Selasa, 11 Mei 2010

KTI TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG PENDIDIKAN SEKSUAL DI SMA NEGERI I GLENMORE

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dilihat dari segi penduduk 73,4% sebagian penduduk di dunia adalah remaja. Indonesia menempati urutan nomor 5 di dunia dalam hal jumlah penduduk, dengan remaja sebagai bagian dari penduduk yang ada. Propinsi Jawa Timur pada tahun 2004 dihuni oleh 6,654 juta jiwa dengan jumlah remaja usia 16-19 tahun sebanyak 652.322 jiwa (Hasil Sensus BPS Surabaya, 2004).

Masa remaja merupakan salah satu tahap dalam kehidupan manusia yang sering disebut sebagai masa pubertas yaitu masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa. Pada tahap ini remaja akan mengalami suatu perubahan fisik, emosional dan sosial sebagai ciri dalam masa pubertas. Tetapi umumnya proses pematangan fisik terjadi lebih cepat dari proses pematangan kejiwaan (psikososial).

Masa permulaan pubertas pada anak perempuan biasanya terjadi antara usia 10 sampai 14 tetapi bisa lebih awal (pubertas dini) atau terlambat, tergantung dengan faktor-faktor genetik individu. Masa pubertas berlangsung selama kira-kira lima tahun dan sebagaimana terjadi pada anak laki-laki, diawali dengan pelepasan hormon-hormon dari kelenjar pituitary yang kemudian bertindak secara langsung pada organ-organ seksual. Kejadian yang paling dramatis bagi para anak perempuan adalah masa awal menstruasi (menarche) sebagai respon untuk produksi dan pelepasan hormon-hormon perempuan tersebut, estrogen dan progesteron. Indung telur matang dan mulai melepaskan telur-telur dan uterus membesar, bersamaan dengan perkembangan dan kedewasaan organ-organ kemaluan. Masa pertumbuhan yang cepat yang menghasilkan tinggi dan berat menyertai perubahan-perubahan tersebut. Kedua pinggul melebar dan pola pendistribusian lemak berubah untuk memproduksi bentuk tubuh perempuan yang karakteristik. Juga karakteristik-karakteristik seksual sekunder berkembang sebagai kelanjutan-kelanjutan pubertas, terutama pembesaran kedua payudara, pertumbuhan bulu-bulu kelamin dan ketiak serta perkembangan kelenjar-kelenjar keringat.

Berdasarkan fenomena di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan remaja putri tentang pendidikan seksual di SMA Negeri 1 Glenmore. Oleh karena minimnya pengetahuan atau edukasi tentang seks baik secara formal ataupun secara non formal sehingga peneliti mengambil topik tentang “Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Pendidikan Seksual di SMA Negeri 1 Glenmore”.

B. Pembatasan dan Rumusan Masalah

Batasan peneliti dalam penelitian pengetahuan remaja putri tentang pendidikan seksual di SMA Negeri 1 Glenmore yaitu mengenai pengetahuan remaja putri tentang pemahaman pendidikan seksual dan hasilnya banyak yang belum memahami masalah pendidikan seksual.

Berdasarkan batasan masalah dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pada umumnya remaja putri belajar tentang pendidikan seksual dari ibunya, tetapi tidak semua ibu memberikan informasi yang jelas tentang pendidikan seksual, sehingga remaja putri dapat mengembangkan sikap negatif tentang pendidikan seksual.

Dari latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana pengetahuan remaja putri tentang pendidikan seksual di SMA Negeri 1 Glenmore Kabupaten Banyuwangi?”.

C. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan remaja putri tentang pendidikan seksual di SMA Negeri 1 Glenmore.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :

1. Bagi tempat penelitian

Sebagai masukan informasi bagi sekolah mengenai pengetahuan remaja putri tentang pendidikan seksual.

  1. Bagi Institusi

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan untuk memperluas wawasan mahasiswi jurusan kebidanan.

  1. Bagi Peneliti, praktis dan teoritis.

Dapat memberikan masukan hal-hal apa saja yang telah diteliti sehingga digunakan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.

4. Bagi Responden

Agar remaja putri di SMA Negeri 1 Glenmore mendapat tambahan pengetahuan tentang pendidikan seksual .

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

  1. Pengertian Pengetahuan.

Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yaitu : penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Notoatmodjo, 2003).

“Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan “what”, misalnya apa air, apa manusia, apa alam dan sebagainya (Notoatmodjo, 2002).

1) Awareness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).

2) Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus / objek tertentu di sini sikap subjek sudah mulai timbul.

3) Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya terhadap stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah tidak baik lagi.

4) Trial, dimana subjek sudah mulai melakukan sesuatu dengan apa yang dikehendaki.

5) Adopsi, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

  1. Tingkatan Pengetahuan

a. Tahu (know) diartikan sebagai kemampuan untuk mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk diantaranya adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

b. Memahami (comprehension) diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

c. Menerapkan (application) diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya)

d. Analisis (analysis) diartikan sebagai kemampuan untuk menyebarkan materi untuk suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.

e. Sintesa (synthesis), yaitu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

f. Evaluasi (evaluation) yaitu kemampuan untuk melakukan penelitian ini menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada, misalnya dapat membandingkan, menanggapi pendapat, dan menafsirkan sebab-sebab suatu kejadian (Notoatmodjo, 2003).

  1. Definisi Remaja

Remaja merupakan usia muda atau mulai dewasa (Kamus Pintar Bahasa Indonesia, Ahmad & Santoso, 2000). Remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat (www.bkkbn. go. id, 2005).

Remaja adalah usia transisi, seorang individu telah meninggalkan usia kanak-kanak yang lemah dan penuh ketergantungan, akan tetapi belum mampu ke usia yang kuat dan penuh tanggung jawab, baik terhadap dirinya maupun masyarakat. Semakin maju masyarakat semakin panjang usia remaja karena ia harus mempersiapkan diri untuk menyesuaikan dirinya dengan masyarakat yang banyak syarat dan tuntutannya (Drajat & Willis, 2004).

Remaja dalam mengalami perubahan-perubahannya akan melewati perubahan fisik, perubahan emosi dan perubahan sosial. Yang dimaksud dengan perubahan fisik adalah pada masa puber berakhir, pertumbuhan fisik masih jauh dari sempurna dan akan sepenuhnya sempurna pada akhir masa awal remaja.

Perubahan emosi pada masa remaja terlihat dari ketegangan emosi dan tekanan, tetapi remaja mengalami kestabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru. Sedangkan perubahan sosial pada masa remaja merupakan salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit, yaitu berhubungan dengan penyesuaian sosial pada perubahan sosial ini, remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan yang sebelumnya belum pernah ada dan harus menyesuaikan dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah (Willis, 1994).

Ciri remaja pada anak wanita biasanya ditandai dengan tubuh yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu sejak lahir. Perubahan yang cukup menyolok terjadi ketika remaja memasuki usia antara 9-15 tahun, pada saat itu mereka tidak hanya tubuh menjadi lebih tinggi dan besar saja, tetapi terjadi juga perubahan-perubahan di dalam tubuh yang memungkinkan untuk bereproduksi atau keturunan. Perubahan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa atau sering dikenal dengan istilah masa pubertas ditandai dengan datangnya pendidikan seksual pada anak perempuan. Datangnya pendidikan seksual pertama tidak sama pada setiap orang. Banyak faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut salah satunya adalah karena gizi. Saat ini ada seorang anak perempuan yang mendapatkan pendidikan seksual pertama di usia 8-9 tahun. Namun pada umumnya adalah sekitar 12 tahun. Remaja perempuan, sebelum pendidikan seksual akan menjadi sangat sensitif, emosional, dan khawatir tanpa alasan yang jelas (www.bkkbn.go.id.2005).

  1. Pendidikan seksual

Ilmu biologi menyebutkan bahwa seks merupakan proses pemaduan dan penggabungan sifat-sifat genetik untuk mewariskan ciri-ciri suatu spesies supaya tetap langgeng atau disebut juga dengan reproduksi. Proses ini seringkali menghasilkan dimorfisme di dalam suatu spesies sehingga dikenal adanya tipe jantan dan tipe betina (disebut juga sebagai seks atau kelamin). Karena dalam perkembangan terbentuk pula sel-sel yang terspesialisasi berdasarkan tipe seksual, dikenallah sel kelamin (gametosit, gametocyte), yang untuk jantan biasanya disebut sel sperma (spermatozoid) dan untuk betina disebut sebagai sel telur (ovum).

Reproduksi yang memerlukan proses seks dikatakan sebagai reproduksi seksual, sedangkan yang tidak memerlukan proses ini disebut sebagai reproduksi aseksual, reproduksi somatik, atau reproduksi vegetatif.

Berbagai definisi telah diberikan untuk pengertian pendidikan seksual (sex education). Pada waktu ini cara-cara pendidikan seksual didasari oleh dua pandangan dan pendekatan yang sangat berbeda, yaitu:

a. Pendekatan psikoanalitik, yang hanya mengakui bahwa perkembangan psiko-seksual ditentukan oleh pembawaan yang untuk sebagian besar sifatnya autonom; dan

b. Pendekatan sosiologik, yang mengakui adanya pengaruh dari lingkungan. Yang mempunyai banyak pengikut ialah pandangan pendekatan kedua.

Pendidikan seksual sebaiknya sudah dimulai sedini-dininya, dalam masa kanak-kanak dengan peranan utama dipegang oleh para orang tua, sedang penyuluhan seksual sangat baik dan bermanfaat bagi remaja, bagi pasangan yang menginjak jenjang pernikahan, bagi wanita hamil, pasangan yang mengingini keturunan, orang-orang yang mengalami gangguan seksual, dll.

Dalam penyuluhan remaja perlu dibahas secara singkat anatomi dan fisiologi alat kelamin, fisiologi hubungan seksual, variasi dan penyimpangannya yang masih dianggap dalam batas-batas normal perlu dikemukakan. Semua itu dilakukan dengan latar belakang norma-norma yang sedang berlaku, termasuk agama dan pandangan masyarakat.

  1. Anatomi dan Fisiologi Alat Kelamin

Organ reproduksi pria yang penting dalam proses reproduksi terdiri atas beberapa organ yaitu penis, skrotum, testis, vas deferens, epididimis, vesikula seminalis dan kelenjar prostat. Di antara organ ini ada yang terletak di dalam tubuh sehingga tidak bisa kita lihat.

Penis adalah organ seks utama yang letaknya di antara kedua pangkal paha. Penis mulai dari arcus pubis menonjol ke depan berbentuk bulat panjang. Dari pangkal ke ujung berbentuk cendawan dengan kepala penis seperti kepala cendawan tetapi bagian ujungnya agak meruncing ke depan.

Panjang penis orang Indonesia waktu lembek dengan mengukur dari pangkal dan ditarik sampai ujung sekitar 9 sampai 12 cm. Sebagian ada yang lebih pendek dan sebagian lagi ada yang lebih panjang. Pada saat ereksi yang penuh, penis akan memanjang dan membesar sehingga menjadi sekitar 10 cm sampai 14 cm. Pada orang barat (caucasian) atau orang Timur Tengah lebih panjang dan lebih besar yakni sekitar 12,2 cm sampai 15,4 cm.

Bagian utama daripada penis adalah bagian erektil atau bagian yang bisa mengecil atau melembek dan bisa membesar sampai keras. Bila dilihat dari penampang horizontal, penis terdiri dari 3 rongga yakni 2 batang korpus kavernosa di kiri dan kanan atas, sedangkan di tengah bawah disebut korpus spongiosa. Kedua korpus kara kavernosa ini diliputi oleh jaringan ikat yang disebut tunica albuginea, satu lapisan jaringan kolagen yang padat dan di luarnya ada jaringan yang kurang padat yang disebut fascia buck.

Saat dilahirkan seorang anak wanita telah mempunyai organ reproduksi yang lengkap tetapi belum berfungsi sepenuhnya. Organ reproduksi akan berfungsi sepenuhnya saat seorang wanita telah memasuki masa pubertas. Anatomi organ reproduksi wanita terdiri atas vulva, vagina, serviks, rahim, saluran telur dan indung telur.

Vagina merupakan saluran yang elastis, panjangnya sekitar 8-10 cm, dan berakhir pada rahim. Vagina dilalui oleh darah pada saat menstruasi dan merupakan jalan lahir. Karena terbentuk dari otot, vagina bisa melebar dan menyempit.
Pada bagian ujung yang terbuka, vagina ditutupi oleh sebuah selaput tipis yang dikenal dengan istilah selaput dara. Bentuknya bisa berbeda-beda antara tiap wanita. Selaput ini akan robek pada saat bersanggama, kecelakaan, masturbasi/ onani yang terlalu dalam, olah raga dsb.

  1. Fisiologi Hubungan Seksual.

Di dunia ini manusia dan hewan akan lenyap dari permukaan bumi apabila mereka oleh alam tidak dibekali dengan naluri untuk berkembang biak (vita sexualis) demi untuk meneruskan keturunan. Dorongan atau keinginan untuk bersetubuh (koitus) disebut libido seksualis (nafsu birahi, nafsu syahwat). Ini dapat disamakan dengan keinginan untuk makan dan minum. Apabila lapar dan haus mempunyai arti dalam mempertahankan kelangsungan kehidupan genus homo sapiens (manusia). Di samping itu hubungan kelamin disertai kenikmatan, yang memuncak pada orgasme. Semua ini merupakan kenyataan biologik, yang tidak dapat dipungkiri dan dihindari.

Frekuensi hubungan kelamin (koitus) sangat bervariasi, rata-rata 1-4 kali seminggu bagi orang-orang yang berumur 30-40 tahun. Koitus menjadi makin jarang dengan meningkatnya umur. Pada wanita libido meningkat dalam masa reproduksi sampai dicapai umur 35 tahun, kemudian menetap sampai umur 45 tahun, dan dapat bertahan sampai jauh setelah menopause. Pada pria puncak libido dicapai pada umur 20-30 tahun dan libido bertahan sampai umur 50 tahun, kemudian berangsur kurang dan tetap ada sampai usia lanjut.

  1. Variasi, Gangguan dan Kelainan Seksualitas.

Penyimpangan reaksi dan tingkah laku seksual dari yang lazim dianggap normal dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu a) variasi yang masih dianggap dalam batas-batas normal; b) gangguan yang bersifat ringan dan mudah dipengaruhi; c) kelainan yang sifatnya lebih berat dan tidak mudah dipengaruhi. Terbanyak diantara berbagai gangguan dan kelainan seksual itu didasari oleh gangguan psikis, sangat jarang gangguan/ kelainan organik yang menyebabkannya.

a. Variasi seksual dalam batas-batas normal.

1) Manipulasi klitoris dengan jari

Rangsangan klitoris dengan jari-jari pria sebelum dan sesudah wanita mencapai orgasme dianggap normal.

2) Manipulasi urogenital

Ada beberapa pria yang suka dan merasa lebih terangsang apabila wanita pasangannya mempermainkan alat kelaminnya dengan mulut, bibir dan lidah, disertai dengan gigitan-gigitan ringan. Manipulasi ini dinamakan fellasio.

Sebaliknya si pria dapat merangsang alat kelamin pasangannya dengan bibir dan lidah, yang disebut kunnilinksio. Kedua cara manipulasi urogenital ini dapat dilakukan serentak oleh kedua pasangan membentuk angka 69.

3) Masturbasi (onani)

Pemuasan sendiri secara seksual tanpa koitus, biasanya dengan tangan atau benda lain, sering dilakukan oleh anak-anak dan remaja dalam perkembangan fisik dan psikoseksualnya. Frekuensi masturbasi kira-kira 60% diantara para wanita dan 95% diantara para pria.

4) Homoseksualitas

Istilah ini dipakai untuk hubungan seksual antara dua orang pria.

5) Lesbianisme

Lesbianisme dipakai untuk hubungan seksual antara dua orang wanita, lesbianisme dalam batas-batas tertentu tidak dianggap sebagai deviasi seksual, misalnya yang dilakukan di asrama-asrama putri atau di rumah penjara, karena keadaan yang mendorong pelaku-pelakunya untuk berbuat demikian.

b. Gangguan seksualitas (sexual inadequacy).

1) Gangguan seksual wanita

a) Frigiditas

Istilah frigiditas berarti tidak ada libido seksualitas pada wanita (true frigidity), akan tetapi secara kurang tepat dipakai juga untuk kegagalan wanita dalam mencapai orgasme.

b) Anorgasme

Kemampuan untuk mencapai orgasme kadang-kadang terganggu, bahkan orgasme tidak dicapai sama sekali dalam siklus seksual.

c) Dispareunia

Bahwa koitus sukar atau nyeri, atau penetrasi penis tidak lengkap. Ini sering disebabkan oleh kelainan organik, misalnya penyempitan vagina karena atrofi dan jaringan parut, oleh peradangan vulva dan vagina, dan oleh proses penyakit di dalam pinggul.

d) Vaginisme.

Seluruh otot dasar panggul mengejang. Introitus vaginae menyempit dan immissio penis dihalangi, atau dipersulit dan dirasakan nyeri.

e) Nimfomania

Lawan dari frigiditas, yaitu keinginan bersetubuh yang berlebihan, yang dapat mengakibatkan penyelewengan seksual atau pelarian ke prostitusi.

2) Gangguan seksual pria

a) Impotensia koeundi

b) Gangguan seksual pada pria, yang tidak mampu bersetubuh karena kemampuan ereksi penis kurang atau tidak ada, disebut impotensia koeundi walaupun libido tetap ada.

c) Impotensia ejakulandi

Seorang pria memiliki libido, dapat bereaksi dan bersetubuh, akan tetapi tidak dapat mencapai ejakulasi dan orgasme.

d) Ejakulasio prekoks

Pengeluaran sperma yang terlampau cepat, yaitu sebelum atau segera setelah penetrasi penis. Apabila peristiwa ini sifatnya sementara, misalnya pada koitus pertama atau pada koitus setelah absistensi lama, maka ini dianggap dalam batas-batas normal dan bisa hilang dengan sendirinya.

c. Kelainan seksualitas.

1) Sadisme

Istilah sadisme berasal dari seorang bangsawan Prancis, Marquis de Sade (1740-1814) yang melakukan kebiasaan itu, dan berarti suatu perversi seksual dimana seseorang memperoleh kepuasan/ kenikmatan seksual dengan menyiksa atau menganiaya pasangannya.

2) Masochisme

Masochisme (Leopold von Sacher-Masoch, seorang ahli sejarah dan penulis Austria, 1836-1895) ialah sebaliknya dari sadisme, seorang yang mencapai kepuasan/ kenikmatan seksual apabila ia disiksa/ dianiaya oleh pasangannya.

3) Ekshibisionisme

Suatu kecenderungan abnormal yang tidak terkuasai untuk menunjukkan alat kelaminnya secara sadar atau tidak sadar, untuk menarik perhatian. Perversitas ini hanya dijumpai pada pria.

4) Voyeurisme

Ada orang-orang yang mempunyai keinginan abnormal untuk melihat alat kelamin orang lain, atau mengintip orang bersetubuh, yang dapat memberinya kepuasan seksual.

5) Bestialisme

Apabila seseorang berhubungan kelamin dengan binatang.

6) Sodomi

Sodomi tidak mempunyai pengertian yang tegas, kadang-kadang dipakai untuk hubungan kelamin yang tidak normal antara 2 orang yang sejenis kelaminnya, misalnya melalui anus.

7) Fetikhisme

Pemujaan atau mencintai suatu benda bekas milik seseorang yang dicintainya, misalnya: rambut, saputangan, pakaian, dan lain-lain. Seorang fetish dapat memperoleh kenikmatan seksual dari suatu benda tersebut.

8) Nekrofilia

Kecenderungan yang abnormal untuk berhubungan seksual dengan mayat.

9) Insestus

Hubungan kelamin antara orang-orang yang sangat dekat hubungan keluarganya, misalnya: antar saudara sekandung dan antara ayah dan anaknya.

10) Transvestisme

Kebiasaan untuk mengenakan pakaian dari lawan jenis kelaminnya. Suami yang transvestit akan memakai pakaian isterinya untuk mendapat kepuasan seksual.

11) Transeksualisme

Seorang transeksual merasa bahwa mentalnya tidak sesuai dengan jenis kelaminnya, seorang pria merasa wanita, seorang wanita merasa pria.

12) Pedofilia erotika

Kesuakaan untuk melampiaskan nafsu birahi dengan anak-anak.

13) Perkosaan

Penetrasi alat kelamin wanita oleh penis dengan paksaan, baik oleh satu maupun oleh beberapa orang pria, atau dengan ancaman.

14) Last murder

Perkosaan yang disertai dengan pembunuhan. Biasanya perkosaan dilakukan lebih dahulu dan pembunuhannya terjadi selama atau sesudah perkosaan.

B. Kerangka Konsep

Pentingnya pengetahuan remaja putri tentang pendidikan seksual karena masih banyak remaja putri yang belum mendapat informasi yang jelas tentang pendidikan seksual dan mereka belum mengerti tentang arti pendidikan seksual, siklus pendidikan seksual dan gejala yang menyertainya.

Untuk lebih jelasnya kerangka konsep penelitian dapat dilihat pada bagan di bawah ini :


Keterangan :

: diteliti

: tidak diteliti

Sumber : Arikunto (2006)

Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancang Bangun Penelitian

Desain atau rencana penelitian merupakan suatu strategi untuk mengatur latar (setting) penelitian agar memperoleh data yang dapat sesuai dengan karakteristik variabel dan tujuan penelitian. Rencana penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dimana penelitian hanya untuk mengetahui gambaran tentang pengetahuan remaja putri terhadap pendidikan seksual secara objektif tanpa menganalisis lebih lanjut.

Penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama membuat gambaran tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 1997).

B. Variabel

Istilah “variabel” merupakan istilah yang tidak pernah ketinggalan dalam setiap jenis penelitian.

Variabel dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan remaja putri tentang pendidikan seksual.

Tabel B.1 Definisi Operasional

VARIABEL

DEFINISI OPERASIONAL

KRITERIA

SKALA

Tingkat Pengetahuan

Remaja putri tentang pendidikan seksual

Segala sesuatu yang diketahui oleh remaja putri tentang pendidikan seksual, meliputi:

1. Pengertian

2. Pendidikan seksual

3. Anatomi dan fisiologi alat kelamin

4. Fisiologi hubungan seksual

5. Variasi, gangguan dan kelainan seksual

a. Baik >66%

b. Cukup 50-65%

c. Kurang <44%

Ordinal

Sumber : Arikunto (2003)

C. Populasi

Populasi adalah subjek yang hendak diteliti dan memiliki sifat-sifat yang sama. Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2002).

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Arikunto, 2000). Adapun yang menjadi populasi adalah seluruh remaja putri siswi kelas X.1, kelas X.2, kelas X.3, dan X.4 SMA Negeri 1 Glenmore yaitu berjumlah 30 remaja putri yang dipilih secara random.

D. Sampel

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut ( Notoatmodjo, 1999). Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Dalam menentukan sampel apabila populasinya kurang dari 100 maka lebih baik diambil semuanya sehingga penelitian ini merupakan penelitian populasi. Total sampling yaitu 30 remaja putri yang terdiri dari siswa kelas X.1, kelas X.2, kelas X.3, dan X.4 SMA Negeri 1 Glenmore.

Dari kelas diatas jumlah remaja putri secara keseluruhan adalah X.1 = 34 : 5 = 7.8, X.2 = 34 : 5 = 7.8, X.3 = 34 : 5 = 7.8 dan X.4 = 33 : 5 = 6.6. Maka jumlah total siswi adalah 30.0, yang dilakukan dengan pemilihan siswi secara acak.

E. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Glenmore, karena dari hasil prasurvey pada 30 remaja putri Kelas X.1, kelas X.2, kelas X.3, dan X.4, terdapat banyak siswi yang belum mengerti dengan jelas tentang pendidikan seksual.

F. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengumpulan data, meliputi :

1. Tahap persiapan

Dalam tahap persiapan ini berisikan beberapa kegiatan data meliputi :

a. Memberikan penjelasan tentang pendidikan seksual

b. Membagikan kuesioner kepada responden

c. Membuat kerangka konsep

2. Tahap Pelaksanaan

Pengumpulan data dengan menggunakan metode kuesioner dengan melalui tahapan sebagai berikut:

a. Menggunakan surat izin meneliti pada tempat yang telah ditentukan

b. Pengumpulan data dengan metode wawancara dilanjutkan dengan pembagian kuesioner.

c. Memproses dan menganalisis data jawaban kuesioner yang telah terkumpul.

Di mana instrumen yang dibuat adalah kuesioner dengan 20 pertanyaan dengan nilai maksimal 60 dan nilai minimal 20.

3. Tahap pengolahan data

a. Editing

Pada tahap ini, penulis melakukan penilaian terhadap data yang diperoleh kemudian diteliti apakah terdapat kekeliruan atau tidak dalam pengisiannya.

b. Coding

Setelah dilakukan editing, selanjutnya penulis memberikan kode tertentu pada tiap-tiap data sehingga memudahkan dalam melakukan analisis data.

c. Scoring (Membuat skor)

Peneliti memberikan skor untuk tiap-tiap pertanyaan, bila pertanyaan favorable nilai 2 untuk jawaban (ya), nilai 1 untuk jawaban (tidak), dan apabila pertanyaan unfavorable nilai 1 untuk jawaban (ya), nilai 2 untuk jawaban (tidak).

d. Pengolahan Data

Setelah dilakukan pengkodean dan skoring pada semua data selanjutnya data diolah secara manual (Arikunto, 2000).

Instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan untuk pengumpulan data, dapat berupa kuisioner. Angket adalah suatu cara pengumpulan data atau penelitian mengenai suatu masalah yang umumnya menyangkut kepentingan umum. Angket berbentuk formulir yang berisikan pertanyaan-pertanyaan suatu masalah yang diajukan kepada responden, maka angket sering juga disebut kuisioner.

Kuisioner adalah metode pengumpulan data dengan jalan mengajukan pertanyaan tertulis kepada sejumlah individu dan individu yang diberikan pertanyaan tersebut memberikan jawaban secara tertulis (Notoatmodjo, 2002).

G. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat, dimana secara menyeluruh data yang sejenis atau mendeteksi digabungkan, yang kemudian dibuat tabel distribusi frekuensi untuk dipresentasikan.

Sedangkan penetapan kategori penilaian sebagai berikut :

1. Baik apabila skor responden di atas skor rata-rata

2. Kurang apabila skor respon di bawah skor rata-rata

Untuk menghitung distribusi frekuensi digunakan rumus:

N =

Keterangan:

N = Besar populasi

n = Besar sampel

d = Tingkat kepercayaan (Arikunto, 2006).

Selanjutnya dimasukkan pada kriteria objektif sebagai berikut :

Positif : 50 – 100%

Negatif : <>

Sedangkan kriteria untuk menilai kecemasan saat menarche diantaranya sebagai berikut :

Baik : 76 – 100 %

Cukup : 56 – 75 %

Kurang : 40% - 55%

Tidak baik : <>

(Arikunto, 2006)

H. Etika Penelitian

Sebelum peneliti melakukan penelitian, terlebih dahulu peneliti melakukan pendekatan secara administratif kepada pihak pendidikan dalam hal ini SMA Negeri 1 Glenmore yaitu dengan berbekal surat ijin pengambilan data awal untuk mengadakan penelitian dari Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto yang disampaikan pada Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Glenmore.

Setelah mendapat persetujuan, penelitian dilakukan dengan menekankan pada masalah etika yang meliputi :

  1. Informent Consent

Lembar persetujuan akan diedarkan sebelum penelitian dilaksanakan kepada seluruh klien yang memenuhi kriteria untuk diteliti, dengan tujuan agar sampel penelitian mengerti dan memahami maksud dan tujuan penelitian serta bisa bekerjasama dengan peneliti. Klien yang bersedia diteliti harus menandatangani lembar persetujuan menjadi responden. Jika klien tidak bersedia diteliti maka peneliti menghormati hak klien.

  1. Anomity (Tanpa Nama)

Pada pengisian check list nama klien tidak dicantumkan pada lembar pengumpulan data, tetapi cukup mencantumkan tanda tangan pada lembar persetujuan menjadi responden. Dan untuk mengetahui keikut sertaan klien, peneliti cukup memberikan atau mencantumkan kode tertentu pada lembar check list.

  1. Kerahasiaan

Informasi yang berhasil dikumpulkan dari sampel penelitian dijaga dan dijamin kerahasiannya oleh peneliti dan hanya kelompok tertentu saja yang mengetahui hasil penelitian atau riset.

I. Keterbatasan Penelitian

(Nursalam @ Siti Pariani, 2001, 16) menyatakan bahwa keterbatasan adalah kelemahan atau hambatan dalam penelitian. Keterbatasan yang dialami oleh peneliti dalam penelitian ini adalah :

  1. Instrument Penelitian, dalam hal ini check list dibuat sendiri oleh peneliti sehingga validitasnya masih perlu diuji coba.
  2. Keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, karena baru pertama kali mengadakan penelitian sehingga peneliti masih banyak kekurangan baik dalam penyusunan dan pengolahan data sehingga hasil penelitian ini jauh dari sempurna.

Pengolahan data melalui prosentase harus direduksi kembali karena banyaknya faktor yang mempengaruhi keterbatasan dalam ilmu statistik yang lebih luas.


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Dalam bab ini akan disajikan hasil penelitian tentang studi deskriptif tingkat pengetahuan remaja putri tentan pendidikan seksual di SMA Negeri 1 Glenmore Kabupaten Banyuwangi pada bulan Juli 2009.

SMA Negeri 1 Glenmore terletak di desa Tegalharjo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi. Sekolah yang luasnya 5.000.000 m dengan jumlah siswa 408 siswa, dengan sarana dan prasarana yang cukup memadai, sekolah ini juga termasuk dalam sekolah standar nasional (SSN).

Hasil penelitian mengenai pengetahuan remaja putri tentang pendidikan seksual di SMA Negeri 1 Glenmore Kabupaten Banyuwangi diperoleh melalui kuesioner yang berisikan 20 pertanyaan mengenai pengetahuan remaja putri tentang pendidikan seksual secara random terhadap kelas X.1, kelas X.2, kelas X.3, dan X.4 SMA Negeri 1 Glenmore yang berjumlah 30 siswa.

Setelah kuesioner yang terdiri dari 20 pertanyaan disebarkan kepada siswa yang berjumlah 30 remaja putri, maka didapatkan hasil jawaban pada masing-masing item pertanyaan. Seluruh jawaban tersebut kemudian dikumpulkan dan diolah, sehingga didapat data yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi (Lampiran 1) yang menggambarkan tentang pengetahuan remaja putri tentang pendidikan seksual di SMA Negeri 1 Glenmore Kabupaten Banyuwangi.

Adapun hasil penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi tentang pengetahuan remaja putri tentang pendidikan seksual di SMA Negeri 1 Glenmore Kabupaten Banyuwangi pada tanggal 15 Juli 2009.

No

Variabel

Σ

Nilai

Σ

Siswa

Kategori

1

Pengetahuan tentang pendidikan seksual.

75-100

56-75

40-46

<>

0

10

11

9

Baik

Cukup

Kurang

Tidak baik

Jumlah

30

Sumber : Data Primer Penelitian 2009

Berdasarkan tabel dari data diatas diketahui bahwa ada 0 siswa yang mendapatkan nilai 75-100, ada 10 siswa yang mendapatkan nilai 56-75, 11 siswa yang mendapatkan nilai 40-46 dan yang mendapatkan nilai <>

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi tentang pengetahuan remaja putri tentang pendidikan seksual di SMA Negeri 1 Glenmore Kabupaten Banyuwangi pada tanggal 16 Juli 2009.

No.

Kategori

S Siswa

%

1

2

3

4

Baik

Cukup

Kurang

Tidak Baik

0

10

11

9

0

33,33

36,67

30

Jumlah

30

100

Sumber : Data Primer Penelitian 2009

Berdasarkan pada tabel diatas dapat diketahui bahwa ada 0 (0 %) siswa yang mempunyai kategori baik, ada 10 (33,33 %) siswa yang mempunyai ketegori cukup, ada 11 (36,67 %) siswa yang mempunyai kategori kurang dan 9 (30 %) siswa yang mempunyai kategori tidak baik.

Berdasarkan data pada tabel di atas, maka dapat diagambarkan pada diagram dibawah ini.

Gambar 1. Distribusi Frekuensi pengetahuan remaja putri tentang pendidikan seksual di SMA Negeri 1 Glenmore Kabupaten Banyuwangi pada tanggal 16 Juli 2009.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pengetahuan remaja putri tentang pendidikan seksual di SMA Negeri 1 Glenmore Kabupaten Banyuwangi secara umum adalah kurang baik. Pendidikan seksual merupakan hal yang perlu di berikan dan normal yang akan dialami oleh setiap remaja putri pada masa pubertas (12-15 tahun).

Sesuai dengan pernyataan Notoatmodjo (2003), “Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga”.

Dan juga sesuai dengan pendapat Anwar (2004), “Media massa seperti televisi, radio, surat kabar dan majalah mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan seseorang”, maka pengetahuan siswa tentang pendidikan seksual di SMA Negeri 1 Glenmore Kabupaten Banyuwangi dikategorikan cukup baik dapat dikarenakan oleh banyak faktor diantaranya yaitu banyaknya sumber pengetahuan mengenai pendidikan seksual seperti dari orang tua, guru di sekolah khususnya guru bidang studi biologi, melalui media massa dan media elektronik (koran, majalah, televisi dan internet) maupun dari teman. Selain itu ada beberapa faktor juga yang mempengaruhi seperti faktor predisposisi, yaitu faktor yang meliputi sikap dan kepercayaan siswa mengenai suatu hal yang sangat menentukan mereka dalam memilih sesuatu yang dianggap paling baik juga faktor pendukung seperti lingkungan fisik, fasilitas kesehatan dan sarana kesehatan juga sangat berperan dalam memberikan masukan. Sikap dan perilaku petugas kesehatan atau sebagai faktor pendorong juga memiliki peran yang sangat penting dalam masalah kesehatan.

Keseluruhan faktor tersebut di atas sangat berperan dalam menentukan tingkat pengetahuan siswa tentang pendidikan seksual, karena pengetahuan selain didapatkan melalui pendidikan formal/ informal juga bisa dapat melalui lingkungan dan pengalaman.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengetahuan remaja puteri kelas X tentang pendidikan seksual di SMA Negeri 1 Glenmore Kabupaten Banyuwangi, maka dapat disimpulkan adalah tingkat pengetahuan yang termasuk dalam kategori cukup sebanyak 10 orang (33,33 %), kategori kurang sebanyak 11 orang (36,67 %), dan kategori tidak baik sebanyak 9 orang (30 %).

B. Saran

1. Bagi Tempat Penelitian

Agar pihak sekolah dapat memasukkan materi mengenai pendidikan seksual dalam mata pelajaran yang diajarkan di sekolah seperti dalam pelajaran biologi atau melalui kegiatan ekstra kulikuler lain guna memberikan tambahan pengetahuan dan informasi mengenai pendidikan seksual bagi siswa-siswinya terutama remaja putri dalam masa pubertas serta melakukan pembinaan secara periodik pada siswa tentang pengetahuan kesehatan reproduksi.

2. Bagi AKBID Poltekkes Mojopahit Mojokerto.

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan referensi dan bacaan di perpustakaan.

3. Bagi Siswa

Agar para remaja putri khususnya remaja putri kelas X di SMA Negeri 1 Glenmore Kabupaten Banyuwangi untuk lebih berperan aktif dalam menggali pengetahuan tentang pendidikan seksual.


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2000. Statistika Untuk Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.

Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.

Arikunto, S. 2006. Statistika Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.

Ahmad & Santoso. 2000. Kamus Pintar Bahasa Indonesia. Jakarta : Intan Pariwara

Drajat & Wilis. 2005. Pendidikan Seksual Remaja. Jakarta : Puspa Swara.

Dorland. 2000. Kamus Kedokteran. Jakarta : EGC

Hadi, Sutrisno. 2002. Metodologi Research Jilid 2. Yogyakarta : Andi Offset

Notoadmodjo. 2002. Konsep dan Penerapan Metode Penelitian Ihnu Keperawatan Edisi I. Jakarta : Salemba Medika

Notoadmodjo. 2003. Konsep dan Penerapan Metode Penelitian Ihnu Keperawatan Edisi II. Jakarta : Salemba Medika

Nursalam @ Siti Pariani. 2001. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: CV. Agung Seto

Nursalam. 2003. Panduan Kesehatan Seksual. Jakarta : Widya Medika

Wilis, 2004. Psikologi Remaja, Jakarta : EGC

http://forbetterhealth.wordpress.com/2009/04/19/pengetahuan-dan-faktor-faktor-yang-mempengaruhi/, Senin, 10 Maret 2008 | 17:34 WIB


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar