Minggu, 02 Mei 2010

KTI PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG SENAM PASCA PERSALINAN

KARYA TULIS ILMIAH

PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG

SENAM PASCA PERSALINANDI BPS RENI DESA

BAKUNGANKECAMATAN GLAGAH

KABUPATEN BANYUWANGI



BAB 1

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu.

Setelah persalinan terjadi involusi pada hampir seluruh organ tubuh wanita.involusi ini sangat jelas terlihat pada alat – alat kandungan. sebagai akibat dari kehamilan, dinding perut menjadi lembek dan lemas disertai adanya garis – garis putih dan hitam ( striae gravidarum ) yang dari sudut keindahan tubuh akan terasa sangat mengganggu.

Umumnya , para ibu pasca melahirkan takut melakukan banyak gerakan. sang ibu biasanya khawatir gerakan – gerakan yang dilakukan akan menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. padahal, apabila ibu bersalin melakukan ambulasi dini, itu bisa memperlancar terjadinya proses involusi uteri.

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia tertinggi di ASEAN, sebesar 307/100.000 kelahiran hidup (Survei Demografi Kesehatan Indonesia SDKI 2002 2003): artinya lebih dari 18.000 ibu tiap tahun atau dua ibu tiap jam meninggal oleh sebab yang berkaitan dengan nifas. (Depkes RI,Dirjen Binkesmas, 2004).

1


Angka kematia ibu (AKI) sebaga Latar belakang Asuhan Kebidanan Ibu Nifas. Dewasa ini derajat kesehatan ibu di Indonesia masih belum memuaskan. Hal ini antara lain ditandai oleh tingginya angka kematian ibu (AKI) yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup tahun. 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama post partum. sementara itu target yang ingin dicapai pada tahun 2010 adalah 125 per 100.000 kelahiran hidup (Saifuddin, 2001).

Telah terjadi kebiasaan wanita indonesia memakai gurita dan korset yang ketat segera setelah persalinan sebagai perawatan dini dinding perut.disamping itu menghilangkan garis – garis pada perut dipakai ramuan – ramuan tradisional berupa bedak cair yang dioleskan pada dinding perut, muka dan badan.

Tindakan tirah baring dan senam pasca persalinaan membantu proses fisiologi ini secara perlahan. senam pasca persalinan adalah senam yang dilakukan ibu – ibu setelah melahirkan untuk memulihkan, merawat dan mengembalikan keindahan tubuh setelah melahirkan.

Sekarang telah dipasarkan sejenis krim (diadal post natal cream) Yang dioleskan pada tempat – tempat yang dimana dijumpai stiae: dinding perut, paha, payudara, dan lain – lain. krim ini dapat meningkatkan metabolisme, tonus dan elastisitas dari kulit. ( sinopsis obstetri, 2001)

B. BATASAN DAN RUMUSAN MASALAH

Dari beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan maka peneliti membatasi hanya pada tingkat tahu, memahami, dan aplikasi tentang senam pasca persalinan.

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan, maka rumusan masalah yang muncul adalah sebagai berikut Seberapa besarkah tingkat pengetahuan ibu nifas tentang senam pasca persalinan di BPS Reni Desa Bakungan Kecamatan Glagah Kabupatn Banyuwangi?.

C. TUJUAN PENELITIAN

Untuk mengidentifikasi seberapa besar tingkat pengetahuan ibu nifas tentang senam pasca persalinan di BPS Reni desa Bakungan Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi.

D.MANFAAT PENELITIAN

1. Secara Teoritis.

Penelitian ini sangat bermanfaat untuk mengetahui secara spesifik mengenai tingkat pengetahuan ibu nifas tentang senam pasca persalinan.

2. Secara Praktis.

Meningkatkan kualitas pengetahuan kesehatan khususnya senam nifas.

3. Bagi Peneliti

Penelitian ini sebagai sarana untuk belajar menerapkan teori yang telah diperoleh dalam bentuk nyata dan meningkatkan daya fikir dalam menganalisa suatu masalah.

4. Bagi Institusi Pelayanan

Sebagai bahan masukan tentang pentingnya senam pasca persalinan

5. Bagi Pendidikan

Sebagai bahan bacaan kepustakaan dan penelitian lebih lanjut.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. LANDASAN TEORI

1. BATASAN PENGETAHUAN

Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan satu obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yaitu indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba, sehingga sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telingga. Jadi, pengetahuan merupakan hasil pengindraan kita (Notoatmodjo.2002:127-128)

a).Tingkat pengetahuan

1).Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai menggugat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, pada tingkatan ini reccal (menggugat kembali) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsang yang diterima. Oleh sebab itu tingkatan ini adalah yang paling rendah.

2). Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar tentang obyek yang dilakukan dengan menjelaskan, menyebutkan contoh dan lain – lain.

5


3). Aplikasi

Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum - hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam kontak atau situasi yang lain.

4). Analisis (Analysis)

Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau obyek kedalam komponen-komponen tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitan satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja dapat menggambarkan,membedakan,memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

5). Sintesis (Syntesis)

Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian - bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis ini suatu kemampuan untuk menyusun, dapat merencanakan, meringkas, menyesuaikan terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada.

6). Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau obyek penelitian – penelitian itu berdasarkan suatu criteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan criteria – criteria yan gtelah ada.

b). Cara memperoleh pengetahuan

Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari pengalaman yang berasal dari berbagai macam sumber, misalnya ; media massa, media elektronik, buku petunjuk, petugas kesehatan, media poster, kerabat dekat dan sebagainya.

Menurut Notoatmodjo (2002) dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah, dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni :.

1. Cara Tradisional atau Non Ilmiah

Cara tradisional terdiri dari empat cara yaitu :

a). Trial and Error

Cara ini dipakai orang sebelum adanya kebudayaan, bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Pada waktu ini bila seseorang menghadapi persoalan atau masalah, upaya yang dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, maka dicoba kemungkinan yang lain sampai berhasil, oleh karena itu cara ini disebut dengan metode Trial (coba) dan Error (gagal atau salah) atau metode coba-salah adalah coba-coba. Metode ini telah banyak jasanya terutama dalam meletakkan dasar-dasar menemukan teori-teori dalam berbagai ilmu pengetahuan. Hal ini juga merupakan pencerminan dari upaya memperoleh pengetahuan, walaupun pada taraf yang masih primitive. Disamping itu, pengalaman yang diperoleh melalui penggunaan metode ini banyak membantu perkembangan berfikir dan kebudayaan manusia kearah yang lebih sempurna

b) . Kekuasaan atau Otoritas

Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan dan tradisi-tradisi yang bila dilakukan oleh orang, penalaran, apakah yang dilakukan itu baik atau tidak. kebiasaan ini tidak hanyak terjadi pada masyarakat tradisional saja, melainkan kebiasaan ini seolah - olah diterima dari sumbernya berbagai kebenaran yang mutlak. Sumber pengetahuan in dapat berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal ataupun informal, ahli agama, pemegang pemerintahan dan sebagainya. Dengan kata lain pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemrintah, otoritas pemimpin agama, maupun ahli pengetahuan.

c). Berdasarkan Pengalaman Pribadi.

Adapun pepatah mengatakan “Pengalaman adalah guru terbaik”. Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman itu meruakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan.

d). Jalan Pikiran

Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara berfikir umat manusiapun ikut berkembang. Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuan, dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran pengetahuan, manusia telah menjalankan jalan pikirannya, baik melalui induksi atau deduksi. Induksi dan deduksi pada dasarnya adalah cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan. Kemudian dicari hubungannya sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan. Apabila proses pembuatan kesimpulan itu melalui pertanyaan-pertanyaan khusus kepada umum dinamakan induksi sedangkan deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pertanyaan - pertanyaan umum kepada khusus.

2. Cara Ilmiah atau Cara Modern

Dalam memperoleh pengetahuan dewasa ini menggunakan cara yang sistematis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut metode ilmiah atau popular disebut metodologi penelitian (Research Methodologi)

c). Faktor yang mempegaruhi pengetahuan.

1). Usia.

Semakin cukup usia si ibu tingkat kemampuan atau kematangan akan lebih mudah untuk berpikir dan mudah menerima informasi

2). Tingkat pendidikan.

Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah menerima informasi, sehingga semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai yang di perkenalkan.

(Nursalam,2001).

3). Pengalaman

Merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan pengalaman dapat menuntun seseorang untuk menarik kesimpulan dengan benar. Sehingga dari pengalaman yang benar diperlukan berfikir yang logis dan kritis. (Notoadmodjo, 2005).

4). Intelegensi.

Pada prinsipnya mempengaruhi kemampuan seorang untuk menyesuaikan diri dan cara pengambilan keputusan ibu-ibu atau masyarakat yang intelegensinya tinggi akan banyak berpartisipasi lebih cepat dan tepat dalam mengambil keputusan di banding dengan masyarakat yang intelegensinya rendah.

5). Sosial-Ekonomi.

Mempengaruhi tingkah laku seseorang ibu atau masyarakat yang berasal dari sosial ekonomi tinggi di mungkinkan lebih memiliki sikap positif memandang diri dan masa depannya, tetapi bagi ibu - ibu atau masyarakat yang sosial ekonominya rendah akan tidak merasa takut untuk mengambil sikap atau tindakan.

6). Sosial Budaya.

Dapat mempengaruhi proses pengetahuan khususnya dalam penyerapan nilai-nilai sosial, ke agamaan untuk memperkuat super egonya.

7). Lingkungan

Lingkungan berpikiran luas tingkat pengetahuan lebih baik dari pada orang yang tinggal di lingkungan berfikir sempit.

8). Pekerjaan

Seseorang yang bekerja pengetahuannya akan lebih luas dari pada seseorang yang tidak bekerja, karena dengan bekerja akan mempunyai banyak informasi dan pengalaman. (Wahyudin,2007)

d). Kriteria pengetahuan

Baik : 76 – 100 %

Cukup : 56 – 75 %

Kurang : 40 – 55 %

Tidak baik : ≤ 40 %

(Ari kunto, 2006)

2. BATASAN NIFAS

Nifas adalah waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat kandungan pada keadaan yang normal dan berlangsung selama 6 – 12 minggu. Atau 42 hari yang meliputi dua kejadian penting yaitu involusi uterus dan proses laktasi (Manuaba, 1999)

Kala nifas adalah proses pulihnya alat kandungan menuju keadaan normal sejak saat persalinan berakhir yang berlangsung selama 42 hari.

(manuaba. 1999)

a). Perubahan – perubahan sosiologi dan psikologi pada masa nifas :

1. Organ – organ reproduksi kembali ke kondisi tidak hamil.

2. Perubahan fisiologis lain yang terjadi selama kehamilan dikembalikan

3. Involusi uterus dan pengeluaran lochea

4. Laktasi / pengeluaran air susu ibu terbentuk

5. Dasar hubungan antara bayi dan orang tua disiapkan

6. Ibu pulih dari ketegangan pada waktu kehamilan dan persalinan, serta menerima tanggung jawab untuk merawat dan mengasuh bayinya.

b). Fisiologi Puer Perium (nifas)

Perubahan pada aktivitas endokrin:

1) .Oksitosin

Oksitosin dikeluarkan dari hifofise posterior bertindak karena otot uterin dan jaringan. Selama tahap III persalinan, oksitosi menyebabkan pemisahan placenta, urat otot yang menahan kontraksi mengurangi tempat placenta dan mencegah perdarahan

2). Prolaktin

Luruhnya estrogen menimbulkan prolaktin (dikeluarkan oleh hyporise anterior) bertindak atas pembesaran payudara untuk merangsang produksi susu. Pada wanita menyusui, prolaktin tetap tinggi dan permulaan pada rangsangan kolikal dalam ovarium ditekan.

c). Nifas dibagi dalam 3 peroide :

1. Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama islam, dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.

2. Purperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat – alat genetalia yang lamanya 6 – 8 minggu.

3. Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau tahunan.

d). Tujuan Perawatan Nifas:

1) Untuk memulihkan kesehatan umum penderita.

2) Untuk mendapat kesehatan emosi.

3) Agar masa nifas dapat berjalan lancar dan dapat memelihara bayinya dengan baik, agar pertumbuhan dan perkembangan bayi normal.

e). Involusi Alat Kandungan:

1). Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (Involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil.

2). Bekas Implantasi uri : placenta belum mengecil karena kontraksi dan menonjol ke Kavum Uteri dengan diameter 7,5 cm, sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm, pada minggu ke enam 2,4 cm dan akhirnya pulih.

3). Luka-luka pada jalan lahir bila tidsak di setai infeksi akan sembuh dalam 6-7 hari.

4). Rasa sakit yang disebut after pains ( mules-mules) disebabkan kontraksi rahim biasanya berlangsung 2-4 hari pasca persalinan perlu diberikan pengertian pada ibu mengenai hal ini dan bila terlalu mengganggu dapat di berikan obat-obat antisakit dan antimules.

5). Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari Kavum Uteri dan vagina dalam masa nifas,yaitu:

a.Lochea Sanguinolenta : berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, hari ke 3-7 pasca persalinan.

b.Lochea Serosa : berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi pada hari ke 7-14 pasca persalinan.

c.Lochia Alba : cairan putih, setelah 2 minggu.

d.Lochea Purulenta : terjadi infeksi keluar cairan seperti nanah berbau busuk.

6). Serviks

Setelah persalinan, bentuk Servik agak menganga seperti corong berwarna merah kehitaman.

7). Ligamen – ligamen.

Ligamen, Fasia dan Diafragma Pelvis yang meregang pada waktu persalinan, setelah bayi lahir secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh ke belakang dan menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum menjadi kendor.

f). Perawatan Pasca Persalinan:

1) Mobilitas

Karena telah sehabis bersalin, ibu harus istirahat atau tidur. Tidur terlentang selama 8 jam pasca persalinan, kemudian miring untuk mencegah terjadinya trombosis dan beraktivitas sesuai kesanggupannya.

2) Diet

Makanan harus bermutu bergizi dan cukup kalori, sebaiknya makan-makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan.

3) Miksi

Hendaknya kencing dapat di lakukan sendiri secepatnya, kadang wanita mengalami sulit kencing karena sfingter utetra ditekan oleh kepala janin dan iritasi M-Sphincter ani selama persalinan.

4) Defekasi

Buang air besar harus di lakukan 3-4 hari pasca persalinan.

5) Perawatan Payudara

Dianjurkan sekali untuk menyusukan bayi.

6) Laktasi

7) Pemeriksaan pasca persalinan

a) Pemeriksaan umum : tekanan darah, nadi, keluhan dan sebagainya.

b) Keadaan umum : suhu badan dan selera makan.

c) Payudara, ASI, puting susu.

d) Dinding perut, perineum, kandung kemih dan rektum.

e) Sekret yang keluar, misal Lochea, Flour albus.

f) Keadaan alat-alat kandungan.

g). Nasehat Untuk Ibu Post Natal.

1). Fisioterapi post natal sangat baik bila diberikan.

2). Sebaiknya bayi di susui.

3). Kerjakan Gimnastek sehabis bersalin.

4). Melakukan KB.

5). Bawalah bayi untuk memperoleh imunisasi.

3. KONSEP SENAM PASCA PERSALINAN

Senam nifas adalah perawatan dan pemeliharaan keindahan tubuh pasca persalinaan, untuk memulihkan otot – otot yang kendor dan mengencangkan otot abdomen.atau senam yang dilakukan ibu – ibu setelah melahirkan. Senam nifas bertujuan untuk mempercepat penyembuhan, mencegah timbulnya komplikasi, memulihkan dan menguatkan otot-otot punggung, otot dasar panggul dan otot perut.

Perawatan dan pemeliharaan keindahan tubuh dapat pula dilakukan dengan senam pasca persalinan. Umunya yang menjadi perhatian wanita setelah persalinan adalah bagaimana memulihkan bentuk tubuh dan dinding perut seindah mungkin. Pada beberapa ditemui adanya pelebaran pebuluh darah balik (varices) pada tungkai dan liang dubur (anus).

Macam –Macam Senam Pasca Persalinan:

a. Senam pasca persalinan normal

Mobilisasi dan gerakan-gerakan sederhana sudah dapat dimulai selagi ibu mondok diklinik atau dirumah sakit, supaya involusi tubuh berjalan dengan baik, dan otot-otot mendapatkan tonus, elastisitas, dan fungsinya kembali.

Gerakan - gerakan yang dapat menigkatkan tonus dan kekuatan otot-otot yang terlihat dalam proses persalinan, yaitu :

1. Senam sirkulasi

Jenis senam ini harus dilakukan sesering mungkin setelah persalinan. Senam bertujuan mempertahankan dan meningkatkan sirkulasi ibu pada masa pascapartus segera ketika ia mungkin beresiko mengalami trombosis vena atau komplikasi sirkulasi lain. Senam dapat dilakukan ditempat tidur beberapa kali sertiap bangun tidur dan harus dilanjutkan sampai ibu mampu mobilisasi total dan tidak ada edema pergelangan kaki. Senam ini khususnya tepat setelah pemberian anestesi epidural, karena pada saat ini ada resiko edema kaki dan pergelangan kaki serta sirkulasi lebih melambat. Ambulasi dini dapat mencegah trombosis vena profunda.

a. Senam kaki

Duduk atau berbaring dengan posisi lutut lurus. Tekuk atau regangkan secara perlahan sedikitnya 12 kali, ingat untuk lebih memilih gerakan dorsifleksi bukan plantarfleksi untuk mencegah kram. Petahankan posisi lutut dan paha, putar kedua pergelangan sebesar mungkin putarannya, sedikitnya 12 kali untuk satu arah.

Gambar 2.1

b. Mengencangkan kaki

Duduk atau berbaring dengan kaki lurus. Tarik kedua kaki ke atas pada pergelangan kaki dan tekankan bagian belakang lutut ditempat tidur. Tahan posisi ini dalam hitungan lima, bernapaslah secara normal, lalu relaks. Ulangi gerakan sebanyak 10 kali.

c. Nafas dalam

Pernafasan diagframa membantu mengembalikan aliran vena melalui kerja pemompaan diagframa pada vena kava inferior dan harus diulangi beberapa kali sehari sampai ibu dapat mobilisasi.

Dalam posisi apapun, tarik napas dalam sebanyak 3 atau 4 kali (tidak boleh lebih) untuk memungkinkan ventilasi penuh paru-paru.

Petunjuk yang diberikan pada antenatal, misalnya menghindari berdiri dan duduk lama atau berbaring dengan kaki disilangkan, berlaku pula pada waktu pascanatal. Anjurkan ibu berbaring kapanpun bisa. Senam sirkulasi bermanfaat kapan pun, tetapi bila ibu dapat melakukannya ada senam yang lebih penting dilakukan bila waktunya terbatas.

2. Dasar panggul

Senam dasar panggul menguatkan otot dasar panggul pascapartus, tujuannya mengembalikan fungsi penuhnya sesegera mungkin dan membantu mencegah masalah atau prolaps urine jangka panjang. Namun, kontraksi dan relaksasi otot-otot ini juga membantu meredakan ketidaknyamanan pada perineum, rasa ini juga mungkin timbul akibat persalinan, dan tujuan pemulihan dengan meningkatkan sirkulasi lokal dan mengurangi edema. Senam dasar panggul harus dimulai sesegera mungkin setelah persalinan untuk mencegah hilangnya kendali kortikal pada otot-otot karena nyeri perineum dan cemas tentang kerusakan jahitan.

a. Latihan dasar panggul

Kencangkan anus seperti menahan defekasi, kerutkan utera dan vagina juga seperti menahan berkemih, kemudian lepaskan ketiganya. Tahan yang kuat selama mungkin sampai 10 detik, bernapas secara normal. Relaks dan istirahat selama 3 detik. Ulangi dengan perlahan sebannyak mungkin sampai maksimum 10 kali.

Ulangi senam dengan mengencangkan dan mengendurkan, gerakan lebih cepat sampai 10 kali tanpa menahan kontraksi. Jumlah pengulangan akan bertambah secara bertahap bila ibu hanya menyanggupi beberapa kali melakukan senam ini pada awalnya, namun ibu perlu diberi tahu bahwa hal ini normal.

3. Senam abdomen

Selama kehamilan, korset abdomen mengalami peregangan mencapai kira-kiradua kali lipat dari panjang semula pada akhir minggu masa kehamilan. Seluruh otot abdomen memerlukan latihan untuk mencapai panjang dan kekuatan semula, namun otot yang terpenting karena perannya dalam menjaga kestabilan panggul ialah otot transversus. Tindakan membebani terlalu kuat pada otot rektus seperti curls-up dalam posisi duduk tegak atau oblik tidak dianjurkan, sampai otot transversus obdominis bekerja efisien untuk membuat panggul menjadi stabil. Latihan transversus dapat dimulai kapan pun ibu merasa mampu dan harus dilakukan sering sambil ibu melakukan aktivitasnya bersama bayi.

a. Senam trasversus

Berbaring dan kedua lutut ditekuk dan kaki datar menampak di tempat tidur. Letakkan kedua tangan di abdomen bawah pada di depan paha. Tarik napas dan pada saat akhir embuskan napas, kencangkan bagian bawah abdomen dibawah ubilikus dan tahan dalam hitungan 10, lanjutkan dengan bernapas normal. Ulangi sampai 10 kali.

Gambar2.2

Untuk memicuserat otot tipe I slow-twitch harus dengan kontraksi lembut yang membantu stabilitas panggul. Akan mudah dilakukan bila latihan ini dipadu dengan aktivitas lain dan latihan ini dapat sering dilakukan dalam banyak posisi misalnya, posisi miring, duduk, atau berdiri. Posisi berlutut-telungkup pada permulaan kehamilan tidak boleh dilakukan, sementara terdapat perdarahan sebagai respons terhadap adanya embolus udara yang memasuki sisi plasenta yang imatur. Karena penyebab inilah, disarankan untuk tidak melakukan latihan dalam posisi tersebut selama empat sampai enam minggu pascapartum.

Pada kehamilan, otot dasar panggul dan transversus akan bekerjasama dengan baik dan harus dipertahankan untuk memperbaiki stabilitas panggul.

b. Senam dasar panggul dan transversus

Kerja otot dasar panggul dan tranaversusakan bertambah dengan mengombinasikan kedua latihan tersebut (Sapford et al, 2001). Aktivasi bersama ini terutama bermanfaat pada masa pascanatal, khususnya bila tranversus terlebih dahulu lalu otot dasar panggul atau sebaliknya. Penting untuk menggunakan kontraksi kombinasi ini secara fungsional selama melakukan aktivitas untuk melindungi sendi panggul dan tulang belakang. Seorang ibu baru melakukan banyak tugas yang melibatkan gerakan mengangkat, misalnya, ketika sedang mengganti popok bayi, meletakkan bayi ketempat tidur bayi, menyusui,. Ibu juga perlu diingatkan untuk menggunakan otot dasar panggul dan trasversus sebelum mulai melakukan tugas apapun.

a. Mengangkat Panggul

Senam mengangkat panggul dapat dilakuakn diawal pascapartum, dan khususnya bermanfaat bila ibu memiliki riwayat nyeri punggung postural.

Berbaring terlentang dan kedua lutut ditekuk dan kaki ditapakkan kelantai, kencangkan otot-otot abdomen, kencangkan juga otot panggul dan tekan sedikit area belakang kelantai. Tahan posisi ini sampai hitungan kelima, lalu bernpas dengan irama normal, kemudian relaks seperti biasa. Ulangi gerakan ini 5 kali, tingkatkan hingga pengulangan mencapai hitungan 10 Kali atau lebih pada minggu-minggu selanjutnya. Ulangi latihan dengan lebih berirama(pelvic rocking), untuk membantu meredakan kekakuan yang timbul akibat pengruh postural atau nyeri punggung yang mungkin timbul setelah persalinan. Latihan ini dapat dilakukan dengan berbagai posisi, misalnya, posisi duduk dan berdiri lebih nyaman dibandingkan berbaring bila ibu tinggal dirumah dan sibuk.

Gambar 2.3

4. Senam stabilitas batang tubuh

Untuk memicu transversus demi menstabilkan panggul sambil menggerakkan tungkai bawah, senam berikut mulai dapat dilakukan kira-kira 5-10 hari setelah persalinan normal bila tidak ada masalah musculoskeletal panggul.

a. Dengan posisi duduk dan kaki datar diatas lantai serta tangan diatas otot abdomen bawah, tarik otot dasar panggul dan transversus serta naikkan satu lutut hingga kaki beberapa inci diatas lantai. Tahan selama lima detik dengan bagian panggul dan tulang belakang tetap pada posisinya. Ulangi sebanyak lima kali gerakan untuk setiap kaki. Secara bertahap tingkatan pengulangan, sehingga ibu mampu menahan gerakan tersebut diatas, sampai 10 detik dan ulangi sebanyak 10 kali.

Ganbar 2.4

b. Dengan posisi berbaring miring, tekuk kedua lutut kea rah atas-depan, tarik otot transversus dan otot dasar panggul seta angkat lutut atas dengan cara memutar paha keluar sementara tumit tetap saling berdekatan. Tahan selama lma detik pastikan bahwa posisi panggul atau tulang belakang tidak turut berotasi. Ulangi 5 kali untuk masing-masing kaki. Secara bertahap tingkatan penahanan gerakan tersebut sampai 10 detik dan ulangi sebanyak 10 kali.

Gambar 2.5

c. Dalam posisi berbaring miring dan lutut kaki yang bawah ditekuk kearah belakang, tarik abdomen bagian bawah dan naikkan kaki yang atas kearah atap sejajar dengan tubuh. Tahan gerakan ini selama 5 detik, namun tetap pastikan agar posisi punggung dan panggul tidak berotasi. Ulangi selama 5 kali pada masing-masing kaki. Secara perlahan tingkatan kemampuan menahan gerakan tersebut sampai 10 detik dan ulangi gerakan sebanyak 10 kali. Beberapa minggu kemidian tingkatkan untuk mengendalikan panggul dan tulang belakang sambil mengangkat kaki kearah atap dengan paha dirotasikan keluar.

Gambar 2.6

d. Dengan posisi berbaring telentang, tekuk kedua lutut keatas dan kaki datar di atas lantai. Letakan tangan diatas abdomen depan paha, tarik abdomen bawah dan biarkan lutut kanan sedikit kearah luar dengan sedikit mengendalikan untuk memastikan bahwa pelvis tetap pada posisinya dan panggul tetap datar. Secara perlahan kembalikan lutut pada posisi semula yakni posis tegak lurus. Ulangi gerakan sebanyak 5 kali pada lutut yang lain. Secara bertahap tingkatkan gerakan pengulangan tersebut sampai 10 kali. Beberapa minggu kemudian tingkatkan pengendalian panggul dengan posisi litut lebih rendah lagi.

Gambar 2.7

e. Dengan posisi telentang, tekuk kedua lutut diatas dan kaki datar diatas lantai. Letakkan tangan diatas abdomen depan paha, tarik abdomen bawah dan secara perlahan luruskan tumit salah satu kaki dengan tetap mempertahankan punggung datar setinggi panggul. Hentikan bila panggul mulai bergerak. Secara perlahan kembalikan posisi lutut menekuk. Ulangi gerakan 5 kali tiap kali secara bergantian. Secara bertahap tingkatkan pengulangan hingga 10 kali. Beberapa minggu kemudian tingkatkan pengendalian panggul untuk tujuan menguatkan kaki juga.

Gambar 2.8

Seluruh latihan ini akan lebih efektif bila dilakukan dengan perlahan dan jumlah pengulangan ditingkatkan secara bertahap bergantung pada kemampuan masing-masing individu. Akan lebih baik untuk berlatih ringan dengan frekuensi sering daripada memaksakan diri melakukan latihan sekaligus dalam sehari. Namun bila ibu merasa lelah atau sedang sakit, sebaiknya ia menuruti apa yang direfleksikan oleh tubuhnya sendiri dan menunda berlatih hingga ia merasa lebih sehat. Senam lainnya harus ditinggalkan sampai stabilitas panggul kembali seperti semula.

b. senam pasca persalinan dengan bantuan

Ibu yang baru menjalani persalinan dengan forsep atau ekstraksi vakum akan mengalami penjahitan dan mungkin memar serta edema. Ibu ini akan ragi-ragu malakukan senam, namun harus dianjurkan untuk melakukan senam sirkulasi (khususnya bila mereka pernah mengalami anestesi epidural) dan senam dasar panggul ringan yang akan membantu penyembuhan perineum. Senam transversus harus diperkenalkan kapanpun ibu siap.

Posisi istirahat yang nyaman adalah berbaring miring dengan bantal diletakan diantara kedua kaki ( lihat gambar 9.9) dan posisi berbaring telungkup ( banyak ibu yang lupa bahwa ia sudah bisa telungkup lagi), dengan satubuah bantal diletakkan dibawah pinggang dan lainnya dibawah kepala dan bahu ( lihat ganbar 9.10).. Menyusui akan lebih nyaman dengan posisi miring daripada duduk.

Gambar 2.9

Gambar 2.10

c. Senam Setelah Persalinan Dengan Seksio Sesaria

Ibu harus diajarkan bagaimana naik dan turun tempat tidur dengan menekuk kedua lutut terlebih dahulu, tarik oto abdomentnya dan berguling kedepan, dengan dorongan tangan dan kaki, ia akan mampu berpindah kearah atas atau bawah. Ibu tidak diperkenankan langsung duduk dari posisi berbaring namun tetap berguling kesamping.Gerakan ini juga cara termudah untk bangun dari tempat tidur-kencangkan bagian tranversus dan dorong keposisi dudu disamping tempat tidur.

Napas dalam diikuti dengan huffing (ekspirasi paksa singkat), akan membantu mengeluarka sekresi di paru-paru yang mungkin dapat terjadi setelah pemberian anastesi umum. Bila ibu perlu batuk, ia harus menekuk lututnya dan menahan lukanya dengan tekanan tangan atau bantal, sementara ibu bersandar atau duduk ditepi tempat tidur ( lihat ganbar 9.11). Posisi ini mencegah regangan berlebihan pada sutura, meningkatkan rasa percaya diri, dan mengurangi rasa nyeri.

Gambar 2.11

d. Senam Setelah Persalinan Bayi Lahir Mati atau Kematian Neonatus.

Ibu yang baru mengalami kesedihan karena bayi lahir mati, mungkn dirawat diruang khusus dan cenderung tidak mengikuti senam pasca natal. Agar ibu mau melakukan senam serta aktivitisnya sehari – hari maka sediakan leaflet tidak menyinggung tentang bayi. Ibu ini biasanya kembali kerja lebih awal dari perencanaan semula dan memerlukan reedukasi senam otot dasar panggul dan abdoment, khususnya ketika harus melakukan aktivitas fumgsional. Mereka menginginkan pertemuan tindak lanjut dengan ahli fisioterapi setelah beberapa minggu kemudian, karena sangat tidak tepat mengikuti kelas pasca natal.

e. Senam yang harus dihindari

Dua tahun yang lazim ” senam abdomen”, yaitu menaikan kedua kaki bersamaam dan sit-up dengan kaki lurus. Latihan ini merupakan latihan yang beresiko tinggi untuk siapapun dan mungkin dapat mengakibatkan cedera kompresi terhadap diskus vertebralis atau kerusakan otot dan ligamen.terdapat resiko tambahan bagi ibu pasca natal karena terdapat peregangan otot dan kelenturan ligamen.

Dibawah ini dua senam yang harus dihindari ( lhat gambar 9.12).

Gambar 2.12

a. Manfaat senam nifas

1. Meningkatkan kebugaran kardiovaskular

2. Retensi berat badan yang sedikit signifikan

3. Peningkatan kesejahteraan psikologi

b. tujuan senam pasca persalinan

1. Mengurangi rasa sakit pada otot-otot

2. Memperbaiki peredaran darah

3. Mengencangkan otot-otot perut dan perineum

4. Melancarkan pengeluaran lochia

5. Mempercepat involusi Menghindari emboli dan trombosis

c. Fasilitas dan perlengkapan

Ruang senam perlu dilengkapi dengan rungan yang besar ,berventilasi baik dengan lantai yang tidak licin, misalnya beralaskan karpet atau lantai terbuat dari kayu.

Sediakan sebuah bangku, dengan sedikitnya dua buah bantal dan sebuah matras kecil diperlukan untuk setiap peserta senam. bila tidak terdapat sistem alat musik yang lengkap, cukup sediakan sebuah radio kaset yang mudah dibawa. Sandal yang tepat penting untuk memberi perlindungan yang adekuat pada kaki dan membantu menghindari regangan. kaos katun yang longgar mungkin lebih nyaman.

  1. KERANGKA KONSEPTUAL


Sumer : Nutoatmodjo,2003 dan Arikunto, 2006

Ket :

: diteliti


: tidak diteliti

: garis penghubung yang diteliti

Gambar 2.13 : Kerangka konseptual tentang tingkat pengetahuan ibu nifas tentang senam pasca persalinan.

Dari kerangka diatas adapun variabel yang diteliti adalah tingkat pengetahuan ibu nifas tentang senam pasca persalinan meliputi : tahu, memahami ,dan aplikasi.sedangkan faktor – faktor yang mempengaruhi ibu nifas tidak diteliti.

BAB 3

METODE PENELITIAN

A. Jenis Dan Rancang-Bangun Penelitian.

Jenis penelitian yang digunakan adalah diskriptif yaitu suatu metode penelitian yang di lakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif.

B. Variabel.

1. Variabel yag digunakan adalah pengetahuan ibu nifas tentang senam pasca persalinan.

2. devinisi operasional.

Tabel 3.1 Definisi Operasional Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Senam Pasca Persalina Di BPS Reni Desa Bakungan Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi.

variabel

Definisi operasional

kriteria

skala

Pengetahuan ibu nifas

Segala sesuatu yang diketahui ibu nifas tentang senam pasca persalinan, yang meliputi:

  1. tahu
  2. memahami

3.

35

aplikasi

Baik : 76 – 100%

Cukup : 56 – 75 %

Kurang : 40 – 55 %

Tidak baik : ≤ 40%

( Arikunto,2006)

ordinal

C.Populasi

Populasi dalam peneliian ini adalah ibu nifas yang memeriksakan diri si BPS Reni Desa Bakungan Kecamatam Glagah Kabupaten Banyuwangi sejumlah 20 responden.

D.Sampel

Besarnya sample dalam penelitian ini adalah 20 responden

Tehnik pengambilannya dengan menggunakan total sampling.

E. Lokasi dan Waktu Penelitian

1.Penelitian ini dilakukan di BPS reni desa bakungan kecamatan glagah kabupaten banyuwangi.

2.Pengambilan data dilakukan pada bulan 18 juli sampai 7 agustus 2009.

F.Teknik dan Instrument Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang relevan maka peneliti memperoleh dengan cara peneliti terlebih dahulu meminta surat pengantar dari institusi, setalah mendapat persetujuan dari bidan, peneliti mulai melakukan pengumpulan data. dalam penelitian ini instrument pengumpulan data yang digunakan adalah berupa angket atau kuesioner. Kuesioner yaitu suatu cara pengumpulan data atau suatu penelitian mengenai suatu masalah dengan menyediakan pertanyaan kepada sejumlah obyek (Notoatmodjo, 2005).

Dalam pengumpulan data pada penelitian digunakan alat berupa kuesioner tertutup yang diberikan pada responden yang memenuhi kriteria. Untuk kuesioner pengetahuan ibu tentang perawatan payudara, Bila jawaban benar diberi nilai 1, bila jawaban salah diberi nilai 0. (Yanto dan Ummi, 2009)

Sebelumnya peneliti membuat inform concent (persetujuan) terlebih dulu kepada responden bahwa responden bersedia akan dilakukan penelitian setelah responden setuju baru peneliti membagikan kuisioner tersebut yang berisi daftar pertanyaan yang diajukan secara tertulis.

G.Teknik Analisa Data

Teknik Pengolahan Data

Teknik pengolahan data merupakan kegiatan untuk merubah data mentah menjadi bentuk data yang ringkas dan disajikan serta dianalisis sebagai dasar pengambilan keputusan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan kuesioner tertutup yaitu kuesioner yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih (Nursalam, 2003).

Langkah – langkah pengolahan data sebagai berikut :

1. Editing

Proses editing dengan memeriksa kembali data yang telah dikumpulkan dari rekam medic. Ini berarti semua data harus diteliti kelengkapan data yang diberikan

2. Scoring

Yaitu tahapini dilakukan setelah ditetapkan hasil setiap jawaban responden dapat diberikan skor.dengan kriteria sebagai berikut:

Bila jawban benardiberi nilai 1

Bila jawaban salah diberi nilai 0.

(yanto dan ummi,2009)

3. Tabulasi

Tabulasi dengan memuat tabel-tabel sesuai dengan analisis yang dibutuhkan.

Analisis data.

Analisis Data dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran / Diskriptif cukup menyajikan tabel distribusi.

Memindahkan data dari data kuesioner ke dalam table, selanjutnya diadakan presentasi tersebut dengan membagi frekuensi setiap alternatif jawaban dengan jumlah responen kemudian dikalikan 100% atau dengan rumus :

P = x 100%

P = prosentase

f = jumlah jawaban yang benar

N = jumlah soal

Kemudian data penelitian tersebut di interprestasikan dengan menggunakan kriteria kwalitas.

Baik : 76 – 100 %

Cukup : 56 – 75 %

Kurang : 40 – 55%

Tidak baik: < 40%

(Ari kunto, 2006)

H. Etika Penelitian

Dalam melakukan penelitian peneliti mengajukan izin kepada BPS melalui surat ijin permohonan dari Politeknik Kesehatan Majapahit Program Studi kebidanan Mojokerto. Untuk mendapatkan persetujan melakukan penelitian, beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam penelitian ini adalah :

1). Imfomed concent (Lembar Persetujuan Menjadi Responden ).

adalah lembar persetujuan yang akan di berikan pada subyek yang akan di teliti

2). Anonimity (tanpa nama)

Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden, peneliti tidak akan mecantunkan nama responden pada lembar pengumpulan data (kuesioner) yang diisi oleh responden, lember tersebut hanya diberi nomor kode tertentu.

3).Confidentiality (kerahasiaan)

Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh reponden dijamin oleh peneliti, karena hanya kelmpok data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil penelitian.


BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN

Pada bab ini akan peneliti sajikan hasil pengumpulan data dari kuesioner yang diperoleh dari pengambilan data yang dilakukan pada ibu nifas yang memeriksakan diri di BPS Reni desa Bakungan Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangidan didapatkan jumlah responden sebanyak 20 orang. Penyajian data dimulai dari deskripsi daerah penelitian dan hasil yang berupa data umum dan data khusus yang kemudian tabulasi.

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

a. Luas Wilayah

BPS Reni terletak di Propinsi Jawa Timir Kabupaten Banyuwangi Kecamatan Glagah desa Bakungan, dengan batas wilayah :

1. Sebelah Utara : Desa Mojopanggung

2. Sebelah Selatan : Desa Rejosari

3. Sebelah Barat : Desa Banjarsari

4. Sebelah Timur : Desa Kebalenan

BPS Reni merupakan bidan praktek swasta yang terdiri dari ruang untuk persalinan, ruang ibu nifas, 1 ruang pemeriksaan kehamilan dan aseptor KB dan ruang tunggu.

41


b. Manajemen Tenaga Kerja

1. BPS Reni terdiri dari orang tenaga kerja yang meliputi

a.. Bidan: : 1 orang

b. Pembantu bidan : 1 orang

2. Jam Kerja

BPS Reni melaksanakan kegiatan setiap hari kerja yaitu pada hari senin-minggu sedangkan untuk hari raya besar tidak melakukan kegiatan. Adapun kegiatan tersebut dimulai jam 06.00 sampai 07.00WIB dan 16.00 sampai 21.00WIB, 24 jam khusus untuk persalinan.

c. Bidang Pelayanan Meliputi

1. Pemeriksaan Ibu hamil

2. Pelayanan KB

3. Imunisasi Bayi

4. Pelayanan rawat inap (ibu bersalin)

5. Pencatatan dan pelaporan

2. Data Umum

a. Karakteristik responden berdasarkan umur

Tabel 4.1. Tabel distribusi responden berdasarkan umur di BPS Reni Desa Bakungan Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi Tanggal 18 juli – 7 agustus 2009.

No

Umur

Jumlah

%

1

2

3

4

<>

20 – 35

> 35

0

20

0

0

100

0

Total

20

100

Berdasarkan tabel 4.1 diatas dapat Diketahui responden yang berumur <>35 tahun 0 responden ( 0%).

b. Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan.

Tabel 4.2. Tabel distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan di BPS Reni desa bakungan Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi

Tanggal 18 juli – 7 agustus 2009.

No

Pendidikan

Jumlah

%

1.

2.

3.

4.

5.

Tidak sekolah

SD / MI

SMP

SMA / SMK

PT

1

3

6

10

0

5

15

30

50

0

Total

20

100

Berdasarkan gambar tabel 4.2 dapat diketahui bahwa jumlah responden yang tidak sekolah sebanyak 1 responden (5%), 3 responden (15%) yang berpendidikan SD/MI, 6 responden (30%) berpendidikan SMP, 10 responden (50%) berpendidikan SMA/SMK, 0 rosponden (0%) berpendidikan perguruan tinggi.

c. Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan

Tabel 4.3. Tabel distribusi responden berdasarkan pekerjaan di BPS Reni desa bakungan Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi tanggal 18 juli – 7 agustus 2009.

No

Pekerjaan

Jumlah

%

1.

2.

Tidak kerja

Kerja

11

9

55

45

Total

20

100

Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa jumlah responden yang tidak bekerja sebanyak 11 (55%), 9 responden (45%) bekerja

  1. Data Khusus

a. Karakteristik responden berdasarkan tingkat pengetahuan ibu nifas tentang senam Pasca persalinan di BPS Reni desa bakungan Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi.

Tabel 4.4. Tabel distribusi responden berdasarkan tingkat pengetahuan ibu nifas tentang senam pasca persalinan di BPS Reni desa bakungan Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi tanggal 18 juli – 7 agustus 2009.

No

Kriteria

Jumlah

%

1.

2.

3.

4.

Baik

Cukup

Kurang

Tidak baik

3

4

7

6

15

20

35

30

Total

20

100

Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui pengetahuan ibu nifas tentang pengertian nifas sebanyak 3 responden (15%) berkategori pengetahuan baik, 4 responden (20%) berkategori pengetahuan cukup, 7 responden (35%) berkategori pengetahuan kurang, 6 responden (30%) berkategori tidak baik.

B. PEMBAHASAN

1. Tingkat Pengetahuan ibu nifas Tentang Senam Pasca Persalinan di BPS Reni Desa Bakungan Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi

Berdasarkan analisa dan interpretasi data yang didapat bahwa sebagian besar berpengetahuan kurang yaitu 7 responden (35 %).

Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui pengetahuan ibu nifas tentang senam nifas sampai ranah tahu (know) sebanyak 3 responden (15%) berkategori pengetahuan baik, 4 responden (20%) berkategori pengetahuan cukup, 5 responden (25%) berkategori pengetahuan kurang, 8 responden (40%) berkategori tidak baik.

Berdasarkan tabel 4.5. dapat diketahui bahwa tingkat pemahaman ibu nifas tentang manfaat senam nifas sebanyak 3 responden (15%) berkategori baik, 5 responden (25%) berkategori cukup, 7 responden (35%) berkategori kurang, 5 responden (25%) berkategori tidak baik.

Berdasarkan tabel 4.6 didapat diketahui bahwa tingkat pengetahuan ibu nifas tentang senam pasca persalina sampai ranah aplikasi yaitu dengan pengetahuan tidak baik yaitu10 responden (50%), berpengetahuan kurang yaitu 6 responden (30%), berpengetahuan cukup yaitu 1 responden (5%), dan berpengetahuan baik yaitu 3 responden (15%).

Hasil analisis ini didukung oleh umur responden dari data dapat Diketahui responden yang berumur < style=""> >35ahun.

Semakin banyak umur atau semakin tua seseorang maka akan mempunyai kesempatan dan waktu yang lebih lama dalam mendapatkan informasi dan pengetahuan. Dengan demikian semakin tua umur responden asalkan dalam batasan reproduktif maka tingkat pengetahuan ibu tentang senam pasca persalinan semakin baik.

Hasil analisis juga dipengaruhi oleh pendidikan responden Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa jumlah responden yang tidak sekolah sebanyak 1 responden (5%), 3 responden (15%) yang berpendidikan SD/MI, 6 responden (30%) berpendidikan SMP, 10 responden (50%) berpendidikan SMA/SMK, 0 rosponden (0%) berpendidikan perguruan tinggi.

Menurut Nursalam (2001) bahwa makin tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima informasi sehangga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Responden yang berpendidikan tinggi akan mudah menyerap informasi, sehingga ilmu pengetahuan yang dimiliki lebih tinggi namun sebaliknya orang tua yang berpendidikan rendah akan mengalami hambatan dalam penyerapan informasi sehingga ilmu yang dimiliki juga lebih rendah yang berdampak pada kehidupannya.

Faktor lain disebabkan karena status pekerjaan responden Berdasarkan data diatas diketahui bahwa jumlah responden yang tidak bekerja sebanyak 11 (55%), 9 responden (45%) bekerja.

Nursalam dan Pariani (2001), menyebutkan bahwa bekerja umumnya pekerjaan yang menyita waktu untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan yang benar.

BAB 5

SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan Ibu nifas dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak (15%), dan dengan tingkat pengetahuan cukup (20%), serta dengan tingkat pengetahuan kurang (35%), sedangkan dengan tingkat pengetahuan Tidak baik (30%).

Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan ibu nifas tentang senam pasca persalinan di BPS Reni desa Bakungan Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi masih kurang.

B. SARAN

1. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hendaknya dapat menambah pengetahuan tentang senam pasca persalinan, dan menerapkan ilmu yang sudah didapat selama dibangku kuliah serta lebih dikembangkan dan menambah pengalaman dalam penerapan riset terutama tentang senam pasca persalinan.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Agar dapat memberikan materi penelitian yang lebih mendalam dan memantapkan dalam penyusunan karya tukis ilmiah.

3. Bagi Tempat Penelitian

Lebih meningkatkan dalam memberikan penyuluhan / memberikan CD kepada ibu nifas tentang nifas dan senam nifas, serta menyediakan sarana prasarana.

4. Bagi Masyarakat

Diharapkan ibu-ibu nifas dapat dan mau mengikuti senam nifas karena dapat membantu proses involusi dan pencegan komplikasi pada masa nifas. Serta melakukan pendekatan dengan tenaga kesehatan, mencari informasi tentang pentingnya senam pasca persalinan.


I. Keterbatasan

Beberapa keterbatasan peneliti dalam melakukan penelitian ini antara lain sebagai berikut:

1. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner yang peneliti buat sendiri dan belum pernah diuji cobakan sehingga reabilitas dan validitasnya perlu di sempunakan.

2. Waktu pelaksanaan terlalu singkat sehingga mempengaruhi hasil penelitian.

Daftar pustaka

Arikunto. Suharsimi. (2006). Prosedur penelitian. Jakarta : rineka cipta.

Brayshaw,E, (2007).senam hamil & nifas.Jakarta.EGC.

Dwi Wulandari (2008).” hubungan antara pengetahuan aseptor kb pil dengan kepatuhan aseptor dalam mengkonsumsi pil kb”.STIKES ABI.

Notoatmodjo.s.(2005) metodelogi penelitian kesehatan . jakarta;rineka cipta.

Nursalam.(2003).konsep dan penerapan metodelogi penelitian ilmu keperawatan .jakarta :salemba medika.

Manuaba I. B. G (2005). Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk pndidikan bidan.Jakarta.EGC.

Prawiroharjo. Sarwono.(2005).ilmu kebidanan.jakarta:yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo.

Rustam, M. (2002). Sinopsis obstetri.Jakarta.EGC.

Suyanto dan Ummi Salamah, (2009). Riset Kebidanan, Mitra Cendikia Press. Jogjakarta.

Tim Poltekes Majapahit Mojokerto, (2009). Buku Pedoman Penyusun Karya Ilmiah.

www.Geooglle.com

(http://hidupkansehat.blogspot.com/2008/12/angka-kematia-ibu-aki-sebaga-latar.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar