Jumat, 17 Desember 2010

tingkat pengetahuan ibu hamil tentang anemia di BPS Hj.Indriyati srono


BAB I

PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia saat ini masih merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan AKI Negara-negara ASEAN lainnya. Menurut SDKI tahun 2002/2003 AKI sebesar 307 per 100.000 kehamilah hidup, sementara itu di negara tetangga Malaysia sebesar 36 per 100.000 kelahiran hidup, di Singapura 6 per 100.000 kelahiran hidup, bahkan di Vietnam 160 per 100.000 kelahiran hidup. Berbagai upaya telah dilaksanakan untuk menurunkan AKI, termasuk diantaranya program safe Motherhood yang telah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1988, upaya ini telah berhasil menurunkan AKI dari 450 per 100.000 kelahiran hidup ditahun 1985 menjadi 334 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1997.
Tiga pesan kunci MPS adalah setiap persalinan ditolon oleh tenaga kesehtan terlatih, setiap komplikasi obsterti dan neontal mendapat pelayanan yang adekut dan setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran. Dari penatalaksanaan MPS, target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2010 adalah angka kematian ibu menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup.
Frekuensi ibu hami dengan anemia di Indonesia relatif tinggi yaitu 63,5% sedang di Amerika 6%. Kekurangan gizi dan perhatian yang kurang terdapat ibu hamil merupakan perdisposis anemia divisiensi di Indonesia (Saifuddin, 2006 : 281). Menurut WHO kejadian anemia kehamilan berkisar antara 20% sampai 89% dengan menetapkan Hb 11 gr% sebagai dasarnya. Angka anemia kehamilan di Indonesia menunjukkan nilai yang cukup tinggi. Hoo Swie Tjiong menemukan angka anemia kehamilan 3,8 % pada trimester 1,13% trimester II < dan 24,8 % pada trimester III. Akrib Sukarman menemukan sebesar 40,1 % di Bogor. Bakta menemukan anemia hamil sebesr 50,7 % di Pukesmas Kota Denpasar sedangkan Shindu menemukan sebesar 33,4 % di Pukesmas Ngawi. Simanjutak mengemukakan bahwa sekitar 70 % ibu hamil di Indonesia menderita anemia kekurangan gizi. Pada pengamatan lebih lanjut menunjukkan bahwa kebanyakan anemia yang diderita masyarakat adalah karena kekurangan zat besi yang diatasi melalui pemberian zat besi secara teratur dan peningkatan gizi (Manuaba, 1998 : 29)
Jika persediaan Fe minimal, maka setiap kehamilan akan menguras persedian Fe tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya. Pada kehamilan relatif terjadi anemia karena ibu hamil mengalami hemodilusi (pengenceran) dengan peningkatan volum 30 % sampai 40 % yang puncaknya pada kehamilan 32 sampai 34 minggu. Jumlah peningktan sel darah 18 % sampai 30  dan Hemoglobin sekitar 19 %. Bila hemoglobin ibu sebelum sekitar 11 gr % maka fisiologis dan Hb ibu akan menjadi 9,5 sampai 10 gr % (Manuaba, 1998 : 30).
Akan tetapi dalam kenyataan tidak semua ibu hamil yang mendapatkan tablet zat besi meminumnya secara rutin, hal ini bisa disebabkan kerena faktor ketidak tahuan pentingnya tablet zt besi untuk kehamilannya. Dampak yang diakabitkan minum tablet zat besi penyerapan/respon tubuh terhadap tablet zat besi kurang baik sehingga tidaki terjadi peningkatan kadar HB sesuai dengan yang diharapkan. Faktor ini yang berhubungan dengan anemia adalah adanya penyakit infeksi bateri, parasit, usus seperti cacing tabang, malaria. Faktor sosial ekonomi yang rendah juga memang peranan penting katiannya dengan aspun gizi ibu selama hamil.
Berdasarkan hal-hal di tas penulis merasa tertarik untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang anemia di BPS Indriyati srono.
B.       Pembatasan dan Rumusan Masalah
1.      Pembatasan
Dari latar belakang diatas maka peneliti membatasi hanya pada hubungan terjadinya anemia dengan proses kehamilan di BPS Hj.Indriyati. Berdasarkan penyataan di atas maka masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana tingkat pengetahuan ibu hamil tentang anemia di BPS Hj.Indriyati srono”.
2.      Rumusan Masalah
Adakah hubungan terjadinya anemia dengan proses kehamilan di BPS Hj.Indriyati.
C.      Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan terjadinya anemia dengan proses kehamilan di BPS Hj.Indriyati.
2 Tujuan Khusus
a.   Untuk mengidentifikasi hubungan terjadinya anemia dengan proses kehamilan di BPS Hj.Indriyati Srono.
b.      Untuk mengidentifikasi berapa banyak ibu hamil yang mengkonsumsi tablet Fe selama kehamilan di BPS Hj.Indriyati srono.
c.   Untuk menganalisa hubungan terjadinya anemia dengan proses kehamilan di BPS H.Indriyati srono.
D.     Manfaat
1.      Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan penerapan hasil studi
2.      Bagi Tempat Penelitian
Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dan pelaksanaan anemia.
3.      Bagi Profesi
Dapat menjadi bahan pertimbangan untuk melakukan penalitian-penelitian di tempat ini.
4.      Bagi Kampus Universitas Bakti Indonesia
Dengan adanya suatu penelitian ini di harapkan bisa dibuat sebagai suatu referensi khususnya bahan pelengkap di perpustakaan di mana nantinya bisa bermanfaat bagi mahasiswa lain dan juga bisa sebagai bahan untuk proses belajar bagi mahasiswa serta tambahan pengetahuan bagi mahasiswa di universitas bakti indonesia. 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      Tinjauan Pustaka
1.      Pengertian Kehamilan
a.       Anemia pada Kehamilan
Anemia adalah kekurangan hemoglobin (Hb). Hb adalah protein dalam sel darah merah yang mengantar oksigen dari paru kebagian tubuh yang lain. Anemia dalam kehamilan ialah anemia karena kekurangan zat besi (Manuaba, 1998 : 29).
1.       Diagnosa anemia pada kehamilan
Untuk menegakan diagnosis anemia kehmilan dapat di lakukan dengan anamnesa. Pada anamnesa akan didapatkan keluhan cepat lelah, serimg pusing, mata berkunang-kunang, dan keluhan mual-muntah lebih hebat pada hamil muda. Pemeriksaan dan pengawasan Hb dengan sahli dapat digolongkan sebagai berikut :
-         Hb 11 gr %      : Tidak anemia
-         9-10 gr%                     : Anemia ringan
-         7-8 gr%                       : Anemia sedang
-         < 7 gr%                        : Anemia berat
(Manuaba, 2005:30)


2.       Penyebab Anemia
Sumsum tulang membuat sel darah merah. Proses ini membutuhkan zat besi, dan vitamin B12 dan Asam float. Eritropoictin (Epo) merangsang membuat sel darah merah. Anemia dapat terjadi bila tubuh kita tidak membuat sel darah merah secukupnya. Anemia juga disebabkan kehilangan atau kerusakan pada sel tersebut.
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan anemia :
-         Kekurangan zat besi, vitamin B12 atau asam ginjal
-         Kerusakan pada sumsum tulang atau ginjal
-         Kehilangan darah akibat perdarahan dalam atau siklus haid perempuan
-         Penghancuran sel darah merah (anemia hemolitik)
 (Manuaba, 1998 : 30)
3.       Bentuk-bentuk Anemia
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan darah adalah sebagai berikut :
a.       Komponen (bahan) yang berhasil dari makanan terdiri dari :
-         Protein, glukosa dan lemak
-         Vitamin B12, B6, Asam Folat dan Vitamin C
Tabel 1. Nilai vitamin B12 berbagai bahan makanan (mg/100 gr)


Bahan makanan
mg
Bahan makanan
mg
Hati sapi
Hati ayam
Ginjal
Jantung
Daging sapi
Ayam
Kuning telur
52,7
27,9
16,3
13,3
1,4
0,4
6,0
Keju
Susu sapi segar
Sardin
Ikan belanak
Ikan bandeng
Ikan tuna
Ikan kembung
1,0
0,4
14,4
8,6
3,4
3,0
2,4
(Sunita A., 2003: 216)
Tabel 2. Nilai asam folat berbagai bahan makanan (mg/100 gr)
Bahan makanan
mg
Bahan makanan
mg
Hati ayam
Hati sapi
Ginjal sapi
Ikan kembung
Ganggang laut
Kepiting
Ubi jalar
Gandum
Bungkil kc. Tanah
Jeruk mandarin
1128
250
45,3
36,5
61
56
52
49
124
5,1
Asparagus
Bayam
Rumput  laut kering
Daun kacang
Daun selada
Kucai
Kacang kedelai
Kacang hijau
Kacang merah
Pindakas
109
134
4700
109,8
88,8
57,8
210
121
180
125
(Sunita A., 2003: 211)

4.       Elemen dasar Fe, ion Cu dan zink
Tabel 3. Nilai besi berbagai bahan makanan (mg/100 gr)
Bahan makanan
mg
Bahan makanan
mg
Tempe kacang kedelai murni
Kacang kedelai, kering
Kacang hijau
Kacang merah
Kelapa tua, daging
Udang segar
Hati sapi
Daging sapi
Telur bebek
Telur ayam
Ikan segar
Ayam
Gula kelapa
10,0
8,0
6,7
5,0
2,0
8,0
6,6
2,8
2,8
2,7
2,0
1,5
2,8
Biskuit
Jagung kuning, pipil lama
Roti putih
Beras setengah giling
Kentang
Daun kacang panjang
Bayam
Sawi
Daun katuk
Kangkung
Daun singkong
Pisang ambon
Keju
2,7
2,4
1,5
1,2
0,7
6,2
3,9
2,9
2,7
2,5
2,0
0,5
1,5

(Sunita A., 2003: 255)
a.       Kemampuan resorbsi usus halus terhadap bahan yang diperlukan
b.      Umur sel darah merah (eritrosit) terbatas sekitar 120 hari
c.       Terjadi perdarahan kronik


5.      Bantuan menstruasi
6.      Penyakit yang menyebabkan perdarahan pada wanita seperti miona uteri, polip serviks, penyakit darah.
                                          1.       Pembagian anemia dalam kehamilan
a.       Anemia Defisiensi Besi
Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai ialah anemia akibat kekuranan besi. Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang masuknya unsur besi dengan makanan, karena gangguan resorpsi, gangguan pengunaan, atau karena terlampau banyaknya besi ke luar dari, misalnya pada perdarahan.
b.       Pencegahan
Di darah-darah dengan frekuensi kehamilan yang tinggi sebaiknya setiap wanita diberi sulfas ferosus atau glukonas ferrosus, cukup, 1 tablet sehar, selain itu wanita dinasehatkan pula untuk makan lebih banyak protein dan sayur-sayuran yang mengandung banyak mineral dan vitamin (Sarwono, 2005:453)
c.        Terapi
Apabila pada pemeriksaan kehamilan hanya Hb yang diperiksa dan Hb itu kurang dari 11 g/100ml. Maka wanita dapat dianggap sebagai penderita anemia defisiensi besi. Pengobatan dapat dimulai dengan preparat besi per 05. biasanya diberikan garam besi sebanyak 600-100 mg/ hari, seperti sulfas ferrosus atau glukonas ferrosus Hb dapat dinaikkan sampai 11 g/100ml atau lebih. Peranan vitamin C dalam pengobatan mempunyai khasiat untuk mengobati ion ferri menjadi ion ferro yang lebih muda diserap oleh selaput usus.
                                          2.       Anemia Megaloblastik
Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folik. Hal ini erat hubungannya dengan defisiensi makanan (Sarwono : 2005 : 453)
Asam folat terutama terdapat dalam daging, susu dan sayuran yang hijau penurunan obsorbsi sam folat jarang ditemukan karena absorbsi terjadi diseluruh saluran cerna. (Kapita selekta, 2005:550).
a)      Pencegahan
Pada umumnya asam folik tidak diberikan secara rutin, kecali di daerah-daerah dengan frekuensi anemia mengaloblastik yang tinggi. Apabila pengobatan anemia sengn besi saja tidak berhsil, maka besi harus di tambah dengan asam folik.
b)      Terapi
Dalam pengobatan anemia megaloblastik dalam kehamilan sebaiknya bersama-sama dengan asam folik diberikan pula besi. Tablet asam folik diberikan di dosis 15-30 mg sehari. Jikalao perlu, asam folik diberikan dengan suntikan dalam dosis yang sama. Apabila anemia megloblastik disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 dengan dosis 100 - 1000 m gram sehari  baik per os maupun parenteral.
                                          3.       Anemia Hipolastik
Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru. Pengobatan dengan segala macam obat penambah darah tidak memberikan hasil, maka satu-satumya cara untuk memperbaiki keadaan penderita lebih tranfusi darah.
4.     Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik disebabkan karena penghantaran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatanya. Pengobatn anemia hemolitik dalam kehamilan tergantung pada jenis dan beratnya. Tranfusi darah yang kadang-kadang diulangi beberapa kali, diperlukan pada anemia berat untuk meringankan penderita ibu dan untuk mengurangi bahaya hipoksia janin.
5.       Anemia-anemia Lain
Seorang wanita yang menderit anemia, misal berbagai jenis anemia hemolitik, herediter atau yang diperoleh seperti anemia karena malaria, cacing tambang, penyakit ginjal menahun, penyakit hati, tuberkulosis, sifilis tumor ganas, dan sebagainya, dan dapat menjadi hamil. Dalam hal ini menjadi lebih berat dan mempunyai pengaruh tidak baik terhadap ibu hamil dalam masa kehamilan, persalinan, nifas serta anak dalam kandungan.
Pengobatan ditunjukan kepada sebab pokok anemianya, misal antibiotik untuk infeksi, obat-obat malaria, anti sifilis, obat cacing dan lain-lain (Sarwono, 2005 : 458)

b.       Kehamilan
Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intrakuterin mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai pada persalinan (Manuaba, 1998: 4).
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai laihirnya janin. Lamanya kehamilan normal 280 hari (40 minggu 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertam haid terakhir. Kehamilan di bagi dalam 3 trimester, yaitu trimester pertama dimulai dari hasil konsepsi sampai 3 bulan, trimester kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, trimester ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan (Prawirohardjo, 2006 : 89).
a)      Pengaruh anemia dalam kehamilan
Anemia pada kehamilan atau kekurangan kadar hemoglobin dalam darah dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius bagi ibu baik dalam kehamilan, persalinan dan nifas yaitu dapat mengakibatkan abortus, partus prematurus, partus lama karena inertia uteri, perdarahan post partum karena atonia uteri, syok, infeksi intra partum maupun post partum. Anemia berat dengan Hb kurang 4 gr % dapat mengakibatkan dekompensatio cordis. Sedangkan komplikasi dapat terjadi pada hasil konsepsi yaitu kematian mudigah, kematian perinatal, prematuritas, cacat bawaan dan cadangan zat besi kurang (Sarwono, 2005 : 450 – 451)
b)      Pengobatan anemia dalam kehamilan
Untuk menghindari terjadinya anemia sebaik ibu hamil melakukan pemeriksan sebelum hamil sehingga dapat data-data dasar kesehatan umum calon ibu tersebut dalam pemeriksaan kesehatan disertai pemeriksaan laboratorium, termasuk pemeriksaan tinja sehingga diketahui adanya infeksi parasti. Pemerintah telah menyediakan preparat besi untuk dibagikan kepada masyarakat sampai keposyandu. Contoh preparat Fe diantaranya Barralat, Biosanbe, Iberet, Vitonal, dan Hemaviton. Semua preparat tersebut dapat dibeli bebas (Manuaba, 1988 : 32)
Terapi anemia defisiensi besi adalah dengan preparat besi oral dan parenteral :
1.       Terapi oral ialah dengan pemberian preparat besi sulfat, fero gluconat atau noferobisirat.
Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikkan kadar Hb sebanyak 1 gr% /bulan. Kini program nasional mengajurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 mg asam folat untuk profilaksis anemia.
2.       Pemberian preparat parental yaitu dengan forum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intervena atau 2 x 10 ml/im. Pada gluteus, dapat meningkatkan Hb relatif lebih cepat yaitu 2 gr % pemberian parenteral ini mempunyai indikasi. Intoleransi besi pada traktus gastrointestinal, anemia yang berat, dan kepatuhan yang buruk. (Prawirohardjo, 2006 : 292)
c)      Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penghinderaan terhadap sutu objek tertentu (Notoatmodjo, 2003) pengetahuan kongnitif merupakan dominal yang sangat penting untuk terbentuk tindakan seseorang. Selanjutnya ada enam tingat sebagai berikut :
1.       Tahu (Know)
Tahu artinya kemampuan untuk mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termask di dalamnya mengingat kembali terhadap sutu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima (Notoatmodjo, 2003).



2.      Memahami (Comprehension)
Memahami artinya menjelaskan secara teratur objek yang di lalui dan dapat menginterprestasikan materi secara benar (Notoadmojo, 2003).
3.      Aplikasi (Aplication)
Artinya kemampuan untuk menggunakan materi yang telah di pelajari pada atau kondisi riil yaitu pengguna hukum-hukum, rumus metod, prinsip dan sebagaimana di dalam konteks dan situasi yang lain (Notoadmojdo, 2003)
4.      Analisa (Analisis)
Artinya kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitan satu sama lain (Notoadmodjo, 2003).
5.      Sintetis (Synthesis)
Artinya kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini berdasarkan suatu kinerja yang ditentukan sendiri atau kriteria yang sudah ada. (Notoadmodjo, 2003)
6.      Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi, penilaian ini berdasarkan kriteria yan ditentukan sendiri, penilain ini dapat diukur melalui kuesioner. Jadi apabila perilaku seseorang didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka akan berlangsung lama, dengan tingkat pengetahuan yang lebih baik diharapkan dapat lebih mengetahui tingkat kesenangan.
Adapaun faktor-faktor yang mempengaruhi anemia dalam kehamilan yakni :
a)      Konsumsi Tablet Fe
Kebutuhan ibu selama kehamilan ialah 800 mg besi, di antaranya 300 mg untuk janin plasenta dan 500 mg untuk pertambahan eritrosit ibu. Dengan demikian ibu membutuhkan tambahan sekitar 2 – 3 mg besi/hari. Perlu diingat ada beberapa kondisi yang menyebabkan difisiensi kalori besi, misalnya infeksi kronik, penyakit hati dan thalassemia.
Efek samping berupa gangguan perut pada pemberian besi oral menurukan kepatuhan pemakaian secra massal, ternyata rata-rata hanya 15 tablet yang dipakai oleh wanita hamil. (Prawiroharjo, 2006 : 281)
Menurut Ikatan Bidan Indonesia (2000) untuk deteksi anemia pada kehamilan maka pemeriksaan kadar Hb, ibu hamil harus dilakukan pada kunjungan pertama dan minggu ke 28. Bila kadar Hb < 11 gr % pada kehamilan, dinyatakan termasuk anemia dan harus diberi suplemen tablet zat besi yang berisi 60 mg zat besi dan 0,5 mg asam fiat, diminum secara teratur 1 tablet/hari selama 90 hari berturut-turut, bila kadar Hb masih < 11 gr % pemberian tablet Fe dilanjutkan.
b)      Status sosial ekonomi
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) ekonomi adalah ilmu mengenai asas-asas produksi, distribusi dan pemakaian barang-barang serta kekayaan, pemanfaatan uang, tenaga, waktu dan sebagainya yang berharga, cakupan urusan keuangan rumah tangga (Organisasi, Negara).
Penggolongan masyarakat dalam stratifikasi berdasarkan status sosial ekonomi dibedakan dalam 3 tingkatan, yaitu :
1)      Upper class (tingkatan atas)
Mereka yang pada lapisan ini umumnya tingkat pendapatannya tinggi, mereka juga memiliki benda-benda berharga seperti, uang, tanah, emas, mobil dan sebagainya. Pekerjaan mereka seperti wiraswasta, bankir, manager, dan sebagainya.

2)      Middle class (tingkatan menengah)
Mereka yang pada lapisan ini tingkat pendapatannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi memiliki barang-barang berharga terbatas sebagai tabungan. Pekerjaan pada umumnya pegawai Negeri, pedagang dan sebagainya.
3)      Lower class (tingkatan bawah)
Pada lapisan ini tingkat pendapatannya rendah dan tidak tetap, karena pekerjaan mereka juga tidak tetap. Biasanya mereka sebagai buruh, pedagang kecil dan sebagainya.
Ekonomi dalam penelitian ini adalah menyangkut penghasilan keluarga dan diklasifikasikan sebagai berikut :
·        Ekonomi tinggi bila penghasilan keluarga rata-rata perbulan > Rp. 800.000
·        Ekonomi sedang bila penghasilan keluarga rata-rata per bulan Rp. 500.000– Rp. 800.000
·        Ekonomi rendah bila penghasilan keluarga per bulan < Rp. 500.000 (Data BPS, 2006)




B.  Kerangka Konseptual
Menurut (Notoatmodjo, 2005 : 69), kerangka konsep penelitian adalah kerangka hubungan antar konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan-sedang kerangka konsep menurut (A.Aziz Alimun Hidayat) adalah bagian penelitian yan menyajikan konsep atau teori dalam bentuk kerangka konsep penelitian.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
-         Pengetahuan ibu hamil
-         Konsumsi tablet Fe
-         Status sosial ekonomi
 

Anemia dalam  Kehamilan
 
Dalam penelitian ini dapat dilihat kerangka konsep sebagai berikut :









Text Box: - Status Perkawinan 
- Pendidikan
- Pendapatan
 







            Keterangan :
                                            
                                               : Diteliti

                                               : Tidak Diteliti


BAB III
METODE PENELITIAN

A.      Jenis Penelitian
Jenis dan rancang bangun penelitian merupakan suatu strategi untuk mencapai tujuan penelitian yang telah di tetapkan dan berperan sebagai pedoman atau penuntun peneliti pada proses penelitian (Nursalam, 2003:81).
Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian survey analitik dengan pendekatan retrospektif, dengan kata lain efek (penyakit atau status kesehatan).
Di identifikasi pada saat ini, kemudian faktor resiko diindentifikasi adanya atau terjadinya pada waktu yang lalu (Notoadmojo, 2005:150).

B.      Populasi dan Sampel
1.      Populasi
Populasi adalah keseluruhan objektif penelitian (Arikunto, 2006: 130) sedangkan populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang akan diteliti (Notoatmodjo, 2005). Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil trimester III dengan umur kehamilan 37 minggu yang melakukan ANC di BPS Hj.Indriyati sebanyak 18 orang.
2.      Sampel
Menurut (Arikunto, 2006: 131) sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sedangkan menurut (Notoatmodjo, 2005: 79) sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi.
Pada penelitian ini penulis menggunakan metode accidental sampling. Accidental sampling. adalah cara pengambilan sampel yang dilakukan dengan kebetulan bertemu. Sebagai contoh, dalam menentukan sampel apabila dijumpai ada, maka sampel tersebut diambil dan langsung dijadikan sampel utama. (A.Aziz Alimul Hidayat, 2007 : 34)
Saat dilakukan penelitian ditemukan 18 ibu hamil yang mengalami anemia. Oleh karena itu, jumlah populasi tersebut seluruhnya dijadikan sebagai sampel.

C.      Variabel Penelitian
1.      Variabel Independen
Variabel independen ini merupakan yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat) variabel ini juga dikenal dengan nama variabel bebas artinya bebas dalam mempengaruhi varibel lain.
Variabel independen pada penelitian ini adalah :
-         Hubungan terjadinya anemia ibu hamil tentang anemia.
2.      Variabel Dependen
Variabel dependen ini merupakan variabel yang dipengaruh atau menjadi akibat karena variabel bebas. Variabel ini tergantung dari variabel bebas. (A.Aziz Alimul Hidayat, 2007:35).
Variebel dependen pada penelitian ini adalah proses kehamilan.


D.      Instrumen Penelitian
Dalam mengumpulkan data dengan cara apapun, selalu diperlukan suatu alat yang disebut instrumen pengumpulan data. Instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan untuk mengumpulkan data (Notoatmodjo, 2005: 48).
Dalam penelitian ini peneliti memberikan memberikan 12 pertanyaan dimana tiap pertanyaan mempunyai 4 alternatif jawaban (a, b, c, dan d). untuk responden yang menjawab benar diberi nilai 1 dan jika menjawab salah diberi diberi nilai 0.

E.       Analisa Data
Tekhnik analisa data yang digunakan di penelitian ini menggunakan perhitungan statistik sederhana yaitu presentasi atau proporsi (Ekobudiarto, 2002).
Setelah data terkumpul melalui pengumpulan data, kemudian dilakukan pengolahan data melalui tahapan antara lain :
1.      Editing
Dimana penulis akan melakukan penelitian terhadap data yang diperoleh dan diteliti apakah terdapat kekeliruan atau tidak dalam penelitian
2.      Coding
Setelah dilakukan editing, selanjutnya penulis memberikan kode tertentu pada tiap-tiap data sehingga memudahkan dalam melakukan analisa data.

3.      Tabulating
Pada tahap ini jawaban responden yan sama dikelompokkan dengan teliti dan teratur, dijumlahkan dan dituliskan dalam bentuk tabel.
4.      Analisa
Untuk pengelompokkan kategori penelitian penulis membagi tingkat pengetahuan menjadi 4 kelompok yaitu dalam kategori baik, cukup, kurang baik dan tidak baik. Berdasarkan pendapat Budiarto (2005: 36) yang menyatakan bahwa: "Sebaiknya distribusi frekuensi mempunyai interval yang sama" dan pembagian
pertanyaan untuk tiap sub variabel yang diteliti pada kuesioner adalah sama, maka nilai presentasi untuk tiap tingkat pengetahuan dapat dihitung sebagai berikut:
a.       Kategori baik, jika 76-100% pertanyaan yang dijawab benar oleh responden
b.      Kategori cukup, jika 51-75% pertanyaan yang dijawab benar oleh responden
c.       Kategori kurang, jika 26-50% pertanyaan yang dijawab benar oleh responden.
d.      Kategori sangat kurang, jika 0-25% pertanyaan yang dijawab benar oleh responden.




Tabel 5. Kisi-kisi Variabel Penelitian
NO
ASPEK PENGETAHUAN
JUMLAH
NO.  SOAL
1.
Pengertian anemia
1
1
2.
Diagnosa anemia
1
2
3.
Penyebab anemia
1
3
4.
Makanan yang mengandung vitamin B12
1
4
5.
Makanan yang mengandung Fe
1
5
6.
Peran vitamin C
1
6
7.
Pengaruh anemia
3
7, 8, 9
8.
Pengobatan anemia
1
10
9.
Konsumsi Fe
2
11,12

Presentasi atau proporsi akan menjadi distribusi frekuensi relatif jika data yang digunakan adalah data kuantitatif, karena data yang digunakan di penelitian adalah data kuantitatif maka digunakan analisa data menggunakan distribusi frekuensi relatif yang dirumuskan sebagai berikut :



Keterangan  :
Fo  : Frekuensi Obsevasi
Fh : Frekuensi Harapan (Ekspektasi)
 (M Subana,2005:169)



Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengumpulan data penelitian :
1.      Langkah persiapan
a.       Persiapan penyajian
b.      Menyusun rencana kuesioner
c.       Memperbanyak kuesioner
2.      Langkah pelaksanaan
a.       Menyerahkan surat penelitian di tempat yang telah ditentukan
b.      Menggunakan kuesioner untuk pengumpulan data


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.     Profil
  1. Sejarah Singkat BPS Indriyati
BPS ini berdiri atas bidan Yusriyana secara hukum berdirinya BPS Indriyati berdasarkan surat keputusan Menkes RI. No. 900/Menkes/SK/VII/2002. tanggal 25 Juli 2002 tentang registrasi dan praktik bidan. Dinyatakan telah terdaftarkan sebagai bidan di Dinas Kesehatan Lampung dengan nomor registrasi 1931/SDK-PTK/II2004 dan diberi kewenangan untuk melakukan pekerjaan praktik kebidanan diseluruh Indonesia sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlalu, dengan SIB Nomor 890/1536/III.10.4/II/2004 dan No. SIPB 446/82.A/17/SK/III/2005.
BPS Indriyati didirakan pada tahun 2009 yang terletak di Desa Kebaman srono.

  1. Pelayanan Kesehatan
Jenis pelayanan kesehatan yang dilakukan di BPS Indriyati adalah sebagai berikut:
a.       Pelayanan KIA
b.      Pelayanan KB
c.       Pelayanan Pengobatan
  1. Sarana dan Prasarana
a.       Kamar pengobatan       :   1 ruangan
b.      Kamar bersalin             :   1 ruangan
c.       Kamar perawatan         :   2 ruangan
d.      Kamar mandi                :   3 ruangan
e.       Bok bayi                       :   2 buah
f.        Kursi roda                    :   1 buah
g.       Alat sterilisasi                :   1 buah

  1. Ketenagaan
BPS Indriyati memiliki tenaga kesehatan sebanyak 2 orang yaitu seorang bidan dan seorang asisten bidan.

B.     Hasil Penelitian
Setelah kuesioner dikumpulkan dan diolah, maka di dapat data yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi dan diagram yang menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi anemia dalam kehamilan di BPS Indriyati srono. tahun 2009. sesuai dengan penelitian maka hasil penelitian dapat dibagi dalam 3 sub variabel:
1.      Tingkat pengetahuan yang mempengaruhi anemia dalam kehamilan
2.      Konsumsi tablet Fe yang mempengaruhi anemia dalam kehamilan
3.      Sosial ekonomi yang mempengaruhi anemia dalam kehamilan

1.      Tingkat Pengetahuan yang Mempengaruhi Anemia dalam Kehamilan
Setelah dilakukan pengolahan data maka di dapat hasil tentang pengetahuan yang mempengaruhi anemia dalam kehamilan sebagaimana terlihat pada diagram dibawah ini.
Tabel. 2       Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan yang mempengaruhi anemia dalam kehamilan di BPS Indriyati srono.

No
Kategori
Jumlah
%
1.
Baik
3
17%
2.
Cukup
4
33%
3.
Kurang
7
28%
4.
Tidak Baik
4
22%
Total
18
100%


Dari diagram di atas dapat diketahui bahwa keselurhan responden yang berjumlah 18 orang yang memiliki kategori baik sebanyak 4 orang (17%), yang memiliki kategori cukup sebanyak 4 orang (20%), yang memiliki kategori kurang sebanyak 8 orang (40%) dan yang memiliki kategori tidak baik sebanyak 5 orang (25%).

2.      Konsumsi tablet Fe yang mempengaruhi anemia dalam kehamilan
Tabel. 2       Distribusi Frekuensi Tingkat Konsumsi Tablet Fe di BPS Indriyati srono.

No
Kategori
Jumlah
%
1.
Baik
5
28%
2.
Tidak Baik
13
72%
Total
18
100%
Dari diagram di atas dapat diketahui bahwa keseluruhan responden yang berjumlah 18 orang yang mengkonsumsi tablet Fe secara lengkap sebanyak 5 orang (28%) dan yang mengkonsumsi tablet Fe secara tidak lengkap sebanyak 13 orang (72%).

3.      Sosial ekonomi yang mempengaruhi anemia dalam kehamilan
Tabel. 2       Distribusi Frekuensi Tingkat Sosial Ekonomi di BPS Indriyati srono.

No
Kategori
Jumlah
%
1.
Tinggi
3
17
2.
Sedang
5
28
3.
Rendah
10
55
Total
18
100%

Dari diagram di atas dapat diketahui bahwa keselurhan responden yang berjumlah 18 orang yang memiliki kategori tinggi sebanyak 3 orang (17%), yang memiliki kategori sedang sebanyak 5 orang (28%) dan yang memiliki kategori rendah sebanyak 10 orang (55%).

 
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


A.     Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa :
a.            Pengetahuan ibu hamil yang mempengaruhi anemia dalam kehamilan di BPS Yusriyana karyawamukti Lampung Timur tahun 2008 sebagian besar termasuk dalam kategori kurang (51,39%).
b.            Konsumsi Fe yang mempengaruhi anemia dalam kehamilan di BPS Yusriyana Karya Mukti Lampung Timur tahun 2008 sebagian besar termasuk mengkonsumsi 90 tablet Fe dan tidak berturut-turut (72%).
c.            Sosial ekonomi yang mempengaruhi anemia dalam kehamilan di BPS Yusriyana Karya Mukti Lampung Timur tahun 2008 sebagian besar termasuk dalam kategori rendah (55%).

B.     Saran
Dari hasil penelitian ini, adapun hal-hal dapat peneliti sarankan adalah sebagai berikut:
1.      Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan penerapan hasil studi.

2.      Bagi Peneliti
Untuk meningkatkan layanan kesehatan dan penatalaksanaan anemia.
3.      Bagi Institusi Pendidikan
Untuk menambah referensi perpustakaan dan untuk bahan acuan penelitian yang akan datang.
4.      Bagi Peneliti Lain
Dapat menjadi bahan pertimbangan untuk melakukan penelitian-penelitian di tempat ini.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar