Jumat, 11 Juni 2010

ASKEB LETAK SUNGSANG

BAB I

PENDAHULUAN

1.2 Latar Belakang

Pengawasan antenatal dan post natal sangat penting dalam upaya menurunkan angka kematian dan kematian ibu maupun perinatal.

Pengawasan antenatal memberikan manfaat dengan ditemukannya berbagai kelainan yang menyertai hamil secara dini, sehingga dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langkah-langkah dalam pertolongan persalinannya. Diketahui bahwa janin di dalam rahim dan ibunya merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Sehingga kesehatan ibu optimal akan meningkatkan kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan janin.

Berdasarkan kenyataan lebih dari 90% kematian ibu disebabkan oleh komplikasi obstetri, yang sering tidak diramalkan pada saat kehamilan. Dimana kebanyakan komplikasi terjadi pada saat atau sekitar persalinan. Banyak ibu yang tidak berisiko ternyata mengalami komplikasi atau ibu yang dianggap berisiko ternyata persalinannya berlangsung normal.

Oleh karenanya semua pendekatan kehamilan dianjurkan menganggap bahwa semua kehamilan berisiko dan setiap ibu hamil agar mempunyai akses kepertolongan persalinan yang aman. Ibu hamil dianjurkan melakukan pemeriksaan ANC sebanyak 4x yaitu pada setiap trimester. Sedangkan pada trimester terakhir 2 kali.

1.2 Tujuan

a. Tujuan Umum

1. Mempromosikan dan menjaga kesehatan fisik dan mental ibu dan bayi dengan memberikan pendidikan mengenai gizi, kebersihan diri an proses kelahiran bayi.

2. Mendeteksi dan menatalaksanakan komplikasi medis, bedah ataupun obstetri selama kehamilan.

b. Tujuan Khusus

1. Mahasiswa mampu mengembangkan persiapan persalinan serta rencana kesiagaan menghadapi komplikasi.

2. Mahasiswa mampu membantu menyiapkan ibu menyusui dengan sukses, menjalankanmasa nifas dengan normal.

1.3 Manfaat

Bagi Pasien

1. Pasien dapat mengetahui kondisi dirinya dan juga janinnya.

2. Pasien dapat lebih tenang dalam menghadapi masalah dalam kehamilannya.

3. Pasien dapat mengerti tanda-tanda bahaya dalam kehamilan.

Bagi Masyarakat

1. Masyarakat menjadi bertambah pengetahuan tentang kehamilan.

2. Masyarakat menyadari pentingnya antenatal care.

3. Masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam sistem rujukan pada kehamilan.

Bagi Mahasiswa

1. Mahasiswa dapat mengenal secara dini ketidakcocokan, komplikasi yang mungkin terjadi selama kehamilan.

2. Mahasiswa mampu mengerti tentang antenatal care.

3. Mahasiswa lebih terampil dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. KONSEP DASAR TEORI

1.1 Pengertian

§ Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina.

§ Atau seksio sesarea adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim

(Mochtar,1998;1997).

§ Istilah seksio sesarea berasal dari bahasa latin seksio sesareaea yang artinya memotong atau menyayat.Tindakan yang di lakukan tersebut bertujuan untuk melahirkan bayi melalui tindakan pembedahan dengan membuka dinding perut dan dinding rahim.

(Lastiko Bramantyo 2003;8)

1.2 Sebab-sebab operasi seksio sesarea (Lastiko Bramantyo,2007;09)

1. Operasi seksio sesarea ada yang terencana,ada yang tidak direncanakan.

Apabila persalinan dipaksakan untuk di lakukan secara alami akan mengancam keselamatan ibu dan bayi.Sedangkan bedah seksio sesarea yang tidak direncanakan biasanya baru diputuskan pada saat atau ketika persalinan berlangsung.

2. Operasi seksio sesarea tidak dapat di lakukan sembarangan.

Sebelum keputusan untuk melakukan persalinan dengan operasi,biasanya dokter akan melakukan berbagai pemeriksaan.Hal ini dilakukan untuk melihat resiko-resiko yang mungkin terjadi akibat tindakan operasi.Ketentuan tersebut tidak selalu berlaku,terutama menghadapi kasus gawat darurat memerlukan kecepatan waktu untuk melakukan tindakan.

3. Penyebab operasi seksio sesarea

Penyebab operasi seksio sesarea menurut buku obstetri dan gynecologi ada 4 alasan yaitu untuk keselamatan ibu dan janin ketika persalinan harus berlangsung,tidak terjadi kontraksi distosia(persalinan macet)sehingga menghalangi persalinan alami.dan bayi dalam keadaan darurat sehingga harus segera di lahirkan tetapi jalan lahir tidak mungkin di lalui janin.

1.3 Indikasi seksio sesarea

a. Plasenta previa sentralis dan lateralis

b. Panggul sempit

c. Plasenta previa sentralis dan lateralis.

d. Disproporsi sefalo pelvik yaitu ketidak seimbangan anyar ukuran kepala dan panggul.

e. Ruptura uteri mengancam.

f. Partus lama

g. Prtus tidak maju

h. Distosia serviks

i. Pre eklamsi dan hipertensi

1.4 Resiko operasi seksio sesarea

Resiko-resiko yang mungkin di alami oeh wanita yang melahirkan dengan operasi seksio sesarea yang dapat mengakibatkan cidera pada ibu maupun bayi.Hanya perlu di ingat resiko ini sifatnya hanya individual yaitu tidak terjadi pada semua orang:

a. Alergi

Biasanya resiko ini terjadi pada pasien yang alergi terdapat obat tertentu.Pada awalnya yaitu waktu pembedahan egalanya bisa berjalan lancar sehingga bayi pun lahir dengan selamat.Namun beberapa jam kemudian obat yang di berikan baru bereaksi sehingga jalan pernapasan pasien dapat tertutup.Perlu diketahui penggunaan obat-obatan pada pasien dengan operasi seksio sesarea lebih banyak dibandingkan dengan cara melahirkan secara alami.

b. Perdarahan

Perdarahan dapat di akibatkan terbentuknya bekuan-bekuan darah pada pembuluh darah balik di kaki dan rongga panggul.Oleh karena itu sebelum operasi pasien harus melakukan pemeriksan darah lengkap.

c. Cidera pada organ lain

Jika tidak di lakukan scara hati-hati kemungkinan pembedahan dapat mengalkibatkan terlukanya organ lain seperti rectum atau kandung kemih.Penyembuhan luka bekas bedah seksio sesarea yang tidak sempurna dapat menyebabkan infeksi pada organ rahim atau andung kencing.

d. Perut dalam rahim

Seorang wanita yang telah mengalami pembedahan akan memiliki perut dalam rahim.Oleh karena itu,pada setiap kehamilan serta persalinan berikutnya ia memerlukan pengawasan yang cermat sehubungan dengan bahaya rupture uteri,meskipun jika operasi di lakukan secara sempurna,resiko ini sangat kecil terjadi.

e. Demam

Kadang demam setelah operasi tidak bisa di jelaskan penyebabnya.namun kondisi ini bisa terjadi karena infeksi.

f. Mempengaruhi produksi ASI

Efek pembiusan bisa mempengaruhi produksi ASI.Jika ia di lakukan pembiusan total(narkose).Akibatnya kolostrum(air susu yang keluar pertama kali)tidak bisa di nikmati bayi dan bayi tidak dapat menyusui begitu ia di lahirkan.

2 KONSEP LETAK SUNGSANG

2.1 Pengertian

§ Letak sungsang adalah keadaan di mana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri (Sarwono,2006;606)

§ Letak sungsang adalah janin yang letaknya memanjang(membujur)dalam rahim ,kepala berada di fundus dan bokong di bawah (Mochtar,1998;350)

2.2 Klasifikasi

a. Letak bokong (Frank Breech)

Letak bokong dengan kedua tungkai terangkat keatas.

b. Letak sungsang sempurna (Complete Breech)

Letak bokong dimana kedua kaki ada di samping bokong

c. Letak sungsang tidak sempurna (Incomplete Breech)

Adalah letak sungsang di mana selain bokong bagian yang terendah juga kaki atau lutut terdiri dari:

-Kedua kaki = Letak kaki sempurna

-Satu Kaki = Letak kaki tidak smpurna

-Kedua lutut = Letak lutut sempurna

-Satu lutut = Letak lutut tidak sempurna

(Mochtar,1998;350)

2.3 Posisi bokong di tentukan oleh sakrum,ada 4 posisi:

(1) Left sacrum anterior (Sakrum kiri depan)

(2) Right sakrum anterior (Sakrum kanan depan)

(3) Left Sakrum posterior(Sakrum kiri belakang)

(4) Right Sacrum posterior (Sakrum kanan belakang)

(Mochtar,1998;350)

2.4 Diagnosis

· Palpasi

Kepala teraba di fundus,bagian bawah bokong,dan punggung di kiri atau kanan.

· Auskultasi

DJJ paling jelas terdengar pada tempat yang lebih tnggi dari pusat.

· Pemeriksaan dalam

Setelah ketuban pecah,dapat di raba lebih jelas adanya bokong yang di tandai dengan adanya sakrum,kedua tuber ossis iskii dan anus.Bila dapat di raba kaki ,maka harus di bedakan dengan tangan.Pda kaki terdapat tumit,sedangkan pada tangan di temukan ibu jari yang letaknya tidak sejajar dengan jari-jari lain dan panjang jari kurang lebih sama dengan panjang telapak tangan.

2.5 Etiologi

Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan di dalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu jumlah air ketuban relatif lebih banyak,sehingga memungkinkan janin bergerak leluasa. Dengan demikian janin dapat menempatkan diri dalam presentasi kepala,letak sungsang atau letak lintang. Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan jumlah air ketuban relatif berkurang.Karena bokong dengan kedua tungkai yang terlipat lebih besar dari kepala,mak bokong di paksa untuk menempati ruang yang lebih luas di fundus uteri,sedangkan kepala berada dalam ruangan yang lebih kecil di segmen bawah uterus. Dengan demikian dapat di mengerti ,mengapa pada kehamilan cukup bulan janin sebagian besar di temukan pada presentasi kepala.Faktor-faktor lain yang memegang peranan dalam terjadinya letak sungsang di antaranya ialah multi paritas,hamil kembar,hidramnion,hidro sefalus,plasenta previa dan panggul sempit.Kadang-kadang letak sungsang di sebabkan oleh kelainan bentuk uterus. Plasenta yang terletak di daerah kornu fundus uteri dapat pula menyebabkan letak sungsang karena plasenta mengurangi luas ruangan di daerah fundus. (Sarwono,2006;611)

2.6 Mekanisme persalinan

Mekanisme persalinan hampir saja dengan letak kepala,hanya di sini yang memasukkan PAP adalah bokong.Persalinan berlangsung agak lama,karena bokong di bandingkan dengan kepala lebih lembek,jadi kurang kuat menekan sehingga pembukaan agak lama.

Bokong masuk PAP dengan garis pangkal paha melintang atau miring.Dengan turunnya bokong,terjadi putar sehingga di dasar panggul garis panggul garis pangkal paha letaknya menjadi muka belakang.Dengan trochanter depan sebagai hipomoklion(dibawah simpisis),Latero fleksi tubuh janin(punggung),sehingga trochanter belaang melewati perenium.Setelah bokong lahir di ikuti ke dua kaki,kemudian terjadi sedikit rotasi untuk memungkinkan bahu masuk PAP dalam posisi melintang atau miring.Llu bahu depan di bawah simpisis dan bahu belakang lahir.Kemudian kepala di lahirkan. (Sarwono,2006;355).

2.7 Prognosis

· Bagi Ibu

Kemungkinan robekan pada perineum lebih besarjuga karena di lakukan tindakan,selain itu ketuban lebih cepat pecah dan paritas lebih lama,jadi mudah terkena infeksi.

· Bagi anak

Pognosa tidak begitu baik,karena adanya gangguan peredaran darah plasenta setelah bokong lahir dan juga setelah perut lahir,tali pusat terjepit antara kepala dan panggul,anak bisa menderita asfiksia.Oleh karena itu setelah pusat lahir dan supaya janin hidup janin harus di lahirkan dalam waktu 8 menit(Mochtar,1998;356)

2.8 Penanganan

Ø Sikap sewaktu Hamil

Karena kita tahu bahwa prognosa bagi anak tidak begitu baik ,maka usahakan merubah letak janin dengan versi luar.Tujuannya: untuk merubah letak menjadi letak kepala.Hal ini di lakukan pada primi dengan kehamilan 34 minggu,multi dengan UK 36 minggu,dan tidak ada panggul sempit,gemelli atau plasenta previa.

Ø Syarat

- Pembukaan kurang dari 5 cm

- Ketuban masih ada

- Bokong belum turun atau masuk PAP

Ø Teknik

1. Lebih dahulu bokong lepaskan dari PAP dan ibu brada dalam posisi trendelenburg.

2. Tangan kiri letakkan di kepala dan tangan kanan pada bokong.

3. Putar ke arah muka/perut janin.

4. Lalu tukar tangan kiri di letakkan di bokong dan tangan kanan di kepala.

5. Setelah berhasil pasang gurita dan observasi tensi,DJJ serta keluhan. (Mochtar,1998;356)

Pimpinan persalinan:

(1) Cara berbaring

- Litotomi sewaktu inpartu

- Trendelenburg

(2) Melahirkan bokong

- Mengawasi sampai lahir spontan

- Mengait dengan jari

- Mengait dengan pengait bokong

- Mengait dengan tali sebesar kelingking.

(3) Ekstraksi kaki

Ekstraksi pada kaki ebih mudah.Pada letak bokong janin dapat di lahirkan dengan cara vaginal atau abdominal(seksio sesarea)

Ø Cara melahirkan pervaginam

Terdiri dari partus spontan(pada letak sungsang janin dapat lahir secara spontan seluruhnya)dan manual aid (manual hilfe).

Waktu memimpin partus dengan letak sungsang harus di ingat bahwa ada 2 fase:

a. Fase 1 : Fase menunggu

Sebelum bokong lahir seluruhnya,kita hanya melakukan observasi.Bila tangan tidak menjungkit ke atas(nuche arm) persalinan akan mudah.

b. Fase 2 : Fase untuk bertindak cepat

Bila badan janin sudah lahir sampai pusat,tali pusat akan tertekan antara kepala dan panggul,maka janin harus lahir dalam wktu 8 menit.Untuk dapat mempercepat lahirnya janin dapat di lakukan manual aid.

Ø Cara melahirkan bahu dan lengan

§ Cara klasik(Deventer)

Pegang bokong dengan menggunakan ibu jari berdampingan pada os sakrum dan jar lain di lipat paha.Kemudian janin di tarik ke arah bawah sehingga skapula berada di bawah simpisis.Lalu lahirkan bahu dan lengan belakang,kemudian lengan depan.

§ Cara Lovset

Setelah sumbu bahu janin berada dalam ukuran muka belakang tubuhnya di tarik ke bawah lalu di lahirkan bahu serta lengan belakang.Stelah itu janin di putar 900 sehingga bahu depan menjadi bahu belakang lalu di keluarkan seperti biasa.

§ Cara Mueller

Tarik janin vertikal ke bawah lalu di lahirkan bahu an lengan depan.Cara melahirkan bahu-lengan depan bisa spontan atau di kait dengan satu jari menyapu muka.Lahirkan bahu belakang dengan menarik kaki ke atas lalu bahu-lengan belakang di kait menyapu kepala.

§ Cara Bracht

Bokong di tangkap,tangan di letakkan pada paha dan sakrum,kemudian janin di tarik keatas.Biasanya hal ini di lakukan pada janin kecil dan multi para.

§ Cara Potter

Dikeluarkan dulu lengan dan bahu depan dengan menarik janin ke bawah dan menekan dengan 2 jari pada skapula.Badan janin di angkat ke atas untuk melahirkan lengan dan ahu belakang dengan menekan skapula belakang.

Ø Melahirkan kepala

§ Mauriceau(Veit smellie)

Masukkan jari-jari dalam mulut(muka mengarah ke kiri=jari kiri,mengarah ke kanan =jari kanan).Letakkan anak menunggang pada lengan sementara tangan lain memegang pada tengkuk,lalu tarik kebawah sampai rambut dan kepala di lahirkan.Kegunaan jari dalam mulut,hanya untuk menambah fleksi kepala.

§ De Snoo

Tangan kiri menadah perut dan dada serta 2 jari d letakkan di leher(menunggang kuda).Tangan kanan menolong menekan di atas simphisis.Perbedaannya dengan mauriceau ialah disini tangan tidak masuk dalam vagina.

§ Wigand Martin-Winckel

Satu tangan (kiri) dalam jalan lahir dengan telunjuk dalam mulut janin sedang jari tengah dan ibu jari pada rahang bawah.Tangan lain menekan di atas simphisis atau fundus.

§ Naujoks

Satu tangan memegang leher janin dari depan,tangan lain memegang leher pada bahu,tarik janin kebawah dengan bantuan dorongan dari atas simphisis.

§ Cara Praque terbalik

Dilakukan pada ubun-ubun kecil terletak sebelah belakang.Satu tangan memegang bahu janin dari belakang,tangan lain memegang kaki lalu menarik janin ke arah perut ibu dengan kuat.

3.TINJAUAN DASAR TEORI ASUHAN KEBIDANAN.

I. PENGKAJIAN.

1. Pengumpulan Data

a. Data Subyektif.

Nama : Ditanyakan nama penderita dan suaminya agar tidak keliru bila ada kesamaan dengan penderita lain.

(Ibrahim, 1971 : 84).

Umur : Dalam kurun waktu reproduksi sehat, dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun.

(Hanifa, 1999:23)

Semua usia subur20-30 tahun saat yang tepat untuk persalinan dengan jarak kelahiran lebih dari 2 tahun merupakan masa reproduksi yang sehat.

(Sastrowinata, 1983 : 154).

Usia 35 tahun atau lebih dinamakan primigravida tua jaringan otot sudah kurang clastis dan kaku sehingga sukar diregangkan, kemungkinan besar persalinan akan berlangsung kurang lancar.

(DepkesRi, 1997 : 54)

Agama : Perlu ditanyakan agar bila timbul keadaan gawat darurat dapat segera diketahui siapa yang perlu dihubungi.

(DepkesRI,1977:54)

Pendidikan : Makin rendah pendidikan ibu, kematian bayi makin tinggi sehingga perlu diberi penyuluhan.

(Depkes Rl, 1993 : 30).

Pekerjaan : Pekerjaan suami dan ibu sendiri untuk mengetahui bagaimana taraf hidup dan sosial ekonominya agar nasihat kita sesuai, juga mengetahui apakah pekerjaan mengganggu tidak, misal : bekerja di pabrik rokok, mungkin zat yang terhisap akan berpengaruh pada janin.

(Ibrahim, 1971 : 85).

Perkawinan : Ditanya berapa kali kawin dan berapa lamanya untuk membantu menentukan bagaimana keadaan alat kelamin dalam ibu, missal : pada ibu yang telah lama sekali kawin dan baru mempunyai anak kemungkinan ada kelainan pada alat kelamin dalamnya.

(Ibrahim, 1971 : 85).

Tidak menikah sah dan ibu bercerai dapat mempengaruhi psikologis ibu sehingga mempengaruhi juga proses pcrsalinan.

(Ibrahim, 1996 : 28).

Alamat : Untuk mengetahui ibu tinggal dimana, menjaga kemungkinan bila ada ibu yang namanya sama. Agar dapat dipastikan ibu yang mana yang hendak ditolong untuk kunjungan penderita.

(Ibrahim, 1971 : 84).

b. Keluhan utama.

Pada ibu inpartu didapatkan tanda dan gejala :

- Pinggang terasa sakit menjalar kedepan, sifatnya teratur, interval semakin pendek dan kekuatannya semakin besar.

- Nyeri semakin hebat bila untuk aktifitas (jalan) dan tidak berkurang bila dibuat tidur, intensitas nyeri tergantung keadaan klien.

- Mengeluarkan lender dan darah.

- Pungeluaran cairan yang sebagian besar ketubun pecah atau menjelang pembukaan lengkap.

(Manuaba, 1998 : 165)

Keluhan yang dirasakan pada saat masuk proses persalinan yaitu terjadi nyeri pinggang yang terjadi karena adanya kontraksi uterus yang ingin mengeluarkan isinya. Hal ini merupakan tanda his persalinan dimana his semakin kuat dan lama yang menyebabkan pembukaan servik.

(Prawiroharjo, 1999 : 176 )

b. Riwayat Kesehatan.

v Riwayat Kesehatan dahulu.

Ø Keadaan kesehatan ibu dengan penyakit seperti jantung, DM, hipertensi, penyakit ginjal, GO, akan mempengaruhi masa gangguan dan persalinan ibu.

Ø Pada klien yang menderita Dm akan menambah kebutuhan insulin sebagai kompentensi dari tubuh untuk memenuhi kebutuhan glukosa untuk energi yang meningkat. Penyakit DM dapat menyebabkan resiko bayi besar.

Ø Pada klien hipertensi dimana terjadi peningkatan beban kerja jantung akibat penyempitan pembuluh darah akan semakin meningkat sehubungan dengan kebutuhan tubuh untuk memenuhi O2.

Ø GO atau penyakit kelamin yang lain akan menjadi factor resiko bagi janin yaitu penularan infeksi secara langsung dari jalan lahir.

Ø Penyakit jantung tingkat IV dapat menyebabkan dekompensasi cordis dan setelah kelahiran bayi.

(Sarwono, 1999 : 434)

v Riwayat Kesehatan Sekarang.

Ø Bila saat hamil menderita TBC, kemungkinan ibu tidak kuat untuk mengejan dan berakibat persalinan lama.

Ø Ibu dengan DM, kemungkinan sulit karena bayi besar.

Ø Ibu dengan penyakit jantung dilarang mengejan karena akan memperberat penyakitnya.

(Sarwono, 1999 : 520)

v Riwayat Kesehatan Keluarga.

Riwayat keturunan kembar kemungkinan besar akan menurun pada anggota keluarga yang lain. Riwayat penyakit keluarga seperti DM, Hipertensi dan darah sukar membeku dapat menurun sehingga potensial ibu hamil mederita penyakit yang sama dan berakibat persalinan yang beresiko.

(Sarwono, 1999 : 387)

c. Riwayat Kebidanan.

v Haid.

Menarche pada waktu pubertas 10-16 tahun, haid teratur, siklus 28-30 hari, lama 5-6 hari, jumlah darah 50-70 cc, sifat darah tidak membeku.

(Sarwono, 1999: 103-104)

Selama haid tidak ditemukan keluhan pusing-pusing, pingsan ataupun tanda-tanda anemia yang lain serta jumlah perdarahan yang berlebihan hingga ada stosel, untuk mengidentifikasi adanya resiko perdarahan selama persalinan. (Hamilton, 1999 )

Perlu diketahui HPHT untuk membantu menentukan usia kehamilan dan tafsiran persalinan. (Hanifa W, 1999 : 125).

v Paritas.

Paritas 2-3 merupakan paritas yang paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. (Hanifa W, 1999 : 23).

v Kehamilan yang lalu.

Kehamilan terdahulu merupakan informasi yang penting karena kondisi yang terdahulu dapat terulang lagi. Misal perdarahan hipertensi, partus preterm, dsb. (DepkesRJ, 1993 : 30)

Apabila sejak hamil sampai melahirkan ibu mengalami penyakit seperti adanya jantung, paru-paru, hipertensi, ginjal dan lain-lain, maka dalam kehamilan ini bidan harus melakukan konsultasi dengan dokter atau rujukan. Dan yang jelas dapat mempengaruhi proses persalinan. Selain itu perlu diketahui usia kehamilan terdahulu seperti melahirkan.

(Manuaba, 1998:287-292)

v Persalinan yang lalu.

Ø Persalinan yang lalu bila tidak ada penyakit diharapkan persalinan kali ini juga tidak mengalami kesulitan.

Ø Multiparitas dengan riwayat obstetri yang baik, tidak selalu menjamin persalinan lancar, sebab janin yang besar dapat menyebabkan disproporsi meskipun ukuran panggul normal.

(Manila W, 1999:614)

Ø Kelahiran dengan SC kemungkinan terjadi rupture uteri kira-kira 1% sehingga dianjurkan untuk melaksanakan persalinan di RS.

Ø Perlu dituliskan demam pada persalinan atau nifas untuk memberikan penyuluhan sehingga tidak terulang kembali.

(DepkesRI, 1993:31-32)

Ø Ibu dengan riwayat persalinan SC karena panggul sempit kemungkinan persalinan kali ini dengan SC juga. Begitu juga apabila pada riwayat terdahulu mengalami pardarahan dan bayi besar maka untuk persalinan kali ini harus diwaspadai akan terulang.

(Sarwono, 2001 : 206)

v Riwayat Nifas.

Pengeluaran lochea rubra sampai hari ke 3 yang berwarna merah, lochea serosa hari ke 4 sampai 9 berwarna Icbih pucat dan kecoklatan, serta lochea alba dari hari 10-15 berwarna putih kekuningan. Ibu dengan riwayat pengeluaran lochea parulentha, lochea statica, infeksi intra uteri, rasa nyeri berlebihan memerlukan pengawasan khusus. Dan ibu meneteki kurang dari 2 tahun, adanya bendungan ASI sampai terjadinya abses pada payudara harus dilakukan observasi yang ketat.

(Manuaba, 1998: 193)

v Riwayat Kehamilan Sekarang.

Ibu hamil periksa mulai ia terlambat haid, pada trimester biasanya mengalami mual, muntah tetapi menghilang setelah trimester II. Setiap wanita hamil mengalami resiko komplikasi yang bias mengancam jiwanya, oleh karena itu diharapkan minimal 4 kali kunjungan antenatal, yaitu 1 kali pada trimester I, I kali trimester II, 2 kali trimester III, merasakan pergerakan anak biasanya pada usia 5 bulan, imunisasi TT 2 kali selang 1 bulan, serta mendapatkan tabel Fe minimal 90 buah, kapsul yodium 1 kali dan melaksanakan perawatan payudara.

(Manuaba, 1998 : 129-131)

ANC minimal 4 kali selama kehamilan (trimester I 1x , trimester II 1x, trimester III 2x).

(Depkes RI, 1996 : 5 ).

v Riwayat Persalinan.

Ø Kala I lama untuk primi 12 jam, his adecuat, fundus dominan, tiap 5-10 menit sekali (minimum) lama 45-60 detik, ketuban pecah spontan, lama multi 6-8 jam.

Ø Kala II lama untuk primi 1 – 1½ jam, persalinan spontan, bayi lahir hidup tidak cacat, untuk multi ½ - 1 jam.

Ø Kala III untuk primi 10 menit, placenta lahir spontan lengkap, untuk multi 10 menit.

Ø Kala IV 2 jam post partum perdarahan tidak boleh lebih 500 cc.

(Manuaba, 1998 : 168)

v Riwayat KB.

KB yang bias digunakan untuk pasca salin adalah suntikan KB depoprofera 3 bulan, cyclofem 1 bulan, implant, AKDR, pil KB hanya progesterone, pil kombinasi untuk yang kontap syaratnya usia ibu harus lebih 35 tahun, anak terkecil usia 10 tahun jumlah anak lebih dari 2. (Manuaba, 1998:439)

Selain itu bisa menggunakan kondom, jelly ataupun tissue.

(Sarwono, 2000 : 152)

d. Pola Kebiasaan Sehari-hari.

v Nutrisi.

Pada kala pembukaan adalah waktu untuk menyiapkan ibu menghadapi persalinan-persalinan diusahakan agar ibu dapat memasukkan makanan ke dalam tubuhnya agar ada zat bakar untuk pembentukan energi, makanan adalah yang mudah dicerna agar tidak memberatkan pekerjaan pencernaan. Kadang-kadang karena perasaan sakit ibu enggan makan. Dalam hal ini perlu dijelaskan makanan tersebut.

Cairan dianjurkan, ibu minum cairan yang mengandung nutrisi atau air biasa selama proses persalinan karena cairan akan membuat tenaga dan mencegah ibu dari dehidrasi yang dapat mempengaruhi keadaan his.

(Depkes RI, 2000 : 18)

v Eliminasi.

- Menjelang persalinan frekuensi meningkat (BAK ) karena bagian terendah janin menekan kandung kemih.

(HanifaW, 1999 : 97)

- BAB bila mungkin anjurkan ibu untuk BAB sebelum persalinan kala II jangan memberikan klimas bila kepala janin belum engaget, karena saat ibu mengejan untuk mengosongkan rectum, selaput ketuban dapat pecah dengan resiko terjadinya tali pusat menumbung.

- Ibu proses persalinan harus kemih 2 jam / lebih sering, bila kandung kemih penuh akan menghambat penurunan kepala dan akan membuat ibu merasa tidak nyaman.

(Djoko Waspodo, 2000 : 33)

v Istirahat dan tidur.

- Menjelang persalinan istirahat / tidur yang dianjurkan adalah posisi miring ke kiri, karena dengan posisi tidur miring ke kiri akan memperlancar peredaran darah ke vena cava inferior.

(Hamilton, 1995:83)

- Istirahat dan tidur diperlukan bagi ibu yang akan bersalin, tidur dan istirahat dilakukan apabila persalinan masih agak jauh. Bila persalinan dekat tentti tidak mungkin dapat istirahat karena rasa nyeri lebih kuat.

(Ibrahim, 1993:46)

v Personal Hygiene.

Infeksi yang dapat terjadi selama proses persalinan akan dapat menyebabkan kematian atau penyakit pada ibu maupun janin. Ibu hamil harus selalu mandi dan menggunakan baju yang bersih selama persalinan. Penolong persalinan harus mencuci kedua tangannya sesering mungkin dan menggunakan alat-alat steril atu DTT. Alasan pencegahan infeksi amat penting bagi ibu, janin, maupun penolong persalinan.

(Djoko Waspodo, 2000 : 2-12)

v Aktifitas.

Bila his jarang bagian terdepan belum masuk PAP, kantung ketuban masih ada maka diperbolehkan berjalan agar his bertambah kuat dan sering sehingga mendesak turunnya kepala ke PAP. Apabila his jarang presentasi belum masuk PAP, kantong ketuban sudah pecah, ibu tidak boleh berjalan, ibu dianjurkan tidur terlentang.

Apabila his jarang presentasi belum masuk PAP, ketuban sudah pecah atau apabila his sudah kuat, presentasi sudah masuk PAP, ketuban masih ada, tidak boleh berjalan untuk menghindari gerakan yang salah pada bayi.

(Ibrahim, 1993:97)

e. Riwayat Ketergantungan.

Mengalami kelergantungan pada minuman beralkohol, merokok, akan mengakibatkan gangguan pada persalinan, pertumbuhan dan perkembangan janin. (Depkes RI, 1993 : 34)

f. Latar Belakang Sosial Budaya.

Kemiskinan, ketidak tahuan, kebodohan dan rendahnya status wanita merupakan beberapa factor sosio-budaya yang berperan pada tingginya angka kematian maternal, transportasi yang sulit, ketidak mampuan membayar, pelayanan yang baik, pantangan makanan tertentu pada wanita hamil juga merupakan factor-faktor yang ikut berperan.

(HanifaW, 1999:25)

g. PsikoSosial Spiritual.

Biasanya timbul perasaan takut, cemas dan ragu-ragu terutama pada ibu yang baru pertama kali melahirkan. Keadaan psikologis dan pengetahuan keluarga yang slabil akan mcmpengaruhi dukungannya terhadap klien hamil. Semakin baik / slabil maka dukungan yang diberikan semakin positif bagi ibu / klien.

h. Kehidupan Sexsual.

Coitus pada akhir kehamilan lebih baik ditinggalkan karena kadang-kadang menimbulkan infeksi pada persalinan dan nifas, serta dapat memecahkan ketuban pada multipara. Coitus dapat dilakukan dengan menggunakan kondom/perubahan posisi yang dapat mengurangi kedalaman penetrasi.

(Manuaba, 1998: 139)

b. Data Obyektif.

Ø Pemeriksaan Umum :

a. Keadaan umum : baik, kesadaran composmentis.

b. Penampilan : sikap lordosc, berkeringat, tampak cemas

Ø Tanda-tanda Vital.

- Tekanan darah tidak boleh lebih dari 140/90 mmHg/perubahan diastole 15 mmHg. Sistole 30 mmHg bila diketahui tensi sebelumnya kenaikan lebih dari itu hati-hati adanya pre eklamsi.

- Nadi normal 60-100 x/menit bila nadi abnormal mungkin ada kelainan paru-paru/jantung.

- Pernafasan normal 20-24x/menit bila abnormal mungkin kelainan paru-paru/jantung.

- Suhu normal 36-37°C bila suhu lebih dari normal mungkin adanya infeksi. (Depkes RI, 1993:35)

- Kala I Fase Laten Fase Aktif

Tekanan darah tiap 4 jam tiap 4 jam

Suhu tiap 4 jam tiap 2 jam

Nadi 30-60 menit 30-60 menit

- Kala II : Nadi dan tekanan darah tiap 30 menit sekali

- Kala III : Nadi dan tekanan darah diperiksa setelah pemotongan tali pusat/bayi dibungkus.

- Kala IV : Nadi dan tekanan darah diperiksa 2-3 x dalam 10 menit pertama pasca persalinan, selanjutnya setiap 15 menit pada jam 1 dan 30 menit sekali pada jam kedua, untuk suhu seliap 1 jam selama 2 jam pertama pasca persalinan.

Ø Tinggi Badan.

- Lebih dari 145 cm, tinggi badan kurang dari 145 termasuk resiko sedang yaitu factor resiko ibu hamil tidak langsung menimbulkan kematian ibu. ( Pusdiknakcs, 1993 : 83 ).

- TB <>

- BB kurang dari 45 kg pada trimester III berarti ibu kurus, besar kemungkinan ibu akan melahirkan bayi dengan BBLR.

(Depkes RI, 1993 : 35)

- Lila : Lila kurang dari 23,5 cm merupakan indicator kuat untuk status gizi ibu yang kurang atau buruk, sehingga ia beresiko untuk melahirkan BBLR. ( Depkes RI, 1994 : 10).

Ø Kepala.

- Muka : normal, tidak sembab, tidak pucat, ada cloasma gravidarum karena terjadi perubahan deposit pigmen dan hyperpigmentasi karena pengaruh melaniphose stimulating hormone lobus hipofisis anterior dan pengaruh kelenjar suprarenalin. ( Manuaba, 1998 : 110).

- Rambut : normal, warna hitam, tidak mudah dicabut, tidak rontok, tidak berketombe, penyebaran merata.

- Mata : kelopak mala yang bengkak kemungkinan adanya pre eklamsi, conjungtiva normal warna merah bila pucat mungkin anemia, sclera normal warna putih, bila kuning mungkin terinfeksi hepatitis.

( Depkes RI, 2000: 19)

- Mulut dan gigi : Dalam kehamilan sering gusi menjadi bengkak dan lemah serta mudah berdarah, hal ini pengaruh hormone estrogen yang meningkat, sering juga timbul stomatitis dan gingivitis, kelainan ini disebut epulis gravidarum, caries dentis juga sering dijumpai akan tetapi tidaklah beralasan kehamilan sebagai penyebab meningkatnya kcjadian caries dentis, caries dentis sebelum hamil sudah ada dan berkurang ealsium akan memperburuk kerusakan giginya.

(HanifaW, 1999:495)

- Leher : Adanya bendungan pada vena jugularis tentunya kita curigai adanya penyumbatan jantung, bila mengalami pembesaran kelenjar tyroid bekerja lebih berat karena tyroid dalarn kehamilan dapat terjadi dalam 2 bentuk, yaitu Morbus basedowi (hipertispoidisme) dan Miksedema (hipotirodisme). Walau nampak gejala-gejala yang dapat menyerupai hiperfungsi galndula tyroid namun wanita hamil normal itu tidak menderita hipeririidisme.

(Manuaba, 1998:183)

Ø Payudara.

Mammae akan membesar dan tegang akibat hormone somatomammotropin, estrogen dan progesterone. Papila mammae membesar, lebih tegak dan tampak lebih hitam, seperti seluruh areola mammae karena hiperpigmentasi glandula Montgomery tampak lebih jelas menonjol. Pada kehamilan 12 minggu keatas dari putting keluar cairan berwarna putih agak jernih disebut colostrums yang berasal dari kelenjar-ke;enjar asinus yang mulai berskresi.

( Hanifa W, 1999 : 95 ).

Ø Abdomen.

Membesar sesuai usia kehamilan, linea alba / nigra hiperpigmentasi, tampak gerakan janin, bentuk pembesaran (melintang, membujur, asimetris), Tampak striae gravidarum. Adanya bekas SC (penting) karena bias terjadi rupture uteri pada persalinan berikutnya.

. (Pusdiknakes, 1993 : 70 & Prawiroharjo, 2001 : 190).

Ø Genetalia.

Vulva / vagina tidak ada kelainan, keluar lender bercampur darah, tidak teraba oedem, varices, condiloma acuminate/talata, servik tidak teraba, pembukaan 10 cm, eff 100 %, portio lunak, ketuban utuh, kepala H IV, UUKjam 12.

Tanda-tanda inpartu pada vagina terdapat pengeluaran pervaginam berupa bloodslym.

( Mochtar, 1998 : 93 ).

Kemajuan pembukaan servik dalam kata persalinan dibagi 2 fase :

a. Fase laten : Berlangsung selama 8 jam, pembukaan terjadi sangat lambat sampai mencapai ukuran diameter 3 cm.

b. Fase aktif : Pembukaan lebih cepat, dibagi dalam :

- Fase akselerasi : dalam waktu 2 jam pembukaan 3 menjadi 4 cm.

- Fase dilatasi maximal : dalam waktu 2 jam pembukaan 4 cm menjadi 9 cm.

- Fase deselerasi : pembukaan menjadi lambat kembali, dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap.

Fase-fase ini dijumpai pada primigravida, pada multigravida pun terjadi demikian tetapi terjadi lebih pendek.

(Prawiroharjo, 1999 : 182)

Ukuran-ukuran panggul dalam :

- Promotorium tidak teraba.

- Linea inominata tidak teraba.

- Spina isciadika tidak teraba.

- Sakrum konkaf, arcus pubis 90°.

(Prawiraharja, 1999 : 108-109)

Ø Ekstremitas.

Atas : Kadang ditemukan oedema pada jari-jari tangan yang merupakan tanda pre eklamsi. Flombing finger menunjukan adanya anemia.

Bawah : Karena pelebaran pembuluh darah vena ditungkai kadang-kadang ditemukan adanya varices. Hiperfleksi pada patella menunjukkan adanya pre eklamsi, rellek patella (-) menunjukan adanya avitaminosis Bl.

Ø Pemeriksaan Penunjang. ( Laboratorium ).

- Kadar MB normal > 11 gr %.

- Kadar Hb 9-10 gr %: anemia ringan.

- Kadar Hb 7-8 gr % : anemia sedang.

- Kadar Hb <7>

Ø Albumin urine negative.

Ø Reduksi urine negative.

(Sastrawinata, 1983 : 159-179)

II. IDENTIFIKASI DIAGNOSA MASALAH.

G...P....... umur kehamilan ....... Minggu, aterm, hidup, tunggal, intrauteri, membujur, fleksi, puka/puki, preskep, jalan lahir normal, kedaan ibu dan janin baik, inpartu kala I fase laten, dengan masalah :

- Nyeri sehubungan dengan adanya his / kontraksi.

- Cemas sehubungan dengan kurangnya pegetahuan ibu.

Prognosa baik.

(Prawiroharjo, 2001 : 109)

III. ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL.

Masalah potensial adalah masalah yang mungkin timbul dan bila tidak segera diatasi dapat mengganggu keselamatan hidup klien, maka masalah potensial harus diantisipasi, dicegah, diawasi dan dipersiapkan tindakan untuk mengatasi.

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA.

Merupakan langkah yang berkesinambungan dari proses penatalaksanaan asuhan kebidanan pada saat bidan bersama klien dimana terdapat indikasi situasi yang gawat sehingga bidan harus bertindak untuk menyelamatkanjiwa klien.

V. PERENCANAAN.

Diagnosa : G...P...... umur kehamilan ... minggu, aterm, hidup, tunggal,intrauteri, membujur, fleksi, puka/puki, preskep, jalan lahir normal, keadaan ibu dan janin baik, inpartu kala I fase laten.

Tujuan : Proses persalinan bejalan lancar, keadaan ibu dan janib baik.

Kriteria hasil :

Ibu : TTV dalam batas normal :

T : 100/60 - 130/90 mmHg.

N : 60 - 80 x/menit.

S :36-3.7,5°C.

R : 16 - 20x/menit.

Janin : - DJJ dalam batas normal 120-160x/menit.

- Kala I berlangsung 5 jam.

- Kala II berlangsung tidak lebih dari ½ jam.

- Kala III berlangsung tidak lebih dari ¼ jam.

- Kala IV tidak terjadi perdarahan yang banyak ( perdarahan <>

- Partus spontan pervaginam.

- AS : 9-10.

- His : 2-3x dalam 10 menit lama 40 detik.

Intervensi :

a. Konsul/kolaborasi dengan Dr.Obgyn.

R/ untuk mengetahui tindakan apa yang harus di lakukan.

b. Melakukan inform consent.

R/ Agar semua tindakan yang akan di lakukan mendapat persetujuan dari semua pihak dan dapat di pertanggung jawabkan.

c. Membri penjelasan kepada pasien dan keluarga kemungkinan cara persalinan.

R/ Ibu dan keluarga tahu tentang cara persalinan yang akan di hadapi.

d. Memberi tahu hasil pemeriksaan

R/ Agar ibu tahu tentang hasil pemeriksaan yang telah di lakukan.

e. Observasi TTV

R/ Untuk memantau keadaan umum ibu.

VI. PELAKSANAAN.

Merupakan realisasi dan rencana tindakan, tetapi tidak semua tindakan dilakukan tergantung situasi / disesuaikan dengan kedaan klien.

(Dep Kes, 1995 : 17)

VII EVALUASI.

Evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuan sualu pengkajian ulang rencana kebidanan, sedangkan tujuan dari evaluasi adalah menentukan kemampuan pasien dalam mencapai tujuan yang ditentukan dan menilai efektifitas rencana kebidanan atau asuhan kebidanan.

Jadi secara rinci catatan perkembangan berisis i\uraian yang ; berbentuk SOAP ( Subyekti, Obyekti, Assesment, Planning ) dari catatan perkembangan dapat mengetahui beberapa hal antara lain apakah tujuan sudah tercapai dan perlu adanya perubahan modifikasi dalam perencanaan dan tindakan.

(DepKesRI, 1995:27-28)


BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. ”S” G1P00000 UMUR KEHAMILAN 39 MINGGU DENGAN LETAK SUNGSANG

DI RSB. AL-HASANAH

MADIUN

Tanggal Pengkajian : 27 Januari 2009 pukul : 19.30 WIB

Tanggal MRS : 27 Januari 2010 pukul : 10.00 WIB

Tempat Pengkajian : RSB Al- Hasanah, Madiun

No. Reg : 100823

· PENGKAJIAN DATA

A. Data Subyektif

1. Biodata

Nama :

Umur :

Agama :

Suku/Bangsa :

Pekerjaan :

Penghasilan :

Pendidikan :

Lama/brp x kawin :

Alamat :

Ny ”S” Tn. “K”

26 thn 32 Thn

Islam Islam

Jawa/Indonesia Jawa/ Indonesia

IRT PNS

- ± 2.500.000,-

SMA Sarjana

3 thn/1x 3 thn/1x

Nglames, Madiun Nglames,Madiun

2. Keluhan Utama

Ibu mengatakan merasakan kenceng-kenceng sejak pukul 12.00 WIB, ibu tidak mengeluarkan lendir atau darah.

3. Riwayat Kesehatan

v Riwayat kesehatan yang lalu

Ibu mengatakan sejak dulu tidak pernah menderita penyakit menular seperti TBC(batuk lama disertai darah), hepatitis, HIV/AIDS maupun penyakit menular seperti kaencing manis(DM), tekanan darah tinggi(Hipertensi), jantung, cacat bawaan dan tidak ada keturunan kembar.

v Riwayat kesehatan sekarang

Ibu mengatakan saat ini tidak menderita penyakit batuk lama, sesak nafas, kecing manis, jantung, dan tidak menderita penyakit menular, seperti TBC, hepatitis, HIV/AIDS dan ibu pada saat ini tidak pernah minum obat-obatan tertentu, selain obat yang diberikan oleh bidan selama hamil.

v Riwayat kesehatan keluarga

Ibu mengatakan diantara anggota keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular seperti TBC, HIV/AIDS, maupun penyakit menurun seperti kencing manis, tekanan darah tinggi, jantung, asma, cacat bawaan dan tidak ada riwayat keturunan kembar.

4. Riwayat kebidanan

v Haid

Ibu mengatakan pertama kali haid umur 13 tahun,lama 7 hari, siklus 28-30, kadang-kadang nyeri pinggang 2 hari sebelum haid, warna merah kehitaman, encer,kadang ada sedikit gumpalan darah,biasanya terjadi beberapa hari sebelum dan sesudah haid.

HPHT : 14-04-2008

HPL : 21-01-2009

Sekarang usia kehamilan ibu 41 minggu.

v Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

Anak I :

Ibu mengatakan pertama kali hamil pada usia 23 tahun,ibu mengalami keguguran(abortus)pada usia kehamilan 3 bulan,dan ibu menjalankan kuretase di RS.

v Riwayat kehamilan sekarang

Ibu mengatakan hamil yang kedua kalinya. Kehamilan sekarang berusia 41 minggu, sewaktu hamil muda ibu sering merasa mual, muntah, muntah pada pagi hari, sering buang air kecil, nafsu makan berkurang. Keluhan tersebut hilang setelah kehamilan 3 bulan. Ibu mulai merasakan gerakan anak sejak usia kehamilan 5 bulan. Selama hamil ibu selalu rutin memeriksakan diri kebidan setempat. Sampai saat ini sudah periksa 8 kali (2x pada trimester I, 3x pad trimester II, 3x pada trimester III). Mendapat imunisasi TT lengkap. Ibu selalu menjalankan instruksi yang diberikan oleh bidan seperti harus banyak istirahat dan makan-makanan yang bergizi.

Ibu mengatakan kenceng-kenceng sejak kehamilan 41 minggu sering dan teratur. Sejak 27 januari 2009 pukul 12.00 wib. Ibu mengatakan belum mengeluarkan lendir atau darah.

v Riwayat KB

Ibu mengatakan belum pernah memekai alat kontrasepsi apapun karena ibu ingin cepat punya anak.Rencana setelah melahirkan ibu akan mamakai KB suntik 3 bulanan.

5. Pola kebiasaan sehari-hari

v Nutrisi

Selama hamil

Pada waktu hamil muda nafsu makanberkurang, makan 2x sehari dengan porsi sedikit. Setelah kehamilan 3 bulan nafsu makan ibu membaik, makan 3-4 x sehari. Porsi sedang, ibu minum susu 2x sehari.

Sekarang :

Sejak siang pukul 12.00 WIB sampai sekarang ibu telah menghabiskan 3gelas air putih, pada pukul 17.00 WIB ibu makan porsi nasi dengan lauk ayam goreng dan ibu minum gelas teh hangat.

v Eliminasi

Selama hamil :

Selama hamil Ibu BAB 1x sehari jumlah sedang warna kekuning-kuningan, konsistensi lembek, pada hamil muda dan hamil tua ibu BAK 7-9x sehari, jumlah sedikit, tetapi pada kehamilan 3-9 bulan BAK 5-7x sehari, jumlah sedang warna dan bau normal.

Sekarang :

Ibu mengatakan terakhir BAB tadi pagi jam 05.00 WIB, jumlah sedang warna dan bau normal, sejak datang sampai sekarang Bak 2x.

v Istirahat/Tidur

Selama hamil :

Selama hamil istirahat tidur pada siang hari kira-kira 1 jam pada jam 13.00-14.00 WIB, pada malam hari tidur ± 8 jam antara jam 21.00-05.00 WIB.

Sekarang :

Sejak tadi malam ibu tidur tidak nyenyak karena merasa tidak nyaman, bangun tidur tadi pagi jam 04.00 WIB sampai sekarang ibu tidak dapat istirahat dengan baik karena nyeri perut dan kenceng-kenceng semakin bertambah kuat.

v Personal Hygiene

Selama hamil :

Selama hamil ibu mandi 2x sehari dengan sabun, gosok gigi 2-3x sehar, ganti pakaian 1x sehari, ganti celana dalam 2x sehari, keramas 3x dalam seminggu.

Sekarang :

Sejak tadi pagi bangun tidur mandi 1x, ganti pakaian1x.

v Aktifitas

Selama hamil :

Selama hamil ibu tetap melaksanakan aktifitasnya sebagai ibu rumah tangga (menyapu, memasak dan mencuci).

Sekarang :

Sejak datang ibu hanya berbaring ditempat tidur karea perutnya terasa nyeri dan kenceng-kenceng.

v Seksual

Selama hamil :

Selama hamil ibu mengatakan jarang melakukan hubungan seksual karena ibu merasa tidak nyaman dan takut bila terjadi sesuatu. Pada tiga bulan pertama ibu mengatakan melakukan hubungan seks dengan suaminya 1x dalam sebulan. Sedangkan 6 bulan ibu mengatakan melakukannya 2x dalam sebulan, tetapi pada bulan-bulan terakhir ibu takut untuk melakukannya. Setelah melahirkan nanti ibu berencana untuk melakukan hubungan setelah 40 hari setelah melahirkan.

6. Riwayat ketergantungan

Ibu dan anggota keluarganya tidak pernah tergantung pada obat-obatan, tidak merokok, tidak minum jamu tradisional, kopi, dan minum yang mengandung alkohol, teh.

7. Latar belakang soaial budaya

Didalam lingkungan keluarga ibu yang bersuku jawa tidak terdapat kebiasaan-kebiasaan dan pantangan-pantang bagi ibu hamil.

8. Pola psikososial dan spiritual

Ibu dan keluarganya beragama islam dan taat menjalankan ibadah. Selama hamil ibu berdoa semoga kehamilannya dan persalinannya berjalan lancar, normal, sehat, baik ibu maupun bayinya. Mengenai jenis kelamin ibu dan keluarga tidak mempermasalahkannya yang peting bayinya normal dan sehat.

b. Data Obyektif

· K/U : Baik

· Kesadaran : composmentis

· TTV : TD : 120/80 mmHg

S : 36,5 oC

N : 80 x/menit

R : 24 x/menit

· BB : - Sebelum hamil 49 kg

- Selama hamil 63 kg

· TB : 149 cm

· Lila : 26 cm

· Postur tubuh : sedang

Pemeriksaan fisik

Kepala

- inspeksi : Rambut hitam, tidak mudah dicabut, kepala bersih, tidak ada luka, tidak berketombe.

- palpasi : Tidak ada benjolan pada kepala.

Muka

- inspeksi : Muka tidak sembab, simetris

Mata

- inspeksi : Simetris, Sklera putih, tidak ikterus.

- palpasi : Konjungtiva palpebra merah muda.

Hidung

- inspeksi : Simetris, bersih tidak ada sekret.

- palpasi : Tidak ada benjolan yang abnormal.

Mulut

- inspeksi : Simetris, bersih, tidak ada stomatitis, tidak ada caries gigi, tidak berdarah,, tidak pucat dan lembab.

Telinga

- inspeksi : Simetris, bersih tidak ada serumen.

Leher

- inspeksi : Simetris, bersih, tidak ada lesi.

- palpasi :Tidak ada pembesaran vena jugularis, dan pembesaran kelenjar tiroid dan limfe.

Payudara

- inspeksi : Simetris, bersih, Payudara membesar, tegang, hiperpigmentasi areola. puting susu menonjol, bersih.

- palpasi : Puting susu (terdapat kolostrum), tidak terdapat benjolan abnormal, payudara lembek dan tidak ada nyeri tekan.

- auskultasi : Tidak ada wheezing dan ronchi.

Abdomen

- inspeksi : Simetris, bersih, tidak ada bekas luka, terdapat linie nigra dan strie livide.

- palpasi :

· Leopold I : TFU 3 jari dibawah Px, bagian yang terdapat di fudus uteri adalah keras(kepala)

· Leopold II : Pada perut bagian kiri teraba lebar, keras, seperti papan memanjang dan pada perut bagian kanan teraba bagian terkecil janin.

· Leopold III : Pada bagian bawah teraba bagian yang bulat(bokong)

· Leopold IV : Kepala belum masuk PAP.

- perkusi : Tidak ada kembung.

- auskultasi : HIS Kuat 1-2x dalam 10 menit lama <30>

DJJ 136 x/menit (puki).

Genetalia

- inspeksi : Tidak ada oedema/varises, vulva tidak ada condiloma acuminata dan condiloma matalata, terdapat luka jahitan yang masih basah, keadaan bersih, tidak ada tanda-tanda infeksi, tampak lochea rubra pada pembalut, konsistensi encer, bau anyir/ amis. Anus tidak ada hemoroid.

- palpasi : Tidak ada benjolan yang abnormal, tidak ada pembengkaan kelenjar bartholini.

Ekstremitas

Atas

- inspeksi : simetris, tidak ada kelainan dalam bentuk, tidak ada bekas luka dan jumlah ektremitas tidak syndaktil ataupun polydaktil.

- palpasi : Tidak ada oedema, tidak pucat.

Bawah

- inspeksi : simetris, tidak ada kelainan dalam bentuk dan jumlah ektremitas tidak syndaktil ataupun polydaktil, tidak ada bekas luka.

- palpasi : Tidak ada benjolan yang abnormal, tidak ada varises

- perkusi : reflek patela +/+

TBJ : (32-11) x 155

: 3255 gr

II. DIAGNOSA

DX : G11POA1 UK 41 minggu, tunggal, hidup, intra uteri, situs membujur, habitus fleksi, presentasi bokong, kala 1 fase laten dengan K/U ibu dan janin baik.

Ds : Ibu mengatakan perutnya kenceng-kenceng sejak pukul 12.00 WIB.

Do : - KU baik.

- TTV = T : 120/80 N : 84 x/menit S : 36,50C R : 20 x/menit.

- Lepold I : TFU 3 jari dibawah Px, bagian fundus teraba kepala.

- Lepold II : Pada perut bagian kiri teraba kepala.

- Lepold III : Bagian terendah teraba kepala

- Lepold IV : Kepala belm masuk PAP

- Auskultasi : 136 x/menit.

- Perkusi : Reflek patella +/+ (Normal)

- VT : Vulva dan vagina tidak apa-apa,tidak ada benjolan,tida ada varises pada labia.

Pukul 19.40 wib pembukaan 1 cm,ketuban (┼),H 1,bagian terendah teraba bokong.

III. ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL

-

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA

Kolaborasi dengan Dr.Obgyn

V. PERENCANAAN

Tanggal : 27 Januari 2009 Jam : 20.00 WIB

Dx : G11P0A1, UK 41 minggu, tunggal, hidup, Intra Uteri, situs membujur,habitus fleksi,presentasi bokong Inpartu kala 1 fase laten dengan KU ibu dan janin baik.

Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan ±1 jam ibu dalam keadaan tenang dan ibu mengetahui tentang persalinan yang akan di hadapi.

Kriteria : Ibu : TTV : Dalam batas normal

TD : 110/70 – 120/80 mmHg

N : 60-80 x/menit

S : 36,50C - 370, 5 C

R : 16-24 x/menit

Janin :

- DJJ dalam batas normal : 120-160 x/menit

- AS : 9-10

Intervensi

1. Konsul/kolaborasi dengan Dr.Obgyn.

R/ untuk mengetahui tindakan apa yang harus di lakukan.

2. Melakukan inform consent.

R/ Agar semua tindakan yang akan di lakukan mendapat persetujuan dari semua pihak dan dapat di pertanggung jawabkan.

3. Membri penjelasan kepada pasien dan keluarga kemungkinan cara persalinan.

R/ Ibu dan keluarga tahu tentang cara persalinan yang akan di hadapi.

4. Memberi tahu hasil pemeriksaan

R/ Agar ibu tahu tentang hasil pemeriksaan yang telah di lakukan.

5. Observasi TTV

R/ Untuk memantau keadaan umum ibu.

VI. PELAKSANAAN

Tanggal : 27 Januari 2009 Jam : 20.10 WIB

Dx : G11P0A1, UK 41 minggu, tunggal, hidup, Intra Uteri, situs membujur,habitus fleksi,presentasi bokong Inpartu kala 1 fase laten dengan KU ibu dan janin baik.

Implementasi

1. Konsul/kolaborasi dengan Dr.Obgyn.

2. Melakukan inform consent.

3. Memberikan penjelasan pada pasien kemungkinan persalinan.

4. Memberi tahu hasil pemeriksaan pada ibu.

5. Observasi TTV.

VII . EVALUASI

Tanggal 27 Januari 2009 Jam 20.30 WIB

Dx : G11P0A1 UK 41 minggu, tunggal, hidup, intra uteri, situs membujur, habitus fleksi, presentasi bokong Inpartu kala 1 fase laten dengan KU ibu dan janin baik.

Evaluasi

S : Ibu dan keluarga menginginkan persalinannya di lakukan dengan SC.

O : Observasi CHPB

A : Ny”S”G11P0A1 UK 41 minggu dengan inpartu kala 1 fase laten letak sungsang dengan rencana SC dengan KU ibu dan janin baik.

P : - Inform Consent.

- Persiapan pasien meliputi mental dan psikis

- Persiapan ibu

- Memakai baju operasi

- Pasang infus dan memasukkan obat.

- Skern dan pasang DK

- Persiapan alat.

- Kirim pasien ke tempat OK

- Lakukan timbang terima.

BAB IV

PEMBAHASAN

KESENJANGAN ANTARA TEORI DAN KASUS

Asuhan kebidanan pada NY. ”S” G1P00000 umur kehamilan 39 minggu dengan letak sungsang di RSB. Al-Hasanah Madiun oleh mahasiswa. Pelaksanaannya di mulai dengan melakukan pengkajian meliputi data subyektif dan obyektif. Dari pengkajian tersebut di temukan masalh – masalah yang muncul pada ibu bersalin serta dapat ditentukan diagnosa kebidanan. Adapun diagnosa kebidanan yang muncul adalah NY. ”S” G1P00000 umur kehamilan 39 minggu dengan letak sungsang.

Data subyektif yang mendasari diagnosa Ny. NY. ”S” G1P00000 umur kehamilan 39 minggu dengan letak sungsang agar ibu tidak cemas maka kita menjelaskan pada ibu.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dalam pelaksanaan asuhan kebidanan pada NY. ”S” G1P00000 umur kehamilan 39 minggu dengan letak sungsang di disimpulkan :

1. Pengkajian pada NY. ”S” G1P00000 umur kehamilan 39 minggu dengan letak sungsang diketahui data objektifnya adalah keadaan ibu baik, kesadaran composmentis.

2. Identifikasi Diagnosa Masalah berdasarkan pengkajian adalah NY. ”S” G1P00000 umur kehamilan 39 minggu dengan letak sungsang

3. Identifikasi Masalah Potensial pada NY. ”S” G1P00000 umur kehamilan 39 minggu dengan letak sungsang ada indikasi.

4. Identifikasi Kebutuhan Segera dengan pemberian konseling tentang menjelaskan pada ibu .

5. Perencanaan / intervensi pada NY. ”S” G1P00000 umur kehamilan 39 minggu dengan letak sungsang :

· Konsul/kolaborasi dengan Dr.Obgyn.

· Melakukan inform consent.

· Membri penjelasan kepada pasien dan keluarga kemungkinan cara persalinan.

· Memberi tahu hasil pemeriksaan

· Observasi TTV

6. Implementasi pada NY. ”S” G1P00000 umur kehamilan 39 minggu dengan letak sungsang :

· Konsul/kolaborasi dengan Dr.Obgyn.

· Melakukan inform consent.

· Memberikan penjelasan pada pasien kemungkinan persalinan.

· Memberi tahu hasil pemeriksaan pada ibu.

· Observasi TTV.

7. Evaluasi pada NY. ”S” G1P00000 umur kehamilan 39 minggu dengan letak sungsang :

S : Ibu dan keluarga menginginkan persalinannya di lakukan dengan SC.

O : Observasi CHPB

A : Ny”S”G11P0A1 UK 41 minggu dengan inpartu kala 1 fase laten letak sungsang dengan rencana SC dengan KU ibu dan janin baik.

P : - Inform Consent.

- Persiapan pasien meliputi mental dan psikis

- Persiapan ibu

- Memakai baju operasi

- Pasang infus dan memasukkan obat.

- Skern dan pasang DK

- Persiapan alat.

- Kirim pasien ke tempat OK

- Lakukan timbang terima.

Setelah dilakukan Asuhan Kebidanan pada ibu dengan mioma uteri maka kesimpulan yang dapat diambil adalah :

Tahap pengumpulan data dasar dilakukan dengan metode yang ada dalam penelitian ini dilakukan metode observasi, anamnesa dan pemeriksaan fisik. Data yang didapat berupa data subyektif dan data obyektif yang diperoleh dari pasien dan keluarga.

5.2 Saran

1. Untuk Petugas Kesehatan

Meningkatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik sehingga ganguan reproduksi pada wanita dapat terdeteksi secara dini.

2. Untuk Masyarakat

Agar masyarakat kususnya ibu bisa mendeteksi secara dini adanya gangguan reproduksi.

3. Untuk Mahasiswa atau Praktikan

Manggali ilmu semaksimal mungkin untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan mahasiswa tentang masalah – masalah yang terjadi pada gangguan reproduksi.

DAFTAR PUSTAKA

Rustam Mochtar Prof. Dr. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid Edisi 2 Buku Kedokteran. Jakaarta. EGC.

Prawirahardjo Sarwono. 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.

Prawirohardjo Sarwono. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.

Manuaba Ida Bagus Prof. Dr. 1998. Ilmu Penyakit Kandungan dan KB Buku Kedokteran. Jakarta : EGC.

ZR. Ibrahim. 1987. Kriteria Perawat Kebidanan (Perawatan Nifas). Jakarta : Barata.

TK. UNPAD. 1983. Obstetri Fisiologi. Bandung : Elemen.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar