Minggu, 02 Mei 2010

KTI TINGKAT PENGETAHUAN WANITA USIA SUBUR TENTANG KONTRASEPSI SUNTIK 3 BULAN

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN WANITA USIA SUBUR TENTANG KONTRASEPSI SUNTIK 3 BULAN

DI DUSUN KRAJAN RW. IV KECAMATAN SILIRAGUNG

BANYUWANGI

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Keluarga berencana adalah suatu usaha yang mengatur banyaknya jumlah kelahiran yang sedemikian rupa sehingga bagi ibu maupun bayinya dan bagi ayah serta keluarganya atau masyarakat yang bersangkutan tidak akan menimbulkan kerugian sebagai akibat 1angsung dari kelahiran tersebut (Obsgin Universitas Padjajaran Bandung). Masalah keluarga berencana bukan masalah baru, terbukti hampir 95% pasangan usia subur di Jawa Timur mengetahui cara/alat kontrasepsi. Di Jawa Timur jumlah pasangan usia subur mencapai 7.211.093 dan 75,6 % masih aktif menjadi peserta KB (Dinkes, 2004). Oleh karena itu kontrasepsi menjadi suatu kebutuhan di masyarakat untuk menjarangkan kehamilan dan mengatur jumlah anak.

Di Puskesmas Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi, peserta KB mencapai 252.649 aseptor dan hampir 151.590 akseptor memakai kontrasepsi suntik jenis Deno Provera yang disuntikkan 3 bulan sekali pada daerah muskular (bokong) Karena kemudahan dalam penggunaan akan mempengaruhi seseorang untuk memilih suatu alat kontrasepsi yang meliputi biaya yang terjangkau dan efektivitas tinggi. Penggunaan KB suntik relatif mudah karena tidak harus membuka aurat seperti pada pemasangan IUD, serta kemungkinan lupa meminum pil. Disamping itu pula, penyuntikan Depo Provera mempunyai efek samping perdarahan Amenorhoe (berhentinya haid) dalam waktu yang singkat yang panjang siklus normal berkisar antara 25 sampai 35 hari. Perdarahan-perdarahan dalam bentuk spotting (perdarahan bercak) dan bleeding (perdarahan terus ­terusan). Gangguan pada siklus menstruasi ini tidak membawa pengaruh yang buruk terhadap reliabilitas mencegah kehamilan. Gejala sampingan yang dapat terjadi yaitu sakit kepala, dan rasa mual yang bersifat sementara. Pertambahan berat badan merupakan efek terkecil dari kasus-kasus diatas.

Pengetahuan masyarakat yang terbatas tentang macam kontrasepsi dapat diidentifikasikan dengan besarnya informasi yang diperoleh dari berbagai macam media surat kabar, majalah dan buletin, televisi serta radio. Kebanyakan akseptor dapat informasi dari pengguna akseptor suntik yang lain tanpa tahu manfaat dan resiko yang terjadi. Peserta KB suntik dan calon peserta KB suntik hendaknya mengetahui dan memahami tentang cara pemberian, manfaat dan efek samping yang terkandung dalam KB suntik demi kenyamanan pemakai.

Mengingat banyaknya masalah yang timbul, maka perawat memegang peranan penting dalam membantu wanita pasangan usia subur memilih dan menggunakan metode kontrasepsi yang efektif, memahami filosofi yang dimiliki pasangan, memberi pendidikan tenntang kontrasepsi, pemberian sikap yang nyaman, dan melakukan pengkajian secara lengkap sebelum membantu menentukan pilihan kontrasepsi yang tepat dan sesuai yang di kehendaki pemakai.

1.2 Perumusan masalah

Berdasarkan data dan latar belakang masalah tersebut diatas, maka perumusan masalah adalah sebagai berikut : “Bagaimana pengetahuan wanita pasangan usia subur tentang kontrasepsi suntik” di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi.

1.3 Tujuan penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Diketahuinya pengetahuan wanita pasangan usia subur tentang kontrasepsi suntik di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi pengetahuan wanita pasangan usia subur berdasarkan umur.

2. Mengidentifikasi pengetahuan wanita pasangan usia subur berdasarkan pendidikan.

3. Mengidentifikasi pengetahuan wanita pasangan usia subur berdasarkan pekerjaan.

1.4 Manfaat penelitian

1.4.1 Bagi klien pasangan usia muda

1. Menambah pengetahuan pasangan usia subur tentang kontrasepsi suntik.

1.4.2 Bagi peneliti

1. Menambah pengetahuan peneliti tentang kontrasepsi suntik dan manfaat bagi klien.

2. Mampu mengidentifikasi pengetahuan pasangan usia subur tentang kontrasepsi suntik.

1.4.3 Bagi perawat

1. Memberi masukan kepada perawat tentang pentingnya pengetahuan tentang kontrsepsi suntik bagi pasangan usia subur.



BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Data umum

4.2.2 Data Khusus

1. Tingkat pengetahuan wanita pasanl,an usia subur tentang kontrasepsi suntik

Tabel 4.1 Tingkat p~ngetahuan wanita pas ~,rng~n Ft~sia.„~s~tb ~uX tentang kontrasepsi suntik pada tanggal 24-Mm sampai dengan 64-°v:hini-~$06 dm Wilayah kerja puskesmas Kecamatan Pesanggaran - Banyuwangi.

Paca 4.1 menunjukan tingkat pengetahuan responden kontrasepsi suntik di

wilayah kerja puskesmas keca.rnatan Pesanggaran - Banyuwangi. Berdasarkan tabel,di

atas 80% pengetahuan wanita pasangan usia subur tentang kontrasepsi suntik

pengetahuanya baik, 16% pengetahuan cukup, dan 4% pengetahuan kurang. Hampir

seluruhnya wanita pasangan usia subur di wilayah pnskesmas kecamatan Pesanggaran

- Banyuwangi tingkat pengetanuanya baik.

2. Tingkat pengetahuan wanita pasangan usia subur tentang kontrasepsi suntik

berdasarkan umur

Tabel 4.2 Tingkat pengetahuan wanita pasangan usia subur berdasarkan umur pada tanggal 22 Mei sampai dengan 04Juni 2006 di Wilayah kerja puskesmas kecamatan Pesanggaran - Banyuwangi.

Berdasarkan table 4.2 terlihat distribusi pengetahuan wanita pasangan usia subur berdasarkan umur. Dan 20 asf;ptor yang; pengetahuanya balk didapatkan 40% berumur 20 - 29 tahun, 45% berutrwr 30 - 39 tahun, dan 15% berumur 40 - 45 tahun. Pengetahuan cukup sebanyak 4 asept;or yaitu 'ivS% dari umur 20 - 29 tahun dan 25%


umur 20 Zy tahun. '1'erlzhat darz dzstribi.asz dz atas sebagzan besar pengetanuan wanita

pasangan usia subur di wilayah kerja puskesmas kecamatan Pesanggaran

Banyuwangi pengetahuanya baik dan dani umur 30 - 29 tahun.

3. Tingkat pengetahuan wanita pasangan usia subur tentang kontrasespi suntik

berdasarkan pendidikan.

Tabel 4.3 Tingkat pengetahuan wanita pasangan usia subur dengan Pendidikan pada tanggal 22 Mei sampai dengan 04 Juni 2006 di Wilayah kerja puskesmas kecamatan Pesanggaran - Banyuwangi.

Berdasarkan table 4.3 terlihat aistribusi pendidikan. Dari 20 aseptor yang pengetahuanya pengetahuanya baik. Dari yang tidak sekolah tidak ada satupun, 45% pendidikan SD, 35% pendidikan SLT'P, 20% pendidikan SLTA. dan PT tidak ada satupun. Pengetahuan cukup yaitu 4 aseptor yaitu 50% dari pendidikan SI,TP dan 50% pendidikan ',LTA. Pengetahuan kurang yaitu 1 aseptor dan 100% dari pendidikan SLTA.

Terlihat dari distribusi di atas bagian besar pengetahuan wanita pasangan usia subur berdasarkan pendidikan di wilayalz kerja puskesmas kacamatan Pesanggaran - Banyuwangi pengetahuanya baik dan dari pendidikan SD.


berdasarkan pekerjaan

Tabel 4.4 Tingkat pengetahuan wariita pasangan usia subur berdasarkan pekerjaan Pada tanggal 24 Mei sam.pai d.engan 04 Juni 2006 di Wilayah kerja puskesmas kecamatan Fesanggaran - Banyuwa.ngi

Berdasarkan table 4.4 tPrliliat distribusi pekerjaan. Dari 20 aseptor yang pengetahuanya balk di dapal;lcan, 30% yang bekerja sebagai Petani / Buruh, 60 % bekerja sebagai Wiraswasta, PNS tidak ada satv.ipun dan 10% lain - lain ( Ibu rumah tangga/tidak bekerja). Pengetahuan ctakup sebanyak 4 aseptor, dan 100% dart pekerjaan wiraswasta. Pengetahuan kunang 1 aseptor 1.00% juga dari pekerjaan wiraswasta.Terlihat dari daftar distribusi dia.tas >ebagian besar pengetahuan wanita pasangan usia subur di wilayah kerja puskesmas kecamatan Pesanggaran - banyuwangi pengetahuanya baik dan bekerja sebagai wiraswasta.


1.2.3 Pembahasan

Selanjutnya setelah dilakukan analisa data dan melihat hasil yang diperoleh maka akan dilakukan pembahasan hal-hal yang akan dibahas meliputi:

1. Pengetahuan wanita pasangan usia subur tentang kontrasepsi suntik di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Pesanggaran-Banyuwangi Meskipun teori mengatakan bahwa pengetahuan di pengaruhi beberapa faktor diantaranya tingkat pendidikan, umur, dan pekerjaan tapi semua itu tidak mutlak. Belum tentu orang yang berpendidikan tinggi, umur yang cukup dan pekerjaan yang baik pengetahuanya lebih tinggi. Semua itu tergantung keaktifan wanita pasangan usia subur dalam mencari dan menerima informasi tentang kontrasepsi suntik. Fakta yang didapatkan setelah dilakukan penelitian bahwa tingkat pengetahuan wanita pasangan usia subur di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi hampir seluruhnya berpengetahuan baik sebanyak 80%. Dan sebagian kecil berpengetahuan kurang sebanyak 4%.

2. Pengetahuan wanita pasangan usia subur tentang kontrasepsi suntik berdasarkan umur.

Berdasarkan tabel 4.2 tingkat pengetahuan wanita Pasangan usia subur tentang kontrasepsi suntik berdasarkan umur dari 25 responden sebagian besar berpengetahuan baik. terbukti dari umur 20 - 29 tahun sebanyak 40% berpengetahuan baik, umur 30 - 39 tahun sebanyak 45% berpegetahuan baik, Dan umur 40 - 45 tahun sebanyak 15%.

Dan pengetahuan kurang dari aseptor 100% pengetahuanya kurang dari umur 20 - 29 tahun. Menurut (Huclock, 1998) dikutip Nursalam dan Pariani (2001:24) Semakin cukup umur , tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berikiir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat, seseorang yang lebih dewasa akan lebih percaya diri dari orang yang belum cukup kedewasaannya.

Meski teori mengatakan semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih rnatang dalam berfikir dan bekerja. Berarti umur yang semakin matang akan memudahkan wanita pasangan usia subur dalam menerima pengetahuannya tentang kontrasepsi suntik dan sebaliknya jika nmur kurang matang akan menghambat seseorang dalam menerima informasi tentang kontrasepsi suntik. Dan para aseptor yang mempunyai umur yang matang lebih bisa memilih dan menerima informasi yang didapatnya sehingga mereka selalu aktif mencari tahu lewat penyuluhan petugas KB ataupun lewat media massa. Tetapi ada juga sebagian kecil dari umur matang pengetahuanya kurang mungkin disebabkan aseptor tersebut kurang aktif dalam mendapatkan informasi ataupun kurang bergaul dengan masyarakat lainnya sehingga menghambat aseptor tersebut dalam menerima informasi. Tetapi setelah dilakukan analisis, ternyata wanita pasangan usia subur yang tingkat pengetahuanya tertinggi.

3. Pengetahuan wanita pasangan usia subur tentang kontrasepsi suntik berdasarkan Pendidikan.

Berdasarkan tabel 4.3 tingkat pengetahuan wanita pasangan usia subur tentang kontrasepsi suntik dari 25 responden, yang dilihat dari segi pendidikan sebagian besar pengetahuannya baik. Pengetahuan baik sebanyak 20 responden. Dari yang tidak sekolah tidak ada satupun, pendidikan SD sebanyak 45 % berpengetahuan baik. SLTP sebanyak 35%, SLTA sebanyak 20% dan PT. tidak ada satupun. Pengetahuan cukup sebanyak 4 aseptor yaitu 50% dari pendidikan SLTP dan 50% dari pendidikan SLTA. Dan pendidikan lainya tidak ada satupun. Pengetahuan kurang sebanyak 1 aseptor 100% dari pendidikan SLTA.

Berdasarka tabel 4.3 tingkat pengetahuan terbanyak adalah pendidikan SD yaitu dari 20 aseptor yang 45% pengetahuanya baik. Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin mudah seseorang dalam menerima infornasi sehingga makin banyak pengetahuan yang didapat, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat seseoarang dalam menerima informasi. Mungkin aseptor yang pengetahuannya baik (SD) mereka lebih aktif mencari tahu, jadi walaupun pendidikan mereka rendah tapi mereka lebih sering cari informasi dan bartukar pikiran dengan masyarakat sekitar, dari pada yang pendidikanya tinggi tapi kuper tentang informasi KB.

4. Pengetahuan wanita pasangan usia subur tentang kontrasepsi suntik berdasarkan Pekerjaan.

Berdasarkan tabel 4.4 tingkat pengetahuan wanita pasangan usia subur tentang kontrasepsi suntik berdasarkan pekerjaan dari 25 responden sebagaian besar (20 aseptor) berpengetahuan baik. Pengetahuan baik yaitu 20 responden. Yang bekerja sebagai petani/buruh sebesar 30%, bekerja sebagai wiraswasta sebesar 60%, PNS tidak ada satupun, dan lain-lain (Ibu rumah tangga/tidak bekerja) sebanyak 10%. Pengetahuan cukup sebanyak 4 aseptor dan 100% bekerja sebagai wiraswasta. Pengetahuan kurang sebanyak 1 aseptor dan 100% bekerja sebagai wiraswasta juga. Dan lainya tidak ada satupun.

Data yang didapatkan sebagaian besar responden berpengetahuan baik adalah wiraswasta, mungkin dikarenakan pekerjaan mereka tidak setiap saat. Jadi waktu luang mereka lebih banyak dan digunakan untuk mencari tahu serta menerima informasi tentang KB suntik baik dari penyuluhan ataupun media massa. Atau karena pekerjaan mereka memasyarakat sehingga mereka, dengan mudah saling tukar informasi dengan rekan kerjanya.


BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan diuraikan tentang 1). Kesimpulan dalam penelitian studi pengetahuan wanita pasangan usia subur tentang kontrasepsi suntik. 2). Saran yang diberikan oleh peneliti.

1.1 Kesimpulan

1.1.1 Dari 25 responden di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi pengetahuan wanita pasangan usia subur tentang kontrasepsi suntik hampir seluruhnya sebanyak 80% berpengetahuan baik, 16% berpengetahuan cukup dan hanya 4% berpengetahuan kurang.

1.1.2 Dari 25 responden di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi hampir setengahnya sebanyak 48% wanita pasangan usia subur berpengetahuan baik berumur 20 - 29 tahun dan berpengetahuan kurang 100% pada umur 20 - 29 tahun.

1.1.3 Dari 25 responden di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi hampir setengahnya sebanyak 45% wanita pasangan usia subur berpengetahuan baik berpendidikan SD. Berpengetahuan kurang 100% berpendidikan SLTA.

1.1.4 Dari 25 responden di Wilayah Keija Puskesmas Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi sebagian besar sebanyak 60% wanita pasangan usia subur berpengetahuan baik bekerja sebagai wiraswasta. Dan pengetahuan kurang 100% bekerja sebagai wiraswasta juga.

1.2 Saran

1.2.1 Bagi Peneliti

Banyak hal yang belum terungkap dalam penelitian ini, untuk itu perlu penelitian lebih lanjut dengan metode yang lebih akurat dengan menggunakan kuisioner yang lebih spesifik untuk mengukur tingkat pengetahuan serta pengaru-pengaruh yang lain.

1.2.2 Bagi penyuluh lapangan KB

Perlu peningkatan promosi tentang KB suntik yang lebih menarik dan mengena pada sasaran dengan cara memberikan penyuluhan dan menggunakan poster, pamphlet, atau memberikan contoh aseptor- yang berhasil.

1.2.3 Bagi masyarakat khususnya responden KB suntik perlunya peningkatan pengetahuan tentang kontrasepsi suntik dan mencari informasi sebanyak-banyaknya baik kepetugas, media masa, televisi atau informasi-informasi lainya.


DAFTAR PUSTAKA

Alimul A.A, 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika.

Arikunto S, 2006. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek Edisi Refisi IV. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Hartanto H, 2004. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

JNPKKR/POGI, 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Mochtar R, 1998. Synopsis Obstertri. Jakarta : EGC.

Notoatmodjo S, 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Nursalam, 2001. Metodologi Riset Keperawatan, Cetakan I Jakarta : Rineka Cipta.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar