendah terjadi karena endometrium bagian fundus belum siap menjadi tempat implantasi pada kehamilan yang sering

Seorang wanita dengan multiparitas, rawan mengalami kehamilan dengan plasenta previa dan perlu di waspadai hal itu sering terjadi pada multiparitas dengan usia 20 – 35 tahun

3. Distribusi Hubungan Paritas Dengan Plasenta Previa di RSUD Genteng – Banyuwangi Th 2008 – 2009

Berdasarkan tabel 4.6 diatas dapat diketahui primipara yang mengalami persalinan dengan plasenta previa sebesar 16,7 % (5 orang), multipara sebesar 83,3% (25 orang), sedangkan yang tidak mengalami persalinan dengan plasenta previa pada primipara sebesar 68 % ( 17 orang ), multipara 32 % ( 8 orang)

Menurut sarwono (2002 : 367) Vaskularisasi yang berkurang atau perubahan desidua akibat persalinan yang lampau dapat menyebabkan terjadinya plasenta previa pada kehamilan selanjutnya, apabila aliran darah ke plasenta tidak cukup atau diperlukan lebih banyak seperti pada kehamilan kembar, plasenta yang letaknya normal sekalipun akan memperluas permukaannya, sehingga mendekati atau menutupi sama sekali jalan lahir

Menurut manuaba (1999) Paritas sedang atau multipara digolongkan pada hamil dan bersalin dua sampai empat kali. Pada paritas sedang ini, sudah masuk kategori rawan terutama pada kasus-kasus obstetrik yang jelek, serta interval kehamilan yang terlalu dekat kurang dari 2 tahun

Paritas dengan frekuensi sedang mempunyai kecenderungan mengalami plasenta previa serta didukung dengan komplikasi lainnya seperti kehamilan kembar, kurang suburnya endometrium (malnutrisi ibu hamil), terlambat implantasi (endometrium fundus kurang subur, terlambatnya tumbuh kembang hasil konsepsi dalam bentuk, blastula yang siap untuk nidasi)

4. Hasil pengujian data

Menurut tabel 4.7 hasil penelitian hubungan peritas dengan kejadian plasenta previa di RSUD Genteng menunjukkan hasil yang signifikan (p = 0,05). Dalam uji Z dari Frank Wilcoxon dengan sample 55, mempunyai hasil Z Score -3,3634ª maka Ho di tolak yang berarti ada hubungan antara paritas dengan kejadian plasenta previa


BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan disajikan hasil kesimpulan dan saran dari penelitian tentang hubungan paritas dengan kejadian plasenta previa di RSUD Genteng Bnayuwangi Tahun 2008 – 2009

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian diketahui bahwa jumlah paritas ibu bersalin dengan kejadian plasenta previa di RSUD Genteng Banyuwangi tahun 2008 – 2009 :

a. Identifikasi paritas ibu bersalin di RSUD Genteng – Banyuwangi primipara sebesar 41,8 % ( 23 orang ), multipara sebesar 58,2 % ( 21 orang )

b. Identifikasi kejadian plasenta previa di RSUD Genteng – Banyuwangi sebesar 54,6 % dan kejadian perdarahan antepartum lainnya sebesar 45,4 %

c. Dari 100 persalinan didapatkan 30 responden mengalami plasenta previa dimana primipara sebesar 16,7 % dan multipara 83,3 %, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan paritas dengan kejadian plasenta previa di RSUD Genteng – Banyuwangi

B. Saran

1. Bagi peneliti

Diharapkan ada penelitian lanjutan tentang faktor lain yang dapat memicu adanya plasenta previa

2. Bagi tempat penelitian

Meningkatkan mutu pelayanan dan diharapkan melalui dokter atau bidan sebagai pelaksana langsung dapat memberikan penyuluhan tentang Ante Natal Care Dini dan Teratur

3. Bagi masyarakat

Diaharapkan ibu yang telah memiliki paritas banyak atau lebih dari 2 – 4, tidak menambah kehamilan lagi




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar