Senin, 20 Desember 2010

KTI pengetahuan ibu tentang stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Maesan kabupaten Bondowoso


BAB 1
PENDHULUAN
A.                 Latar Belakang
Stimulasi adalah upaya orang tua atau keluarga untuk mengajak anak bermain dalam suasana penuh gembira dan kasih sayang. Aktifitas bermain dan suasana cinta ini pentig guna merangsang seluruh sistem indera, melatih kemampuan motorikhalus dan kasar, kemampuan berkomunkasi serta perasaan pikiran si anak. Seperti di jelaskan pakar dan konsultan tumbuh kembang anak . rangsangan atau Stimulasi sejak dini adalah salah satu faktor eksternal yang sangat penting dalam menentukan kecerdasan anak. Selain stimulasi ada faktor eksternal lain yang ikut mempengaruhi kecerdasan seorang anak yakni kualitas asupan gizi, pola pengasuhan yang tepat dan kasih sayang terhadap anak (dr. Kusnandi Rusmi, Sp.A(k) MM, 2010).
1
 
Tiap orang tua menginginkan putra-putrinya mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Proses kembang anak dalam kandungansampai usia remaja berkaitan satu sama lain. Proses ini di pengaruhi banyak faktor secara garis besar terbagi dua faktor yaitu faktor Genetik dan Biofisiko psikososial. Dalam proses tersebut anak memerlukan pemenuhan kebutuhan dasar anak, yaitu pertumbuhan asuh (biomedis), asih (kebutuhan emosi dan kasih sayang), dan asah (pemberian stimulasi/rangsang). Salah satu cara mendapat anak yang berkualitas adalah dengan memantau tumbuh kembang anak secara berkala. Umumnya jika pertumbuhan mengalami gangguan maka akan memberikan dampak pula pada aspek perkembangan. Untuk itu pemantauan perlu dilakukan berkesinambungan mencakup pemantauan pertumbuhan dan skrining perkembangan. Tiga tahun pertama usia perkembangan anak merupakan periode emas/masa kritis untuk optimalisasi proses tumbuh kembang dan merupakan masa yang tepat untuk seorang anak menjadi dewasa yang unggul di kemudian hari (Arixs, 2008)
Para orang tua hendaknya lebih menyadari dan peduli terhadap perkembangan anak. Orang tua harus paham detiksi dini tumbuh kembanganak. Deteksi dini akan mengatisipasi adanya keterlambatan dalam gerak mootorik kasar. Anak-anak di dunia padas umumnya dan anak-anak di Indonesia pada khususnya saat ini sedang menghadapi perubahan global. Perubahan tersebut di tandai beberapa hal antara lain ledakan penduduk, kemajuan teknologi yang pesat gaya hidup, dan sebagainya. Perubahan-perubahan tersebut berpengaruh terhadap pendidikan anak-anak.
Orang tua memiliki peran penting dalam optimalisasi perkembangan seorang anak. Orang tua harus selalu memberikan rangsang / stimulasi kepada anak dalam semua aspek perkembangan baik motorik kasar maupun halus, bahasa dan personal sosial. Stimulasi ini harus di berikan secara rutin dan berkesinambungan dengan kasih sayang, metode bermain dan lain-lain. Sehingga perkembangan anak akan berjalan optimal. Kurangnya stimulasi dari orang tua dapat mengakibatkan keterlambatan perkembangan anak, karena itu para orang tua atau pengasuh harus diberi penjelasan cara-cara melakukan stimulasi kepada anak-anak (Dinkes,2009).
Jumlah Balita di Indonesia sekitar 10% dari seluruh populasi. Maka sebagai calon generasi penerus bangsa, kualitas tumbuh kembang balita di Indonesia perlu mendapat perhatian serius. Pembinaan pertumbuhan perkembangan anak  secara komperhensip dan berkualitas yang diselenggarakan melalui kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini penyimpangan pertumbuhan perkembangan  balita dilakukan pada  “masa kritis “ (Dep Kes RI, 2005:1).
Data diatas analisa situasi orang tua dan anak  di Dinas Kesehatan tingkat I Propinsi Jawa Timur 2008 untuk deteksi tumbuh kembang  balita  di Jawa Timur di tetapkan 80% tetapi cakupan diperiksa 40-59% dan mengalami perkembangan tidak optimal sebanyak 0,14%.
Kebutuhan stimulasi atau upaya merangsan anak untuk memperkenalkan suatu pengetahuan ataupun ketermpilan baru ternyata sangat penting dalam upaya peningkatan kecerdasan anak. Stimulasi dapat dilakukan pada anak sejak calon bayi masih berwujud janin, sebab janin bukan merupakan makhluk yang pasif. Di dalam kandungan janin sudah dapat bernafas, menendang , menggeliat, bergerak, menelan menghisap jempol, dan lainnya. (Siswono, 2004). Stimulasi juga dilakukan orang tua (keluarga) setiap ada kesempatan atau sehari-hari. Stimulasi disesuaikan dengan umur dan prinsip stimulasi (Suherman, 2000).
Pengetahuan ibu dalam memberikan stimulasi pada anak sangat penting. Banyak ibu yang masih belum mempunyai pengetahuan yang benar tentang stimulasi perkembangan pada anak, ketidaktahuan perkembangan stimulasi perkembangan berkaitan dengan baik dengan yang dimaksud stimulasi perkembangan maupun tujuan pemberian stimulasi.
Studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Maesan pada tanggal 8 Mei 2010 dari hasil wawancara diperoleh data bahwa dari 255 ibu yang mempunyai anak balita diketahui sebanyak 160 orang ( 53,5%) diantaranya mengerti tentang stimulasi perkembangan dan 95 orang (46.6%) kurang mengerti tentang stimulasi perkembangan.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas  dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
Bagaimanakah pengetahuan ibu tentang stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Maesan kabupaten Bondowoso?.

C.     Tujuan Penelitian
Mengetahui pengetahuan ibu tentang stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Maesan kabupaten Bondowoso.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat memberi pengalaman nyata bagi peneliti sebagai peneliti pemula dalam proses penelitian dan peneliti dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuannya yang diperoleh dari kampus dengan keadaan yang ada dilahan praktek.
2.      Bagi Praktisi
Sebagai masukan bagi tenaga kesehatan, Masyarakat, dan Pemerintah tentang pentingnya pengetahuan ibu tentang stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun.
3.      Bagi Teoritis
Sebagai data dan informasi perkembangan ilmu pengetahuan pada institusi kesehatan  informasi penelitian selanjutnya, terutama dalam menstimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun.













BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

A.     Landasan Teori
1.      Pengetahuan Ibu
a.   Pengertian
Pengetahuan merupakan hasil ”tahu” dan terjadi seteah seseorang  melakukan penginderaan terhadap suatu obyek. Pengideraan terjadi melalui panca indera yaitu : Pengelihatan, Pendengaran, Penciuman, Rasa dan Raba. Namun sebagian besar pengetahuan orang dapat dilihat melalui panca indera mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan dominan sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2003:121).
b.      Tingkat Pengetahuan
Penetahuan atau kognitif merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang (Over  Behavior), pengetahuan yang tercakup dalam dominan kognitif memiliki 6 tingkatan yaitu :
1)      Know ( Tahu )
Yaitu mengingat, menghafal suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.


6
 
 

2)      Comprehension ( Pengetahuan )
Yaitu kemampuan untuk menjelaska atau menginterprestasikan secara benar  tentang obyek yang diketahui dan dapat diinterprestasi secara benar.
3)      Application  ( penerapan )
Yaitu kemampuan untuk menggunakan konsep, prinsip dan prosedur materi yang telah dipelajari p[ada waktu , situasi atau kondisi yang sesungguhnya.
4)      Analisis (Analisis )
Yaitu kemampuan untuk menjabarkan materi atau obyek dalam bentuk komponen-komponen. Hal yanini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja, dapat membuat atau menggambarkan bagan, membedakan, mengelompokkan dan lain sebagainya.
5)      Sintesis ( Sintesis )
Yaitu kemampuan jntuk melakukan/menghubungkan bagian-bagian dalam keadaan suatu bentuk keselarasan yang baru dengan kata-kata yang lain. Sintesis adalah kemampuan menyusun formulir baru dengan informasi yang ada
6)      Evalluation ( Evaluasi )
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keselarasan yang baru, dengan kata lain evaluasi adalah kemapuan menilai dan menyusun formulir dengan formulu-formula yang ada.
Berdasarkan hal tersebut diatas disebutkan bahwa pengetahuan adalah suatu proses mulai dari mengingat, memahami, selanjutnya mampu melanjutkan, menjabarkan dan mampu untuk menilai dari suatu obyek  atau stimulus tertentu (Notoadmojo, 2003:123)
c.       Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
1.      Umur
Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun (Hurlock, dikutip Nursalam dan pariani, 2001 : 80). Tingkat pengetahuan atau perkembangan kognitif seseorang bisa dipenaruhi uisa. Semakin cukup usia seseorang, maka akan semakin baikcara mengekspresikan atau menghadapi masalah
 ( Hurlock dikutip Nursalam dan Pariani, 32001 : 80). Jadi semakin matang usia seseorang maka dalam memahami suatu masalah akan lebih mudah dan dapat menambah pengetahuan
( Long dalam Nursalam dan Pariani, 2001 : 80 )
2.      Tingkat Pendidikan
Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan, karena pengetahuan dipengaruhi pendidikan formal. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka semakin baik pula tingkat pengetahuannya. Pendidikan sangat mempengaruhi seseorang dalam memotivasi untuk siap berperan serta dalam membangun kesehatan. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat sikap sesorang (Kuntjoroningrat yang dikutip oleh Nursalam dan Pariani 2001: 80)
3.      Pekerjaan
Manusia memerlukan suatu pekerjaan untuk dapat berkembang dan berubah. Seseorang bekerja untuk mencapai suatu keadaan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Dengan bekrja seseorang dapat berbuat sesutu yang bernilai, bermafaat dan memperoleh berbagai pengalaman ( Nursalam dan Pariani, 2001 : 80 )
4)   Sosial Ekonomi
Struktur sosial ekonomi berpengaruh terhadaptingkah lakunya.individu yang berasal dari keluarga yang status ekonominya baik dimungkinkan memiliki sifat positif dan masa depannya dibandingkan mereka yang berasal dari keluarga yang status ekonominya rendah.   
5)   Sosial Budaya
Sosial budaya memiliki pengaruh pada pengetahuan seseorang. Seseorang memperoleh suatu kebudayaan dalam hubungannya dengan orang lain, karena hubungan ini seseorang mengalami proses belajar untuk memperoleh suatu pengetahuan (Notoatmodjo, 2002 : 128)


6)      Infomasi
Dengan memberikan informasi tentang kerbiasaan hidup sehat cara pencegahan penyakit diharapkan akan terjadi peningkatan pengetahuan sikap dan perilaku sehat  dalam diri dan individu / kelompok sasaran yang berdasarkan kesadaran dan kemauan individu yang bersangkutan (Notoatmodjo: 2003)
d.      Cara Memperoleh Pengetahuan
Menurut Notoadmojo, (2005 : 10) cara memperoleh pengetahuan dapat di kelompokkan menjadi dua :
1)      Cara tradisional untuk memperoleh pengetahuan
Cara kuno atau tradisional ini dipakai orang untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, sebelum di ketemukannya metode ilmiah, atau metode penemuan sistematik dan logis.
Cara penemuan pengetahuan pada periode ini meliputi :
a).  Cara doba salah ( trail and error )
Cara telah dipakai sebelum adanya kebudayaan, bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Pada waktu apabila seseorang menghadapi suatu masalah atau persoalan, upaya pemecahannya dengan coba-coba saja. Cara coba-coba ini dilajujan dilakukan denganmenggunakan kemungkianan dalam memcahkan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, akan dicoba kemungkinan yang lain. Apabila kemungkinan berikutnya gagal maka akan dicoba kemungkinan  yang lain dan seterusnya, sampaio masalah tersebut akan terpecahkan. Itulah karena itu kenapa cara ini disebut metode trail ( coba ) and Error ( gagal atau salah ) atau metode coba salah/ coba-coba.
b).  Cara kekuasaan atau otoritas
Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan-kebiasaan dan tradisi-tradisi yang dilakukan oleh orang, tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan itu baik atau tidak. Kebiasaan-kebiasaan ini biasanya diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasiberikutnya. Misalnya, mengapa harus ada selamatan selapanan dan turun tanah pada bayi, mengapa ibu menyusui harus minum jamu, mengapa anak tidak boleh makan teloh dan sebagainya.
Kebiasaan seprti ini tidak hanya terjadi pada masyarakat tradisional saja, melaikan terjadi pada masyarakat modern. Kebiasaan seperti ini seolah-olah dari sumbernya dan sebagai kebenaran mutlak. Sumber pengetahuan tersebut dapat berupa pemimpin masyarakat baik formal ataupun informal, ahli Agama, pemegang pemerintahan dan sebagainya. Dengan kata lain pengetahuan tersebut dari peroleh srecara otoritas, baik tradisi, otoritas pemerintah, pemimipin agama, maupun ahli ilmu pengetahuan.

c).  Berdasar pengalaman pribadi
Pengalaman guru yang baik, yang bermakna bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan untuk kebenaran pengetahuan. Oleh karena itu pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan denga cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi pada masa yang lalu.   
d).  Melalui jalan pikiran
Dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikirannya melalui induksi atau deduksi. Induksi yaitu proses penarikan suatu kesimpulan yang dimulai dari pernyataan-pernyataan khusus kepernyataan yang bersifat umum. Deduksi yaitu pembuatan dari pernyataan umum kepada khusus.
2)      Cara modern
Cara baru atau cara modern dalam memeproleh pengetahuan lebih sistematis, logis, dan ilmiah. Cara seperti ini disebut “metode penelitian ilmiah” atau yang lebih populer disebut metodelogi penelitian  yaitu dengan mengembang metode berfikir induktif. Mula-mula mengadakan pengamatan langsung terhadap gejala-gejala alam atau kemasyarakatan kemudian hasilnya dikumpulkan dan diklasifikasikan.
2.   Stimulasi
a.   Pengertian
Stimulasi adalah kegiatan yang dilakukan merangsang kemampuan dasar anak agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal (Oktaria, 2007)
Stimulasi ini adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir (bahkan sebaiknya sejak janin 6 bulan dalam kandungan) dilakukan setiap hari, untuk merangsang sistem indera (pendengaran, penglihatan, paraba, pencium, pengecap). Selain itu harus pula merangsang gerak kasar dan gerak halus kaki, tangan dan jari-jari, mengajak berkomunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan perasaan bayi. Rangsangan yang dilakukan sejak lahir, terus-menerus, bervariasi, dengan suasana bermain dam kasih sayang, akan memacu  berbagai aspek kecerdaan anak (kecerdasan multipel) yaitu kecerdasan : logiko-matematik, emosi, komunikasi bahasa, (linguistik), kecerdasan muisikal, gerak (kinestetik), visuo spasial, seni rupa (dr. Kusnandi Rusmi, Sp.A(k) MM, 2010).
b    Tujuan Stimulasi
Tujuan tindakan memberikan stimulasi pada anak adalah untuk membantu anak mencapai tingkat perkembangan yang optimal atau sesuai dengan yang diharapkan. Tindakan ini meliputi berbagai aktifitas untuk merangsang perkembangan anak, seperti latihan gerak, berbicara, berfikir, kemandidian dan sosialisasi. Stimulasi dilakukan orangtua dan keluarga setiap ada kesempatan atau sehari hari. Stimulasi disesuaikan dengan umur dan prinsip stimulasi ( Suherman, 2000 ).
c    Tugas Perkembangan
1)      Bayi umur 0-3 Bulan
Tugas perkembangan ( ketermpilan yang harus dicapai ) :
a)      Dapat menggerakan kaki sama mudahnya.
b)      Dapat bereaksi melihat kearah sumber cahaya.
c)      Mengoceh dan bereaksi terhadap suara.
d)      Bereaksi senyum terhadap ajakan
2)      Bayi Umur 3-6 Bulan
Tugas perkembangan ( ketermpilan yang harus dicapai ) :
a)      Menegakkan kepala saat telungkup.
b)      Meraih benda yang terjangkau.
c)      Menengok kearah sumber suara.
d)      Mencari benda yang dipindahkan.
3)      Bayi umur 6-9 Bulan
Tugas perkembangan ( ketermpilan yang harus dicapai ) :
a)      Ketika didudukan dapat bertahan dengan kepala tegak
b)      Memindahkan benda dari tangan yang satu ke tangan yang lain.
c)      Tertawa/berteriak melihat benda menarik.
d)      Makan biskuit tanpa dibantu.

4)      Bayi umur 9-12 Bulan
Tugas perkembangan ( ketermpilan yang harus dicapai ) :
a)      Berjalan dengan berpegangan.
b)      Dapat meraup benda-benda kecil.
c)      Mengatakan dua suku kata yang sama.
d)      Bereaksi terhadap permainan ” Ciluk baa”
5)      Bayi umur 12-18 Bulan
Tugas perkembangan ( ketermpilan yang harus dicapai ) :
a)      Berjalan sendiri tidak jauh.
b)      Mengambil benda kecil dengan ibu jari dan telunjuk.
c)      Mengungkap keinginan secara sederhana.
d)      Minum sendiri dari gelas tidak tumpah.
6)      Bayi umur 18-24 Bulan
Tugas perkembangan ( ketermpilan yang harus dicapai ) :
a)      Berjalan mundur sedikitnya  5 langkah
b)      Mencorat-coret dengan alat tulis.
c)      Menunjukkan bagian tubuh dan menyebutkan namanya.
d)      Meniru melakukan pekerjaan rumah tangga
7)      Bayi umur 2-4 tahun
Tugas perkembangan ( ketermpilan yang harus dicapai ) :
a)      Berdiri dengan satu kaki tanpa berpegangan,setidaknya dua hitungan.
b)      Meniru membuat garis lurus.
c)      Menyatakan keinginan setidaknya dengan dua kata.
d)      Melepas pakaian sendiri.
8)      Bayi umur 4-5 tahun
a)      Dapat memghafal hari – hari dalm seminggu
b)      Pandai berbicara
d.   Cara Melakukan stimimulasi terhadap anak
Menurut  Suherman, 2000 cara melakukan stimulasi pada anak adalah sebagai berikut :
1)      Bayi Umur 0-3 bulan
a)      Bergaul dan mandiri
Ajaklah bayi anda berbicara dengan lembut, dibuai, dipeluk, dinyanikan lagu.
b)      Bicara, bahasa  kecerdasan
Ajaklah bayi anda berbicara, mendengarkan berbagai suara ( suara radio, burung, dan lain-lain).
c)      Gerak kasar
Latihlah bayi anda mengangkat kepala pada posisi telungkup dan memperhatikan benda bergerak.
d)      Gerak hlalus
Latihlah bayi anda mengangkat benda kecil.
2)      Bayi umur 3-6 Bulan
Stimulasi yang dibutuhkan bayi usia 3-6 bulan:
a)      Bergaul dan mandiri
Latihlah bayi anda mencari sumbersuara.
b)      Bicara bahasa kecerdasan
Latihlah bayi anda menirukan suara/bunyi/kata.
c)      Gerak kasar
Latihlah bayi anda menyangga leher dengan kuat.
d)      Gerak halus
Latihlah bayi anda meraup benda kecil.
3)      Bayi umur 6-9 Bulan
Stimulasi yang dibutuhkan bayi usia 6-9 bulan :
a)      Gerak kasar
Latihlah bayi anda berjalan dengan berpegangan.
b)      Gerak halus
Latihlah bayi anda memasukkan dan mengeluarkan benda dari wadah.
c)      Berbicara, bahasa dan kecerdasan
Latihlah anak menirukan kata.
d)      Bergaul dan mandiri
Ajak anak anda bermain dengan orang lain.
4)      Bayi umur 9-12 Bulan
Stimulasi yang dibutuhkan bayi usia 9-12 bulan:
a)      Gerak Kasar
(1)    Latih anak berjalan sendiri
b)   Gerak Halus
(1)     Ajak anak menggelindingkan bola.
(2)     Gelindingkan bola kearah anak kemudian minta untuk menggelindingkan kembali.
c)   Berbicara, bahasa dan kecerdasan
(1)    Latih anak menirukan kata
(2) Kenalkan dengan kata-kata baru sambil menunjukan gambarnya
d)   Bergaul dan mandiri
(1)     Ajak anak mengikuti kegiatan keluarga, misal makan bersama
5)      Bayi umur 12-18 Bulan
Stimulasi yang dibutuhkan bayi usia 12-18 bulan :
a)      Gerak Kasar
Naik turun lantai
b)      Gerak Halus
Bermain dengan anak melempar dan menangkap bola besar kemudian kecil.
c)      Bicara, bahasa dan kecerdasan
Latih anak menunjuk dan menyebutkan bagaian tubuh.
d)      Bergaul dan berbicara
Beri kesempatan pada anak untuk melepaskan baju sendiri.
6)      Bayi umur 18-24 Bulan
Stimulasi yang dibutuhkan bayi usia 18-24 bulan
a)      Gerak kasar
Latih anak melompat dengan satu kaki.
b)      Gerak halus
Latih anak menggambar bulatan, Garis segitiga dan gambar wajah.
c)      Berbicara, bahasa dan kecerdasan
Latih anak mengikuti perintah.
d)      Bergaul dan mandiri
Latih anak agar mau ditinggalkan untuk sementara waktu.
7)      Bayi umur 2-4 Tahun
Stimulasi yang dibutuhkan bayi usia 2-3 tahun
a)      Gerak kasar
Latih anak melompat dengan satu kaki.
b)      Gerak halus
Latih anak bermain menumpuk balok.
c)      Berbicara, bahasa dan kecerdasan
Latih anak mengenal bentuk dan warna.
d)      Bergaul dan mandiri
Latih anak mencuci tangan/kaki dan mengeringkan sendiri.
8)      Bayi umur 4-5 Tahun
Stimulasi yang dibutuhkan bayi usia 4-5 tahun.
a)      Melompat dan menari
Latih anak untuk melompat dan menari
b)      Pandai berbicara
Latih anak untuk berbicara dengan tepat
c)      Dapat menyebut hari-hari
Latih anak untuk bisa menghafal hari-hari dalam seminggu.
Stimulasi dilakukan setiap ada kesempatan berinteraksi dengan bayi/ balita, setiap hari, terus menerus, bervariasi, disesuaikan dengan usia perkembangan kemampuannya, dilakukan oleh keluarga ( terutama atau ibu pengganti ).
Stimulasi hendaknya dilaksanakan pada saat suasana yang menyenangkan dan kegembiraan antara pengasuh dan bayi/balita. Jangan memberikan stimulasi dengan terburu-buru, memaksakan kehendak pengasuh, tidak memperhatikan minat balita, atau bayi sedang mengantuk, bosan atau bermain yang lain. Pengasuh yang sering, marah, bosan, sebal, maka tanpa disadari pengasuh malah memberikan rangsang emosional yang negatif. Karena prinsipnya semua ucapan, sikap dan perbuatan merupakan stimulasi yang direkam, diingat dan ditiru atau justru menimbulkan ketakutan bagi bayi/ balita (dr. Kusnandi Rusmi, Sp.A(k) MM, 2010).
3.  Perkembangan Anak Usia 0 - 5 Tahun
a.       Pengertian
Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara bahasa serta sosialisasi dankemandirian (Kosnandi, 2008).
Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pengamatan (Dr. Soetjiningsih, 2000).
Menurut DepKes perkembangan adalah bertambah sempurnanya fungsi dari alat tubuh (Kuliah Bidan, 2005)
b.      Faktor-faktor Yang Mempengaruhi tumbuh Kembang
Secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, yaitu :
1).  Faktor Genetik
Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Faktor ini juga merupakan fakotr bawaan anak, yaitu potensi yang menjadi ciri khasnya. Melalui genetik yang terkandung dalam sel telur yang telah di buahi, dapat ditentukan kualitas petumbuhan, derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang.
2).  Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Faktor ini disebut juga milieu merupakan tempat anak tersebut hidup, dan berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak.Lingkungan yang cukup baik memungkinkan tercvapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. Lingkungan merupakan lingkungan ” bio-fisiko-psiko-sosial” yang mempengaruhi individu setiasp hari, mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya.
Faktor lingkungan ini secara garis besar di bagi menjadi :
a). Faktor yang mempengaruhi anak pada waktu masif didalam kandungan (faktor pranatal)
b). Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah lahir (faktor postnatal)
Faktor lingkungan pranatal yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin mulai dari kosepsi sampai lahir, antara
lain:
a)Gizi ibu pada waktu hamil
Gizi ibu yang jelek sebelum tyerjadinya kehamilan maupun pada waktu sedang hamil, lebih sering menghasilkan bayi BBLR/lahir mati, menyebabkan cacat bawaan, hambatan pertumbuhan otak, anemia pada bayi baru lahir, mudah terkena inveksi, aubortus dan sebagainya.
b)      Mekanis
Trauma dan cairan ketuban yang kurang, posisi janin dalam  uterus dapat kelainan kelainan bawaan, talipes, dislokasi panggul, tortikolis kongenital, palsi fasialis, atau kranio tabes.
c)      Toksin/Zat Kimia
Zat-zat kimia yang dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi antara lain obat anti kanker, rokok, alkohol, beserta logom berat lainnya. 
d)      Endokrin
Hormon-hormon yang mungkin berperan pada pertumbuhan janin, adalah somatotropin, tiroit, insulin, hpormon plasenta, peptida-peptida lain dengan aktifitas mirip insulin. Apabila sal;ah satu dari hormon tersebut mengalami definisi maka dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada pertumbuhan susunan saraf pusat sehingga terjadi retardasi mental, cacat bawaan dan lain-lain.
e)      Radiasi
Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18 minggu dapat menyebabkan kematian janin, kerusakan otak, mikrosefali, atau cacat bawaan lainnya, sedangkan efek radiasi pada orang laki-lakidapat menyebabkan cacat bawaan pada anaknya.
f)        Infeksi
Setiap hiperpirexia pada ibu hamil dapat merusak janin. Infeksi intrauterin yang sering menyebabkan cacat bawaan adalah TORCH, sedangkan infeksi lainnya juga dapat menyebabkan penyakit pada janin adalah varisela, malaria, polio, influenza, dan lain-lain.
g)      Stres
Stres yang dialami oleh ibu pada waktu hamil dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin, antara lain cacat kelainan bawaan, kelainan kejiwaan dan lain-lain.
h)      Imunitas
Rhesus atau ABO inkomtabilitas sering menyebabkan abortus, hidrops fetalis, kren ikterus, atau lahir mati.
i)        Anoksia Embrio
Menurunnya oksigenisasi  janin melalui gangguan pada plasenta atau tali pusat, menyebabkan BBLR.
Bayi yang baru lahir harus berhasil melewati masa transisi, dari satu sistem yang teratur sebagian besar tergantung pada organ-organ ibunya, ke suatu sistem yamg tergantung pada kemampuan genetik dan mekanisme homeostatik bayi itu sendiri.
Lingkungan postnatal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak secara umum dapat digolongkan menjadi :
a)      Lingkungan Biologis
Lingkungan biologis yang dimaksud adalah ras/suku bangsa, jenis kelamin, umur, gizi, perawatan kesehatan, kepekaan terhadap penyakit, penyakit kronis, fungsi metabolisme, dan hormon.
b)      Faktor fisik
Yang termasuk dalam faktor fisik adalah cuaca, musim, keadaan goegrafis duatu wilayah, sanitasi, keadaan rumah baik dari struktur bangunan, ventilasi, cahaya dan keadaan hunian serta radiasi.
c)      Faktor Psikososial
Stimulasi merupakan faktor penting dalam tumbuh kembang anak, selain motifasi belajar dapat ditimbulkan sejak dini, dengan memberikan lingkungan yang kondusif untuk belajar, ganjaran hukuman yang wajar merupakan hal yang dapat menumbuhkan motifasi yang kuat dalam perkembangan kepribadian anak di kemudian hari, dalam proses sosialisasi dengan lingkungannya anak memerlukan teman sebaya, stresjuga sangat berpengaruh terhadap anak, selain sekolah, cinta dan kasih sayang, kualitas interaksi anak orang tua dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang anak.
d)      Faktor keluarga dan adat istiadat
Faktor keluarga yang berpengaruh tyerhadap tumbuh kembang anak yaitu pekerjaan /pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak karena orang tua dapat menyediakan baik primer maupun sekunder, pendidkan ayah/ibu yang baik dap[at menerima informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik, menjaga kesehatan pendidikan yang baik pula, jumlah saudara yang banyak pada keluarga yang keadaan sosial ekonominya cukup akan mengakibatkan berkurangnya perhatian yang akan diterima anak, jenis kelamin keluarga seperti apad masyarakat tradisiona masih banyak wanita yang mengalami menstrulasi sehingga banyak meningkatkan angka kematian bayi meningkat stabilitas rumah tangga, kepribadian ayah/ibu, adat istiadad, norma-norma, tabu-tabu, agama, urbanisasi yang banyak mengakibatkan kemiskinan dengan segala masalahnya, serta kehidupan politik dalam masyarakat yang mempengaruhi prioritas kepentingan anak, anggaran-anggaran dan lain. (Kuliah Bidan, 2009).
c.   Aspek-aspek Perkembangan Anak
1)   Perkembangan fisik (Motorik)
Perkembangan fisik (motorik) merupakan proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Setiap gerakan yang dilakukan merup[akan hasil pola interaksi dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak. Perkembangan fisik motorik meliputi perkembangan motorik kasar dan motorik halus.
a)            Perkembangan motorik kasar
Kemampuan anak untuk duduk, berlari dan melompat termasuk contoh perkembangan motorik kasar. Otot-otot besar dan sebagian atau seluruh anggota tubuh dilakukan oleh anak untuk melakukan gerak tubuh. Perkembangan motorik kasar dipengaruhi oleh kematangan anak. Karena proses kematangan setiap anak berbeda, maka laju perkembangan seorang anak bisa saja berbeda dengan anak yang lainnya.
b)            Perkembangan motorik halus
Adapun perkembangan motorik halus merupakan perkembangan gerakan anak yang menggunakan otot-otot kecil atau sebagian anggota tubuh tertentu. Perkembangan dalam aspek ini dipengaruhi oleh kesempatan anak untuk belajar dan berlatih. Kemampuan menulis, menghitung dan menyusun balok termasuk contoh gerakan motorik halus.
2)      Perkembangan Emosi
Perkembangan pada aspek ini meliputi kemampuan anak untuk mencintai, merasa nyaman,berani, gembira, takut, dan marah, serta bentuk emosi-emosi lainnya. Pada aspek ini, anak sangat dipengaruhi interaksi dengan interaksi dengan orang tua dan orang-orang disekitarnya. Emosi yang berkembang akan sesuai impuls emopsi yang diterima. Misalnya, jika anak curahan kasih sayang, mereka akan belajar untukmenyayangi.
3)      Perkembangan kognitif
Pada aspek kognitif, perkembangan anak nampak pada kemampuannya dalam menerima, mengolah dan memahami informasi-informasi yang sampai kepadanya. Kemampuan kognitif berkaitan dengan perkembangan bahasa (bahasa lisan maupun isyarat), memahami kata dan berbicara.
4)      Perkembangan psikososial
Aspek psikososial berkaitan kemampuan anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Misal kemampuan anak untuk menyapa dan bermain dengan teman sebayanya. Dengan mengetahui aspek-aspek perkembangan anak, orangtua dan pendidik bisa merancang dan memberikan rangsangan serta latihan agar keempat aspek tersebut dapat berkembang secara seimbang. ( Asian Brain, 2009).













B.     Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual adalah hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2005).

 



                                                                            







Baik
 

 

2. Pengetahuan ibu tentang simulasi perkembangan anak usia 0-5 Tahun
a. Pengertian
b. Tujuan stimilasi
c. Tugas perkembamgan
d. Cara melakukan
stimulasi terhadap anak usia 0-5 tahun

 
     
Pengertian :
1.  Pengertian stimulasi
Tujuan Stimulasi :
1.  Tujuan tindakan
Tugas Perkembangan :
Bayi umur 0-5 tahun
Cara melakukan stimulasi terhadap
Bayi umur 0-5 tahun




 
                                                                  












 









 
Keterangan :
                              : Diteliti
                                    : Tidak Diteliti
BAB 3
METODE PENELITIAN

A.     Jenis dan Rangsangan Bangun Penelitian
Jenis yang digunakan dalam penelitian iniadalah deskriptif atau disain yang bertujuan untuk mendeskripsikan ( memaparkan ) pegetahuan ibu tentang stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun. Dalam penulisan inimenggunakan disain penelitian survei, yaitu suatu disain yang digunakan untuk menyediakan informasi yang merhubungan dengan prevalensi, distribusi dan hubunga antar variabel dslsm suatu populasi ( nursalam, 2003 ).
B.     Jenis Variebel dan Definisi Operasional
1.      Variabel
Variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda yang dimiliki oleh kelompok yang lain ( Notoatmodjo, 2003 ).
Jenis variabel dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu tentang stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun.
2.      Definisi Operasional
Definisi operasional dari variabel yang diteliti dapat dilihat dari tabel berikut ini :


30
 
 

Tabel, 3.1. Definisi Operasional Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Stimulasi Perkembangan Anak Usia 0-5 Tahun Di Wilayah Kerja Puskesmas Maesan Kabupaten Bondowoso
Tabel 3.1
Variabel
Definisi Operasional
Kriteria
Skala
Pengetahuan ibu tentang stimulasi perkembangan pada anak usia 0-5 tahun
Tingkat tahu yang dimiliki oleh ibu tentang stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun dengan panduan kuesioner yang meliputi :
Ø      Pengertian stimulasi perkembagan
Ø      Tujuan stimulasi perkembangan
Ø      Cara melakukan stimulasi
Ø      Tigas stimulasi perkembangan
Baik 76-100%
Cukup 56-75%
Kurang 0-55%
Kurang < 56% (Nursalam, 2003)
Ordinal

C.     Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang diteliti tersebut (Notoadmodjo, 2005). Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki anak usia 0-5 tahun yang datang memeriksakan diri di wilayah kerja puskesmas Maesan pada bulan Juni-Agustus 2010 dengan jumlah 260 orang.
D.    Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi terjangkau yang dapat digunakan sebagai subjek penelitian melalui teknik sampling (Nursalam, 2003:95). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki anak usia  0-5 tahun yang datang memerisakan diri di wilayah kerja puskesmas Maesan pada bulan Juni-Agustus 2010 dengan jumlah 249 orang.
Kriteria Sampel :
kriteria sampel adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi tejangkau yang dapat digunakan sebagia bahan penelitian yaitu :
1.      Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian melalui teknik penelitian dari suatu populasi target terjangkau yang akan diteliti :
a.       Ibu yang mempunyai anak usia0-5 tahun yang bersedia akan diteliti.
b.      Ibu yang mempunyai anak usia 0-5 tahun yang bisa membaca dan
      menulis.
2.      Kriteria Eklusi adalah kriteria menghilangkan atau mengeluarkan subyek yang memenuhi kriteria Inklusi :
a.       Ibu yang mempunyai anak usia 0-5 tahun yang sedang sakit.
b.      Ibu yang mempunyai anak usia 0-5 tahun yang tidak memeriksakan
      anaknya.
3.      Teknik pengambilan Sampel adalah proses penyeleksi populasi yang mewakili populasi yang ada (Nursalam,2003). Teknik sampling, yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah non propabiliti sampling  dengan metode consecutiive sampling yaitu pemilihan sampling dengan menetapkan subyek yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian kurun waktu tertentu,sehingga jumlah klien yang diperlukan terpenuhi (Nursalam, 2003 : 98).

E.     Lokasi Pada Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Maesan Kabupaten Bondowoso mulai bulan Juni-Agustus 2010.
F.      Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
1.      Teknik Pengumpulan Data
Setelah mendapat ijin dari akademik peneliti langsung mengadakan studi pendahuluan untuk dapat mengambil data jumlah ibu yang memiliki anak usia 0-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas maesan. Cara pengambilan data dengan wawancara.
2.      Instrumen Pengumpulan Data
Uintuk membuat data yang relevan dengan tujuan penelitian menggunakan instrument pengumpulan data berupa angket atau kuesioner. Kuesioner yaitu suatu cara pengumpulan data atau suatu penelitian mengenai suatu masalah dengan menyediakan pertanyaan kepada obyek (Notoatmodjo, 2005).
Dalam pengumpulan data pada penelitian digunakan alat berupa kuesioner tertutup yang diberikan pada responden yang memenuhi kriteria.  Untuk kuesioner pengetahuan ibu tentang stumulasi perkembangan anakusia 0-5 tahun menggunakan skala guttman yaitu nilai untuk jawaban yang benar = 1 dan nilai untuk jawaban yang salah = 0 ( Hidayat, 2003).



G.    Teknik Pengolaan Data dan Analisis Data
1        Teknik Pengolaan data
Teknik pengelolaan data merupakan kegiatan untuk merubah data mentah menjadi bentuk data mentah menjadi bentuk data yang ringkas dan disajikan sebagai dasar pengambilan keputusan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan kuesioner yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih (Nursalam, 2003).
Dalam pengelolaan data terdiri dari 5 langkah :
a.       Editing
Editing adalah pekerjaan validitas dan realibitas data masuk. Kegiatan editing ini meliputi : pemeriksan kelengkapan pengisian kuesioner, kejelasan makna jawaban, kosentrasi antara jawaban-jawaban, relevansi jawaban keseragaman suatu pengukuran.
b.      Coding
Coding adalah kegiatan untuk mengklsasifikasikan data atau jawaban menurut kategorinya masing-masing. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa kode pada bagain-bagian tertentu untuk mempermudah waktu pentabulasian dan anlisa data.
c.       Skoring
Skoring merupakan penilaian untuk jawaban dari responden. Adalah penentuan jumlah skor, dalam penelitian ini menggunakan skala nominal.
Untuk variabel pengetahuan  ibu tentang stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun dikumpulkan melalui kuesioner kemudian ditabulasi dan dikelompokkan, kemudian diberi skor, jawaban benar diberi nilai 1, dan jawaban salah diberi nilai 0. hasil jawaban responden dijumlahkan dengan jumlah tertinggi lalu dikalikan 100% dengan rumus :
          Sp
N =          x 100%
                               Sm
Keterngan  :
N               : Nilai yang didapat
Sp  : Skor yang didapat
Sm : Skor maksimal
d.      Transfering
      Tranfering merupakan kegiatan pemindahan jawaban atau kode kedalam master sheet ( terlampir ).
e.       Tabulating
Tabulating adalah kegiatan menyusun dan meringkas data yang masuk kedalam bentuk tabel-tabel.

H.    Etika Penelitian
                  Dalam melakukan penelitian menggunakan permohonan izin kepada Rektor Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi dan Kepala Puskesmas Maesan. Untuik dapat mengadakan persetujuan penelitian. Kemudian kuesioner dikirimkan kesubjek yang di teliti dengan menekankan masalah etik meliputi :
1)      Informed consent ( Lembar Persetujuan )
   Lembar persetujuan penelitian pada responden tujuannya adalah subjek. Mengetahui maksud dan tujuan serta dampak yang diteliti selama pengumpulan data, jika subjek bersedia untuk diteliti maka harus menandatangani lembar persetujuan,jika menolak maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati haknya.
2)      Aninimity ( Tanpa Nama )
   Untuk menjaga kerahasiaan identitas subjek, peneliti tidak akan mencantumkan nama subjek pada lembar pengumuman data ( kuesioner ) yang diisi oleh subjek lembar tersebut hanya diberikan nomer tertentu.
3)      Confidentialy ( Kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi yang diberikan dijamin oleh peneliti.
            ( Hidayat, 2003 ).










BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan menguraikan hasail penelitian yang dilaksanakan di Puskesmas Maesan Bondowoso pada bulan Oktober-November.
A.     HASIL PENELITIAN
1.      Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Puskesmas Maesan terletak di Jalan Raya Maesan. Dibangun diatas tanah seluas + 675 Ha. Batasan wilayah Puskesmas Maesan yaitu:
a.       Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Karanganyar Kecamatan Tamanan.
b.      Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Suger Kecamatan Maesan.
c.       Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Sukowiryo Kecamatan Jelbuk.
d.      Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sukokerto Kecamatan Sukowono.
 Tenaga kesehatan di puskesmas Maesan antara lain :
a.   Dokter Umum  :  1 orang
                  b.   Dokter gigi       :  1 orang
                  c.   Bidan               :  13 orang
                  d.   Perawat            :  14 orang
37
 
                  e.   Staf TU            :  8 orang
      2.   Data Umum
a.   Responden menurut umur
Tabel  4.1  Distribusi frekuensi menurut umur ibu yang memiliki anak usia 0-5 tahun di Puskesmas Maesan tanggal 25 Oktober-13 Novenber 2010.
No
Usia
Frekuensi
Prosentase (%)
1.
2.
3.
< 20
20-35
> 35
2
62
8
2,78
86,11
11,11

Jumlah
72
100

Berdasarkan tabel 4.1 diatas dapat diketahui sebagian besar responden bewrumur 20-35 tahun yaitu 62 responden (62,11).
b.      Karakteristik responden menurut pendidikan
Tabel 4.2   Distribusi frekuensi pendidikan ibu yang mempunyai anak usia 0-5 tahun di Puskesmas Maesan  tanggal 25 Oktober-13 November.
No
Pendidikan
Frekuensi
Prosentase (%)
1.
2.
3.
4.
SD
SMP
SMA
Perguruan tinggi
2
16
38
16
2,78
22,22
52,78
22,22

jumlah
72
100
                       
Berdasarkan tabel 4.2 diatas dapat diketahui lebih dari 50% berpendidikan SMA/SMK yaitu 38 (52,78%)
c.       Karakteristik responden menurut pekerjaan
Tabel 4.3   Distribusi frekuensi pekerjaan ibu yang mempunyai anak usia 0-5 tahun di Puskesmas Maesan tanggal 25 Oktober-13 November.

No
Bekerja
Frekuensi
Prosentase (%)
.1.
2.
Bekerja
Tidak bekerja
45
27
62,5
37,5

Jumlah
72
100

Berdasarkan tabel 4.3 diatas dapat diketahui lebih dari 50% bekerja yaitu 45 responden (62,5%)
d.      Karakteristik responden menurut sumber informasi
Tabel 4.4   Distribusi frekuensi sumber informasi yang didapat ibu yang mempunyai anak usia 0-5 tahun di Puskesmas Maesan tanggal 25 Oktober-13 November.
No
Sumber informasi
Frekuensi
Prosentase (%)
1.
2.
3.
4.
5.
Media cetak
Media elektronik
Penyuluhan
Tidak pernah
Mendapat informasi
19
26
11
16
26,39
36,11
15,28
22,22


Jumlah
72
100

Berdasarkan tabel 4.4 diatas dapat diketahui kurang dari 50% memperoleh informsasi dari media cetak yaitu 19 responden (26,39), dari media elektronik 26 responden (36,11%), dari penyuluhan yaitu 11 responden (15,28%).
3.      Data khusus
a.       Data pengetahuan ibu tentang stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun        
Tabel 4.5   Disribusi pengetahuan ibu tentang perkembangan anak usia 0-5 tahun di Puskemas Maesan tanggal 25 Oktober-
                  13 November.
No
Pengetahuan
Frekuensi
Prosentase (%)
1.
2.
3.
Baik
Cukup
Kurang   
18
42
12
25
58,33
16,67

Jumlah
72
100

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui lebih dari 50% berpengetahuan cukup yaitu 42 responden (58,33%)
Dari hasil perhitungan tersebut diudapat :
1.   Mean         =56,11
      Perhitungan terlampir
Dari hasil perhitungan distribusi diatas diketahui rata-rata hitung (mean) pengetahuan ibu tentang stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun adalah cukup.
2.   Median       =67,58
      Perhitungan terlampir
Dari hasil perhitungan diatas diketahui median pengetahuan ibu tentang stimulasi prkembangan anak usia 0-5 tahun adalah cukup.
3.      Modus       =86,06
Perhitungan terlampir
Dari hasil perhitungan distribusi diatas dapat diketahui modus pengetahuan ibu tentang stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun adalah baik.
b.      Data pengetahuan ibu tentang pengertian stimulasi perkembangan anak usia0-5 tahun.
Tabel 4.6   Distribusi penetahuan ibu tentang pengertian stimulasi  perkembangan anak usia 0-5 tahun di Puskesmas Maesan.
No
Pengetahuan
Frekuensi
Prosentase (%)
1.
2.
3.
Baik
Cukup
Kurang
25
34
13
34,72
47,22
18,06

Jumlah
72
100

Berdasarkan tabel 4.6 diatas dapat diketahui ku8rang dari 50% yaitu 34 responden (42,22%) memiliki pengetahuan tentang pengertian stimulasi dalam batasan yang cukup.
c.       Data pengetahuan i9bu tentang tujuan stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun.
Tabel  4.7  Distribusi pengetahuan ibu tentang tujuan stimulasi perkembangan amnak usia 0-5 tahun di Puskesmas Maesan.    
No
Pengetahuan
Frekuensi
Prosentase (%)
1.
2.
3.
Baik
Cukup
Kurang
25
36
11
34,72
86,11
11,11

Jumlah
72
100

Berdasarkan tabel 4.7 diatas dapat diketahui 36 responden 50% yang dimiliki pengetahuan cukup tentang tujuan stimulasi perkembangan anak.
d.      Data pengetahuan ibu tentang cara melakukan stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun.
Tabel 4.8   Distribusi pengeahuan ibu tentang cara melakukan stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun di Puskesmas Maesan.
No
Pengetahuan
Frekuensi
Prosentase (%)
1.
2.
3.
Baik
Cukup
Kurang
21
39
12
29,16
54,17
16,67

Jumlah
72
100
Berdasarkan tabel 4.8 diatas dapat diketahui lebih dari 50% memiliki pengetahuan cukup tentang cara melakukan stimulasi perkembangan yaitu 39 responden (54,17%).
e.       Datapengetahuan ibi tentang tugas perkembangan yang harus dicapai anak usia 0-5 tahun.
Tabel 4.9    Distribusi pengetahuan ibu tentang tugas perkembangan yang harus dicapai anak usia 0-5 tahun.
No
Pengetahuan
Frekuensi
Prosentase (%)
1.
2.
3.
Baik
Cukup
Kurang
19
40
13
26,39
55,56
18,05

Jumlah
72
100

      Berdasarkan tabel 4.9 diatas dapat diketahui lebih dari 50% memiliki pengetahuan cukup tentang tugas perkembangan yang harus dicapai anak taitu 40 responden (55,56%).

B.     PEMBAHASAN
1.      Pengetahuan ibu tentang stimulasi perkembangan anak usia0-5 tahun di Puskesmas Maesan.
Pengetahuan tentang stimulasi perkembangan anak adalah pengetahuan yang berhubungan dengan semua yang berkenaan dengan stimulasi perkembangan seperti pengertian, tujuan, cara melakukan dan tudas Stimulasi perkembangan.
Dari dua data di dapatkan hasil lebih dari 50% responden berpengetahuan cukup yaitu sebanyak 42 responden (58,33%), dan kurang dari 50% berpengetahuan kurang yaitu 12 responden ( 16,67%).
Hasil penelitian dapat diketahui bahwa paling banyak responden berumur 20-35 tahunyaitu 62 responden (86,11%), dan lebih dari 50% yang berumur 20-35 tahun memiliki pengetahuan cukup yaitu 38 responden (52,78%).
Usia 20-35 tahun merupakan usia yang produktif bagi seseorang untuk dapat memotivasi diri memperoleh pengetahuan yang sebanyak-banyaknya. Usia adalah umur individu yang dihitung mulai dari dilahirkan sampai saat berulang tahun ( hurlock, dikutip Nursalam dan Pariani, 2001 : 80 ). Tingkat pengetahuan atau perkembangan kognitif seseorang biasanya dipengaruhi usia. Semakin cukup usia sesorang, maka akan semakin baik pul;a cara mengekspresikan atau menghadapi masalah (Hurlock, 1998 dikutip Nursalam dan Pariani, 2001 : 80).
Hasil analisis juga diperngaruhi oleh pendidikan responden. Berdasarkan  data diatas  dapat diketahui bahwa lebih dari 50% responden berpendidikan SMA/SMK yaitu 36 responden (52,73%), dan kurang dari 50% memiliki pengetahuan cukup yaitu 29 responden (40,28%).
Menurut Nursalam (2001) bahwa makin tinggi pendidikan sesorang, maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Responden yang berpendidikan tinggi akan mudah menyerap informasi sehingga ilmu pengetahuan yang dimiliki lebih tinggi namun sebaliknya yang berpendidikan rendah  akan mengalami hambatan dalam menyerap informasi sehingga ilmu yang dimiliki juga lebih rendah yang berdampak pada kehidupannya.
Dari data itu juga didapat kurang dari 50% responden yang mendapat sumber informasi dari media elektronik yaitu 26 responden (63,11%), dan kurang dari 50% responden yang mendapat sumber informasi dari media cetak memiliki pengetahuan cukup yaitu 12 responden (16,67%).
Hal ini dikarenakan informasi mengenai stimulasi perkembangan anak adalah informasi yang khusus yang tidak didapat di bungku sekolah atau perguruan tingi umum kecuali sekolah kesehatan. Adapun informasi mengenai stimulasi perkembangan anak biasanya diperoleh melalui penyuluhan kesehatan atau melalui tenaga kesehatan atau Posyandu.
Faktor lain disebabkan karena status pekerjaan responden sebagian besar bekerja yaitu sebanyak 45 responden (62,5 % ) sehingga menyebabkan responden tidak mempunyai waktu yang cukup untuk mendapat informasi disebabkan karena kesibukan sehri-hari. Responden yang mempunyai waktu yang kyrang untuk mendapatkan penyuluhan kesehatan, memperoleh informasi dari media massa terutama berkaitan dengan stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun. Hal ini msebagaimana yang dikutip oleh kuntjoroningrat yang di kutip Nursalam dan Pariani (2001 ; 134), menyebabkan bahwa bekerja umumnya pekerjaan  yang menyita waktu untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan yang benar.
Dengan demikian pamberian informasi mengenai stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun yang diberikan akan mudah diterima oleh responden sehingga akan  semakin termotivasi untuk melakukan stimulasi perkembangan pada anak.
2.      Pengetahuan ibu tentang pengertian stimulasi perkembangan anak usia  0-5 tahun secara khusus.
Dari data yang diperoleh bahwa kurang dari 50% berpewngetahuan cukup yaitu 34 responden (47,22%),. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang benar pada kuesioner tentang pengertian stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun dikutip dari oktaria (2007).
Dapat dilihat dari latar belakang pendidikan mereka rata-rata tinggi dan cukup yaitu perguruan tinggi dan SMA disamping itu juga ditunjang sebelumnya mereka sudah pernah ada yang mendapat informasi tentang stimulasi perkembangan anak dari media penyuluhan.
Meskipun ada responden berlatar belakang pendidikan hanya SMP namun pernah mendapat informasi dari media atau penyuluhan dan mempunyai pengamalan tentang stimulasi yang didapat menurut Notoatmodjo (2005:10) mengatakan pengalaman merupakan guru yang baik, yang bermakna merupakan sumber pengetahuan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, dan pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan.
3.      Pengetahuan ibu tentang tujuan stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun
Dari data yang didapat bahwa 50% responden memiliki pengetahuan yang cukup tentang tujuan stimulasi yaitu 36 responden (50%). Sebagian besar responden menjawab pada soal dengan benar tentang tujuan stimulasi pewrkembangan anak mencapai tingkat perkembangan anak yaitu untuk membantu anak untuk mencapai tingkat perkembangan yang optimal atau sesuai dengan yang diharapkan dikutip oleh (Suherman, 2000) hal ini dapat dilihat dari latar belakang pendidikan yang tinggi dan cukup yaitu perguruan tinggi dan SMA disamping itu juga pernah juga mendapat informasi.
Pengetahuan cukup diatas mungkin disebabkan pendidikan responden yang cukup dan pernah mendapat informasi tentang tujuan stimulasi perkembangan anak dan adanya pengalaman dalam pemantauan anak. Hal inidapat diperkuat oleh (kuliah bidan 2009) yang menyatakan bahwa pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam perkembangan anak.
Pendapat Notoatmodjo (2003) bahwa penetahuan dapat dipengaruhi oleh pengalaman, fasilitas, dan sosial budaya disamping itu juga responden yang tidak bekerja yaitu 27 responden (37,5), sehingga itu lebih banyak waktu luang untuk memperoleh informasi tentang stimulasi perkembangan anak. Hal ini dimungkinkan karena menganggapnya bekerja bekerja umumnya pekerjaan yang menyita waktu.       
4.      Pengetahuan ibu tentang cara memberikan stimulasi atau rangsangan pada anak usia 0-5 tahun
Dari data didapatkan bahwa lebih dari 50% responden memiliki pengetahuan yang cukup tentang cara memberikan stimulasi perkembangan yaitu 39 responden (54,17%).
Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang benar pada soal cara memberikan stimulasi atau rangsang pada anak usia 0-5 tahun dengan memper kenalkan warna pada anak, dikutib oleh Suherman (2000). Hal ini dapat dilihat dari latar belakang pendidikan tinggi yang cukup, disamping itu juga ditunjang sebelumnya mereka ada yang pernah mendapatkan informasi tentang cara menstimulasikan perkembangan anak dan mempunyai pengalaman yang lebih baik dalam cara melakukan stimulasi perkembangan anak. Hal ini diperkuat dengan (kuliah bidan 2009) menyatakan bahwa pendidikan orang tua merupakan faktor penting untuk mempengaruhi tumbuh kembang anak dengan pendidikan yang baik orangtua dapat menerima informasi dari luar.
5.      Pengetahuan  ibu tentang tugas perkembangan anak yang harus dicapai anak usia  0-5 tahun.
Dari data yang diharapkan lebih dari 50% responden memeliki pengetahuan tentang tugas perkembangan anak yang harus dicapai yaitu 40 responden (55,56%).
Hal ini dapat dilihat dari latar belakang pendidikan dan mempunyai pengalaman dalam menstimulasi anak, pada umumnya semakin timggi pendididkan maka akan semakin baik pula pengetahuannya. Pengetahuan itu sendiri merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya peri laku seseorang (Notoatmodjo, 2003).
Berdasrkan uraian diatas, semakin tinggi pendidikan maka semakin baik pula dalam mengaplikasikan materi dalam perkembangan anak yang diproleh. Responden yang berpendidikan tinggi akan lebih baik dalkam membentuk anak mandiri dibandingkan dengan responden yang berpendidikan rendah dan tidak pernah mendapatkan informasi
Meskipun ada responden yang tidak mempunyai pengalaman dalam pemantuan anak namun berkependidikan tinggi dan pernah mendapat informsi akan membentuk pengetahuan yang baik. Halini dimungkinkan karena memahami informasi tentang perkembangan anak yang diperoleh, menurut Notoatmodjo, (2003) mengatakan bahwa memahami yaitu kemampuan untuk menjelaskan atau mengiterprestasikan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat diinterprestasikan dengan benar.
   
                 







     



                       

BAB 5
SIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan disampaikan kesimpulan dan saran dari penelitian pengetahuan ibu tentang stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun di Puskesmas Maesan.
A. Simpulan
Dari hasil penelitian diketahui bahwa pengetahuan ibu tentang stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun di Puskesmas Maesan Bondowoso lebih dari 50% berpengetahuan cukup yaitu 42 responden (55,56%), dari hasil perhitungan distribusi didapat mean lebih dari 50% berpengetahuan cukup yaitu 56,11%, median lebih dari50% berpengetahuan cukup yaitu 67,58%, dan didapat modus lebih dari 75% berpengetahuan baik yaitu 86,06%.
B.  Saran
      1.   Bagi Peneliti
51
 
Hasil penelitian ini dapat memberikan pengalaman nyata bagi peneliti sebagaim peneliti pemula dalam proses penelitian dan peneliti dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuannya yang diperoleh dari kampus dengan keadaan yang ada dilahan praktik sebagai bahan tambahan informasi untuk peneliti selanjutnya terutama dibidang kesehatan anak khususnya dalam kaitannya dengan stimulasi perkembangan anak usia 0-5 tahun.
2.      Bagi Praktisi
Sebagai masukan bagi masyarakat untuk menyediakan alat bermain yang sederhana dan sesuai untuk anak usia 0-5 tahun, bagi DinKes agar mau mengalokasikan dana untuk desa agar menyediakan sarana bermain yang edukatif guna membantu anak agar berkembang secara optimal.
3.      Bagi Toeritis
   Sebagai masukan data dan informasi perkembangan ilmu pengetahuan pada institusi kesehatan hendaknya meningkatkan kinerja dalam mendidik mahasiswa agar menjadi tenaga kesehatan yang profesoional dan mampu saat terjun kemasyarakat.












DAFTAR PUSTAKA


Arikunto. 2003, Metode Penelitian suatu pendekatan praktik.
Asian Brain. 2009, Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita, Jakarta.
Dep. Kes. RI. 2005, Pedoman Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak.
dr. Kusnandi Rusmi, Sp. A ( K ). MM. 2005, Pedoman Pelaksanaan Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak.
dr. Notoadmodjo Soekidjo. 2005, Metode Penelitian Poli Tekhnik Kesehatan Surabaya.
dr. Notoadmodjo Soekidjo. 2002, Metode Penelitian Kesehatan.
dr. Notoadmodjo Soekidjo. 2003,  Metode Penelitian Kesehatan.
dr. Soetjiningsih, SPAK. 1995, Tumbuh Kembang anak.
dr. Rahadiyan Sasongko. 2009, Menggali dan Mengoptimalkan Kecerdasan Anak, Yogyakarta.
Drs. Suherman, 2000, Buku Saku Perkembangan Anak, Jakarta.
F.J. Monks A. M. P. Knoers Siti Rahayu Haditono. 2006, Psikologi Perkembangan, UGM, Yogyakarta.
http: // ridwanamiruddin. Wordpress. com / 2009 / 05 / Tumbuh Kembang Anak /




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar